Sekuel dari Novel Arjuna Bopo Istimewa.
Di sini kita akan di suguhkan dengan perjalanan cinta antara Arjuna dan Meshwa.
Perjalanan rumah tangga dan kehidupan dari Bopo Istimewa ini, ternyata banyak sekali ujiannya.
Apakah Meshwa yang berstatus sebagai istri sanggup menemani perjalanan Arjuna? ataukah dia akan menyerah?
Di Novel ini juga akan ada kelanjutan kisah cinta Nala dan Mifta. Lalu, bagaimana dengan Dipta? Apakah dia akan menemukan tambatan hati?
simak kelanjutan cerita dari Keluarga Bopo Desa Banyu Alas di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Nyeri Tengah Malam
"Yah, sepi lagi rumahnya." Kata Meshwa.
Dua hari kemarin, ia benar - benar merasa terhibur dengan kedatangan keluarga Arjuna. Kini, semua kembali terasa sepi setelah mereka pulang siang tadi.
"Mau ngundang tetangga yasinan apa, Dek? Biar rame lagi rumahnya." Tanya Arjuna yang membuat Meshwa tertawa.
"Asal banget orang satu ini kalo ngomong." Gemas Meshwa sambil mencapit bibir Arjuna.
"Di cium gini lho, Sayang. Jangan di capit." Ujar Arjuna sambil mengecup bibir Meshwa.
"Ayo siap - siap, Dek. Kamu kan mau kontrol jam lima nanti." Kata Arjuna yang mengingatkan istrinya.
"Oh iya, sampe lupa. Yaudah aku mandi dulu, Mas." Ujar Meshwa yang kemudian segera beranjak menuju ke kamar mandi.
"Sayaang... Sayang... Masih muda kok udah sering lupa." Kata Arjuna.
"Ya itulah, makanya ada Mas yang selalu ngingetin aku. Tanpa Mas, aku cuma remahan roti marie." Sahut Meshwa yang membuat Arjuna tertawa.
"Gemes banget sih, Dek! Mas mandiin ya?" Seru Arjuna.
"Heh! Mulutnya. Gak malu di denger tetangga?" Sahut Meshwa dari dalam kamar mandi yang kembali membuat Arjuna terkekeh.
Setelah selesai bersiap, pasangan suami istri muda itu pun segera berangkat ke Rumah Sakit untuk melakukan kontrol pasca operasi yang di jalani Meshwa.
"Alhamdulillah, kondisinya baik. Lukanya bagus, sudah tertutup dan gak ada infeksi. Kondisi ovarium kiri juga baik." Kata Dokter setelah memeriksa Meshwa.
"Alhamdulillah." Lirih Arjuna yang merasa lega sekarang.
Meshwa pun sudah di perbolehkan untuk bekerja. Hanya saja tidak boleh terlalu berat karena masih dalam masa pemulihan, setidaknya hingga dua bulan kedepan.
...****************...
"Mas..." Lirih Meshwa tengah malam itu. Entah mengapa, ia merasakan nyeri di bagian tulang belakang.
"Dalem, Dek." Jawab Arjuna yang perlahan membuka matanya.
"tulang belakangku kok sakit banget ya, Mas. Ini loh yang bekas di suntik bius waktu operasi." Keluh Meshwa sambil memegangi bagian yang nyeri.
"Nyeri banget? Dari kapan, Dek?" Tanya Arjuna.
"Tadi abis sholat isya udah kerasa. Tapi ini makin parah." Jawab Meshwa.
"Kok gak bilang sama Mas dari tadi sih, Sayang?" Tanya Arjuna.
"Ya aku pikir nanti bakal hilang sendiri, Mas. Taunya malah lebih parah." Jawab Meshwa.
"Terus ini gimana?" Tanya Arjuna yang kebingungan sambil mengusap - usap punggung bawah Meshwa.
"Kita ke Rumah Sakit aja ya, Dek." Ajak Arjuna.
"Ih, gak mau. Nanti aku di suruh operasi tulang belakang." Kata Meshwa.
"Ya gak gitu lah, Sayang. Seenggaknya kan bisa di kasih obat." Kata Arjuna.
"Gak mau, Mas..." Kukuh Meshwa.
"Mas ambil air hangat, ya. Mas kompres sebentar." Kata Arjuna yang segera beranjak ke dapur.
Tak lama, Arjuna sudah kembali dengan membawa handuk kecil juga baskom yang berisi air hangat.
Arjuna kemudian mengompres punggung bawah Meshwa yang terasanya nyeri.
"Kalo dua jam kedepan gak reda juga, kita ke Rumah Sakit." Kata Arjuna yang hanya di jawab anggukan pasrah oleh Meshwa.
Tak hanya mengompres, Arjuna juga akhirnya menelfon Ashoka.
"Mas telfon siapa?" Tanya Meshwa.
"Telfon Mika."
"Mas ih, ganggu orang tidur aja. Lihat nih udah jam setengah satu. Mika pasti udah tidur." Omel Meshwa yang tak di tanggapi oleh Arjuna.
