"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
Tarikan nafas kanaya terdengar berat, ia masih bingung bagaimana cara memulainya. Netra coklat kala masih menatapnya antusias, kanaya meraih gelas kopinya, menyesap dengan perlahan, menikmati rasa yang selalu berhasil membuatnya tenang dan fokus.
Semua gerakannya tak luput dari pandangan kala, kanaya meletakkan gelas kopi ke tatakannya, dengan perlahan ia mengarahkan pandangannya ke arah pria itu.
"Apa aku juga boleh tahu semuanya dari kamu, dan juga tujuan kamu kemari?" tanyanya memulai pembicaraan yang sempat terjeda, akibat kepanikannya tadi.
"Tentu.." sahut kala tersenyum manis,
"Tanyakan semua apa yang ingin kamu tahu dari aku.."
Kanaya menatap netra kala lekat, tatapan kala berubah, tak lagi dingin seperti dulu. Kanaya melihat ada binar rindu di mata itu, dengan sangat yakin ia tahu, kala pasti merindukannya juga.
"Bagaimana kamu tahu kalau aku pulang ke kampungku..?"
"hmmm..." kala menggumam,
"Ferdian, lelaki baik itu yang mengatakan padaku"
"Naya, kamu bisa bertanya segalanya padaku nanti, tolong sekarang jawab pertanyaanku terlebih dahulu.." ujar kala menatap kanaya dengan tatapan lembutnya.
"Siapa gadis mungil yang memanggilmu mama tadi?
Apakah dia putrimu?"
Kanaya menggeleng sendu " alita seorang pasien penyakit jantung kronis, ayah anak itu adalah dokter yang merawat ibuku. Anak itu, dari lahir sudah tidak memiliki ibu "
"Lantas kenapa kamu yang dipanggil mama?, apakah kamu menikahi ayahnya?"
"Tidak.." geleng kanaya cepat
"Awalnya, ayahnya hanya meminta tolong kepadaku untuk menjadi ibu bohongan, anak itu tak mau menjalani operasi kalau ia tak di jenguk mamanya..."
"Hmmm..modus"gumaman lirih kala terdengar di telinga kanaya, sorot mata pria itu berubah. Senyuman sinis, terlihat tipis tersungging disudut bibirnya.
"Tapi, aku benar-benar menyayangi gadis mungil itu, semangat hidupnya menggugah hatiku, bagaimana bisa anak sekecil itu, berjuang keras untuk hidupnya" bisik kanaya lirih, ia mendongak menatap mata kala lekat.
"Aku sebagai orang dewasa mengaku kalah dengan semangat yqng dimiliki anak itu"
"Apakah rasa sayangmu hanya untuk anak itu?, atau termasuk ayahnya didalamnya?"
Mata kanaya membelalak kaget, mendapat pertanyaan kala yang sedikit tertendensi rasa cemburu, dengan hati-hati kanaya bertanya.
"Apa maksudmu..?"
"Hmmm..tidak, aku hanya penasaran saja" jawab kala dingin,
"Sebagai laki-laki, aku tahu ayah gadis itu memanfaatkan kelemahan wanita padamu..,
Rasa iba"
Tatapan tajam kala menghunjam mata kanaya. Kanaya menunduk, meraih gelas kopinya dan menyesap tegukan terakhir.
"Aku rasa, kamu gak berhak menuduh seperti itu, kamu harus posisikan dirimu pada posisi ayah gadis cilik itu, yang rela melakukan apapun untuk membahagiakan putri satu-satunya yang sedang sakit parah"
Jelas kanaya sedikit kesal,
"Dan satu lagi kala, aku bukan wanita yang mudah dimanfaatkan"
Tatapan tegas kanaya cukup membuat kala tergugah, kala sadar dan ia mengubah nada bicaranya.
"Maaf..." pinta kala menyesal,
"Aku rasa kedatanganmu kemari bukan untuk mengetahui tentang gadis kecil itukan?" tanya kanaya melunakkan suaranya.
Kanaya merasa sedikit tidak enak hati, melihat kala yang terdiam karena ucapannya yang sedikit tajam tadi.
Kala mendongakkan kepalanya menatap kanaya yang tersenyum lembut, ia menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin meluruskan semuanya naya..."
Kanaya menatap kala serius, menanti ucapan pria itu yang menggantung.
"Perceraian kita, kepergianmu yang tiba-tiba, hilangnya dirimu yang raib bagai ditelan bumi, aku ingin kita memperjelas semua itu"
"Hanya itu..?" tanya kanaya tiba-tiba, kala terdiam, wajahnya terlihat sedikit terkejut.
"Kamu datang sejauh ini, hanya ingin mengetahui hal itu..?
Kala..., jika hanya itu bukankah kamu bisa menelepon aku, atau berkirim pesan padaku, itu gunanya ponselkan?" tanya kanaya sedikit sarkas.
Kala merasa kanaya menyindirnya, namun wajah cantik wanita itu masih tetap tersenyum.
"Kamu seorang pengusaha kala!, perekonomian di Indonesia, akan timpang jika perusahaan kamu kolaps, dan kamu menghabiskan waktu berhargamu hanya ingin mengetahui masalah, yang sebenarnya kamu dan aku.... tidak lebih tepatnya kita berdua tahu apa jawabannya"
Kanaya melihat pria itu sedikit tersentak mendengar ucapannya. Reaksi wajah kala yang biasanya tak mampu ia baca, hari ini terpampang jelas di mata kanaya.
Kala pasti tersinggung mendengar semua ucapannya, namun ia tak mau terlalu berharap. Walau yah, jujur saja kanaya sangat berharap saat ini, bahwa kala datang untuk mengungkapkan perasaannya.
