"Cepat tutup pintu dan jendela, jangan sampai terbuka!"
Semua warga yang ada di desa Bondowoso tidak ada yang pernah berani keluar bila sudah Maghrib datang, mereka hanya berdiam diri dalam rumah sampai nanti pagi menyapa.
Dulu desa ini tidak seperti itu, namun sejak beberapa bulan terakhir maka mereka mendapat teror yang begitu mengerikan sekali, semua ini akibat kematian dari seorang gadis bernama Mirasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Tekad Narti
Lagi dan lagi kehebohan di kampung ini terus melanda ketika mereka berhasil menemukan jasad Iwan yang sudah hancur tercabik-cabik, sama sekali tidak mereka sangka bahwa Iwan akan mengalami nasib yang begitu buruk seperti ini, membuat Bu Nung tidak sanggup lagi untuk berkata-kata karena dia lemas melihat sang anak yang celaka seperti itu.
Tidak bisa orang tua bila melihat keadaan sang anak yang menjadi rusak menjadi seperti ini karena jelas itu akan menimbulkan luka hati yang teramat dalam, Iwan meninggal di bawah pohon dengan tubuh seperti dimakan oleh hewan buas dengan jeroan yang keluar semua dari dalam tubuh dia.
Pak RT dengan tegas mengatakan bahwa ini bisa saja perbuatan hewan buas karena ada di dalam hutan, namun sebagian warga malah dengan tegas juga mengatakan bahwa ini adalah ulah arwah hantu Mirasih, sehingga menimbulkan perdebatan lain yang membuat kepala para warga ada di sini menjadi panas membara karena memiliki pendapat masing-masing.
Namun emang lebih banyak yang mengatakan bahwa itu adalah ulah arwah Mirasih karena ingin membuat kehebohan di desa mereka, padahal sudah dicegah oleh Pak RT agar mereka tidak berkata demikian karena itu hanya akan menyinggung perasaan orang tua Mirasih, namun mulut para warga memang sudah tidak bisa di cegah lagi.
Dengan lantangnya mereka mengatakan bahwa arwah Mirasih pasti akan menjadi hantu jahat karena dia meninggal dunia dengan cara seperti itu, rasa tidak sanggup menerima ini semua namun Hamdan yang ikut dengan para warga hanya bisa terdiam karena dia juga tidak tahu apa sang anak telah menjadi arwah gentayangan yang memiliki dendam besar.
Sementara itu Narti sama sekali tidak merasa sakit hati atas ucapan dari para warga bahwa Mirasih telah menjadi arwah gentayangan, justru dia berharap bahwa itu bisa saja terjadi agar Mirasih mampu mencari pembunuh yang sudah membuat dia celaka seperti itu dan menuntut balas pada orang yang sudah menyakiti hati mereka.
Lama lama Narti juga terbuat dengan rasa dendam yang timbul di dalam hati karena selama ini dia sudah cukup merasakan sakit hati yang begitu besar terhadap omongan para warga, pokok nya bila orang yang tidak punya di desa ini maka pasti hanya akan menjadi ocehan dan hinaan semua orang.
"Kamu tidak usah dengarkan omongan orang kalau Mirasih menjadi arwah gentayangan." Hamdan berkata pelan ketika sudah tiba di rumah.
"Tidak, aku malah merasa senang dan berharap bahwa Mirasih memang menjadi arwah gentayangan." Narti menjawab ucapan sang suami dengan senyum mengembang.
"Loh Kamu kenapa jadi seperti ini, Narti?!" Hamdan kaget luar biasa dengan respon sang istri.
"Kita orang miskin yang tidak bisa berbuat apa-apa, polisi untuk menyelidiki kasus ini membutuhkan uang juga agar bisa menangkap pembunuh." ujar Narti dengan mata sayu.
"Iya, lalu apa hubungan dengan bangkit nya Mirasih?" Hamdan masih tidak paham dengan sang istri.
"Bila ada dukun di desa ini maka pasti aku akan mendatangi dia untuk membuat arwah Mirasih bangkit dan membalas dendam pada pembunuh itu, bahkan mulut mereka yang selalu saja berbicara buruk tentang aku dan dia akan mendapat balasan juga." geram Narti.
