Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Amarah Elvano
"Lepaskan tangan kotor kalian dari dia."
Suara Elvano tidak tinggi, tidak berteriak, tapi getarannya mampu membuat nyali tiga orang sekuriti berbadan kekar itu menciut seketika. Hawa dingin yang menguar dari tubuh Elvano lebih menakutkan daripada pendingin ruangan di kamar mayat.
Sekuriti yang tadi mencengkeram lengan Aluna langsung melepaskannya seolah baru saja memegang bara api. Mereka mundur teratur, menundukkan kepala dalam-dalam.
"Pa... Pak Elvano," cicit kepala sekuriti dengan wajah pucat. "Ka... kami cuma mengamankan situasi. Cewek ini bikin keributan di area VIP."
Elvano tidak menjawab. Dia bahkan tidak melirik sekuriti itu. Kakinya yang panjang melangkah lebar menaiki anak tangga terakhir, langsung menuju ke pusat kekacauan.
Matanya menyapu pemandangan di depannya dengan tatapan menilai yang tajam dan mematikan.
Di sudut sofa, Elora yang kembali ke sana karena pusing sedang meringkuk gemetar. Gaun peraknya basah kuyup, rambutnya acak-acakan, dan matanya merah karena tangis dan pengaruh alkohol. Di lantai, pecahan gelas berserakan.
Dan di tengah-tengah kekacauan itu, berdiri Aluna.
Penampilan gadis itu berantakan total. Jaket ojek online hijaunya basah kuyup terkena cipratan air soda, celana piyama-nya kotor, dan rambutnya lepek menempel di dahi. Tangannya masih mengepal, dadanya naik turun menahan emosi.
"Pak! Untung Bapak datang!"
Pria bertopi—si pelaku yang hendak meracuni Elora—tiba-tiba bersuara lantang. Dia maju selangkah dengan wajah sok menjadi korban, menunjuk-nunjuk Aluna.
"Cewek gila ini tiba-tiba nyerang kami, Pak! Kami lagi santai minum sama adik Bapak, eh dia datang mecahin gelas terus nyiram air ke muka saya! Dia mau malak adik Bapak!"
"Iya, Pak! Dia kayaknya preman pasar yang nyasar!" tambah temannya yang berkemeja hitam. "Usir dia, Pak! Bahaya!"
Elvano menoleh perlahan ke arah dua pria itu. Tatapannya begitu dingin hingga pria bertopi itu refleks mundur selangkah.
"Pergi," desis Elvano. "Sebelum saya berubah pikiran dan mematahkan leher kalian."
Dua pria itu tidak perlu disuruh dua kali. Melihat kesempatan untuk kabur, mereka langsung menyelinap pergi, meninggalkan kekacauan itu tanpa menoleh lagi.
Kini tinggal mereka bertiga. Elvano, Elora, dan Aluna.
Elvano mengalihkan pandangannya pada Aluna. Tatapannya berubah. Dari dingin menjadi berapi-api. Rahangnya mengeras saat melihat notifikasi di ponselnya yang masih menyala.
Perjalanan ke Club X - Rp 150.000.
Metode Pembayaran: Kartu Kredit Utama (Elvano Diwantara).
Otak jenius Elvano menghubungkan titik-titik itu dengan cepat, tapi sayangnya, dia menarik garis yang salah karena emosi sudah menutupi logikanya.
Dia melihat Aluna ada di sini.
Dia melihat Elora mabuk.
Dia melihat tagihan taksi online yang dia pikir disetujui oleh Aluna.
"Jelaskan," suara Elvano rendah, tapi penuh penekanan. "Apa yang kamu lakukan di sini, Aluna?"
Aluna menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya. "Pak, dengerin dulu. Tadi saya..."
"Saya tanya, kenapa adik saya bisa ada di tempat sampah ini?!" potong Elvano keras. Suaranya menggema, membuat beberapa pelayan yang mengintip langsung kabur.
Elvano melangkah maju, mengikis jarak di antara mereka. Tubuhnya yang tinggi menjulang di hadapan Aluna, mengintimidasi.
"Kamu Auditornya! Kamu yang pegang kendali! Saya bayar kamu mahal-mahal buat jadi rem, buat jadi tembok penghalang!" bentak Elvano, telunjuknya menuding wajah Aluna. "Kenapa kamu malah ada di sini?! Kamu yang bawa dia ke sini, hah?!"
"Enggak, Pak! Saya justru..."
