Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 25)
Setelah berlari tanpa arah selama berjam-jam meninggalkan truk hantu dan si jin penjaga kebun, tubuh mereka akhirnya mencapai batas maksimal ketahanan.
Mereka berhenti di sebuah tanah datar yang dikelilingi pohon-pohon besar yang menjulang tinggi seperti menara pengawas penjara. Kegelapan di sini mirip seperti kegelapan di balik kelopak tidur. Tidak ada bulan yang menggantung, tidak ada bintang yang berkelip, seolah langit telah ditutup rapat oleh yang tidak ingin ada sedikit pun harapan masuk ke tempat ini.
"Berhenti... kita berhenti dulu..." lirih Sulaiman, suaranya serak dan berbisik seperti pencuri. Tubuh kekarnya gemetar bukan karena dingin, tapi karena kelelahan ekstrem dan trauma yang menumpuk.
Deri dan Herman langsung ambruk ke tanah. Mereka tidak peduli tanah itu becek, kotor, atau penuh semut. Yang mereka butuhkan hanyalah mengistirahatkan otot-otot kaki yang rasanya mau putus.
"Bos... a... air... aku mau mati rasanya..." rintih Deri, lidahnya terasa tebal dan kering, bibirnya pecah-pecah. Rasa dahaga menyiksa mereka jauh lebih parah daripada rasa lelah.
Sulaiman mengusap wajahnya kasar, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya..
"Baik. Kita butuh air. Deri, Herman, kalian cari ke arah sana," tunjuk Sulaiman ke sisi kiri, di mana terdengar suara samar desiran air atau angin. "Cari sumber air, sungai atau genangan apa saja. Cepat sebelum kondisi makin parah."
"Terus Bapak?" tanya Herman waspada, tidak berani berpisah di tempat seram seperti ini.
"Aku akan siapkan api unggun. Biar ada cahaya, biar kita ada titik kumpul. Cepat sana, jangan jauh-jauh! Umar, kamu tetap di sini temani ayah..."
Dengan langkah berat dan gemetar, Deri dan Herman akhirnya berjalan menjauh masuk ke dalam bayang-bayang pohon, meninggalkan Sulaiman dan putranya yang mulai mengumpulkan ranting-ranting kering.
Keduanya berjalan tertatih-tatih. Mata mereka mencoba menyesuaikan diri dengan gelapnya malam yang pekat. Aroma pahit bercampur bau lumut dan sesuatu yang samar-samar... bau busuk, bau reruntuhan. Bau tanah kuburan yang menggembur.
"Herman... kau dengar gak?" bisik Deri pelan.
"Denger apa?"
"Suara detak jantung... atau... suara orang mendengus halus dari bawah tanah."
Herman meremang bulu kuduknya. "Jangan ngomong aneh-aneh, Der. Fokus cari air."
Mereka terus melangkah hingga tiba di sebuah area yang tanahnya tidak rata. Di sana, terdapat deretan panjang gundukan-gundukan tanah. Tingginya sekitar setengah meter, panjangnya dua meter, dan disusun secara berbaris rapi memanjang jauh ke dalam kegelapan.
Bentuknya sangat familiar. Terlalu familiar.
"Itu... itu apa?" Herman berhenti mendadak. Tangannya terulur menyentuh salah satu gundukan itu. Tanahnya gembur, baru saja digali dan ditimbun kembali.
Deri memicingkan mata, mencoba melihat lebih jelas di tengah remang-remang cahaya yang hampir tidak ada. Perlahan-lahan, bentuk itu semakin jelas di retina mata mereka.
Itu bukan gundukan tanah biasa.
Itu adalah kuburan.
Ribuan bahkan puluhan ribu pusara kuburan terbentang sejauh mata memandang di hadapan mereka. Namun bukan kuburan biasa. Tidak ada nisan, tidak ada batu tulis, tidak ada nama. Hanya gundukan tanah hitam yang basah dan tampak segar, seolah baru selesai dibuat beberapa jam yang lalu.
"Kita... kita ada di kuburan massal..." bisik Deri, suaranya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi seluruh punggungnya. "Ini gak wajar, Her. Kenapa ada kuburan sebanyak ini di tengah hutan terpencil?"
Belum sempat mereka membalikkan badan untuk lari kembali ke arah Sulaiman, gangguan itu dimulai. Kali ini lebih intens, lebih nyata, dan lebih menjijikkan daripada sebelumnya.
Tanah di bawah kaki mereka bergetar pelan.
Dug... dugg... dukkkk...
Getarannya berirama, persis seperti detak jantung mereka sendiri.
Dan kemudian... gundukan-gundukan kuburan itu mulai bergerak.
"Eeeh.. ahkh..." Herman menutup mulutnya agar tidak menjerit. Dia melihat tanah di atas salah satu kuburan tepat di depannya melorot ke bawah. Sesuatu dari dalam sedang berusaha keluar.
Tiba-tiba, ilusi visual menghancurkan akal sehat mereka.
Pemandangan berubah. Kuburan-kuburan itu bukan lagi tanah. Mereka melihat tumpukan mayat manusia yang ditumpuk rapi, membentuk bukit-bukit kecil daging dan tulang. Wajah-wajah mayat itu membusuk, mata melotot, mulut menganga, dan mereka semua... menatap ke arah Deri dan Herman.