"Astagfirullah, istighfar Kau Narti." Hamdan tidak percaya dengan ucapan sang istri.
"Mungkin jalan itu memang salah namun aku bisa apa lagi karena aku tidak memiliki uang untuk mengungkap masalah Mirasih!" tegas Narti tak ingin kena bantah.
"Tapi itu adalah perbuatan sesat dan Mirasih yang dibangkitkan pun akan menjadi begitu tersiksa." Hamdan masih terus berusaha menyadarkan sang istri.
"Tidak, Mirasih juga pasti akan puas bila bisa membalas dendam kepada mereka." Narti berlalu pergi meninggalkan Hamdan.
Hamdan terdiam menatap langkah sang istri yang kian menjauh entah ke mana, jujur saja saat ini dia begitu kaget dengan respon Narti ketika mengatakan bahwa dia akan mencari dukun untuk membangkitkan arwah Mirasih agar dia bisa membalas dendam kepada semua orang yang telah menyakiti mereka selama ini.
Jujur saja dia menjadi bingung ketika nanti menjadi demikian rupa memiliki dendam yang sangat besar, ini semua pasti karena rasa sakit hati yang dia rasakan akibat omongan dari para warga yang tidak pernah memikirkan perasaan orang miskin seperti mereka.
Belum lagi sekarang para warga dengan lantang mengatakan bahwa Mirasih menjadi arwah gentayangan karena dia pasti mati penasaran setelah di perkosa, sebagai orang tua tentu saja itu sangat menyakiti hati namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk melawan pun tidak mungkin karena omongan mereka tidak akan pernah di dengar.
"Mbak Narti mau ke mana kok dia terlihat sangat marah, Mas?" Arifin datang karena dia memang ingin berbicara pada Hamdan.
"Entah lah, Fin." Hamdan berkata sambil menghelai nafas panjang.
"Apa kalian sedang ribut?" tanya Arifin karena mereka selama ini memang sangat dekat.
"Dia sedang banyak pikiran karena para warga terus mengatakan kalau Mirasih jadi arwah gentayangan." Hamdan membuka cerita kepada sang sepupu.
"Ya Allah ternyata dia kepikiran soal itu, tapi memang Ya wajar karena sebagai orang tua pasti sakit hati lah ya." Arifin paham dengan perasaan Narti.
"Aku juga bingung dengan para warga yang bisa dengan lantang mengatakan bahwa Mirasih menjadi arwah gentayangan lalu membunuh banyak orang." lirih Hamdan.
"Hahhhh kalau memikirkan omongan orang memang tidak akan pernah ada ujung nya, terutama omongan Fitri itu yang selalu menyakiti hati orang." sahut Arifin.
"Itu Karena kami orang miskin sehingga dia bisa berbicara sesuka hati seperti itu, tidak pernah dia pikir bagaimana perasaan orang lain." keluh Hamdan.
Benar apa yang dikatakan oleh Hamdan ini karena memang Fitri kadang berbicara sesuka hati dia tanpa memikirkan perasaan orang lain, mereka padahal tidak pernah berbuat salah kepada Fitri ini atau menyakiti dia dengan omongan yang sangat pedas, tapi Fitri terus aja berkata demikian kepada orang miskin yang ada di desa ini.
"Fin, kalau menurutmu ini bagaimana?" Hamdan meminta pendapat sang sepupu.
"Apa nya yang bagaimana?" Arifin tidak paham arah pertanyaan Hamdan barusan.
"Tentang Mirasih yang menjadi arwah gentayangan dan membunuh istri mu itu." ujar Hamdan kembali karena dia ingin mendengar pendapat Arifin.
"Ah aku tidak percaya sama sekali karena tidak ada hantu yang bisa membunuh manusia." jawab Arifin dengan sangat tegas.
Bisa di katakan bahwa Arifin ini adalah tipe orang yang tidak percaya dengan setan, oleh sebab itu sejak kemarin dia selalu anteng saja ketika ada yang mengatakan bahwa Laila meninggal dunia karena arwah Mirasih yang datang untuk membunuh dia.
Selamat siang besti, jangan lupa like dan komentar nya ya.
curiga SM si Jarwo dan bapaknya🤔👻
anak nya slah masih ja di bela