Endric sadar dia tinggal di tempat yang sangat aneh. Semua orang terlihat normal, tapi terasa hampa. Dia bertemu Gandhul, sosok pocong kecil yang menjadi satu-satunya teman yang bisa diajak bicara.
Di tubuhnya muncul Garis Hitam misterius yang menyimpan kekuatan besar. Dia juga bertemu Ningsih, wanita misterius yang hanya bisa dilihat oleh Endric saja.
Mereka menyadari satu kebenaran mengerikan. Desa ini bukan tempat tinggal biasa. Ini adalah Penjara Raksasa yang dibuat untuk mengurung kekuatan jahat dan mengikat penduduk dengan aturan kejam.
Endric bukan orang asing. Dia sebenarnya pulang ke tanah leluhurnya. Nama keluarganya sengaja dihapus dari sejarah demi keselamatan.
Kini dia harus berani melawan segalanya. Bersama Bento, Ningsih, dan Gandhul, mereka akan menembus Hutan Terlarang, membangkitkan kekuatan leluhur, dan menghadapi Sang Tetua yang sudah berubah menjadi iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Diri Sendiri
Tubuh itu tersenyum ke arah Endric. Senyum itu terlalu lebar dan dipaksakan hingga terasa tidak wajar.
Endric mundur satu langkah. Jantungnya berdegup kencang melihat ekspresi itu.
“Gue gak lucu, ya?” gumamnya.
Versi dirinya di tengah lingkaran mengangkat kepala perlahan. Mata mereka bertemu.
Seketika itu juga, semua orang di dalam balai desa menoleh bersamaan dan menghadap ke arah Endric.
Sunyi memekakkan telinga. Tekanan di udara terasa sangat berat.
“Oke. Gue harus bangun sekarang,” bisik Endric panik.
Tidak ada yang berubah. Pemandangan itu tetap nyata di hadapannya.
Versi dirinya itu mulai berdiri. Tali pengikat di tubuhnya lenyap begitu saja.
Ia melangkah maju perlahan menuju Endric.
“Lo siapa?” tanya Endric. Suaranya serak dan terbata-bata.
Versi itu tertawa kecil. Suaranya persis sama dengan suara Endric.
“Pertanyaan bodoh, cok.”
Endric membeku. Nada dan cara bicaranya identik.
“Gue ya lo. Versi yang lebih cepat adaptasi.”
“Gue gak mau adaptasi kayak gitu.”
“Semua juga ngomong begitu di awal.”
“Gue beda.”
“Gak ada yang beda.”
Langkahnya berhenti beberapa meter di depan Endric. Warga di belakang tetap diam menyaksikan.
“Lo tahu bagian paling enak dari sini?”
Endric terdiam menunggu jawaban.
“Gak ada lagi punya pilihan.”
“Apaan enaknya?”
“Lo gak perlu mikir. Gak perlu takut. Tinggal ikut aja.”
Endric tertawa pendek.
“Lo ngajak gue jadi zombie?”
“Lebih simpel, kan.”
“Lebih cari mati, iya.”
Versi itu tersenyum lebih lebar.
“Lo capek, kan?”
Endric terdiam. Pertanyaan itu tepat sasaran.
“Capek mikir. Capek takut. Capek nyari jalan keluar yang gak ada.”
“Gue masih bisa keluar.”
“Semua bilang begitu sebelum masuk lingkaran.”
“Gue gak bakal jadi kayak lo.”
“Lo udah setengah jalan.”
“Apaan?”
Versi itu menunjuk tangan Endric tepat ke arah kuku yang menempel.
“Penanda.”
Endric refleks menutup tangannya.
“Ini bisa hilang.”
“Bisa. Kalau lo berhenti nolak.”
“Gue gak nolak.”
“Lo nolak. Lo masih mikir keluar. Masih nyari cara. Masih takut mati.”
Endric diam. Kata-kata itu menusuk tepat.
“Kalau lo berhenti... semuanya jadi gampang.”
“Gampang mati, maksud lo.”
“Gampang selesai.”
Sunyi kembali menyelimuti. Keraguan mulai menyusup ke dalam pikiran Endric.
“Lo gak kangen ketenangan?” tanya versi itu pelan.
“Tenang yang kayak gini?” tunjuk Endric ke sekeliling ruangan yang gelap.
“Iya.”
“Gue masih mending capek.”
Versi itu menghela napas dan mundur selangkah.
“Ya sudah. Berarti lo harus lihat sendiri.”
“Lihat apa?”
Versi itu mengangkat tangan. Lingkaran manusia terbuka dan memberi jalan.
Endric menoleh ke dalam dan langsung membeku.
Bukan hanya satu tubuh. Ada banyak tubuh berjejer rapi di sana dengan kondisi yang berbeda-beda.
Ada yang masih utuh. Ada yang rusak parah. Ada yang hampir tidak berbentuk manusia.
“Ini apa...”
“Yang dipilih.”
Endric merasa mual.
“Lo bilang cuma satu.”
“Setiap waktu satu.”
“Yang tidak dipilih ke mana?”
Versi itu menatapnya tajam. Senyumnya hilang total.
“Lo pikir mereka pergi?”
“Mereka jadi apa?”
“Yang manggil lo.”
Endric mundur teratur. Jantungnya hampir copot.
“Gak...”
“Yang di bawah lantai. Yang di dinding. Yang di hutan.”
“Semua yang gagal dipilih.”
Endric menutup telinga.
“Cukup.”
“Berarti lo harus siap jadi yang dipilih.”
“Ini jebakan.”
“Selamat. Akhirnya lo ngerti.”
“Kalau semua pilihan jelek, berarti ada yang belum gue lihat.”
“Optimis juga lo.”
“Gue gak peduli. Gue bakal tetap nyari.”
“Silakan. Gue tunggu lo di sini.”
“Ngapain nunggu?”
“Karena nanti lo pasti balik lagi.”
Tiba-tiba suara keras terdengar seperti kaca pecah. Langit merah di atas balai desa mulai retak.
Cahaya putih menyilaukan masuk menerobos celah-celah retakan itu.
“Apa ini...”
“Waktunya bangun.”
Endric menutup mata kuat-kuat.
Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal dan duduk tegak di atas kasur. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
“ANJIR...”
Gandhul sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Gimana?”
Endric menatap kosong ke depan selama beberapa detik.
“Gue ketemu diri gue sendiri.”
“Wajar.”
“Wajar apaan?!”
“Efek minuman tadi.”
Endric mengusap wajahnya kasar.
“Gue lihat kalau gue gak dipilih, gue jadi yang manggil.”
Gandhul diam dan tidak membantah.
“Dan kalau gue dipilih, gue mati.”
“Betul.”
“Bagus. Dua-duanya jelek.”
“Makanya ini menarik.”
“Gue tidak suka definisi menarik lo.”
Endric turun dari kasur dan berjalan ke meja. Ia menatap tangannya.
Kuku itu masih menempel, namun kini terlihat sedikit lebih panjang dari sebelumnya.
“Ndhul...”
“Kenapa?”
“Ini nambah panjang, ya?”
Gandhul mendekat dan memeriksanya dengan serius.
“Berarti waktunya makin dekat.”
“Seberapa dekat?”
Gandhul menatap mata Endric. Senyumnya hilang dan suaranya terdengar berat.
“Malam ini.”