Ini adalah cerita Gao Rui, murid sekte terkuat yang sekaligus salah satu pemilik Kelompok Dagang Harta Langit. Salah satu kelompok dagang besar dan paling berkembang di Kekaisaran Zhou...
Simak petualangannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelompok Harta Langit
Gao Rui melangkah menuruni dataran batu dengan langkah mantap. Semakin dekat ia ke arah kereta, semakin jelas suasana sibuk yang sejak tadi hanya terlihat samar dari kejauhan.
Dua kereta kuda besar berdiri kokoh di sana. Badannya dilapisi kayu hitam mengilap yang dipernis halus namun rangka luarnya diperkuat besi tipis berukir. Lambang Kelompok Dagang Harta Langit terpasang di sisi badan kereta memantulkan cahaya pagi.
Di sekelilingnya, belasan kuda tunggangan berdiri tenang. Tubuh mereka tegap, napasnya berat, dan mata mereka tajam. Bahkan Gao Rui yang awam soal kuda pun bisa melihat bahwa hewan-hewan ini bukan tunggangan biasa.
Begitu Gao Rui mendekat, beberapa orang yang sedari tadi sibuk memeriksa tali kekang dan perlengkapan perjalanan langsung menoleh. Lalu… hampir bersamaan, mereka tersenyum.
“Selamat pagi, Tuan Muda.”
Sapaan itu datang dari beberapa arah sekaligus. Gao Rui langsung berhenti di tempat. Untuk sesaat, wajahnya benar-benar kaget.
“T-Tuan muda?” ulangnya pelan.
Beberapa pengawal dan anggota Kelompok Harta Langit menunduk hormat ringan. Sikap mereka sopan namun tidak kaku. Jelas, mereka melakukan itu bukan sekadar formalitas.
Wajah Gao Rui langsung terasa panas.
“Tidak… tidak usah seperti itu,” katanya cepat. Ia bahkan sedikit mengangkat kedua tangannya, seperti orang yang panik. “Aku bukan siapa-siapa. Kalian tidak perlu terlalu sopan padaku.”
Ucapan polos itu justru membuat beberapa orang tersenyum geli. Seorang pria paruh baya yang sedang memeriksa roda kereta bahkan terkekeh kecil… lalu menunduk sambil berkata,
“Baik, Tuan Muda.”
Gao Rui hampir tersedak mendengarnya.
“Aku baru saja bilang jangan begitu…”
Ucapan jujurnya itu membuat beberapa orang tertawa pelan. Suasana yang semula formal… perlahan menjadi lebih ringan.
Lan Suya yang sejak tadi berdiri di samping kereta hanya menyandarkan tubuhnya santai ke kusen pintu. Ia memperhatikan tingkah Gao Rui sambil menahan senyum.
“Aku sudah bilang,” katanya santai. “Perjalanan ini akan menyenangkan.”
Gao Rui menatapnya dengan wajah pasrah. Lan Suya lalu menepuk tangan pelan.
“Baik. Karena Rui’er sudah datang… aku perkenalkan semuanya dulu.”
Seketika… suasana kembali rapi. Belasan orang yang tadi tersenyum santai kini berdiri lebih teratur. Lan Suya mulai berjalan perlahan… memperkenalkan satu per satu orang yang akan ikut dalam perjalanan ke ibu kota.
“Ini Feng Luo. Kepala kusir.”
Seorang pria kekar berusia sekitar empat puluhan menangkupkan tangan. Wajahnya keras… namun matanya hangat.
“Ini Hu Ming dan Qiao Shen. Mereka bertanggung jawab atas jalur depan.”
Dua pria berpakaian pengawal mengangguk hormat.
Lan Suya melanjutkan tanpa terburu-buru. Nama demi nama diperkenalkan. Ada pengawal pribadi, pengatur logistik, tabib, hingga beberapa anggota kelompok dagang yang ia juga bawa.
Semakin lama Gao Rui mendengarkan semakin ia menyadari sesuatu. Rombongan ini besar. Ia semula mengira hanya akan ada beberapa orang. Namun ternyata ada belasan orang yang ikut bersama Lan Suya dalam perjalanan menuju ibu kota.
