NovelToon NovelToon
Dari Pria Miskin Menjadi Penguasa Dunia

Dari Pria Miskin Menjadi Penguasa Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai / Fantasi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wedanta

Arka adalah pria biasa yang hidupnya selalu penuh kegagalan. Dipecat dari pekerjaan, ditinggalkan pacar, dan hampir kehilangan harapan hidup.
Namun setelah kecelakaan misterius, hidupnya berubah total ketika sebuah Sistem Harem Legendaris muncul di dalam pikirannya.
Sistem itu memberinya misi aneh: bertemu wanita-wanita luar biasa yang akan mengubah takdirnya.
Dari CEO cantik yang dingin, idol terkenal, hacker jenius, hingga pembunuh bayaran misterius—setiap wanita yang mendekatinya membuka kekuatan baru bagi Arka.
Namun semakin banyak wanita yang masuk dalam hidupnya, semakin berbahaya dunia yang harus ia hadapi.
Akankah Arka mampu mengendalikan kekuatan sistem itu… atau justru tenggelam dalam permainan takdir yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wedanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8 – Bayangan yang Mengintai

Senja di Hutan Terlarang mulai berubah menjadi malam. Cahaya keemasan matahari perlahan menghilang di balik pepohonan besar, digantikan oleh bayangan panjang yang membuat suasana hutan terasa semakin misterius. Ren, Mira, Lilia, dan Aria masih berada di area kecil yang dipenuhi bunga bercahaya. Udara terasa tenang, namun entah kenapa Ren merasa seperti sedang diawasi.

Aria baru saja selesai menyembuhkan rubah sihir kecil yang tadi terluka. Makhluk itu berdiri dengan hati-hati, mengibaskan ekor peraknya, lalu menatap Aria seolah mengucapkan terima kasih sebelum berlari masuk ke dalam semak-semak.

“Syukurlah lukanya tidak terlalu parah,” kata Aria dengan senyum lembut.

Mira menatapnya dengan sedikit heran. “Kamu selalu menolong makhluk liar seperti itu?”

Aria mengangguk pelan. “Di desa elf, kami diajarkan bahwa semua makhluk hidup memiliki jiwa yang harus dihormati.”

Ren memperhatikan Aria dengan diam. Gadis elf itu memiliki aura yang sangat berbeda dibanding kebanyakan siswa akademi. Energi sihirnya terasa hangat dan menenangkan, hampir seperti angin musim semi.

Namun sebelum Ren sempat mengatakan sesuatu, Lilia tiba-tiba mengangkat tangannya.

“Tunggu.”

Semua orang langsung menoleh ke arahnya.

Lilia menatap ke arah hutan yang lebih gelap di depan mereka. Ekspresinya berubah serius.

“Ada sesuatu yang bergerak.”

Mira langsung siaga. Api kecil muncul di ujung jarinya.

“Kamu yakin?”

Lilia mengangguk.

Ren juga mulai merasakan hal yang sama. Udara di sekitar mereka tiba-tiba terasa lebih berat. Daun-daun di semak bergerak perlahan, bukan karena angin, tetapi seperti ada sesuatu yang berjalan di baliknya.

Aria berbisik pelan, “Makhluk sihir?”

Tidak ada yang menjawab.

Beberapa detik kemudian, suara ranting patah terdengar.

KRAK.

Sesosok makhluk besar keluar dari balik pepohonan.

Tubuhnya hampir dua kali ukuran manusia, dengan kulit gelap seperti batu dan mata kuning yang menyala dalam kegelapan. Taring panjang terlihat jelas ketika makhluk itu membuka mulutnya.

Mira langsung berseru pelan, “Troll hutan…”

Ren mengerutkan kening. Troll hutan biasanya tinggal jauh di dalam wilayah paling berbahaya dari hutan ini. Sangat jarang mereka muncul sedekat ini dengan akademi.

Namun yang lebih aneh lagi, makhluk itu tidak sendirian.

Dari balik bayangan pepohonan, dua troll lain ikut keluar.

Aria mundur satu langkah. “Kenapa ada tiga…”

Mira menggertakkan giginya. “Ini bukan bagus.”

Salah satu troll menggeram keras, membuat tanah sedikit bergetar.

Ren langsung berdiri di depan Aria tanpa sadar.