"Assalamualaikum, Mika." Sapa Arjuna yang kemudian meloudspeaker panggilan telfon dengan Ashoka itu.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Nang?" Tanya Ashoka.
"Mika udah tidur, ya?" Tanya Arjuna.
"Belum. Kenapa, Nang? Kamu sama Meshwa sehat?" Tanya Ashoka.
"Alhamdulillah aku sehat, Mika." Jawab Arjuna.
"Mika, ini Meshwa ngeluh punggung bawahnya nyeri banget katanya. Harus di apain ya, Mika? Apa di bawa ke Rumah Sakit?" Tanya Arjuna.
"Ooh, itu memang sering di alami sama mereka yang menjalani operasi dengan bius spinal. Gak apa - apa, gak perlu ke Rumah sakit kok, Nang." Jawab Ashoka.
"Terus, harus di apain, Mika? Ini lagi aku kompres air hangat. Kasihan lihat Meshwa kesakitan." Kata Arjuna.
"Iya, udah bener di kompres gitu, Nang. Gak apa - apa. Besok beli aja salep pereda nyeri di Apotek." Kata Ashoka.
"Tapi gak apa - apa kan ini, Mika? Istriku gak bakal kenapa - napa kan?" Tanya Arjuna yang membuat Ashoka tertawa.
"Tenang aja, jangan panik gitu, Nang. In syaa Allah Meshwa gak kenapa - napa. Memang sering terjadi hal semacam itu. Biasanya karena kecapean, kedinginan atau terlalu sering membungkuk. Kadang malah nyeri kayak gitu bisa berulang, beberapa orang juga mengalaminya dalam jangka waktu panjang." Jelas Ashoka.
"Bisa kambuh lagi ya, Mika? Terus sampe berapa lama bisa terjadi kayak gini?" Tanya Arjuna.
"Iya. Ada yang cuma hitungan minggu. Ada juga yang sampai menahun, tapi gak setiap hari mengalami sakit seperti itu. Yang penting di jaga kondisinya, jangan kecapean dan jangan terlalu banyak beraktifitas fisik dulu beberapa bulan ini. Jangan lupa beli salep pereda nyeri untuk jaga - jaga." Pesan Ashoka.
"Njih, Mika." Jawab Arjuna.
"Yaudah kalau gitu, Mika. Matur suwun njih, Mika. Assalamualaikum." Ucap Arjuna sebelum menghentikan panggilan telfonnya dengan Ashoka.
"Njih, sami - sami, Cah Bagus. Waalaikumsalam." Jawab Ashoka.
"Alhamdulillah, gak perlu ke Rumah Sakit, Dek." Kata Arjuna.
"Mas sih, udah panik duluan." Sahut Meshwa.
"Ya Mas takut kamu kenapa - napa, Dek. Yang kemarin itu, udah cukup bikin Mas ketar - ketir." Kata Arjuna.
"Maaf ya, Mas. Aku selalu bikin Mas khawatir." Lirih Meshwa.
"Hm'm. Sehat - sehat ya, Dek. Jangan sakit lagi. Cukup yang kemarin aja sakitmu." Kata Arjuna sambil mengusap kepala Meshwa.
"Aamiin. Mas juga sehat selalu, ya. Biar bisa selalu nemenin aku." Doa Meshwa yang juga di aminkan oleh Arjuna.
"Sekarang gimana? Masih sakit?" Tanya Arjuna.
"Masih, tapi udah gak nyeri banget kayak tadi." Jawab Meshwa yang nampak nyaman memeluk pinggang Arjuna.
"Jangan capek - capek dulu to, Sayang. Kamu di kantor kerja apa loh? Apa ngangkatin barang berat?" Tanya Arjuna.
"Enggak lah, Mas. Cuma hari ini, aku emang banyak naik turun ke lantai dua." Jawab Meshwa.
"Mungkin gara - gara itu, Mas." Imbuhnya kemudian.
"Untuk sementara ini, jangan terlalu banyak aktifitas fisik dulu ya, Sayang. Minta tolong aja kalau perlu ke lantai dua. Mereka pasti ngerti kalau kamu minta tolong." Pesan Arjuna.
"Iya, Mas. Maaf ya, Mas." Lirih Meshwa.
"Besok kita beli salep pereda nyeri. Buat jaga - jaga kalau nanti kumat lagi." Kata Arjuna yang di jawab anggukan oleh Meshwa.
"Yaudah, tidur lagi aja, Sayang." Kata Arjuna.
"Iya. Makasih ya, Mas." Ucap Meshwa.
"Sama - sama, Cintaku." Jawab Arjuna yang kemudian mengecup puncak kepala Meshwa.
Perlahan, Meshwa mulai memejamkan mata. Punggung bawahnya sudah tak sakit seperti tadi. Sementara Arjuna, masih setia menunggui istrinya.
Dengan telaten, ia mengganti handuk yang mulai dingin dengan handuk hangat baru agar istrinya merasa nyaman dan sakitnya reda.