Di usianya yang sudah genap dua puluh tujuh tahun Sandi Atmojo belum sedikitpun memikirkan tentang pernikahan sehingga kedua orang tuanya jadi khawatir putranya tersebut akan memilih hidup Single seumur hidup. Untuk mencegah hal itu sampai terjadi, sang mamah terus memaksanya untuk mencari calon istri, namun jawaban Sandi tetap sama, yaitu belum berniat menikah sebab belum memiliki calon. "Jika kamu tidak sanggup mencari calon istri, biar mama yang akan mencarikan calon istri untuk kamu." Pada akhirnya sandi tak dapat menolak lagi, dan membiarkan mamah mencarikan calon istri untuknya. Akan tetapi, Sandi tak menyangka jika pilihan mamahnya adalah seorang wanita yang berstatus single Mommy.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
"Siapa ibu tadi, Vania?." Tanya Cika setelah mereka berada di dalam pesawat. Ya, Saat berangkat ke bandara tadi, Vania diantar oleh Bu Dinda, Mbak Atun dan juga Sesil. Dari ketiga orang tersebut, wajah baru Bu Dinda berhasil menarik perhatian Cika, mengingat selama mengenal Vania tak pernah sekalipun ia bertemu dengan Bu Dinda.
"Oh itu, nama beliau Bu Dinda. Bu Dinda itu adalah korban kecelakaan yang tempo hari aku antar ke rumah sakit." Vania sedikit menceritakan tentang Bu Dinda pada Cika. Cukup pertemuannya dengan Bu Dinda, Vania belum berniat menceritakan semuanya, terutama tawaran Bu Dinda untuk menikah dengan putranya.
"Begitu rupanya." Cika mengangguk paham.
*
"Apa Ini rumah Oma?." Dari balik kaca mobil Sesil menatap kagum ke arah bangunan megah di hadapannya. Sama seperti Sesil, mbak Atun pun sangat kagum sekaligus terkejut ketika pertama kali menyaksikan betapa megahnya kediaman Bu Dinda. Rupanya wanita paruh baya tersebut berasal dari kalangan orang kaya. Buktinya, tempat tinggalnya saja bak istana. Jika ibunya adalah orang kaya secara otomatis putranya pun adalah orang kaya? Mbak Atun masih sibuk dengan pemikirannya sendiri. Bukannya materialistis, tapi menurut mbak Atun selama ini Vania sudah cukup bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan hidup mereka. Jika pria yang akan menikah dengan Vania adalah orang kaya, tentu kedepannya nanti Vania tidak perlu lagi capek-capek bekerja, begitu pikir mbak Atun yang begitu peduli pada Vania.
"Benar sayang, ini rumah Oma. Selama mamah Sesil berada di luar kota, Sesil dan mbak Atun akan tinggal di sini bersama Oma." Kata Bu Dinda sambil mengulas senyum pada bocah perempuan tersebut.
Sesil hanya mengangguk.
"Ayo turun, sayang!." Bu Dinda turun dari mobil kemudian membukakan pintu untuk Sesil. Mbak Atun pun ikut turun dari mobil.
"Mbak, tolong bawakan tasnya Sesil ya!."
"Baik, nyonya."
"Selamat datang di rumah Oma, Sesil..... selamat datang di rumah saya, mbak Atun." Ujar Bu Dinda saat mereka memasuki pintu utama.
Setelah menginjakan kaki di dalam rumah tersebut, mbak Atun semakin dibuat terkagum-kagum dengan seisi rumah.
"Ini sih bukan rumah, tapi istana." Bukannya norak tapi kenyataannya memang demikian, kediaman keluarga Admodjo bak istana.
"Mbak Atun terlalu berlebihan, ini hanya titipan dari Tuhan." Seperti itulah sifat rendah hati yang dimiliki oleh ibu kandung dari Sandi tersebut sehingga mendapat pujian tak membuatnya melayang dan terbuai. Justru semakin banyak yang memuji nikmat Tuhan yang dititipkan kepada keluarga mereka, Bu Dinda semakin sadar bahwa sebagai hamba Tuhan mereka harus banyak-banyak bersyukur dan memperbaiki ibadah.
"Apa anak-anak nyonya juga tinggal bersama di rumah ini?." Tanya mbak Atun sekedarnya.
"Lebih tepatnya putra kami, karena kami hanya memiliki satu orang putra, mbak." Jawab Bu Dinda.
"Rupanya calon suami Bu Vania anak tunggal." Batin Mbak Atun tanpa maksud apa-apa.
"Bi...."
"Iya, nyonya." Salah seorang Art menghampiri Bu Dinda.
"Tolong siapkan kamar buat tamu saya!."
"Baik, Nyonya." Art tersebut beranjak guna melaksanakan perintah dari majikannya tersebut, membersihkan kamar tamu serta menyiapkan segala keperluannya.
