Kwee Lan, seorang Sinseh Wanita yang kehilangan chi akibat sakit keras menemukan seorang pemuda pingsan di bukit Peng San.
Karena Sumpah Sinseh, ia wajib menolong pemuda itu. Walaupun resikonya dicap bo-li-mo(amoral), ia takkan mundur. Tapi, warga sudah nyaris membakarnya atas tuduhan berzinah.
-----------
Sebagian besar nama dan istilah menggunakan Dialek Hokkien, sebagian Mandarin. Untuk membangkitkan kembali era Silat Kho Ping Hoo dalam sentuhan Abad 21.
AI digunakan untuk asistensi bahasa dan budaya akibat penulis mengalami penghapusan budaya besar-besaran dan kehilangan cukup banyak warisan budaya walaupun dalam hati dan keseharian masih menerangkan nilai-nilainya.
---The Bwee Lan (Anggrek Indah dari Marga The), penulis--
nb. Bwee bisa bermakna indah, cantik (wanita), atau tampan (pria).
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Bwee Lan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa, Kebun, dan Mental yang Macet
Setelah drama di penginapan rada adem, Go Beng Liong diam-diam melipir ke Ki Kut Sun (Perguruan Bu Ki Sut). Dia borong kitab Bu Keng Ki Sut jilid 1 sampe 3. Di sana, ada satu buku baru yang sebenernya bikin Kwee Lan naksir berat, tapi gara-gara kebonnya lagi am-chiong (hancur lebur), dia tahan diri nggak beli. Dasar sio-khu (rugi/kasihan) kalau duitnya abis buat buku padahal perut laper.
Dasar "Jenderal Penakluk Hati", Beng Liong paham gelagat itu. Dia langsung ambil bukunya terus bayar. Tanpa sadar, jurus-jurus 'tarik wanita jangan sampai lepas' miliknya keluar otomatis—mulai dari tatapan manis, pegang tangan, sampe kasih buku gratis. Tapi Kwee Lan? Gadis ini kayak batu, bo-kan-sin (nggak punya perasaan). Rasanya perasaannya ikut ilang bareng chi miliknya yang disapu wabah. Dia cuma senyum profesional, "Kam-sia (terima kasih), Koh."
Jenderal Kim langsung nangkis, "Go, jangan mace-mace (macam-macam) sama anak orang. Kita utang gede sama dia! Perawan satu ruangan sama tiga jagoan berhari-hari... kalau orang tahu, bisa dicap bo-li-mo (amoral) dia. Reputasinya bisa remek (hancur) diinjek orang!" Beng Liong nyesel sendiri.
---
Mimpi Sang Sinseh
Kwee Lan pulang ke Bukit Pheng San naik tandu, dikawal tiga jenderal besar. Ibu-ibu pasien dateng bawain sup hati ayam panas-panas.
"Sinseh, kita balik dua hari lagi! Tapi besok mau melipir sini. Gua bikin bakcang resep baru, Sinseh kudu nyobain pokonya! Nomor antrean aman, gue simpen di kutang!" seru salah satu ibu.
Kwee Lan cuma bisa manggut lemas. Nyampe rumah, dia cuma makan sesuap, telen obat, dan langsung turu-sek (tidur mati). Udah nggak peduli dunia luar, bener-bener te-par.
Malem itu, dia mimpi ayahnya dateng. Papanya itu meluk dia kenceng banget, bisikin kalau semuanya bakal ho-ho-si (baik-baik saja).
Papanya yang awet muda. Mukanya mirip Jendral Go, cuma bibirnya tebelan dikit. Kurang estetik.
Dia mimpi lagi soal betapa le-hai (nekat) nyali bokapnya dulu. Bokapnya itu satu-satunya dari 12 Sinseh jagoan yang berani merangsek lawan zaman. Mereka berjuang mati-matian didik 30 Sinseh wanita. Tujuannya cuma satu dan udah jelas banget: biar nggak ada lagi kelakuan siat-sin (bejat/asusila) pas periksa badan cewek.