Ini bukan sekadar perjalanan biasa. Ini seperti rombongan dagang penting, lengkap dengan perlindungan penuh.
Gao Rui diam-diam menarik napas. Kelompok Harta Langit memang luar biasa.
Lan Suya lalu berhenti di depan seorang wanita yang sedari tadi berdiri agak di belakang. Wanita itu tampak tenang, mengenakan pakaian sederhana berwarna biru tua. Wajahnya cantik dewasa, namun sorot matanya sangat tenang. Terlalu tenang.
“Ini Rou Xi,” ujar Lan Suya.
Wanita itu menangkupkan tangan pelan.
“Salam kenal, Tuan Muda Rui.”
Nada suaranya lembut hampir seperti air tenang. Namun saat Gao Rui menatapnya Tubuhnya sedikit menegang. Ia bisa merasakan aura yang sangat dalam dari wanita itu. Tenang, bersih, namun amat menekan. Itu bukan aura orang biasa.
Dalam sekejap, Gao Rui langsung paham. Ia mengaktifkan Teknik Mata Dewanya dan melihat ranah kultivasi Rou Xi. Benar saja, orang itu memang seorang pendekar suci. Bukan hanya itu, wanita ini berada di ranah pendekar suci puncak.
Ia menatap Rou Xi sedikit lebih lama lalu membalas salam dengan hormat.
“Salam.”
Rou Xi tersenyum tipis. Tatapannya sempat memandang Gao Rui lebih dalam lalu kembali tenang. Jelas wanita itu pun sedang menilai dirinya.
Lan Suya melanjutkan langkah. Kali ini, ia berhenti di orang terakhir. Seorang pria tinggi berdiri di dekat kuda hitam besar. Tubuhnya tegap, bahunya lebar, dan wajahnya dingin tanpa banyak ekspresi.
Ia hanya berdiri diam, namun kehadirannya sendiri sudah memberi tekanan yang samar. Pedang panjang tergantung di pinggangnya. Sarungnya polos tanpa hiasan.
“Dan ini…” kata Lan Suya, suaranya sedikit lebih santai, “…Bai Kai.”
Pria itu mengangkat pandangannya. Tatapannya tajam seperti bilah pedang yang baru diasah.
Ia menangkupkan tangan dengan singkat.
“Tuan Muda Rui.”
Gao Rui membalas namun dalam hatinya ia sedikit kaget. Aura pria ini jauh lebih menekan daripada Rou Xi. Bukan karena tingkat kultivasinya lebih tinggi… tapi karena auranya seperti berada di ambang batas. Pendekar suci setengah langkah menuju pendekar bumi.
Kesadaran itu membuat Gao Rui sedikit tercengang. Ia tak menyangka… hanya untuk mengantar perjalanan Lan Suya… ada dua orang sekuat ini ikut serta.
Lan Suya yang melihat ekspresi Gao Rui langsung tersenyum kecil.
“Bagaimana?” tanyanya ringan. “Sekarang kau paham kan…mengapa aku bilang perjalanan ke ibukota akan menyenangkan.”
Gao Rui menatap sekeliling rombongan itu sekali lagi. Kereta mewah. Belasan orang pilihan. Dua pendekar suci puncak yang menakutkan.
Lalu ia menatap Lan Suya… yang sedang tersenyum santai seolah semua ini hal biasa. Untuk sesaat… Gao Rui hanya bisa menghela napas kecil.
“Perjalanan ini…” gumamnya pelan.
Lan Suya mengangkat alis.
“Kenapa?”
Gao Rui menatap rombongan besar itu lalu berkata jujur,
“…ternyata benar-benar besar.”
Beberapa orang langsung tertawa kecil mendengar kejujurannya. Lan Suya pun ikut tertawa. Matanya melengkung indah.
“Baru sekarang kau sadar?”