Saat waktu makan siang tiba, Bu Dinda mengajak Sesil dan juga mbak Atun untuk makan siang bersama. Dan, setelah makan siang mbak Atun pamit pada Bu Dinda untuk mengajak Sesil tidur siang. Karena itu sudah menjadi kebiasaan Sesil.
Hari ini Sesil tidur siang lebih lama dari biasanya. Bocah itu baru terbangun pada pukul lima sore. Mungkin karena faktor tempat tidur yang terasa begitu nyaman hingga Sesil tertidur begitu lama.
"Sebelum ketemu Oma, Non Sesil mandi sore dulu biar cantik dan wangi." Kata mbak Atun saat Sesil berkata ingin bertemu dengan Bu Dinda.
"Baik, mbak." ini yang paling disenangi mbak Atun dari Sesil, bocah itu termasuk anak yang patuh.
Tiga puluh menit kemudian, Sesil sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian lengkap.
"Non Sesil cantik sekali." Puji mbak Atun.
"Makasih mbak." Seperti biasa, Sesil selalu menampilkan senyum manisnya saat mendapat pujian dari mbak Atun.
"Ayo....Sekarang kita ketemu Oma!." Mbak Atun menggandeng tangan Sesil lalu keduanya berlalu keluar dari kamar.
Kata salah seorang Art, Bu Dinda sedang bersantai di tepi kolam berenang yang letaknya di halaman samping. Mbak Atun lantas mengajak Sesil ke area yang diarahkan oleh Art tadi.
"Oma...." Mungkin terlalu gembira setelah berhasil menemukan keberadaan Bu Dinda, Sesil sontak melepas gandengan tangan mbak Atun, kemudian berlari ke arah Bu Dinda. Siapa sangka, Kaki Sesil tersandung saat melintas ditepian kolam hingga menyebabkan gadis kecil itu terjatuh ke kolam berenang.
"Non Sesil." Mbak Atun dan Bu Dinda kompak berteriak. Dengan wajah paniknya, mbak Atun berlari mendekat ke tepian kolam. Mbak Atun nekat, hendak melompat untuk menyelamatkan Sesil walaupun kenyataannya ia tidak pandai berenang. Namun, belum sempat Mbak Atun melompat, seseorang terlebih dulu melompat ke kolam.
"Sandi...." Gumam Bu Dinda melihat putranya melompat ke kolam.
Tak butuh waktu lama, kini tubuh bocah perempuan tersebut sudah berada di permukaan kolam dengan digendong oleh Sandi. Untungnya Sesil tidak sampai pingsan, hanya sedikit ngos-ngosan sambil memeluk tubuh Sandi dengan erat.
Beberapa saat lalu, Sandi baru saja turun dari mobilnya dan pria itu mendengar suara teriakan ibunya. Tanpa membuang waktu, Sandi gegas berlari ke sumber suara. Melihat seorang anak perempuan tenggelam, tanpa berpikir panjang Sandi langsung melompat untuk menyelamatkannya.
"Lain kali jangan membiarkan anak kecil berkeliaran di area kolam, bahaya!." Akibat khawatir, tanpa sadar suara Sandi naik beberapa oktaf.
"Maaf tuan, ini semua salah saya." Kata mbak Atun sambil terisak.
"Jangan nangis mbak, Sesil nggak papa kok. Lagian ini salah Sesil, bukannya salah mbak Atun."
Deg
Sandi tertegun, ia tidak menyangka seorang bocah bisa mengeluarkan kata-kata sedewasa itu. Jika hal serupa terjadi pada anak lain yang seusianya, mungkin anak tersebut akan menangis bahkan menjerit karena ketakutan, tetapi tidak dengan gadis kecil di gendongannya itu.
"Makasih Om, sudah menyelamatkan Sesil. Kalau nggak ada Om, mungkin Sesil sudah nggak bisa ketemu mamah lagi. Dan pastinya mamah akan sedih, karena hanya Sesil yang mamah punya di dunia ini."
Deg.
Untuk kedua kalinya Sandi dibuat tertegun oleh kata-kata bocah perempuan nan cantik tersebut.
"Cepat bawa Sesil untuk ganti baju mbak, dia pasti sudah kedinginan! jangan lupa balurkan minyak angin ke seluruh tubuhnya!." Kata Bu Dinda.
"Baik, nyonya."
"Sepertinya kamu sudah cocok menjadi seorang ayah." Kata Bu Dinda pada sang putra Sepeninggal mbak Atun dan juga Sesil.
"Apa maksud mamah?." Sandi tak sepenuhnya paham dengan maksud perkataan ibunya.
"Anak itu adalah anak dari calon istri kamu." Jawab Ibu.
bisa gak dia aja yang di pecat 😏
Sandi pasti akan dukung Vania.
lagian apa urusannya sama Atika kalau pun ada kejadian jebak menjebak antara Vania dan Harto.
Atika melabrak seolah dia istri sah Harto 😆😆😆😆