NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Jejak di Perpustakaan Bawah Tanah

Malam datang lebih cepat dari yang mereka sadari.

Langit di atas Akademi Duskveil berubah dari jingga menjadi biru gelap, lalu perlahan dipenuhi bintang. Cahaya lampu kristal mulai menyala di sepanjang koridor batu, memantulkan bayangan panjang di lantai.

Bagi sebagian besar murid, malam adalah waktu untuk kembali ke asrama atau menyelesaikan tugas pelajaran.

Namun bagi tiga murid dari tiga rumah berbeda—

Malam adalah waktu untuk mencari jawaban.

Arkan berdiri di ujung lorong dekat perpustakaan utama akademi. Ia bersandar pada dinding batu, menunggu dengan sabar.

Beberapa murid masih keluar masuk perpustakaan. Sebagian membawa buku tebal, sebagian lagi berbicara pelan tentang pelajaran hari itu.

Arkan memandang langit melalui jendela tinggi di koridor.

Nyanyian itu…

Masih ada.

Tidak keras.

Tidak jelas.

Namun cukup untuk membuatnya sadar bahwa suara itu belum benar-benar pergi.

Beberapa menit kemudian, langkah cepat terdengar dari arah tangga.

Leyna muncul terlebih dahulu.

Ia berhenti di depan Arkan sambil mengatur napas.

“Aku hampir ketahuan oleh salah satu murid senior Natureveil.”

Arkan mengangkat alis.

“Kau kabur?”

Leyna tersenyum kecil.

“Secara teknis… ya.”

Tak lama setelah itu, Solan juga datang dari arah yang lain.

Ia tampak jauh lebih santai.

“Perpustakaan malam hari selalu menjadi tempat favoritku.”

Leyna menyilangkan tangan.

“Ini bukan kunjungan biasa.”

Solan mengangkat bahu.

“Aku tahu.”

Ia menatap pintu besar perpustakaan.

“Jadi… kita masuk?”

Arkan mengangguk.

Mereka bertiga berjalan menuju pintu kayu besar yang dihiasi ukiran rune kuno.

Saat Arkan mendorongnya—

Pintu itu terbuka dengan suara pelan.

Perpustakaan utama Akademi Duskveil adalah ruangan yang sangat besar.

Rak-rak buku tinggi menjulang hampir sampai langit-langit. Tangga kayu kecil berdiri di beberapa tempat untuk mencapai buku-buku di rak paling atas.

Lampu kristal menggantung di antara rak, memancarkan cahaya hangat yang membuat ruangan terasa tenang.

Beberapa murid masih duduk di meja baca.

Namun mereka tidak terlalu memperhatikan Arkan, Leyna, dan Solan.

Arkan langsung berjalan menuju bagian belakang perpustakaan.

Leyna mengikuti.

“Kita langsung ke sana?”

Arkan mengangguk.

“Lebih cepat lebih baik.”

Solan menoleh ke sekeliling.

“Bagian bawah perpustakaan biasanya tidak dijaga ketat… tapi tetap saja kita harus hati-hati.”

Mereka berjalan melewati beberapa rak buku besar.

Akhirnya mereka sampai di lorong sempit di ujung perpustakaan.

Lorong itu jauh lebih gelap.

Lampu kristalnya lebih redup.

Dan di ujung lorong—

Pintu batu tua berdiri setengah tersembunyi di balik rak buku besar.

Leyna menatap pintu itu.

“Ini dia.”

Arkan mendorong rak sedikit.

Pintu batu itu terlihat jelas sekarang.

Rune kecil terukir di permukaannya.

Solan mendekat.

“Pintu pengaman lama.”

Ia menyentuh rune itu dengan jari.

Cahaya kecil muncul sesaat.

Lalu pintu batu itu terbuka perlahan dengan suara berat.

Udara dingin keluar dari dalam.

Leyna merinding sedikit.

“Aku selalu merasa tempat seperti ini menyimpan terlalu banyak rahasia.”

Arkan melangkah masuk terlebih dahulu.

Tangga batu sempit menurun ke bawah tanah.

Langkah kaki mereka bergema pelan saat mereka turun.

Semakin dalam mereka berjalan—

Semakin dingin udara di sekitarnya.

Akhirnya mereka sampai di ruangan bawah tanah perpustakaan.

Ruangan itu lebih kecil dibandingkan perpustakaan utama.

Namun buku-buku di sini terlihat jauh lebih tua.

Rak-rak kayu dipenuhi naskah kuno, gulungan perkamen, dan buku dengan sampul kulit yang sudah usang.

Leyna memandang sekeliling dengan kagum.

“Tempat ini benar-benar seperti museum.”

Solan berjalan menuju salah satu rak.

“Tidak.”

Ia menarik sebuah buku tebal dari rak.

“Ini lebih seperti ruang penyimpanan rahasia.”

Arkan langsung menuju rak yang pernah ia datangi sebelumnya.

Rak tempat ia menemukan buku tentang Ritual Tiga Veil.

Ia memeriksa satu per satu buku di sana.

Beberapa judul tertulis dalam bahasa kuno.

Beberapa lainnya bahkan hampir tidak terbaca.

Leyna membantu mencari di rak lain.

“Kalau kita mencari tentang keluarga Noctis…”

Ia membaca punggung buku.

“…mungkin ada di bagian sejarah keluarga sihir.”

Solan menambahkan,

“Atau catatan tentang perang sihir lama.”

Beberapa menit berlalu.

Hanya suara halaman buku yang dibuka yang terdengar di ruangan itu.

Arkan akhirnya menemukan sesuatu.

Sebuah buku yang lebih tipis dibanding yang lain.

Sampulnya hitam.

Tanpa judul.

Arkan membuka halaman pertama.

Tulisan di dalamnya menggunakan tinta yang sudah sedikit pudar.

Namun masih bisa dibaca.

Leyna mendekat.

“Apa itu?”

Arkan membaca pelan.

“Catatan tentang para penjaga segel.”

Solan langsung menoleh.

“Benarkah?”

Mereka berdua mendekat ke sisi Arkan.

Arkan membalik halaman.

Di tengah buku terdapat gambar lingkaran sihir.

Mirip dengan yang ada di Menara Astral.

Di bawah gambar itu terdapat tulisan.

“Segel Bayangan dijaga oleh tiga garis keturunan.”

Leyna membaca lebih dekat.

“Darkveil…”

Solan menunjuk bagian lain.

“Natureveil…”

Arkan menunjuk yang terakhir.

“Lightveil.”

Namun ada sesuatu yang membuat Arkan berhenti.

Di bawah nama Darkveil, ada nama keluarga tertulis.

Noctis.

Leyna berbisik pelan.

“Jadi benar…”

Solan membaca bagian lain.

“Natureveil dijaga oleh keluarga Sylvara.”

Leyna mengangkat alis.

“Sylvara?”

Ia berpikir sejenak.

“Nama itu masih ada di Natureveil.”

Solan kemudian menunjuk bagian terakhir.

“Lightveil dijaga oleh keluarga Aurelius.”

Ia terlihat berpikir.

“Aurelius juga masih ada di akademi.”

Leyna menatapnya.

“Serius?”

Solan mengangguk.

“Itu keluarga lama Lightveil.”

Arkan menatap halaman berikutnya.

Tulisan di sana terlihat lebih tua.

Seolah ditulis oleh tangan yang berbeda.

Ia membaca dengan suara pelan.

“Ketika tiga penjaga bersatu, segel akan diperbarui.”

Leyna berkata,

“Itu yang kita lakukan di Menara Astral.”

Namun Arkan terus membaca.

Wajahnya perlahan berubah serius.

Solan menyadarinya.

“Apa lagi?”

Arkan menunjuk kalimat berikutnya.

“Jika salah satu garis keturunan hilang… segel akan melemah.”

Leyna langsung memahami.

“Penjaga gerbang bilang segel sudah melemah.”

Solan menambahkan,

“Berarti salah satu keluarga mungkin sudah tidak menjalankan tugasnya.”

Arkan menatap nama di halaman itu lagi.

Noctis.

Sylvara.

Aurelius.

Namun di bawah nama Noctis—

Ada simbol kecil yang tidak ada di dua nama lainnya.

Leyna melihatnya juga.

“Itu apa?”

Arkan membaca catatan kecil di samping simbol itu.

Lalu ia berkata pelan.

“Pengendali bayangan.”

Solan mengangkat alis.

“Maksudnya?”

Arkan membaca lagi.

“Keluarga Noctis bukan hanya penjaga segel.”

Ia berhenti sejenak.

“Jika segel hampir hancur… pewaris Noctis dapat memanggil bayangan untuk menahan makhluk dari balik gerbang.”

Leyna langsung menatapnya.

“Itu yang kau lakukan di menara.”

Solan juga mengangguk.

“Itu bukan kebetulan.”

Arkan menatap halaman itu lebih lama.

Namun sesuatu yang lain menarik perhatiannya.

Di bagian paling bawah halaman—

Ada kalimat yang hampir tertutup noda tinta lama.

Arkan mengusap perlahan.

Tulisan itu akhirnya terlihat.

Ia membaca dengan suara pelan.

“Namun jika pewaris Noctis mendengar Nyanyian Malam…”

Leyna langsung menatapnya.

“Nyanyian Malam?”

Arkan melanjutkan membaca.

“…maka gerbang tidak lagi hanya memanggil makhluk bayangan.”

Solan mengerutkan kening.

“Lalu?”

Arkan membaca kalimat terakhir.

Suaranya hampir seperti bisikan.

“…melainkan sesuatu yang jauh lebih tua dari bayangan itu sendiri.”

Keheningan langsung memenuhi ruangan bawah tanah.

Leyna merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.

Solan terlihat sangat serius sekarang.

“Arkan…”

Arkan menatap halaman itu.

Nyanyian yang ia dengar tadi…

Sekarang memiliki nama.

Nyanyian Malam.

Dan entah kenapa—

Saat ia membaca kata itu—

Melodi itu kembali terdengar lebih jelas di kepalanya.

Lebih dekat.

Lebih kuat.

Seolah-olah sesuatu di balik bayangan…

Sedang menunggu.

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!