Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Mama Riri
Mama Riri melihat kejanggalan saat mereka berkomunikasi. Namun mama masih berpikir wajar karena mereka baru kenal. Namun mama sempat sempat memperhatikan Sultan. Sultan dengan wajah yang tampan, wangi, dan berpenampilan rapi mungkin mama juga tidak akan menyangka jika dia hanya seorang tukang ojek.
"Bang, makasih sudah menjenguk saya."
"Iya, sama-sama mbak. Saya ke sini juga sekalian nganter salah satu anak asuh yang jadi korban tabrak lari. Makanya saya nggak bawa oleh-oleh ini."
"Innalillahi wainna ilaihi roji'un, lalu bagaimana keadaan anak itu, bang?"
"Saat ini sedang di nicu. Mudah-mudahan segera sadar.'
"Ya Allah tega banget orang yang nabrak ya. Memang tidak bisa ditindaklanjuti lanjuti?"
"Tidak ada bukti atau pun saksi mata. Jadi cukup sulit untuk melacaknya. Nggak pa-pa, yang penting anaknya selamat."
"Iya bang. Semoga anaknya segera sadar. Dan orang yang menabrak punya i'tikad baik untuk bertanggung jawab."
"Aamiin... "
Mereka tidak sadar jika obrolan mereka menjadi perhatian tiga orang yang ada di ruangan tersebut. Bahkan dari tadi Fira melihat keduanya seakan mengalir begitu saja setelah tadi sempat ada kecanggungan.
"Ehem... bang, nggak narik ya?" Sahut Fira.
"Eh tadi motorku saya tinggal, mbak. Jadi aplikasinya tak matikan. Oh iya ini sudah siang. Saya balik dulu. Semoga mbak Riri cepat pulang ya."
"Iya bang, makasih banyak."
Sultan pun pamit kepada mamanya Riri.
"Mari bu, saya pulang dulu." Ujarnya sambil mencium punggung tangan mama Riri.
"Iya kak, sekali lagi terima kasih ya sudah menolong anak saya."
"Iya, bu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Sultan pun melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Riri senyum-senyum sendiri saat melihat kepergian bang Ahmed.
"Cie cie... ada yang senang nih." Goda Fira.
"Fir, apaan sih!"
Mama mengernyitkan keningnya.
"Ada apa Fir?"
Fira melirik Riri. Riri memberi kode.
"Eh nggak ada apa-apa kok, tante. Hehe... "
Namun Fira yang memang tidak bisa menahan diri, akhirnya mencetuskan pertanyaan kepada mamanya Riri.
"Tante, menurut tante bang Ahmed itu tampan tidak?"
"Iya tampan, baik lagi. Kenapa, kamu suka ya Fir?"
Fira terkekeh.
"Ih tante, Fira mah sudah punya pujaan hati."
"Lha ngapain kamu tanya laki-laki lain?"
"Ya kali aja bang Ahmed cocok sama temannya Fira, gitu tante."
Riri melirik Fira.
"Iya coba saja dipertemukan, Fir."
"Ehem... tapi masalahnya bang Ahmed itu cuma driver ojek. Apa iya keluarga temanku itu mau menerimanya?"
"Apa, sopir ojek? Yang benar, Fir?"
Mama, Riri sedikit terkejut mendengarnya.
Fira mengangguk.
"Tapi dia nggak kelihatan tuh. Tante kira dia itu pengusaha atau pedagang gitu. Wajahnya kayak wajah orang Arab. Nggak meyakinkan kalau dia tukang ojek."
"Iya, soalnya penampilannya keren ya?"
"Hem, betul."
Riri hanya bisa menahan senyum. Dalam benaknya ia membenarkan prasangka sang mama. Penampilan Sultan hari ini memang keren. Wajahnya juga semakin fresh.
Sebenarnya mama Riri curiga kalau teman yang dimaksud Fira itu adalah Riri. Namun mama masih menahannya.
Mereka menghentikan obrolannya karena dokter datang untuk mengecek keadaan Riri.
Setelah diperiksa, tekanan darah Riri normal. Lukanya pun sudah mengering, sesaknya sudah hilang. Hanya kepalanya masih sedikit pusing. Dokter menyarankan agar Riri lebih enjoy lagi dan usahakan orang-orang di dekatnya selalu menghiburnya.