“Aria, tetap di belakang.”

Gadis elf itu terlihat sedikit terkejut, tetapi ia mengangguk.

Mira menyeringai kecil. “Akhirnya sesuatu yang seru.”

Api di tangannya mulai membesar.

Lilia juga mengangkat tangannya, membentuk lingkaran sihir berwarna biru di udara.

“Ren,” katanya singkat, “kita hadapi bersama.”

Ren mengangguk.

Troll pertama tiba-tiba berlari maju sambil mengayunkan lengannya yang besar.

Mira langsung bergerak.

“Flame Strike!”

Ledakan api besar menghantam tubuh troll itu, membuatnya mundur beberapa langkah. Namun makhluk itu sama sekali tidak jatuh.

“Serius?” Mira menggeram.

Troll kedua mencoba menyerang dari samping, tetapi Lilia sudah siap.

“Ice Bind.”

Es muncul dari tanah dan langsung membekukan kaki troll tersebut.

Ren melihat kesempatan itu dan berlari maju. Ia melompat dan menendang dada troll yang terjebak es.

BOOM.

Makhluk itu jatuh keras ke tanah.

Namun troll ketiga tiba-tiba mengayunkan tangannya ke arah Ren dari belakang.

“REN!” teriak Mira.

Ren berbalik, tetapi sudah terlambat.

Lengan besar troll itu hampir mengenai dirinya.

Namun tiba-tiba cahaya hijau muncul di depan Ren.

Sebuah perisai sihir melindunginya.

Serangan troll memantul kembali.

Ren menoleh dan melihat Aria berdiri dengan kedua tangan terangkat.

“Aku bisa membantu juga,” katanya dengan sedikit gugup.

Ren tersenyum kecil. “Terima kasih.”

Namun troll yang pertama tiba-tiba bangkit kembali dengan raungan marah.

Makhluk itu terlihat lebih agresif dari sebelumnya.

Ren mengerutkan kening.

“Ada yang aneh…”

Biasanya troll tidak sekuat ini.

Tiba-tiba mata troll itu bersinar merah.

Lilia langsung menyadarinya.

“Mereka dikendalikan!”

Mira terkejut. “Apa?!”

Lilia menatap lebih dalam ke arah hutan.

“Seseorang menggunakan sihir untuk membuat mereka menyerang.”

Ren langsung memikirkan satu orang.

Selene.

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, tanah di sekitar mereka tiba-tiba bergetar.

Energi aneh mulai muncul lagi di dalam tubuh Ren.

Sama seperti saat duel di akademi.

Ren mengepalkan tangannya.

“Tidak… sekarang bukan waktu yang tepat…”

Namun energi itu tidak mau berhenti.

Aura gelap samar mulai muncul di sekitar tubuhnya.

Mira menatap Ren dengan mata membesar.

“Ren… energimu lagi!”

Troll yang tersisa langsung menyerang bersamaan.

Ren mengangkat kepalanya.

Matanya bersinar samar.

“Kalau begitu… aku akan menggunakannya.”

Dalam satu gerakan cepat, Ren mengangkat tangannya.

Gelombang energi gelap meledak keluar.

BOOOOM.

Ketiga troll langsung terpental dan menghantam pepohonan besar di belakang mereka.

Hutan kembali sunyi.

Makhluk-makhluk itu tidak bergerak lagi.

Mira menatap Ren dengan mulut sedikit terbuka.

“Wow…”

Aria juga terlihat terkejut.

Namun Lilia justru tampak khawatir.

“Ren… kamu baik-baik saja?”

Ren berdiri diam beberapa detik sebelum energi itu perlahan menghilang.

“Aku… baik.”

Namun jauh di dalam hutan, seseorang sedang tersenyum melihat semuanya.

Selene duduk santai di atas cabang pohon tinggi.

“Bagus sekali,” bisiknya pelan.

Matanya bersinar merah dalam kegelapan.

“Kekuatanmu mulai bangun, Ren.”

Angin malam berhembus melewati hutan.

1
Apin Zen
Gk pakai paragraf, sulit dibaca percakapannya
Wedanta 05: makasi Saranya yaaa☺️
total 1 replies
3RSEL
apa ini..... bingung
3RSEL
gasss
3RSEL
masih nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!