Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Maut Diatas Pasir Panas
Episode 14
Suara sorak sorai ribuan mahluk di tribun penonton terdengar seperti gemuruh badai yang tidak pernah berhenti. Bau amis darah yang mengering bercampur dengan aroma panas dari pasir hitam di bawah kakiku menciptakan atmosfer yang sangat mencekam sekaligus membangkitkan gairah bertarung dalam jiwaku. Aku berdiri diam di tengah arena yang luas ini merasakan butiran pasir panas menyelusup di antara celah jari jari kakiku. Mata kuning keemasan ku tetap terpaku pada sosok raksasa di depanku yang bernama Iron Crusher.
Mahluk itu kembali mengayunkan palu tulangnya yang sangat besar ke udara menciptakan siulan angin yang cukup tajam. Setiap gerakan yang ia lakukan menunjukkan betapa besarnya tenaga fisik yang ia miliki. Cangkang logam organik yang menutupi tubuhnya berkilau ungu gelap memantulkan cahaya dari lampu lampu kristal di langit arena. Aku bisa merasakan getaran tanah setiap kali ia menggeser posisi kakinya yang sebesar batang pohon.
"Kenapa kau diam saja monyet kecil. Apakah kau sudah kencing di celanamu karena melihat besarnya palu ku ini."
Iron Crusher tertawa terbahak bahak hingga suara tawanya menggema di seluruh sudut bangunan melingkar ini. Para penonton ikut tertawa serta mulai meneriakkan kata kata hinaan kepadaku. Mereka bertaruh banyak koin esensi untuk melihat kepalaku hancur dalam satu kali hantaman.
Aku tidak menjawab. Di dunia pendakian bicara terlalu banyak hanya akan membuang buang oksigen yang berharga. Aku merendahkan posisi tubuhku meletakkan tangan kananku di atas pasir hitam sementara tangan kiriku yang sudah diperkuat Black Iron bersiap di depan dada. Aku memfokuskan pikiranku mencari ritme detak jantung lawan yang bergetar melalui tanah.
[ SISTEM: MEMULAI ANALISIS POLA SERANGAN LAWAN ]
[ SISTEM: TARGET MENGANDALKAN KEKUATAN PUKULAN SUDUT LEBAR ]
[ SISTEM: KECEPATAN GERAKAN KAKI: RENDAH ]
[ SISTEM: TITIK LEMAH TERDETEKSI PADA CELAH ANTARA CANGKANG LEHER DAN BAHU ]
Celah leher. Itu adalah target yang sulit dijangkau karena tinggi badannya yang mencapai tiga meter. Aku harus membuatnya merunduk atau aku harus melompat cukup tinggi untuk mencapainya.
Tanpa peringatan Iron Crusher melesat maju dengan langkah yang sangat berat namun bertenaga. Ia mengayunkan palu raksasanya secara horizontal mengincar bagian pinggangku. Serangan ini sangat luas dan cepat hampir mustahil untuk dihindari hanya dengan melangkah ke samping.
"Mati kau!"
Aku menggunakan kemampuan Burst Dash tepat saat mata palu itu hampir menyentuh kulit perutku. Aku tidak melompat ke belakang melainkan aku melompat ke atas. Aku menggunakan punggung tangan kiriku yang dilapisi Black Iron untuk menepis batang palu tersebut di udara guna memberikan dorongan tambahan bagi lompatanku.
Ting!
Percikan api ungu meledak saat logam bertemu dengan tulang hitam. Aku berhasil melayang di atas kepala Iron Crusher selama satu detik. Di saat itulah pandanganku menjadi sangat tajam. Aku bisa melihat setiap pori pada cangkang logamnya dan aliran energi ungu yang mengalir di bawah kulitnya.
[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA MENINGKAT SESAAT (ADRENALIN MODE) ]
[ SISTEM: JARAK KE TITIK LEMAH: 0.5 METER ]
Aku mencoba menghujamkan telapak tangan kananku ke arah lehernya namun mahluk itu ternyata lebih cerdik dari dugaanku. Ia melepaskan satu tangannya dari gagang palu kemudian mencoba menangkap kakiku di udara.
"Tertangkap kau!"
Cengkeraman tangannya yang besar dan kasar mengunci pergelangan kaki kananku. Iron Crusher membanting tubuhku ke arah pasir arena dengan kekuatan yang sangat luar biasa.
Brak!
Tubuhku menghantam pasir hitam hingga menciptakan lubang kecil. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari punggung hingga ke seluruh syaraf wajahku. Aku bisa merasakan beberapa jaringan otot di punggungku robek akibat benturan tersebut. Darah hitam mulai merembes keluar membasahi pasir yang panas.
[ SISTEM: PERINGATAN: INTEGRITAS TUBUH MENURUN 15 % ]
[ SISTEM: REGENERASI OTOT SEDANG BERJALAN ]
Penonton bersorak sangat keras melihatku terkapar. Iron Crusher mendekat dengan langkah yang lambat serta angkuh. Ia mengangkat palunya tinggi tinggi bersiap untuk mengakhiri hidupku dengan satu hantaman vertikal.
"Goma bangun! Jangan biarkan dia menghancurkan mu sekarang!" teriak Kharis dari kejauhan dengan nada suara yang sangat panik.
Sakit... tapi ini belum seberapa dibandingkan rasa sakit saat aku jatuh dari Kanchenjunga.
Aku menatap palu yang mulai turun ke arahku. Aku tidak panik. Aku menggunakan memori ototku sebagai pendaki saat harus menahan beban jatuh di atas tali. Aku memutar tubuhku di atas pasir menggunakan kekuatan otot perut yang baru saja ku satukan di rawa sebelumnya.
Blam!
Palu Iron Crusher menghantam pasir tepat di samping kepalaku menciptakan ledakan debu hitam yang membutakan pandangan sesaat. Aku tidak membuang waktu. Sambil masih dalam posisi berbaring aku menendang pergelangan tangan Iron Crusher menggunakan kedua kakiku secara bersamaan.
Duar!
Tendangan ku yang sudah memiliki kekuatan otot betis yang sempurna berhasil menggeser tangan raksasanya. Palu itu terlepas dari genggamannya. Iron Crusher terkejut serta kehilangan keseimbangan sesaat karena berat palunya sendiri menyeretnya ke depan.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Aku bangkit dengan gerakan yang sangat lentur. Aku memanjat tubuh raksasanya seolah olah ia adalah dinding batu yang bergerak. Tangan kananku mencengkeram lipatan kulit di pinggangnya sementara tangan kiriku menusuk celah di bawah ketiaknya.
"Argh! Mahluk licin! Lepaskan aku!"
Iron Crusher mencoba memukul punggungku namun aku terus bergerak merayap menuju pundaknya. Aku menggunakan teknik daki tebing untuk tetap menempel pada cangkangnya yang licin. Begitu aku sampai di pundaknya aku melingkarkan lengan kiriku yang keras ke lehernya. Aku mengunci pernapasannya menggunakan teknik pitingan leher yang sangat kuat.
"Kau bicara terlalu banyak untuk mahluk yang sebentar lagi akan mati," bisikku tepat di lubang telinganya.
Aku mengerahkan seluruh kekuatan esensi jantungku ke lengan kiriku. Aku bisa merasakan bagaimana partikel Black Iron di dalam tulangku bergetar memberikan tekanan yang sangat hebat pada syaraf leher Iron Crusher. Mahluk raksasa itu mulai kesulitan bernapas. Wajah merahnya berubah menjadi keunguan.
[ SISTEM: PROSES PENGHANCURAN SYARAF PUSAT LAWAN SEDANG BERJALAN ]
[ SISTEM: ESENSI LAWAN MULAI MELEMAH ]
Iron Crusher mencoba menjatuhkan dirinya ke belakang agar tubuhku tertindih namun aku sudah lebih dulu menusukkan jari jari tangan kananku ke dalam lubang matanya.
"Aaakh! Mataku!"
Jeritan memilukan itu membungkam seluruh penonton di arena. Suasana yang tadi bising tiba tiba menjadi sangat sunyi. Mereka tidak percaya melihat petarung liar sepertiku bisa menyudutkan juara arena. Aku terus menekan hingga aku merasakan gumpalan esensi di dalam otaknya. Dengan satu tarikan paksa aku merobek bagian belakang kepalanya menggunakan kuku kuku hitamku.
Croot!
Cairan ungu kental menyembur ke seluruh tubuhku. Iron Crusher gemetar hebat selama beberapa detik sebelum akhirnya tubuh raksasanya ambruk ke atas pasir hitam. Mahluk itu mati dengan mata terbuka penuh dengan rasa tidak percaya.
Aku berdiri di atas mayatnya yang besar. Aku merasa sangat lelah namun rasa lapar yang sangat hebat segera menggantikan rasa lelah itu. Aku melihat ke arah penonton. Mereka semua terdiam membeku. Aku kemudian menatap bangkai Iron Crusher.
"Ya. Aku ingin esensinya."
Aku mulai merobek cangkang logam di punggungnya menggunakan kekuatan Black Iron ku. Di bawah cangkang itu terdapat jaringan otot yang sangat padat dan berkualitas tinggi. Aku mulai memakan daging itu dengan sangat rakus. Rasa esensinya sangat kuat seperti makan daging panggang yang penuh dengan rempah rempah pedas.
[ SISTEM: MENGONSUMSI IRON CRUSHER ESSENCE ]
[ SISTEM: MEMULAI PROSES PENGERASAN KULIT (METALIC SKIN INTEGRATION) ]
[ SISTEM: PENYEMPURNAAN OTOT PUNGGUNG DAN BAHU SEDANG BERJALAN ]
Aku merasakan sensasi panas menjalar di sepanjang punggungku. Luka robek yang tadi kuterima langsung menutup dalam sekejap. Tak hanya itu kulit abu abuku mulai berubah warna menjadi sedikit lebih gelap dengan kilauan metalik yang tipis. Sekarang kulitku terasa jauh lebih keras dari sebelumnya namun tetap fleksibel untuk bergerak.
[ SISTEM: PERTANDINGAN SELESAI. PEMENANG: GOMA SANG PENDAKI ]
[ SISTEM: ANDA MENDAPATKAN 500 KOIN ESENSI OKSIDIAN ]
Seorang petugas arena yang tadinya di loket pendaftaran berjalan mendekat ke tengah arena dengan wajah yang masih pucat karena terkejut. Ia memberikan sebuah kantong kecil yang berisi koin koin ungu yang bercahaya.
"Kau... kau benar benar membunuhnya. Ini hadiahmu. Tapi berhati hatilah Goma. Pemilik Iron Crusher adalah seorang bangsawan tingkat rendah. Dia tidak akan senang melihat mainannya dihancurkan seperti ini."
Aku mengambil kantong koin itu tanpa berkata kata. Aku menatap lurus ke arah tribun penonton di mana beberapa sosok berjubah hitam sedang menatapku dengan pandangan tajam. Aku tahu tantangan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Ibu Widya aku sudah mendapatkan koin pertamaku. Aku akan terus bertarung sampai aku memiliki cukup uang untuk membeli informasi tentang jalan pulang itu. Tak peduli berapa banyak bangsawan iblis yang harus ku hadapi.
Aku berjalan keluar dari arena dengan langkah yang jauh lebih kuat dari saat aku masuk tadi. Setiap hantaman yang kuterima di arena tadi justru membuat otot ototku menjadi lebih padat. Aku merasa seolah olah tubuhku sedang bertransformasi menjadi sebuah senjata hidup yang tidak bisa dipatahkan.
"Kerja bagus Goma! Kau lihat muka mereka tadi. Benar benar memuaskan!" Kharis terbang di sekitarku dengan penuh semangat.
Kami berjalan meninggalkan gedung arena menuju ke arah penginapan murah di pinggiran kota untuk beristirahat. Aku butuh waktu untuk menstabilkan energi baru yang ku serap dari Iron Crusher. Aku tahu bahwa esok hari berita tentang kemenanganku akan tersebar di seluruh Kota Oksidian. Dan aku siap untuk menghadapi apa pun yang akan dikirimkan oleh neraka ini kepadaku.
Pendakianku di wilayah tengah baru saja dimulai dengan tumpahan darah pertama. Dan aku akan memastikan bahwa darah darah selanjutnya akan membawa langkahku kembali ke Bumi.