NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebangkitan Sang Detektif

Lokasi: Pinggiran Sungai yang Dingin

Reyhan terkapar di atas pasir sungai yang kasar. Wajahnya pucat pasi, bajunya basah kuyup membalut tubuhnya yang kaku. Rendy sudah bersiap-siap mengambil posisi untuk memberikan napas buatan, sementara Kiara sibuk memeras air dari rambutnya yang lepek.

"Pak! Bangun, Pak! Kalau nggak bangun, terpaksa nih gue kasih kecupan persahabatan paling maut sedunia!" ancam Rendy sambil memonyongkan bibirnya dengan muka serius yang dibuat-buat.

Tiba-tiba, Reyhan tersentak. Entah karena mendengar ancaman mengerikan Rendy atau karena naluri bertahan hidupnya yang mendadak meledak, matanya langsung membelalak lebar. Ia duduk tegak seolah baru saja disambar petir.

"Jangan berani-berani, Rendy!" seru Reyhan sambil terengah-engah, mengabaikan fakta bahwa paru-parunya masih terasa penuh air. "Gue sudah bangun! Gue segar! Gue gagah lagi, jadi jauhkan muka lo dari gue!"

Rendy langsung mendengus kecewa. "Buset... manjur banget. Ternyata obat pingsan Bapak itu cuma ancaman dikasih kasih sayang dari gue."

Kiara mengelus dada sambil menggeleng-geleng. "Astaga... bapak polisi kita ini ternyata tipe yang kalau diancam sedikit langsung hilang trauma mistisnya ya? Benar-benar unik."

Reyhan merapikan rambutnya yang basah menggunakan jari-jari tangannya, mencoba kembali ke mode cool meski giginya masih bergemeletuk kedinginan. "Bukannya gitu, Ra. Sebagai polisi, gue harus selalu siaga. Nggak elit banget kalau gue mati hanyut di sungai begini."

Kejutan di Tengah Hutan

Baru saja Reyhan hendak berdiri dengan gaya "Gagah" andalannya, tiba-tiba dari balik semak-semak muncul seorang wanita muda mengenakan kebaya lusuh. Wajahnya sangat cantik, meskipun pucat pasi seputih kapas. Ia membawa sebuah obor kecil yang apinya menari-nari ditiup angin malam.

Wanita Misterius: "Kalian... siapa? Kenapa ada di pinggir sungai terlarang ini?"

Reyhan langsung pasang badan, membusungkan dada meski seluruh tubuhnya gemetar kedinginan. Ia mencoba memasang nada bicara yang berat dan berwibawa.

"Tenang, Mbak. Saya Detektif Reyhan. Saya di sini untuk melakukan penyelidikan tingkat tinggi. Mbak sendiri siapa? Dan kenapa sendirian di hutan seseram ini?" tanya Reyhan, berusaha tetap tebar pesona meski situasinya kacau.

Wanita itu terdiam sejenak. Matanya yang sayu menatap tajam ke arah Kiara, seolah bisa melihat energi yang ada di dalam gadis itu.

"Nama saya Sari. Saya adalah saksi yang suaranya dibungkam paksa di tahun 2011," bisiknya lirih. "Dan kalian... seharusnya tidak berada di sini jika masih sayang nyawa."

Seketika, angin bertiup kencang, menggoyangkan pepohonan raksasa di sekitar mereka. Suara tawa Arthur seolah-olah terbawa angin, bergema dari kejauhan yang gelap.

Pengepungan Dimulai

"Tunggu, Mbak Sari! Apa maksudnya saksi 2011?" Reyhan mencoba melangkah maju, tapi kepalanya kembali berdenyut hebat. Rasa lemas kembali menyerang tubuhnya yang belum pulih benar.

Rendy tertawa getir melihat kaki Reyhan yang goyah. "Tuh kan, baru gaya dikit langsung mau log-off lagi auranya. Pak, muka Bapak sekarang lebih pucat daripada Mbak Sari itu!"

"Diam lo, Ren! Gue cuma... kurang gula!" bantah Reyhan sambil berpegangan pada dahan pohon.

Namun, suasana santai itu lenyap seketika. Mbak Sari mendadak menegang. Obor di tangannya tiba-tiba mati tanpa sebab, menyisakan kegelapan yang pekat.

"Kalian masih sempat bicara?" suara Sari berubah menjadi sangat dingin. "Arthur sudah mengirim 'pemburu' ke hutan ini. Mereka tidak membawa borgol... mereka membawa sekop untuk mengubur kalian di sini."

Tiba-tiba, dari arah perbukitan, terdengar suara gonggongan anjing pelacak yang menyalak beringas. Sorot lampu senter mulai menyapu pepohonan dengan cepat, mendekat ke arah pinggiran sungai.

Rendy langsung sigap menarik tas hardisk-nya. "Pak! Bangun! Malaikat maut kiriman Arthur sudah sampai! Ayo lari!"

Reyhan berdiri dengan gontai, tangannya mencengkeram pundak Rendy. "Ren... gue beneran lemas. Rasanya tenaga gue tersedot sungai tadi."

Kiara menarik tangan mereka berdua. "Nggak ada waktu buat mengeluh! Kita harus bergerak sekarang atau kita akan jadi koleksi lidah selanjutnya!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!