"Aku cuma mau jadi beban keluarga CEO, kenapa malah dikasih beban nyawa Mafia?!"
Velin mengira transmigrasi ke tubuh istri pengganti dalam drama CEO klise adalah tiket liburannya dari dunia korporat. Tugasnya mudah: diabaikan suami, dihina pelakor, lalu mati konyol.
Tapi Velin menolak alur! Saat ia sedang asyik berendam mawar untuk merayakan kebebasannya, plafon kamar mandinya jebol.
Bukannya suami yang datang minta maaf, justru seorang pria asing bersimbah darah jatuh tepat di hadapannya. Kieran Marva D’Arcy—Ketua Mafia kejam yang seharusnya tidak ada dalam naskah ini.
Satu pria ingin membuangnya, satu pria lagi mengancam akan menembaknya.
Saat alur drama sudah "Salah Server", apakah Velin akan tetap mengikuti naskah, atau justru menulis takdir baru bersama sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Penawaran 100 Miliar di Balik Tirai
Velin menghela napas panjang saat air hangat mulai menyentuh kulitnya. Aroma mawar dan lavender memenuhi ruangan, memberikan ketenangan yang sangat ia butuhkan setelah aksi kejar-kejaran "donor organ" yang melelahkan tadi.
"Ah... ini baru hidup," gumam Velin sambil menyandarkan kepalanya di pinggiran bathtub. "Biarkan saja si Adriano itu mengoceh tentang martabat dan perhatian. Selama dia tidak memotong anggaran belanjaku dan tidak mengambil ginjalku, dia boleh menganggapku gila sesukanya."
Ia memejamkan mata, membayangkan masa depan yang cerah. "Mungkin setelah diceraikan, aku bisa minta pesangon satu gedung apartemen. Aku akan jadi janda kaya yang hobinya cuma rebahan dan nonton konser oppa."
Namun, lamunan indah itu terganggu oleh suara aneh.
Kreeek... Duk... Duk...
Velin membuka satu matanya. Ia menatap plafon kamar mandi yang dihiasi ukiran estetik. "Apa rumah mewah begini punya masalah tikus? Masa CEO Mally nggak sanggup payar jasa pembasmi hama?"
Suara itu semakin keras. Bukan seperti tikus, tapi seperti ada sesuatu yang berat sedang menyeret diri.
BRAKKKK!
Dalam hitungan detik, lempengan ventilasi udara di atas plafon jebol. Debu putih berhamburan, dan sesosok tubuh besar jatuh dengan suara debum yang memekakkan telinga tepat di samping bak mandi Velin.
"KYAAAAA—" Velin baru saja hendak mengeluarkan teriakan mautnya, namun suaranya tertahan di tenggorokan saat melihat apa yang ada di depannya.
Seorang pria.
Pria itu mengenakan kemeja hitam yang sudah robek-robek, menempel pada tubuh atletisnya karena keringat dan... darah. Ya, darah segar merembes dari perutnya, menetes di atas lantai marmer putih yang tadinya bersih mengkilap.
"Aduh, mampus... darahnya ke mana-mana!" Velin justru mengeluhkan kebersihan lantai sebelum nyawanya sendiri.
Velin menatap pria itu dengan saksama. Kemeja hitam robek, luka tembak, dan tatapan yang bisa membekukan air mandi. "Bentar, ini sebenarnya drama yang mana? Kenapa alurnya jadi acak-adul begini?" batin Velin bingung. "Kenapa tiba-tiba ada adegan berdarah begini? Apa judulnya berubah jadi drama action? Biasanya pria gagah dan kejam begini... tipe-tipe Mafia kejam di naskah sebelah."
Pria itu, Kieran, berusaha bangkit. Wajahnya yang sangat tampan namun dingin itu tampak pucat pasi. Ia memegang sebuah pistol hitam dengan tangan gemetar, refleks menodongkan moncongnya tepat ke arah dahi Velin.
"Satu kata... dan kepalamu pecah," desis Kieran dengan suara serak yang sangat maskulin.
Velin membeku. Matanya melotot menatap lubang gelap itu. "Tunggu, tunggu! Tuan Tampan!" Velin mengangkat kedua tangannya yang masih basah. "Kalau kamu mau ginjalku, ambil aja yang sebelah kiri! Tapi tolong jangan tembak wajah!"
Kieran mengerutkan kening. Rasa sakit di perutnya luar biasa, tapi keheranan di otaknya jauh lebih besar. "Apa yang kau bicarakan, Wanita? Di mana ini?"
"Ini kamar mandiku! Kamu siapa? Kenapa masuk lewat plafon?" Velin memberanikan diri.
Kieran menarik napas pendek, tangannya yang berdarah tiba-tiba meraih pergelangan tangan Velin, menariknya mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Aroma maskulin bercampur amis darah menyeruak.
"Bantu aku sembunyi," bisik Kieran. "Lakukan, dan aku berjanji akan memberikanmu imbalan seratus miliar."
Velin terdiam. Matanya langsung berubah jadi bentuk simbol mata uang. "Berapa? Seratus miliar? Bukan juta lagi?!" Jiwa budak korporatnya yang dulu harus lembur bagai kuda cuma buat dapet bonus pas-pasan langsung meronta-ronta kegirangan. Seratus miliar bisa buat beli satu komplek perumahan ini!
"Oke, deal! Tapi jangan mati dulu ya!" seru Velin penuh semangat. Ia segera meraih handuk kimononya dan keluar dari bak mandi.
Tiba-tiba, suara gedoran pintu kamar mandi terdengar.
"Aveline! Kau bicara dengan siapa di dalam? Buka pintunya!" itu suara Adriano.
Velin membelalak. "Mampus! Si Kulkas datang!"
Ia melirik Kieran, lalu dengan kekuatan yang didorong rasa panik (dan motivasi seratus miliar), ia menyeret tubuh kekar Kieran ke balik tirai bathtub yang tebal.
"Velin! Buka atau aku dobrak!" Adriano semakin curiga.
Velin buru-buru membasahi wajahnya dengan air, lalu membuka pintu sedikit. "Apa sih, Mas? Orang lagi mandi juga!"
Adriano menatap tajam melalui celah pintu. "Tadi aku dengar suara benda jatuh. Sangat keras. Dan kau... kau bicara dengan seseorang?"
"Oh, itu... botol sabun raksasaku jatuh! Terus aku marah-marah sama sabunnya karena bikin kaget. Kan kata dokter tadi aku mungkin ada cedera otak, jadi wajar dong bicara sama benda mati!"
Adriano menyipitkan mata. Ia mencium bau sesuatu yang asing. Bau besi yang tajam. Darah. "Kenapa bau darah di sini?"
"Darah? Oh! Itu... itu aku lagi datang bulan, Mas! Banyak banget darahnya, makanya bau! Masa kamu mau masuk juga? Nggak sopan banget sih jadi CEO!"
Wajah Adriano langsung berubah kaku dan canggung. "Tidak perlu. Bersihkan dirimu dan cepat keluar," sahut Adriano dengan wajah masam, lalu ia berbalik pergi.
Velin langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia merosot di balik pintu, napasnya keluar dengan lega. "Selamat... gila, aku hampir kena serangan jantung!"
Ia segera menghampiri Kieran di balik tirai. Pria itu sudah hampir kehilangan kesadaran. Velin menatap wajah tampan itu.
"Tuan Seratus Miliar, selamat datang di drama CEO yang membosankan. Karena kamu sudah merusak lantainya, kamu harus membantuku merusak alur ceritanya dengan uangmu itu, oke?"
terimakasih 🙏🙏🙏