"InsyaAllah besok pasien sudah boleh pulang."
"Alhamdulillah, terima kasih ya, dok."
"Sama-sama."
Setelah dokter keluar, tidak lama lagi Riri kedatangan tamu teman-teman kantornya. Mereka datang mewakili pihak perusahaan. Mereka membawa parsel buah dan aneka roti serta susu. Mama Riri cukup lega melihat teman-teman Riri datang. Ia semakin yakin jika anaknya dikelilingi orang-orang dan lingkungan yang baik.
Sultan naik ojek online menuju rumah anak jalanan untuk mengambil sepeda motornya. Sampai di sana ternyata Lukman sudah bersiap-sial mau berangkat ke rumah sakit lagi untuk mengantar ayahnya Aini.
"Luk, ini pegang uang. Nanti kasih ke ayah atau ibu Aini untuk kebutuhan mereka selama di rumah sakit."
Sultan memberikan uang sejumlah satu juta itu ke tangan Lukman.
"Abang, kamu terlalu baik. "
"Jangan memujiku, nanti helm ini nggak muat di kepalaku karena kepalaku mendadak besar. "
"Haha... abang ini. Bang, suatu saat kalau aku kaya raya aku bakal mengikuti jejakmu."
"Aamiin.... semoga segera diijabah. Sudah sana berangkat, ayah Aini pasti sudah menunggumu. Hati-hati ya."
"Iya, bang. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Lukman pun melajukan motornya.
Sedangkan Sultan, ia menunggu anak-anak untuk belajar bersamanya. Sambil menunggu yang lain datang, Sultan meminta tolong kepada Doni untuk membelikannya nasi bungkus di warung sebelah.
10 menit kemudian, Doni datang dengan membawa 10 bungkus nani pecel. Sultan pun mengajak anak-anak makan bersama. Nampak mereka sangat menikmati. Sultan tidak merasa risih saat makan bersama mereka. Ia justru sangat senang melihat mereka bisa tersenyum.
"Semoga Engkau tambahkan rezeki hamba untuk berbagi dengan mereka yang membutuhkan. " Do'anya dalam hati.
Setelah selesai makan bersama, mereka mulai belajar. Kali ini Sultan mengajari mereka matematika.
Satu jam kemudian, mereka selesai belajar. Anak-anak itu pamit untuk kembali ke aktivitas masing-masing. Ada yang mengamen, memulung, jualan keliling, dan ada juga yang menjadi buruh cuci piring.
Setelah mereka pergi, Sultan tidak langsung pulang. Tetapi ia duduk santai di rumah itu sambil merenungkan sesuatu.
"Jika dilihat dari mama dan adiknya, sepertinya Riri bukan orang biasa. Memang kenapa kalau pun dia orang biasa atau orang berada? Apa urusannya denganku? Ah tidak-tidak, Riri lagi Riri lagi." Sultan memukul kepalanya sendiri.
Tiba-tiba handphone-nya berdering. Dari nomer baru, namun Sultan tetap mengangkat panggilan itu, karena ia khawatir orang penting.
Setelah diterima, ternyata yang menghubunginya adalah driver ojek yang mengantar Riri saat kecelakaan. Ia memberitahu jika orang yang menyerempet mereka mau bertanggung jawab. Setidaknya ingin meminta maaf kepada, Riri langsung dan memberinya kompensasi meskipun tidak banyak. Namun driver ojek tidak bisa mengantarkan orang tersebut ke rumah sakit karena saat ini ia sedang di luar kota. Sultan pun langsung menyanggupi untuk mengantar orang tersebut ke rumah sakit hari ini juga. Ia juga dikirimi nomer orang yang bersangkutan.
Sekitar jam 4 sore, Sultan menuju rumah sakit lagi untuk bertemu dengan orang yang dimaksud dan mengantarkannya bertemu dengan Riri.
Sultan baru saja sampai di rumah sakit. Ternyata orang tersebut sampai terlebih dulu daripada Sultan. Ia menunggu Sultan di depan rumah sakit.
Sultan memastikan dari kejauhan.
"Masa' iya itu orangnya?"
Sultan ragu untuk menghampiri orang tersebut.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar