Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
6 tahun kemudian.....
Hup!
Satu lompatan ringan membawa kakiku mendarat di dahan pohon jati yang permukaannya licin karena lumut basah. Aku berjongkok di sana, menahan napas sedalam mungkin sampai dadaku terasa sesak.
Mataku menyipit, mengunci sasaran yang ada sepuluh meter di bawah sana. Seekor kelinci hutan berbulu abu-abu sedang asyik mengunyah akar-akaran, telinganya sesekali tegak, waspada terhadap predator. Ia tidak tahu bahwa maut sedang mengintai dari ketinggian yang tak masuk akal bagi bocah seusiaku.
Sudah enam tahun aku hidup di tempat yang orang-orang sebut sebagai "Kuburan Para Pendosa" ini. Gunung Sandaran bukan sekadar tumpukan tanah dan batu; bagiku, gunung ini adalah guru yang bisu namun kejam. Jika kau salah melangkah, jurang di bawah sana siap menelanmu. Jika kau tertidur terlalu lelap, ular kobra gunung akan memberikan ciuman mematikan di lehermu.
"Sedikit lagi... tahan..." bisikku pada angin yang berembus pelan.
Srak!
Aku meluncur turun bukan seperti manusia, melainkan seperti batu jatuh. Angin menderu di telingaku—wussh!—dan sebelum kelinci itu sempat menghentakkan kakinya untuk kabur, tanganku yang kecil namun penuh kapalan sudah menyambar tengkuknya.
Ciap!
"Dapat!" seruku girang, mengangkat buruanku tinggi-tinggi ke udara. "Makan malam, Kek! Kita makan daging hari ini!"
Bugh!
Tiba-tiba, sebuah kerikil sebesar kelereng menghantam belakang kepalaku dengan akurasi yang menyebalkan. Rasa nyut-nyutan langsung menjalar ke seluruh saraf wajahku.
"Aduh! Sakit, Tua Bangka!" teriakku sambil memegangi kepala.
"Sakit? Itu namanya salam hangat dari gurumu!"
Aku menoleh dengan gusar dan mendapati Ki Kusumo sedang bersandar santai di batang pohon raksasa yang akarnya melilit seperti monster. Pakaiannya masih sama; kain compang-camping yang lebih mirip lap dapur daripada jubah pertapa. Beliau sedang asyik mengupil menggunakan jari kelingkingnya yang panjang, lalu menyentilkannya ke arahku.
"Terlalu lambat, Qinar! Kelinci itu tadi sempat buang air kecil dan memikirkan masa depannya sebelum kamu tangkap. Payah! Kalau musuhmu itu seorang pembunuh bayaran, kepalamu sudah menggelinding di tanah sejak lompatan pertama," ejek Ki Kusumo sambil meludah ke samping—ciuh!
Aku mendengus kesal, mengusap benjolan di kepalaku sambil berjalan mendekatinya. "Lambat bagaimana? Aku sudah tidak pakai alas kaki dan memanjat pohon ini dalam hitungan detik. Bahkan kera gunung saja kalah cepat dariku! Kenapa kau selalu saja mencela, sih?"
"Jangan samakan dirimu dengan kera. Kera setidaknya punya otak untuk tidak sombong setelah menangkap satu kelinci kurus," Ki Kusumo berdiri, meregangkan punggungnya yang berbunyi krek-krek seperti ranting patah. "Sini kelincinya. Aku sudah lapar sampai rasanya bisa memakan batu."
Kami berjalan membelah hutan menuju gubuk reyot yang bertengger di bibir tebing curam. Sepanjang jalan, aku hanya bisa menatap punggung bungkuk kakek ini. Dia bilang dia menemukanku di bawah tumpukan kayu bakar saat aku masih bayi. Dia bilang orang tuaku mungkin sudah dimakan harimau karena mereka terlalu berisik. Aku tidak pernah tahu apakah dia jujur atau hanya ingin membuatku berhenti bertanya.
Setiap kali aku bertanya tentang "Ibu," dia akan menyuruhku push-up seribu kali di atas jari telunjuk. Jadi, lama-lama aku belajar untuk diam.
Sampai di gubuk, Ki Kusumo mulai menyalakan api unggun hanya dengan menjentikkan jarinya. Tik! Api kecil berwarna biru muncul di ujung jarinya sebelum berpindah ke tumpukan kayu bakar. Prak! Api itu berkobar dengan cepat, menghalau dinginnya kabut yang mulai turun.
"Kek... eh, Ki," panggilku sambil menatap lidah api yang menari-nari. "Kenapa orang-orang di bawah sana, di desa yang pernah kita datangi untuk mencuri arak itu, punya wajah yang mirip satu sama lain? Kenapa aku tidak mirip denganmu sedikit pun?"
Ki Kusumo berhenti menguliti kelinci. PIsau karatan di tangannya diam mematung. Matanya yang biasanya terlihat mengantuk dan jenaka, tiba-tiba berubah menjadi sedalam jurang di bawah gubuk kami. Hening sejenak. Hanya ada suara kretek-kretek kayu terbakar dan suara burung hantu yang mulai bersahutan.
Lalu, dia tertawa terbahak-bahak sampai tersedak ludahnya sendiri. Uhuk! Uhuk! Uhuk!
"Wah, kamu mau mirip denganku? Kasihan sekali nasibmu kalau harus punya muka keriput begini di usia enam tahun!" jawabnya sambil menyeka air mata. "Sudah, jangan banyak tanya soal hal yang tidak berguna. Kamu itu cuma bocah yang aku pungut karena aku butuh orang untuk memijat kakiku yang pegal. Paham?"