Gao Rui menggaruk pipinya sedikit kikuk. Entah kenapa di tengah rombongan besar yang dipenuhi orang-orang hebat ini justru rasa gugupnya perlahan berubah menjadi rasa penasaran. Perjalanan ke ibu kota, tampaknya benar-benar akan jauh dari kata membosankan.
...*******...
Suasana di sekitar Sekte Bukit Bintang perlahan menjadi lebih tenang. Setelah semua persiapan selesai, Lan Suya mengangkat tangannya ringan sebagai tanda. Para pengawal segera bergerak cepat dan teratur. Tali kekang diperiksa sekali lagi, barang-barang dinaikkan ke dalam kereta, dan posisi penjagaan mulai diatur.
Tak lama kemudian rombongan Kelompok Harta Langit akhirnya mulai bergerak meninggalkan Sekte Bukit Bintang. Dua kereta kuda besar itu berjalan perlahan di depan, diikuti belasan kuda tunggangan yang mengelilinginya seperti pelindung hidup. Roda kereta berderit pelan di atas jalan berbatu, sementara debu tipis mulai terangkat mengikuti langkah mereka.
Kereta pertama diisi oleh Rou Xi dan Lan Suya. Di dalamnya, suasana tampak tenang. Lan Suya duduk santai sambil sesekali melirik keluar jendela, sementara Rou Xi duduk tegak dengan mata terpejam, seolah tenggelam dalam ketenangan batinnya sendiri.
Sedangkan di kereta kuda kedua, Gao Rui dan Bai Kai duduk berseberangan di dalamnya. Interior kereta itu cukup luas, namun tetap saja suasana terasa agak canggung.
Gao Rui duduk dengan punggung tegak. Tangannya diletakkan di atas paha, sementara pandangannya sesekali melirik ke arah pria di sampingnya, Bai Kai.
Pria itu duduk dengan santai, satu tangan bertumpu di lutut, sementara tatapannya lurus ke depan. Wajahnya tetap dingin seperti sebelumnya tanpa banyak ekspresi.
Keheningan itu berlangsung beberapa saat. Cukup lama hingga akhirnya Bai Kai membuka suara.
“Apa Tuan Muda tidak nyaman denganku di sini?” tanyanya datar.
Nada suaranya tidak terdengar tersinggung namun juga tidak sepenuhnya santai. Lebih seperti pernyataan jujur yang langsung menuju inti.
Gao Rui langsung tersentak.
“Eh?” balasnya cepat.
Bai Kai sedikit memiringkan kepala.
“Sejak tadi kau tampak gelisah,” lanjutnya. “Jika memang tidak nyaman, aku bisa mengendarai kuda lain di luar.”
Ucapan itu sederhana. Namun justru membuat Gao Rui panik.
“Tidak! Bukan seperti itu!” katanya cepat, hampir refleks.
Ia bahkan sedikit mengangkat tangannya, seperti ingin menghentikan Bai Kai yang mungkin benar-benar akan keluar dari kereta.
“Aku tidak bermaksud seperti itu,” lanjutnya dengan nada lebih rendah, mencoba menjelaskan. “Aku hanya belum terbiasa.”
Bai Kai menatapnya. Diam. Tatapannya tajam, seolah mencoba membaca sesuatu dari wajah Gao Rui. Beberapa detik berlalu. Lalu…
“Hm.”
Hanya satu suara itu yang keluar dari mulutnya. Ia kemudian kembali menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang, tidak lagi menyinggung hal itu. Suasana kembali hening. Namun kali ini tidak setegang sebelumnya.
Gao Rui diam-diam menghela napas pelan. Ia sendiri tidak menyangka akan merasa sekikuk ini. Menghadapi musuh kuat ia bisa tetap tenang namun duduk berhadapan dengan orang yang baru dikenalnya dalam ruang sempit seperti ini justru terasa aneh.
Kereta terus bergerak. Di luar, suara langkah kuda dan roda yang berputar menjadi irama tetap yang mengiringi perjalanan mereka. Sesekali, suara pengawal terdengar memberi aba-aba.
Perjalanan menuju ibu kota baru saja dimulai.