Hamil dengan pria asing yang ternyata, Mafia???!
Aria hamil dari pria tak dikenal setelah malam yang menghancurkan hidupnya. Ia memilih mempertahankan anak itu, meski pikirannya nyaris runtuh.
Hingga pria itu kembali.
Lorenzo de Santis—datang, mengaku bertanggung jawab, dan masuk ke hidupnya tanpa izin. Namun Aria tidak tahu…
Bahwa kehamilan tersebut bukanlah kebetulan.
Melainkan rencana.
Dan pria yang berdiri di hadapannya bukan sekadar masa lalu yang kelam—
melainkan seorang bos mafia yang sejak awal telah mengendalikan segalanya.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MBM — BAB 22
ORANG YANG TIDAK DIINGINKAN
Lewat tengah malam. Lorenzo membuka mata perlahan. Aroma vanila bercampur wangi rambut Aria memenuhi ruang di antara mereka. Dia menunduk.
Wanita itu masih di sana. Menempel sejak semalam. Lengan kirinya melingkar di pinggang Lorenzo, kepala Aria bersandar nyaman di lengan atasnya. Nafasnya teratur, hangat menyapu dada telanjang Lorenzo. Sesekali hidungnya bergerak kecil, menghirup aroma tubuh pria itu dalam tidur, seperti mencari rasa aman yang tidak mau dia akui saat sadar.
Seharusnya Lorenzo bangun. Ada rapat lewat tengah malam dengan Fabio. Tapi tubuh hangat yang memeluknya ini membuat otaknya memilih diam. Terlalu lama dia tidur sendirian. Terlalu lama dia jadi dinding, jadi tameng, jadi senjata. Pagi ini, dia biarkan dirinya jadi manusia.
“Dasar wanita.” Gerutu Loren yang masih tidak bergerak. Hanya menarik napas panjang, membiarkan punggung Aria makin merapat ke dadanya.
Tangan kekarnya yang sedari tadi melingkar di pinggang ramping itu mengerat sedikit. Mengunci. Menjaga.
Lorenzo memejamkan mata lagi. Lima menit. Dia butuh lima menit lagi sebelum kembali jadi Don muda de Santis.
.
.
.
Selang beberapa jam berlalu. Tok! Tok!
Ketukan di pintu itu pelan, tapi cukup untuk menyobek sunyi.
Aria tersentak. Matanya membuka lebar. Kesadaran datang bersamaan dengan panas yang menjalar dari ujung kaki sampai wajah. Tubuhnya kaku saat sadar posisi mereka. Kepalanya di lengan Lorenzo. Pipi hampir menempel di dada telanjang pria itu. Dan lengan Lorenzo melingkar di pinggangnya, erat, posesif, tidak memberi ruang.
“Teresa..” gumam Aria sangat yakin.
Jantung Aria berpacu. Dia menoleh sedikit.
Lorenzo masih memejamkan mata, tapi Aria tahu pria seperti dia tidak pernah tidur lelap. Nafasnya terlalu teratur untuk orang yang benar-benar pulas.
Pelan-pelan, Aria mencoba menggeser tubuhnya. Menarik pinggangnya dari kurungan lengan itu. Sia-sia. Lengan Lorenzo seperti besi. Makin dia bergerak, makin erat kuncian itu. Wajah Aria memerah. Malu, panik, kesal jadi satu.
“Kenapa harus menempel padanya.” kesal Aria pada diri sendiri.
Dengan gerakan hati-hati, dia meraih mantel tipis yang tergantung di kursi dekat ranjang.
Tangannya gemetar saat mengenakan mantel itu menutupi dress semalam. Dia berdiri di sisi ranjang, membelakangi Lorenzo. Jemarinya bergerak cepat menguncir rambut panjangnya yang awut-awutan. Sekali, dua kali, rambut hitam itu terikat tinggi.
Dia harus pergi sebelum pria ini bangun dan rencana kaburnya gagal total.
Aria menarik napas, menguatkan diri, lalu berbalik. “Okay... Ini akan cepat.” katanya sangat yakin.
Dan tubuhnya membeku ketika berbalik badan serta melihat bahwa Lorenzo sudah bangun.
Pria itu bersandar di kepala ranjang, punggung telanjangnya menempel di bantal. Selimut hanya menutupi pinggang ke bawah. Mata perak itu terbuka, menatapnya lurus. Dingin. Tajam. Baru bangun tidur tapi auranya sudah memangsa.
Suara berat itu pecah, serak khas pagi hari. “Kau pergi sangat pagi sekali. ingin kabur?”
Tubuh Aria menegang. Suara itu. Nada itu. Selalu berhasil membuat lututnya lemas dan otaknya kosong bersamaan.
Dia genggam ujung mantelnya erat. “A-aku… mau ke dapur, rasanya sangat lapar di pagi hari.” Bohong. Lemah. Bahkan dia sendiri tidak percaya.
Alis Lorenzo terangkat sedikit. Sudut bibirnya tidak bergerak, tapi matanya menyipit. Dia menatap Aria dari ujung rambut yang terikat tinggi, ke mantel yang buru-buru dipakai, ke wajahnya yang merah padam.
“Kau mengenakan mantel hanya untuk ke dapur.” Kalimat itu jatuh pelan. Bukan tuduhan. Fakta.