"Masuk... masuklah bersama kami..."
Suara bisikan datang bukan dari samping, tapi dari bawah. Dari dalam tanah. Ribuan suara bergema menjadi satu, serak, berdahak, dan penuh dengan rasa sakit yang terpendam.
"LIHAT!" teriak Deri histeris, menunjuk ke sebuah kuburan yang tanahnya mulai turut merekah.
Dari celah tanah yang terbuka, muncul tangan-tangan pucat, panjang, dan kurus. Kulitnya menggelambir, ada hitam dan kebiruan bekas pukulan di sana. Tangan-tangan itu merayap keluar, mencengkeram pinggiran bibir tanah, dan berusaha menarik tubuhnya agar secepatnya keluar.
Satu per satu.
Dua.
Tiga.
Puluhan mayat hidup mulai bangkit dari peristirahatan mereka. Bukan sosok yang berjalan kaku, tapi entitas-entitas bayangan transparan yang melayang dan merayap, dengan mata yang menyala hijau redup dan mulut yang penuh dengan cacing tanah dan darah hitam.
"Mereka... mereka mau kita ikut tidur di dalam..." teriak Herman yang sudah mulai kehilangan akal sehat, matanya melotot tak berkedip.
"HER! LARI! KITA HARUS LARI!" Deri menarik tangan Herman yang sudah terpaku ketakutan.
Tapi terlambat. Gangguan psikis semakin menjadi-jadi. Di mata mereka, semua pohon berubah menjadi batang leher manusia yang panjang, rambut menjadi dedaunannya. Akar-akar pohon berubah menjadi urat hitam yang melilit kaki mereka, mencoba menahan mereka agar tetap di sana.
Bau busuk semakin menyengat, bau bangkai yang menghembus dari pohon-pohon kematian itu menusuk hidung hingga membuat kepala pusing. Mereka melihat wajah-wajah orang yang mereka kenal; entah teman atau musuh; muncul di antara tumpukan mayat, memanggil-manggil nama mereka dengan suara yang terdistorsi.
"Apa yang kalian cari ada di dalam sini... Deri ikut kami... Herman jangan lari..."
Sementara itu...
Di tempat lain, Sulaiman baru saja berhasil menyalakan api unggun. Api kecil itu berkedip-kedip lemah di hadapan wajah Umar, memberikan cahaya oranye yang hangat namun tidak mampu menembus kegelapan yang tebal di sekelilingnya.
Tiba-tiba keduanya mendengar teriakan histeris.
"PAKKKK!!! TOLONGGG!!!"
Sulaiman menegakkan badannya. Dia melihat dua sosok berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah cahaya api. Wajah Deri dan Herman pucat mayat, mata melotot keluar, mulut berbusa, mereka terlihat seperti orang yang baru saja melihat neraka terbuka tepat di depan mata.
"APA YANG TERJADI?! KENAPA KALIAN BERTERIAK?!" bentak Sulaiman, tapi suaranya tertutup oleh kepanikan anak buahnya.
"KUBURAN! BOS! ITU KUBURAN BANYAK BANGET! MEREKA BANGKIT! MEREKA MAU NARIK KITA MASUK!" teriak Deri sambil terbatuk-batuk, napasnya tersengal hebat.
"DI SANA PENUH MAYAT! PENUH TANGAN-TANGAN! PAK, KITA PERGI DARI SINI! SEKARANG JUGA!" Herman langsung menarik lengan Sulaiman, menarik-nariknya paksa.
Sulaiman menatap ke arah tempat yang ditunjuk oleh anak buahnya. Di sana, di balik pepohonan, dia bisa melihat bayangan-bayangan hitam yang bergerak-gerak, berdesir seperti ombak laut yang ganas. Dia bisa merasakan aura kebencian dan kelaparan yang memancar dari arah sana.
Tanpa berpikir dua kali, tanpa menanyakan detail, naluri bertahan hidup Sulaiman berteriak keras. Ini tempat yang salah. Ini tempat pembantaian.
"AYO LARI!!! KELUAR DARI SINI SEKARANG!!!"
Api unggun yang baru saja dinyalakan dibiarkan padam tertiup angin. Mereka tidak butuh api. Yang mereka butuhkan adalah kecepatan.
Mereka berempat kembali berlari. Kali ini lebih panik, lebih kacau, dan lebih putus asa daripada sebelumnya.
Mereka menerobos semak belukar tajam yang mencakar wajah dan tangan mereka hingga berdarah. Sedang di belakang mereka, terdengar suara gemuruh. Suara tanah bergerak, suara ranting patah, dan suara ribuan kaki telanjang yang mengejar dengan langkah cepat.
"JANGAN LARI... AYO TIDUR BERSAMA KAMI..."
Suara itu terus membayangi, masuk ke dalam telinga, masuk ke dalam kepala, memutar terus menerus seperti lagu mantra yang mengerikan.
Langit di atas kepala mereka tetap gelap. Hitam legam, tak berujung, tak berbatas. Seperti sebelum-sebelumnya. Entah ini jam berapa, entah ini siang atau malam, yang jelas dunia di sekitar mereka telah berubah menjadi penjara kegelapan yang dipenuhi mimpi-mimpi nyata yang buruk.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?