Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.
Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.
Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.
Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka perlahan di kamar utama mansion Cavanaugh.
Udara terasa hangat, membawa aroma mawar dari taman bawah dan sisa-sisa kebahagiaan malam pengantin yang baru saja mereka lalui. Catherina masih terlelap, wajahnya tampak begitu damai dengan rambut panjangnya yang tersebar di atas bantal sutra.
Di sudut kamar, Everest berdiri di depan boks bayi kristal Liam. Ia sudah bangun sejak fajar menyingsing, tidak ingin melewatkan satu detik pun melihat putranya terbangun. Ia kini tidak lagi mengenakan setelan jas yang kaku, melainkan hanya celana tidur panjang dan kaos dalam hitam yang menonjolkan otot lengannya.
Everest menunduk, menatap bayi kecil itu yang kini mulai mengeliat. Liam membuka matanya—mata yang begitu jernih, tajam, dan memiliki kilat yang persis dengan milik Everest.
"Halo, Jagoan," bisik Everest sangat lirih, suaranya parau karena haru.
Ia mengangkat Liam dengan gerakan yang kini jauh lebih luwes. Ia sudah belajar banyak dalam beberapa hari terakhir. Ia tidak lagi memegang Liam seolah-olah bayi itu adalah barang pecah belah yang rapuh, melainkan dengan dekapan seorang ayah yang siap menjadi benteng terdepan.
Everest membawa Liam ke arah balkon besar yang tertutup kaca, menjauh dari ranjang agar tangisan kecil Liam tidak membangunkan Catherina yang tampak sangat kelelahan. Di sana, sambil menimang-nimang Liam, Everest menatap wajah putranya dengan saksama.
Kau memang replika sempurna dariku saat kecil, Nak, batin Everest. Bahkan caramu mengerutkan kening saat lapar, itu benar-benar aku.
Everest tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan pada dunia. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga kecil Liam, berbisik seolah-olah bayi itu adalah sekutu dalam rencana besarnya.
"Dengarkan Daddy, Liam. Mommy mu... dia masih tidak tahu rahasia itu. Dia masih belum tahu kehadiranku di malam wisuda itu. Dia tidak tahu bahwa aku sengaja meninggalkan 'tanda' agar dia tidak pernah bisa benar-benar pergi dariku."
Everest mengusap pipi lembut Liam dengan ibu jarinya. "Daddy mohon, jangan sampai Mommy tahu rahasia kita ya, Nak? Biarkan dia percaya pada keajaiban medis yang membingungkan itu. Biarkan dia mengira bahwa cinta kitalah yang membuatmu lahir dengan wajahku, bukan karena rencana picik Daddy yang tidak rela kehilangan dia."
Liam mengeluarkan suara cooing kecil, seolah-olah memberikan persetujuan pada rahasia antara dua lelaki Cavanaugh itu.
"Tumbuhlah lebih cepat, Sayang," lanjut Everest, matanya berkilat penuh ambisi. "Daddy sudah menyiapkan segalanya untukmu. Aku tidak sabar menunggumu bisa berjalan. Aku akan mengajarimu main basket di lapangan belakang yang baru saja Daddy minta bangun ulang. Aku akan mengajarimu cara menaklukkan dunia, cara menjaga apa yang menjadi milikmu, persis seperti cara Daddy menjaga Mommy-mu."
Everest merasa dadanya sesak oleh penyesalan yang mendalam. Ia teringat kembali satu tahun yang ia lewatkan dalam kemarahan di London. Setahun di mana seharusnya ia ada di sana, mendengar detak jantung Liam untuk pertama kali, melihat USG pertama, dan merasakan tendangan pertama di perut Catherina.
"Maafkan Daddy karena baru datang sekarang," bisiknya lagi, mencium dahi Liam dengan penuh penekanan. "Daddy akan mengganti semua waktu yang hilang. Aku akan menjadi ayah yang tidak akan pernah membiarkanmu merasa sendirian, seperti yang kau rasakan di rumah lama itu."
Tiba-tiba, Catherina bergerak di atas ranjang. Ia mengucek matanya dan menoleh ke arah balkon, tersenyum lemah melihat siluet dua orang yang paling ia cintai di dunia ini.
"Everest? Kenapa kau sudah bangun?" tanya Catherina dengan suara serak khas bangun tidur.
Everest berbalik, tersenyum hangat—senyum yang sama sekali tidak mengandung jejak 'pencuri malam' yang baru saja ia akui pada Liam. "Jagoan kita merindukan Daddy-nya, Cathe. Dia ingin melihat pemandangan pagi bersamaku."
Catherina turun dari ranjang, mendekati mereka berdua. Ia melingkarkan lengannya di bahu Everest, menyandarkan kepalanya di sana sambil menatap Liam. "Dia sangat tenang bersamamu, Everest. Aku tidak pernah melihatnya setenang ini selama satu bulan terakhir."
"Itu karena dia tahu dia sedang berada di tangan seorang Cavanaugh, Sayang," jawab Everest bangga.
Everest menatap Catherina, lalu beralih pada Liam yang kini kembali terlelap di dekapannya. Dalam hatinya, Everest berjanji akan menjaga rahasia malam wisuda itu sampai mati. Baginya, tidak masalah jika Catherina menganggap Liam adalah sebuah "keajaiban medis" atau "hasil rindu", asalkan pria itu bisa memiliki mereka berdua di sisinya.
"Ayo, Daddy harus mengganti popokmu sebelum kita turun untuk sarapan keluarga," ucap Everest sengaja mengeraskan suaranya agar Catherina tertawa.
"Kau sudah mahir sekarang, Mr. Cavanaugh?" goda Catherina.
"Tentu saja. Aku adalah Everest Cavanaugh. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang tidak bisa kupelajari dalam semalam, terutama jika itu menyangkut putraku," sahutnya sombong, namun matanya tetap memancarkan kelembutan yang hanya milik Catherina dan Liam.
Pagi itu, di kediaman Cavanaugh yang megah, rahasia itu terkunci rapat. Antara dua lelaki yang memiliki darah yang sama, sebuah perjanjian tak tertulis telah dibuat: Liam akan tumbuh menjadi penerus takhta, dan Everest akan menjadi pelindung abadi yang akan menghapus setiap jejak masa lalu yang menyakitkan, memastikan bahwa mulai hari ini, hanya ada kebahagiaan di bawah nama besar mereka.