Aria menelan ludah. Ketahuan. Tentu saja ketahuan. Pria ini iblis. Namun dia harus lebih angkuh. “Ya. Aku akan pergi ke toko ku. Dan aku harap kau setuju, jikapun tidak, aku akan tetap pergi.” kata tegas Aria.
Keheningan menggantung. Jam dinding berdetak nyaring.
Lorenzo akhirnya bergerak. Dia menyibak selimut, turun dari ranjang dengan hanya celana panjang hitam semalam. Tubuh tingginya berdiri, menutupi cahaya fajar di belakangnya. Dia melangkah mendekat. Satu. Dua.
Aria refleks mundur sampai betisnya membentur sisi ranjang. Tidak ada jalan.
Lorenzo berhenti tepat di depannya. Dekat. Terlalu dekat. Aroma yang memabukkan dan kulitnya menyergap Aria lagi. Aroma yang semalam dia hirup tanpa sadar.
Tangan Lorenzo terangkat. Aria pikir dia akan mencekik. Tapi jari-jari itu hanya menyentuh helaian rambut Aria yang lepas dari ikatan, menyelipkannya ke belakang telinga.
“Kau tidak akan pergi ke manapun. Apa aku harus memulainya?” tatapan Lorenzo benar-benar menghipnotis nya.
Aria mengangkat dagu. Menantang meski kakinya gemetar. “Kau tidak bisa mengurungku selamanya, Lorenzo.”
“Tidak selamanya.” Lorenzo menunduk, matanya sejajar dengan mata Aria. “Sampai aku yakin tidak ada yang bisa menyentuhmu. Dan sampai anak ini lahir, maka aku akan membiarkan mu pergi dari kehidupan ku setelah aku mendapatkan anak ini.”
Nama terakhir itu dia sebutkan dengan penekanan halus. Ada apa?
Sebelum Aria bisa bertanya, ketukan pintu terdengar lagi. Kali ini lebih ragu.
Tok! Tok! Tok!
Lorenzo tidak menoleh. Matanya masih mengunci Aria. “Katakan padanya, kau membatalkan rencana mu.”
Perintah. Bukan permintaan.
Aria mengepalkan tangan. Dia mau melawan. Dia mau teriak. Tapi mata perak itu, lengan kekar yang semalam melindunginya dari nyamuk, dan ingatan soal paket berdarah untuk Monica berputar di kepalanya.
Di luar sana tidak aman. Dan pria di depannya ini, sejahat apa pun, adalah satu-satunya tameng yang dia punya.
Perlahan, Aria menoleh ke arah pintu. Suaranya bergetar. “Fuck you.” umpat Aria yang kali ini benar-benar kesal hingga ia langsung ke pintu dan membukanya.
Hening dan terdengar samar suara Aria. Lalu suara langkah Teresa menjauh.
Lorenzo tersenyum. Tipis. Kemenangan. Dia mundur selangkah, memberi Aria ruang untuk bernapas lagi. “Good. Kurangi umpatanmu, aku tidak ingin sampai menutup mulutmu dengan sesuatu yang tidak kau inginkan.”
Aria benar-benar menatap marah hingga tak peduli.
Sementara Lorenzo berbalik, berjalan ke arah kamar mandi. “Mandilah. Lalu ganti pakaian mu, kita akan pergi ke toko mu.”
Pintu kamar mandi tertutup. Suara air menyala.
Aria menatap ke arah pintu kamar mandi dengan tatapan heran sekaligus bingung akan sikap Lorenzo.
Jantungnya masih berdebar. Marah karena kalah, lega karena selamat, dan bingung karena sebagian dirinya… tidak sepenuhnya benci dikurung oleh pria itu. Dn sekarang, pria itu sendiri yang akan mengajaknya ke toko.
“Katakan saja jika kau ingin ikut dasar pria menyebalkan.” kesal Aria yang kini terduduk di tepi ranjang.
Di luar, matahari sudah naik. Dan perang di rumah de Santis belum selesai. Terutama amarah Monica yang masih belum meredam soal paket kiriman semalam.
Hingga kini di ruangan Emilio. Monica, Vitorio, Matteo dan Emilio sendiri— mereka semua berkumpul kecuali Lorenzo dan Adriana yang tidak pulang sejak semalam, ya mereka sudah tahu Adriana tidak pernah betah di rumah.
“Ini keterlaluan Emilio. Jika orang itu mengirim lagi barang lain, itu sangat menjijikan.” kata Monica yang menyilangkan kedua tangannya di perutnya serta menatap marah.
“Tapi siapa yang melakukannya?” tanya Vittorio penasaran dan Matteo juga hanya menyimak mereka.
Emilio terdiam, lalu menatap balik ke keluarganya.
“Aku dan Lorenzo sudah menerima pesan dari Don Vito. Aku rasa... Dia akan segera keluar dari kurungannya.”
Dan saat itulah Monica langsung melotot menatap Emilio seolah memberi kode dan bahasa isyarat pada suaminya bahwa pria itu akan benar-benar keluar setelah sekian lama.
“Untuk sementara, kita perlu kewaspadaan. Atau tidak sama sekali.” kata Emilio.
Vitorio terdiam, Matteo menatap bingung. “Siapa Don Vito?”
“Seseorang yang tidak diinginkan keberadaannya.” kata Monica dengan kesal dan cemas.