Nayra Agata Kennedy, ia merupakan putri bungsu dari Lukas Kennedy, Nayra memliki saudari kembar bernama Nayla (Nayla lahir 45 menit lebih dulu), lahir dengan membawa duka. Ibunya meninggal dunia karena pendarahan hebat setelah berjuang melahirkannya, membuat Nayra dibenci ayah dan ketiga kakak laki-lakinya selama 21 tahun. Hanya Nayla yang selalu peduli padanya.
Takdir berubah saat Nayra bertemu seorang miliarder tampan. Dipersunting olehnya, hidup Nayra berubah drastis, dari yang dulu diabaikan, kini ia dimanjakan layaknya putri raja oleh suaminya yang penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa idayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Pernah Secanggang ini
"Saya ingin membawa Nayra ke rumah saya, apa kalian mengizinkan?"
Suara Sean terdengar tegas namun dengan nada yang tak bisa disembunyikan penuh rasa hormat, matanya yang tajam seperti kilatan petir menatap langsung ke arah ketiga kakak Nayra, Nagara, Nick, dan Nathan yang tengah berkumpul di gazebo kayu yang menghadap kolam renang di halaman belakang rumah mereka. Udara sore yang sedikit sejuk menyertai kedatangannya Sean bahkan belum sempat mengganti jasnya yang masih terpakaian rapi setelah keluar dari kantor, langsung melesat ke rumah Nayra hanya untuk satu tujuan penting ini. Tangannya yang menggenggam dasi sedikit mengencang, menunjukkan ketegangan yang tersembunyi di balik sosok CEO yang selalu tampak tenang.
Nagara, yang paling tua di antara bertiga, mengangkat gelas coklat panas buatan bi Surti. kemudian menyesapnya perlahan sebelum menatap Sean dengan tatapan yang mendalam. Uap hangat dari gelas itu melayang perlahan di antara mereka, seolah menjadi penghalang tipis antara harapan Sean dan keputusan yang akan diambil oleh saudara-saudara Nayra.
"Untuk apa tuan?" tanyanya dengan nada yang tenang namun penuh pertanyaan, jari-jarinya yang besar. Kembali meletakkan permukaan gelas dengan gerakan lambat.
Sean menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, setiap kata yang keluar dari mulutnya diucapkan dengan penuh kejelasan dan tekad yang tak tergoyahkan. "Saya ingin memperkenalkan Nayra dengan keluarga saya. Namun bukan hanya itu Saya berencana menikahi Nayra dalam waktu lima hari kedepan. Saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya, tapi saya tahu bahwa sebelum itu, yang saya butuhkan bukan hanya persetujuan kalian sebagai kakaknya, tetapi juga persetujuan dari Nayra sendiri."
Kata-kata itu seperti kilat yang menerangi malam pekat. Ketiga saudara itu saling menatap dengan ekspresi yang bercampur antara terkejut, kagum, dan sedikit khawatir. Mata Nick yang biasanya tenang kini menunjukkan kilatan keseriusan, sementara Nathan mengerutkan kening, seolah masih belum percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Nagara hanya mengangguk perlahan, seolah sedang memproses setiap kata yang diucapkan Sean.
"Kami pribadi tidak memiliki masalah dengan Anda membawa Nayra," ujar Nick dengan suara yang tegas dan tegas, tubuhnya sedikit menjulang maju sebagai tanda bahwa dia berbicara sebagai perwakilan saudara-saudara Nayra. "Namun, Anda harus mengerti bahwa Nayra adalah adik kita yang paling dicintai. Kita tidak bisa mengambil keputusan atas nama dia. Anda harus bertanya langsung padanya apakah dia benar-benar mau pergi bersama Anda dan menerima rencana pernikahan yang Anda usulkan."
Sekilas, wajah Sean menunjukkan sedikit kelegaan sebelum dia tersenyum lembut. "Tentu saja. Saya tidak akan pernah memaksakan kehendak saya pada Nayra. Saya hanya ingin memastikan bahwa saya mendapatkan restu dari kalian terlebih dahulu sebelum saya menghadapinya. Saya tahu betapa pentingnya kalian baginya."
Sementara itu, Nathan yang selama ini hanya diam tiba-tiba mengeluarkan suara dengan nada yang sedikit cemberut. "Rasanya kita asing banget enggak sih, kalau terus memanggil Anda dengan 'tuan'? Seolah kita bukan keluarga yang akan menyatu nantinya."
Kata-kata Nathan membuat wajah Sean sedikit rileks. Dia mengangguk dengan ekspresi wajah yang khas bagi seorang CEO, tegas dan tidak banyak bicara, namun kini ada sedikit kehangatan di dalamnya. "Benar sekali. Meskipun secara usia saya merasa lebih tua dari kalian semua, saya akan menjadi calon ipar kalian dan suami untuk adik kalian. Jadi, silakan panggil saya dengan nama saya
Saja. Panggilan 'tuan' hanya untuk orang yang belum saya kenal dengan baik, dan saya berharap kita bisa menjadi keluarga yang dekat."
Nagara mengangkat alisnya dengan rasa penasaran, matanya kembali menatap Sean. "Berapa usia Anda sebenarnya,?"
"32 tahun," jawab Sean singkat dan lugas.
Sebuah senyum menyelimuti bibir Nagara saat dia menggeleng-geleng kepalanya dengan nada yang santai. "Hanya satu tahun lebih muda dari saya. Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untuk kita bersikap formal. Panggilan nama masing-masing saja sudah cukup, jangan sungkan sama sekali. 'Tuan' itu hanya untuk orang asing, bukan untuk keluarga yang akan datang."
Nick dan Nathan mengangguk setuju dengan tegas, dan kali ini, senyum yang sesungguhnya muncul di wajah Sean. Udara yang tadinya tegang kini mulai mereda, digantikan oleh rasa harapan bahwa langkahnya untuk mempersatukan hidupnya dengan Nayra akan mendapatkan dukungan yang dia butuhkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mobil melaju dengan kecepatan stabil di atas jalan raya yang hampir sepi. Udara di dalam kabin terasa begitu padat hingga rasanya bisa dipotong dengan pisau, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Sean atau Nayra sejak mereka memasuki kendaraan mewah itu. Sean memilih mengendarai mobilnya sendiri kali ini, tidak menyuruh Roy, asistennya yang biasanya selalu ada di sisinya seperti bayangan tak terpisahkan, untuk mengambil kendaraan lain dan mengikuti dari belakang. Dia merasa perlu untuk berbicara dengan Nayra secara pribadi, meskipun setiap seribu kata yang ingin ia ucapkan tampaknya terkunci rapat di tenggorokannya.
Bibir Sean yang tipis menekuk sedikit saat dia menyipitkan mata, fokus pada jalanan di depannya sambil sesekali menyelinap pandangan ke arah Nayra yang duduk di kursi sebelah kanan. Wanita itu sedang menatap keluar ke jendela, kedua tangannya menyilang erat di pangkuan, bahunya sedikit mengguncang seolah ingin menyembunyikan diri. Sean bisa merasakan getaran kebingungan dan ketakutan dari tubuhnya, bahkan tanpa perlu melihat langsung ke wajahnya.
Sebagai seorang pria yang terbiasa berbicara dengan bahasa angka dan kontrak bisnis, Sean benar-benar tidak memiliki kemampuan untuk mengucapkan kata-kata manis atau menghibur lawan jenis. Setiap upaya untuk mencari kata-kata yang tepat terasa seperti memecahkan teka-teki paling sulit dalam hidupnya. Setelah beberapa menit bertahan dalam keheningan yang semakin tertekan, dia akhirnya membuka mulutnya dengan suara yang terdengar kasar di telinganya sendiri.
"Sepertinya kita perlu ngobrol, agar saya lebih mengenalmu."
Kalimat itu terdengar seperti perintah ketimbang ajakan, namun sudah merupakan usaha terbesar yang bisa dia lakukan. Nayra terkejut sejenak, tubuhnya sedikit terangkat sebelum dia menoleh perlahan ke arah Sean, matanya yang besar penuh dengan kegugupan. Bibirnya bergetar saat dia mencoba menjawab, suaranya pelan hingga hampir hilang di balik suara mesin mobil.
"I-iya, Tuan."
Nayra merasa jantungnya berdebar kencang seperti akan melompat keluar dari dada. Ini adalah pertama kalinya dia berada sendirian dengan pria ini. laki-laki terkaya di Indonesia yang sama sekali tidak pernah dia kenal, bahkan tidak pernah dia dengar namanya sebelum kejadian itu di rumah sakit. Bagaimana mungkin takdir bisa bermain dengan dia sedemikian rupa? Hanya karena kesalahan kecil dari dokter yang salah memasukan embrio ke rahimnya, dia kini harus menjadi istri dari orang yang tidak bisa dia bayangkan bahkan dalam mimpi terliar nya sekalipun. Rasa takut dan kebingungan menggulung dalam dirinya, membuatnya sulit bernapas dengan tenang.