Zaman itu kan kura-ngajar banget; banyak tabib laki-laki bajingan yang tangannya gat-el pas periksa pasien perempuan. Modus operandi pengobatan tapi malah mace-mace ke tubuh pasien. Makanya, bokapnya pengen Sinseh wanita ada biar martabat perempuan nggak diinjek-injek sama laki-laki buaya yang berkedok tabib.
---
Wabah Cacar dan Chi yang Bangkrut
Ingat bahwa wabah cacar itu membuat ia dan keluarganya sakit setelah menolong ratusan orang. Bagaimana ia menemukan sirih merah sebagai campuran obat yang menyembuhkan penyakit sialan itu selamanya. Tapi chi keluarganya sudah terlanjur bangkrut. Yang hidup hanya dia seorang.
Pasca insiden itu, dia langsung berubah miskin, tidak dipercayai, dan jadi bidan. Hanya wanita malam yang yakin, itupun jarang datang. Jual obat ya yang laku yang murah. Untung masih ada makanan karena pelatihan bikin kebun pangan Sekte Sip. Kalau enggak? Ma-thek (tewas).
---
Insiden "Papa" di Pagi Hari
Tiga jenderal bingung mau ngapain. Akhirnya? Ya Hompimpa! Sialnya (atau untungnya), Jenderal Go Beng Liong yang kena giliran jaga pagi.
Pas matahari mulai naik, Beng Liong mendekat ke dipan Kwee Lan. "Sinseh... bangun, sarapan yuk. Masih libur kok, besok baru hajar 8 pasien lagi." Rambutnya masih basah, habis mandi dan keramas pakai sabun jeruk dan kayu manis yang diantar keluarganya.
Kwee Lan menggeliat, matanya masih merem. Bibirnya bergumam pelan, "Papa..."
DEG! Jantung Beng Liong rasanya mau copot. Kenapa ni anak? pikirnya panik.
Sebagai Sinseh Militer, dia sadar kalau ini gejala berat. Bahkan bisa membawa kematian. Dia di luar dan gak mungkin langsung merangsek masuk. Pintunya pasti dikunci juga.
Dia langsung turun, dan minta wanita dan keluarga pasien naik bersama dia. Mau bongkar pintu lagi. Dua Jenderal lain ikut dengan membawa peralatan pertukangan militer.
Pintu dibongkar oleh dua Jenderal lain. Jendral Go belum bisa—soalnya jalan saja belum kuat lama. Tapi untuk kerja administrasi masih dapat diandalkan.
Begitu masuk, Jendral Go mencoba membangunkan. Wanita-wanita kelas tinggi itu berbaris rapi di belakangnya. Dengan tata krama, tapi mulut yang ingin julid.
Tangan Jendral Go yang menyentuh punggung Kwee Lan langsung disamber sistematis sambil mengigau.
"Papa... jangan pergi..." gumam Kwee Lan sambil menggenggam tangan Beng Liong erat-erat.
"KIAM-PAU! " seru Beng Liong. Makin ditarik malah makin kenceng, mana nyaris nggelinding lagi kursi rodanya.
"Wa-lau-e..." bisik salah satu pasien. "Pasien baru empat hari, sinseh-nya sudah kena mental sampai manggil jenderal muda 'papa'."
---
Tangisan yang Bikin Salah Paham
Ada wanita yang inisiatif bawa air matang yang sudah dingin. Setelah dipercikkan air, Kwee Lan bangun. Lama-kelamaan Kwee Lan sadar sendiri dan minta maaf. Wanita-wanita itu memeluk Sinseh mereka dengan haru.
Ibu Jendral Go menyeka air matanya dan menyuapinya. Adik perempuan Jendral Go membuatkannya teh hangat. Mereka merasa berdosa. Anak mereka, Koko mereka—menyiksa perawan sampai seperti ini.
Wanita-wanita itu mengajak Sinseh mandi bersama. Sambil curhat aneh-aneh.
Setelah curhat berkedok mandi itu, Sinseh izin meditasi pagi.
Meski habis nangis kangen ayah, Kwee Lan nggak mau man-man (lelet). Dia merasa sio-hian (kasihan) sama 7 pasien terakhir yang belum ditanganin. Dia minta bantuan Beng Liong—sang tabib tentara yang ahli strategi—buat duet. Pasien-pasien itu sebenarnya niat besok saja. Apalagi kondisi Sinsehnya sampai seperti itu.