"Kamu pelit informasi, Ki. Selalu saja menghindar," gerutuku sambil menggigit daging kelinci bakar yang setengah matang. Rasanya hambar, tapi di perut yang kelaparan, ini adalah kemewahan.
"Dunia di luar sana itu kejam, Qinar. Lebih kejam dari harimau lapar yang kau temui kemarin," suara Ki Kusumo mendadak merendah. "Orang-orang akan membunuhmu hanya karena warna matamu berbeda, atau karena kau berdiri di jalan mereka. Nama, asal-usul, itu semua cuma beban. Yang penting adalah apa kau bisa bertahan hidup saat seseorang ingin memenggal lehermu?"
Beliau duduk bersila di atas batu datar yang permukaannya sangat licin. Wajahnya mendadak berubah serius. Sebuah aura aneh mulai terpancar dari tubuhnya, membuat udara di sekitar kami terasa berat, seolah oksigen di sekitarku mendadak menghilang.
"Hari ini kamu genap enam tahun. Sudah waktunya kamu berhenti sekadar bermain dengan kelinci," katanya. "Kosongkan kepalamu. Aku akan mengajarimu dasar dari segalanya: Napas Dasar Qi."
Aku mengikuti instruksinya dengan patuh. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan detak jantungku yang memompa cepat.
"Tutup matamu. Jangan dengar suara angin. Cari titik di bawah pusarmu. Bayangkan ada benang cahaya tipis di sana," suara Ki Kusumo terdengar seperti berdengung di dalam tengkorakku.
Awalnya, aku hanya melihat kegelapan. Hitam total. Aku merasa bodoh duduk diam seperti patung di tengah malam yang dingin. Tapi perlahan, aku mulai merasakan sesuatu. Deg. Deg.
Terasa ada getaran halus di perut bawahku. Lalu, rasa hangat mulai muncul. Bukan hangat biasa seperti air mandi, tapi panas yang merambat perlahan seperti aliran cairan logam yang cair. Panas itu naik ke dada, membuat jantungku berdegup kencang, lalu mengalir ke lengan, dan berakhir di ujung-ujung jariku.
"Ki! Rasanya panas! Seperti ada api yang mengalir di urat nadiku!" seruku hampir melompat karena kaget.
Plak! Ki Kusumo memukul bahuku dengan tongkat kayunya. "Diam! Jangan putus konsentrasi, bocah bodoh! Itu bukan api luar, itu energimu sendiri yang selama ini tidur. Sekarang, arahkan panas itu ke telapak tangan kananmu. Jangan dibuang, tapi kumpulkan sampai tanganmu terasa berat seperti memegang gunung."
Aku berkonsentrasi sekuat tenaga. Peluh mulai membasahi dahiku meskipun udara gunung sedang menggigit kulit. Tanganku terasa berdenyut-denyut, seperti mau meledak. Aku merasa tangan kananku membengkak, meski jika dilihat dengan mata, ukurannya tetap sama.
"Sekarang, lihat batu besar di depanmu itu. Pukul dia! Bayangkan batu itu adalah orang yang membuangmu ke hutan ini!" perintahnya dengan suara menggelegar.
Aku tidak tahu siapa yang membuangku, tapi bayangan ditinggalkan sendirian di kegelapan membuat amarahku meledak.
"Hiaaaaa!"
Aku menghantamkan telapak tanganku ke bongkahan batu kali sebesar kepala kerbau.
DUAARRR!
Batu itu tidak hanya retak, tapi hancur berkeping-keping menjadi serpihan kecil yang berhamburan ke segala arah. Salah satu serpihannya bahkan menggores pipiku hingga berdarah. Tanganku terasa kesemutan hebat, tapi ada sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuhku—rasa berdaya yang luar biasa.
"Walah, walah..." Ki Kusumo bergumam lirih. Aku melihat matanya membelalak lebar sekejap sebelum ia kembali memasang wajah cueknya. "Lumayan... untuk bocah ingusan yang kerjanya cuma mengeluh."
"Aku hebat, kan, Ki? Aku sudah bisa jadi Kultivator seperti di cerita-cerita itu?" tanyaku dengan napas terengah, bangga melihat kehancuran yang kubuat.
"Hebat? Cih! Itu baru seujung kuku kaki perampok pasar paling lemah di Kerajaan Geedapa!" ejeknya, meski aku bisa melihat tangannya sedikit gemetar saat melihat puing-puing batu itu. "Dengar, Qinar. Kekuatan ini adalah kutukan jika kau tidak bisa mengendalikannya. Mulai besok, tidak ada lagi main-main. Kau harus menggendong batu seberat ini sambil mendaki puncak gunung setiap pagi. Tanpa sarapan!"
"Hah?! Tanpa sarapan? Itu namanya penyiksaan, Ki!"
"Memang! Dunia ini adalah tempat penyiksaan, dan aku adalah malaikat mautmu yang paling ramah," Ki Kusumo nyengir lebar, memperlihatkan giginya yang kuning. "Sekarang tidur! Sebelum aku berubah pikiran dan membuangmu kembali ke sarang serigala."
Aku berbaring di atas alas jerami yang kasar di dalam gubuk. Tanganku masih terasa panas. Aku menatap langit-langit gubuk yang bocor, melihat bintang-bintang di luar sana. Geedapa. Nama itu terasa familiar di lidahku, meski aku tidak tahu mengapa.
Siapa aku sebenarnya? Dan kenapa panas di dalam tubuhku ini terasa begitu liar? Aku tertidur dengan ribuan pertanyaan yang lebih berat daripada batu yang kuhancurkan tadi.