"Bohong!" sentak Elvano. Dia mengangkat ponselnya, menunjukkan layar notifikasi tagihan di aplikasi. "Ada tagihan seratus lima puluh ribu masuk ke notifikasi saya satu jam yang lalu! Itu dipesan dari akun Elora yang terhubung ke kartu saya! Dan cuma kamu yang pegang kendali atas semua akses dia sekarang! Semua harus izin kamu. Kamu yang izinkan dia pesan taksi online ke sini, kan?!"
Aluna ternganga. Dia lupa kalau aplikasi taksi online di HP Elora masih terhubung ke email dan kartu kredit Elvano. Dan sialnya, Elora tadi kabur pakai aplikasi itu sebelum Aluna sempat menyita ponselnya.
"Itu salah paham, Pak! Elora kabur diem-diem pas saya lengah!" bela Aluna.
"Lengah?" Elvano tertawa sinis, tawa yang menyakitkan. Dia menatap penampilan Aluna yang memakai jaket ojol. "Atau jangan-jangan, kamu sengaja? Kamu sengaja biarkan dia ke sini, terus kamu susul dia biar bisa ikut pesta? Biar bisa nikmati fasilitas VIP gratisan? Atau biar kamu bisa minta uang tutup mulut ke dia?"
Dada Aluna sesak. Tuduhan itu lebih sakit daripada ditampar.
"Bapak nuduh saya manfaatin Elora?" suara Aluna bergetar.
"Terus apa lagi?!" Elvano mencengkeram lengan Aluna, menyeretnya mendekat ke arah Elora yang masih menangis sesenggukan. "Lihat dia! Lihat adik saya! Dia berantakan, dia mabuk, dia ketakutan! Itu tanggung jawab kamu, Aluna!"
Amarah Elvano meledak karena rasa takut. Dia takut melihat adiknya hancur lagi. Dan ketakutan itu dia lampiaskan pada orang yang seharusnya menjaga Elora.
"Saya ambil kamu dari jalanan. Saya kasih gaji besar. Saya kasih kepercayaan penuh," desis Elvano tepat di depan wajah Aluna. "Saya pikir kamu beda. Saya pikir kamu punya prinsip. Ternyata sama saja. Kamu cuma peduli sama uang. Asal dapet bonus, kamu biarkan adik saya rusak di tempat maksiat ini!"
Aluna merasakan matanya panas. Air mata mendesak ingin keluar, tapi dia menahannya sekuat tenaga. Dia tidak akan menangis di depan pria sombong ini.
Elvano melepaskan cengkeramannya dengan kasar, seolah menyentuh Aluna adalah hal yang menjijikkan.
"Keluar," usir Elvano dingin. "Pergi dari hadapan saya sebelum saya panggil polisi atas tuduhan kelalaian yang membahayakan nyawa."
Aluna mematung. Dia menatap Elora, berharap gadis itu membuka mulut dan membela dirinya. Berharap Elora bilang kalau Aluna baru saja menyelamatkan nyawanya dari obat berbahaya.
Tapi Elora hanya menunduk, menangis sambil memeluk lutut, terlalu syok dan terlalu takut pada amarah kakaknya untuk bersuara.
Hening yang menyakitkan.
Aluna mengangguk pelan. Dia merogoh saku kemejanya yang basah. Mengeluarkan kartu debit biru—kartu keramat.
Dengan tangan gemetar namun gerakan tegas, Aluna meletakkan kartu itu di atas meja marmer yang basah oleh tumpahan alkohol.
"Ambil kartu Bapak," ucap Aluna, suaranya tenang namun tajam.
Dia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Elvano. Tidak ada rasa takut di sana. Hanya ada kekecewaan yang mendalam.
"Bapak benar. Saya butuh uang. Saya orang miskin yang rela ngejar ganti rugi tiga puluh lima ribu perak sampai ke lantai lima puluh," kata Aluna lantang.
Elvano terdiam, rahangnya masih mengeras.
"Bapak boleh hina baju saya. Bapak boleh hina status ekonomi saya. Bapak boleh hina motor butut saya," lanjut Aluna, setetes air mata lolos dari sudut matanya tapi segera dia hapus kasar.
"Tapi jangan pernah sekali-kali Bapak hina integritas saya."
Aluna membalikkan badan.
"Saya kerja pakai hati, Pak. Bukan cuma pakai kalkulator kayak Bapak. Permisi."
Tanpa menunggu jawaban, Aluna melangkah pergi. Dia berjalan tegak, melewati sekuriti, menuruni tangga, dan menerobos keluar dari klub malam itu. Dia meninggalkan Elvano yang masih berdiri kaku dengan napas memburu di tengah ruangan VIP yang sunyi.
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