---
Cek Kesehatan Jenderal Sombong
Sebelum mulai, Kwee Lan narik tangan Beng Liong. "Siauheng, sini dulu. Jangan sombong lu. Periksa dulu."
Kwee Lan ngecek nadi dan tanda vital Beng Liong. Beng Liong yang masih di kursi roda berkacak pinggang. "Haiya, gue ini Sinseh Militer! Luka begini doang mah cing-cay. Dulu 30 prajurit gua pegang sendiri dari becek-becek sampe rebus obat!"
Kwee Lan cuma geleng-geleng. "Nadi lu masih tin-tang (berat), Koh. Tapi ya udah, kalau lu maksa kuat, bantu gue resepkan obat buat 7 orang ini."
---
Duet Maut: Diagnosis Kwee & Resep Go
"Gue yang diagnosa, lo yang tulis resep. Kira-kira kuat?" tanya Kwee Lan.
"Cuma nulis resep doang? Cing-cay lah! Dulu 30 prajurit gua pegang sendiri. Dari becek fisik sampe rebus obat!" sesumbar Beng Liong.
Tapi, setelah menghadapi 7 pasien wanita dengan keluhan yang random—mulai dari masalah bulanan, gangguan rahim, sampe drama rumah tangga yang bikin pusing—Si Jenderal Naga itu langsung krempeng (lemas).
Selesai pasien ketujuh, Beng Liong duduk lemas. Rasanya kayak habis perang lawan tiga batalion sendirian. Pas ibu dan adik perempuannya ajak bicara, otaknya macet total.
Dia denger suara adik dan ibunya, tapi proses berpikirnya loading lama banget, persis jenderal yang kena trauma perang.
---
Hati Seorang Ibu
Melihat kondisi anaknya yang hang dan melihat Kwee Lan yang sempat kejang karena kelelahan mental, Ibunda Beng Liong akhirnya mengerti. Dia mendekat, lalu mencium dan memeluk Kwee Lan erat-erat.
"Lan-A..." bisik sang Ibu. "Gua paham sekarang kenapa lo sampai lumpuh dan salah manggil anak gua jadi bokap lo. Beban lo berat sekali."
Ibu Go mengajak Kwee Lan keluar. Di halaman, kebun herbal yang kemarin ludes sekarang sudah hijau lagi dengan bibit-bibit baru yang kualitasnya cin-chia ho (bener-bener bagus)! Pintu rumah pun sudah tegak kembali.
Kwee Lan menatap kebun itu, lalu menatap Beng Liong yang masih duduk bengong. Dia tersenyum kecil. Ternyata, punya "papa" gadungan jenderal perang itu ada gunanya juga.
---
Biasanya kalau pulang perang, Jendral Go paling semangat. Ia ingin lihat ibu dan adik perempuannya, terus tidur di kamarnya, dan bikin puisi. Lalu cari kekasih hati.
Tapi kali ini, dia seolah-olah terjebak di Peng San. Dan pulang dengan hati yang tin-tang (berat/galau).
---
Catatan Bab 11:
Istilah Arti
Krempeng Lemas/habis tenaga (Bahasa Jawa Suroboyoan)
Bo-ko-leng Tidak mungkin
Cin-chia ho Benar-benar bagus
Turu-sek Tidur nyenyak/mati
Sio-khu Rugi/kasihan
Bo-kan-sin Nggak punya perasaan
Mace-mace Macam-macam (niat jahat)
Remek Hancur
Te-par Kalah total, tumbang
Le-hai Hebat/nekat
Siat-sin Bejat/asusila
Gat-el Gatal (tangannya)
Ma-thek Tewas/mati
Man-man Lelet/lamban
Cing-cay Gampang/terserah
Tin-tang Berat/galau
---
Gimana, Siauheng dan Sio Moi sekalian? Kira-kira apa lagi yang bisa dilakukan Jendral Go buat PDKT?🤣
[Bersambung]