Sean mengerutkan kening saat mendengar panggilan "Tuan" yang keluar dari mulut Nayra. Dia ingin mengatakan agar wanita itu tidak perlu terlalu formal, tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokannya. Alih-alih itu, dia mencoba mencari topik pembicaraan yang dianggapnya "aman".
"Kamu tidak mau melanjutkan studi S2?"
Pertanyaan itu terdengar datar dan tanpa emosi, seperti saat dia sedang mewawancarai calon karyawan. Nayra menundukkan kepala, jari-jarinya mulai memutar ujung roknya dengan gerakan cemas.
"Belum kepikiran, Tuan..." suara nya pelan, nyaris tidak terdengar.
Sean mengangguk perlahan, matanya tetap terpaku pada jalanan. Dia sudah melakukan riset terhadap latar belakang Nayra sebelum bertemu dengannya. perempuan muda yang luar biasa cerdas, menyelesaikan pendidikan sarjana hanya dalam waktu tiga tahun dengan nilai cum laude. Bagi seseorang yang selalu menghargai kecerdasan dan kerja keras, hal itu membuatnya merasa kagum, meskipun dia sama sekali tidak tahu cara untuk menyampaikannya.
"Kenapa? Bukankah kamu cukup cerdas untuk itu? Bahkan bisa menyelesaikan S1 lebih cepat dari mahasiswi lainnya."
Kali ini Nayra sedikit mengangkat kepalanya, matanya menunjukkan kilatan semangat yang sebentar kemudian lenyap digantikan oleh rasa putus asa. Dia menarik napas panjang, seolah mencoba mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Iya, Tuan... sebenarnya saya ingin memiliki bisnis sendiri. Sebuah usaha kecil yang bisa saya kelola sendiri, sesuatu yang benar-benar menjadi milik saya."
Namun segera setelah itu, ekspresi wajahnya menjadi suram. Dia menunduk lagi, suara nya penuh dengan keraguan.
"Tapi itu hanya impian saya dulu, Tuan. Setelah ini, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak kita... dan kalau diberi kesempatan, mungkin saya juga akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Anda."
Setiap kata yang keluar dari mulut Nayra seperti menusuk hati Sean. Dia bisa merasakan bagaimana wanita itu dengan rela hati mengubur mimpinya hanya karena kesalahan yang bukan menjadi salahnya. Sebagai seseorang yang selalu berjuang untuk mencapai apa yang diinginkannya, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya harus menyerah begitu saja pada takdir. Bibirnya mengerut, dan dia mengeluarkan suara dehem yang terdengar kasar.
"Hemm."
Sean benar-benar bingung harus merespons apa. Dia tidak terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan perasaan atau impian seseorang. Dia ingin mengatakan bahwa Nayra tidak perlu mengorbankan segalanya, tapi dia takut tidak bisa memenuhi janji apa pun di masa depan. Di dalam hati, suara batinnya terdengar jelas
"Nay... maaf karena kesalahan rumah sakit membuat kamu harus mengubur cita-cita mu. Tapi kamu tenang saja. Setelah kamu resmi menjadi istri ku, aku janji akan mendukung apa pun yang akan kau lakukan. Aku tidak akan menyusahkan mu. aku bisa sewa banyak baby sitter untuk merawat anak kita nanti, sehingga kamu bisa fokus pada apa yang kamu inginkan."
Namun kata-kata itu hanya tinggal di dalam benaknya. Sean tidak berani mengucapkannya dengan keras, takut bahwa janji itu akan menjadi beban yang dia tidak sanggup tanggung di masa depan. Dia lebih suka menunjukkan tindakan daripada kata-kata kosong, meskipun dia tahu bahwa saat ini Nayra membutuhkan kata-kata penghiburan lebih dari apa pun.
Suasana kembali terbenam dalam keheningan yang sangat tidak nyaman. Sean sibuk memikirkan bagaimana cara menghadapi kehidupan bersama dengan wanita yang sama sekali tidak dia kenal, sementara Nayra memikirkan bagaimana harus menyesuaikan diri dengan dunia baru yang mungkin jauh dari apa yang dia impikan. Keduanya merasa seperti orang asing yang terpaksa terikat dalam ikatan yang berat, takut salah berbicara atau melakukan kesalahan yang bisa menyakiti satu sama lain. Sungguh, tidak ada kata yang lebih tepat selain "aneh" dan "membuat tidak nyaman" untuk menggambarkan situasi mereka saat ini.