"Hari sudah semakin siang kala.., kamu harus pulang, ingat kamu memiliki perusahaan yang harus kamu urus, dan..aku juga harus pulang, aku sudah terlalu lama meninggalkan ibu dirumah.."
Kanaya beranjak dari kursinya, ia ingin melangkah, namun ia melihat kala masih terduduk diam.
"Biar aku yang bayar minum kita"
Kanaya melangkah ingin meninggalkan kala menuju kasir, namun pergelangan tangannya dicekal kala.
Kanaya menoleh, netra mereka saling menatap, tatapan sendu kala menusuk hatinya, ia melihat bibir pria itu bergetar.
"Aku merindukanmu naya..!, sangat. Apakah kamu tak merindukan aku?"
Kanaya terperangah, ucapan kevin yang sangat tiba-tiba itu membuat kanaya terkejut. Ia menatap netra coklat milik kala itu lekat. matanya menelisik, seakan mencari kejujuran dari pengakuan kala yang sekonyong-konyong itu.
Dan yah..kanaya menemukan kejujuran dari sorot mata kala, hati dania berbunga-bunga, detak jantungnya berpacu lebih kencang.
Netra mereka masih saling menatap, dengan tangan kanaya masih berada dalam genggaman pria itu.
Sejenak mereka masih terjebak dalam keheningan, mulut mereka saling terdiam, namun kanaya yakin hati mereka sedang tidak baik-baik saja.
Kanaya masih menenangkan detak jantungnya, mata kala masih menatapnya, ada binar-binar rindu di mata itu.
"Naya..."
Tiba-tiba sebuah suara memanggil, memecah keheningan yang tercipta antara kanaya dan kala, berbarengan mereka menoleh.
Dokter zayyan, pria itu menatap kanaya dan kala bergantian. Melirik kearah tangan kala dimana pergelangan kanaya masih dalam genggaman pria itu. Melihat zayyan melirik ketangannya, perlahan kanaya menarik tangannya lembut.
"Mas zayyan..." panggil kanaya pelan, suaranya sedikit tercekat.
Ia masih menenangkan hatinya dari efek mendengar pengakuan tiba-tiba kala tadi.
"Sedang apa mas di sini?"
"Mas dan teman- teman mau makan siang disini, sekilas melihat kamu, mas gak yakin, eh ternyata emang beneran kamu" sahutnya masih dengan berdiri menatap kanaya dan kala bergantian.
Kanaya menyadari tatapan pertanyaan yang diberikan zayyan lewat matanya, kanaya menoleh ke arah kala. Pria itu juga menatap tajam ke arah dokter zayyan, entah apa yang ada di benak kala, namun kanaya melihat mata itu menatap tajam, seakan ingin mengintimidasi lawan bicaranya.
Kanaya berdehem pelan, berusaha mencairkan suasana yang mendadak panas.
Deheman Kanaya berhasil memecah konsentrasi kala, pria itu menoleh, melihat kanaya dengan sebelah alisnya terangkat.
Seakan mengajukan pertanyaan yang sama yang dokter zayyan berikan lewat matanya.
Sebenarnya kanaya tak berniat mengenalkan mereka, tetapi tatapan keduanya seakan memaksa kanaya untuk menjelaskan.
"Mas zayyan..", panggil kanaya dengan suara tenang.
"Kenalkan..ini kala, kala mahendra wirawan",
"Dan kala, kenalkan, ini mas zayyan dokter yang merawat ibu"
Kedua pria itu mengulurkan tangan, zayyan dengan hangat menyambut uluran tangan kala. Sementara kala menyambut uluran tangan dokter itu separuh hati, kanaya melihat rahang kala menegang, sorot matanya sangat tidak bersahabat.
Kanaya menyentuh lengan kala, seakan meminta pria itu untuk melepaskan genggamannya dari tangan zayyan yang mulai merasa tak nyaman.
Namun kala seakan tak acuh, pria itu masih menatap tajam ke arah dokter zayyan yang sudah tidak tersenyum, atmosfer di ruangan itu mulai terasa panas.
"Mas zayyan, sepertinya teman-teman mas sudah memanggil"
ujar kanaya mengingatkan, berusaha melerai perang mata kedua pria ini.
Kala melepaskan genggaman tangannya, memandangi kanaya dan zayyan yang sedang berbicara. Zayyan meminta ijin kepada kanaya untuk bergabung dengan teman-temannya, pria itu melangkah dengan tenang, dengan terlebih dahulu mengangguk kecil ke arah kala sebelum pergi.
"Apa-apaan itu tadi?" keluh kanaya kesal menatap kala jengah.
"Ada apa dengan dirimu?"
"Pria itu ayahnya gadis mungil yang dirumah sakit tadikan?" tanya kala tanpa memperdulikan kekesalan kanaya.
"Bagaimana kamu bisa tahu" tanya kanaya terkejut, ia tidak menyebutkan nama dokter zayyan tadi sebagai ayah alita.
"Tadikan kamu bilang, gadis cilik itu adalah putri dari dokter yang merawat ibu" jelas kala singkat,
"Aku tak suka cara dia memandang ke arahmu"
Kanaya menghela nafasnya, kemudian beranjak ingin pergi.
"Aku harus pulang kala, aku sudah begitu lama meninggalkan ibu"
Kala melangkah di sisi kanaya, mengikuti langkah wanita itu dengan tenang.
"Aku ikut kerumah kamu.."
Kanaya menoleh sekilas, namun ia tidak menjawab. Ia membiarkan kala mengikutinya, kanaya berpikir mungkin kala ingin menjemput pak ardi. Mereka melangkah saling bersisian, tapi saling diam.
Bersambung...