NovelToon NovelToon
Nyaris Jadi Kita

Nyaris Jadi Kita

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

​"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Konsekuensi

Selasa pagi, pukul enam tepat.

​Alarm di ponselku baru saja berbunyi, namun mataku sudah terbuka sejak setengah jam yang lalu. Ada perasaan aneh yang merayap di dadaku—sesuatu yang bukan lagi kecemasan, melainkan antisipasi yang tenang. Aku menatap langit-langit kamar apartemenku, menyadari bahwa untuk pertama kalinya dalam lima tahun, tidak ada bayangan Kaivan yang memenuhi pikiranku saat bangun tidur. Kunci cadangan itu sudah kutinggalkan di lobi, dan bersamanya, aku juga meninggalkan separuh beban yang selama ini kupikul sendirian.

​Aku bangkit, menyeduh teh hijau, dan mulai bersiap. Pagi ini, aku tidak memilih pakaian untuk "menyeimbangkan" penampilan Kaivan. Aku memilih untuk diriku sendiri. Sebuah terusan pencil dress berwarna marun gelap yang dipadukan dengan blazer putih tulang yang pas di badan. Sederhana, namun memberikan garis bahu yang tegas. Aku ingin terlihat seperti wanita yang tahu persis apa yang ia bicarakan dalam rapat audit nanti.

​Tepat pukul tujuh, ponselku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Bastian.

​Bastian Adhitama: Saya sudah di lobi. Tidak perlu terburu-buru, Arelia.

​Aku tersenyum tipis. Kalimat "tidak perlu terburu-buru" itu terasa seperti kemewahan yang belum pernah kurasakan. Bersama Kaivan, hidupku adalah serangkaian ketergesaan; bergegas menyiapkan laporannya, bergegas memesankan makan siangnya, atau bergegas memaafkannya agar keributan tidak memanjang. Bersama Bastian, waktu seolah menjadi milikku kembali.

​Lobi apartemenku masih cukup sepi saat aku melangkah keluar dari lift. Aku melihat Bastian berdiri di samping mobil sedan hitamnya yang mengkilap. Ia mengenakan kemeja biru muda dengan lengan yang digulung hingga siku—tampilan yang jauh lebih santai daripada biasanya, namun tetap memancarkan otoritas yang sama kuatnya.

​"Selamat pagi, Arelia," sapanya sambil membukakan pintu untukku.

​"Selamat pagi, Bastian. Terima kasih sudah menjemput," jawabku saat duduk di kursi penumpang yang beraroma kulit premium dan parfum maskulin yang elegan.

​Kami berkendara menuju sebuah kedai kopi artisan di kawasan Senopati. Di dalam mobil, keheningan yang tercipta bukan lagi keheningan yang canggung atau penuh tuntutan. Bastian tidak bertanya tentang masalah pribadiku dengan Kaivan, meskipun aku yakin dia tahu segalanya. Ia justru mulai membicarakan tentang visi jangka panjang Adhitama Group terhadap vendor-vendor lokal.

​"Data yang kamu kirim semalam menunjukkan ada fluktuasi yang tidak wajar di vendor sektor C," Bastian memulai pembicaraan saat kami sudah duduk di sudut kedai kopi yang tenang. Aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi udara. "Saya suka caramu melihat pola di balik angka-angka itu. Kamu tidak hanya melihat kerugian, tapi kamu melihat potensi kebocoran sistem."

​"Terima kasih, Bastian. Saya hanya berpikir bahwa jika kita tidak segera mengaudit sistem distribusinya, margin keuntungan kita di kuartal ketiga akan tergerus oleh biaya logistik yang tidak perlu," jelasku sambil menyesap teh hangatku.

​Bastian menatapku lekat. "Kamu bicara seolah-olah kamu adalah bagian dari direksi saya, Arelia. Dan jujur saja, saya lebih suka mendengarkan analisismu daripada mendengar keluhan manajer-manajer saya yang lebih sibuk mencari alasan daripada solusi."

​Apresiasi itu terasa seperti siraman air segar di tengah padang pasir. Selama bertahun-tahun, aku hanya dianggap sebagai "tangan kanan" Kaivan. Prestasiku adalah prestasinya. Kegagalannya adalah tanggung jawabku. Namun di depan pria ini, aku berdiri sebagai diriku sendiri. Aku adalah Arelia, sang analis. Bukan Arelia, sang asisten bayangan.

​Pukul sembilan pagi, aku melangkah masuk ke kantor dengan perasaan yang jauh lebih kuat. Namun, suasana di divisi riset terasa berbeda. Ada ketegangan yang menggantung di udara. Aku melihat Maya memberikan isyarat mata ke arah meja Kaivan.

​Kaivan duduk di sana, namun posturnya tidak seperti biasanya yang santai. Ia tampak kaku, menatap sebuah kotak kardus kecil yang terbuka di atas mejanya. Kotak yang kutinggalkan di satpam lobi pagi tadi.

​Aku berjalan menuju kubikelku tanpa menyapa. Baru saja aku meletakkan tas, Kaivan berdiri. Ia melangkah mendekat, memegang kunci cadangan yang tadinya ada di dalam kotak itu.

​"Apa maksudnya ini, Rel?" suaranya rendah, namun bergetar karena amarah yang ditahan. "Kamu benar-benar mengusirku? Kamu menitipkan barang-barangku di satpam seperti aku ini orang asing?"

​Beberapa rekan kerja mulai melirik ke arah kami. Aku menarik napas panjang, berputar perlahan menghadapnya.

​"Aku tidak mengusirmu, Kaivan. Aku hanya mengembalikan apa yang bukan milikku, dan mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi ruang pribadiku," kataku dengan nada setenang mungkin. "Kita sudah bicara kemarin. Jarak ini perlu, demi profesionalitas kita di kantor."

​"Profesionalitas?" Kaivan tertawa hambar, suara yang terdengar sangat terluka di telingaku. "Tujuh tahun kita bersama, Arelia. Kamu bilang ini soal profesionalitas? Kamu berubah sejak Bastian Adhitama mulai memujimu. Kamu merasa sudah di atas angin sekarang?"

​"Ini bukan soal Bastian, Van. Ini soal bagaimana kamu memperlakukanku selama ini," balasku, suaraku kini sedikit lebih tegas. "Kamu datang padaku saat butuh dukungan, tapi kamu pergi mengejar Nadine saat semuanya sudah baik-baik saja. Kamu menjadikan aku rumah, tapi kamu tidak pernah menganggapku sebagai tujuan. Aku lelah menjadi pilihan kedua."

​"Aku tidak pernah menjadikanmu pilihan kedua! Kamu itu... kamu itu kepastian buatku!"

​"Itulah masalahnya. Karena kamu menganggapku kepastian, kamu jadi menyepelekanku," aku berdiri, menatapnya tepat di mata. Mata yang dulu sangat kupuja, namun sekarang terlihat begitu picik. "Kepastian itu sekarang sudah berakhir, Kaivan. Mulai sekarang, selesaikan masalahmu sendiri. Urus laporan administrasi vendor C itu. Pak Dimas menunggunya jam dua siang nanti."

​Aku kembali duduk dan memasang headphone, tanda bahwa percakapan ini sudah selesai. Kaivan berdiri mematung di sampingku selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menggebrak meja pembatas kubikel kami dan berjalan pergi menuju area balkon.

​Sisa hari itu berjalan dengan sangat lambat. Aku mencoba fokus pada data, namun bayangan wajah Kaivan yang hancur tadi terus terlintas. Ada bagian kecil dari hatiku yang masih ingin mengejarnya, bertanya apakah dia sudah makan, atau memastikan dia tidak melakukan kesalahan dalam laporannya. Namun, aku segera menepisnya. Itu adalah insting "penyelamat" yang telah merusakku selama bertahun-tahun.

​Pukul dua siang, seperti yang kuduga, terjadi keributan di ruangan Pak Dimas.

​"Kaivan! Apa-apaan laporan ini?" suara Pak Dimas menggelegar dari balik pintu kayu mahoninya. "Data logistiknya berantakan! Kamu bilang kamu sudah berkoordinasi dengan Arelia?"

​Pintu ruangan terbuka. Kaivan keluar dengan wajah pucat, diikuti oleh Pak Dimas yang tampak sangat murka.

​"Arelia, masuk sebentar," perintah Pak Dimas.

​Aku melangkah masuk, melewati Kaivan yang menunduk dalam. Di dalam ruangan, Pak Dimas membanting map laporan Kaivan ke meja.

​"Jelaskan padaku, kenapa laporan bagian Kaivan tidak sinkron dengan audit yang kamu sampaikan di depan Bastian kemarin?" tanya Pak Dimas tajam.

​Aku melihat sekilas laporan itu. "Maaf, Pak. Sepertinya Kaivan menggunakan draf lama. Saya sudah mengirimkan data revisinya ke email tim sejak kemarin sore, namun mungkin Kaivan belum sempat membacanya karena sibuk dengan urusan lain."

​Aku tidak berbohong. Aku memang mengirimkannya, dan Kaivan memang tidak membacanya karena dia terlalu sibuk menelepon Nadine kemarin sore.

​"Kaivan, ini sudah kedua kalinya dalam seminggu kamu melakukan kesalahan fatal," Pak Dimas menatap Kaivan dengan kekecewaan yang mendalam. "Mulai besok, seluruh akses administrasi strategis proyek Adhitama akan dipindahkan sepenuhnya ke Arelia. Kamu tetap di tim, tapi hanya sebagai pelaksana teknis di bawah arahan Arelia. Paham?"

​Kaivan terperangah. Ia menatapku, mencari pembelaan, namun aku hanya diam. Aku tidak akan lagi menjadi jaring pengamannya.

​"Paham, Pak," gumam Kaivan pelan.

​Keluar dari ruangan Pak Dimas, Kaivan mencekal lenganku di lorong yang sepi menuju pantri.

​"Kamu sengaja, kan? Kamu sengaja membiarkan aku pakai draf lama supaya aku kelihatan bodoh di depan Pak Dimas?" desisnya, wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajahku.

​"Aku sudah mengirimkan emailnya, Kaivan. Kamu yang tidak membacanya. Kamu yang lebih memilih menghabiskan waktu berjam-jam mengurus asuransi Nadine daripada mengecek pekerjaanmu," balasku tanpa rasa takut. "Berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalanmu sendiri."

​"Kamu jahat, Rel. Aku nggak nyangka kamu sejahat ini."

​"Aku tidak jahat, Kaivan. Aku hanya berhenti menjadi bodoh."

​Aku melepaskan cengkeramannya dan berjalan menuju pantri. Di sana, Maya sudah menunggu dengan secangkir kopi untukku.

​"Gila, Rel. Lu beneran sudah jadi 'macan' sekarang," bisik Maya dengan nada bangga. "Gue belum pernah lihat Kaivan sepucat itu."

​"Aku hanya memberikan dia konsekuensi, May. Sesuatu yang seharusnya dia terima sejak lama," jawabku sambil menyesap kopiku.

​Sore itu, sebelum pulang, sebuah email masuk ke ponselku. Dari asisten Bastian.

​Subject: Undangan Gala Dinner Tahunan Adhitama Group

​Kepada Ibu Arelia, Bapak Bastian Adhitama secara pribadi mengundang Anda untuk hadir dalam acara Gala Dinner tahunan kami Jumat malam ini di Ballroom Grand Hyatt. Undangan fisik akan dikirimkan ke alamat Anda besok pagi.

​Aku tertegun. Gala Dinner tahunan? Itu adalah acara yang sangat prestisius. Biasanya hanya level manajer senior yang diundang. Aku menoleh ke arah Kaivan. Ia tampak sedang membereskan barang-barangnya dengan wajah lesu. Aku tahu, dia tidak mendapatkan undangan itu.

​Ponselku bergetar lagi. Pesan dari Bastian.

​Bastian Adhitama: Saya harap kamu tidak ada rencana lain Jumat malam nanti. Saya ingin memperkenalkanmu pada beberapa kolega saya sebagai Analis Utama proyek ini. Panggungmu baru saja dimulai, Arelia.

​Aku tersenyum. Bukan senyum penuh kemenangan atas Kaivan, tapi senyum karena aku akhirnya menyadari bahwa duniaku jauh lebih luas daripada sekadar kubikel kantor dan bayang-bayang seorang pria bernama Kaivan.

​Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ceritanya adalah tentang aku. Dan aku akan memastikannya berakhir dengan sangat indah.

1
sukensri hardiati
ini kaivan sama nadine kok ngrusuh terus sih...
Misterios_Man: lah gatau... kok tanya saya😄
total 1 replies
Kinanda Husnancandra
hufhhhhjhhhh...
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain
Misterios_Man: sampai kapan kak nafasnya ditarik?? saya udah ga kuat!!/Puke/
total 1 replies
Lili Inggrid
bagus
Indah
Tarus bangkit menjadi wanita kuat
Indah
Masih memantau
Quinza Azalea
bener benar puas baca ceritamu thor
Quinza Azalea
lanjut thor💪💪💪
Quinza Azalea
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!