NovelToon NovelToon
Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Forgotten Crown: The General’S Sanctuary

Status: tamat
Genre:Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.

Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Labirin Hijau

Setelah hujan reda, udara di wilayah Valois terasa sangat segar. Aroma tanah basah bercampur dengan harum bunga-bunga liar yang bermekaran di taman pribadi keluarga Valois. Eisérre memutuskan untuk membawa Geneviève keluar sejenak, menghirup udara segar agar gadis itu tidak terus-terusan terkurung di dalam paviliun.

Mereka berjalan perlahan di bawah deretan pohon ek yang menjulang tinggi. Eisérre tidak melepaskan tangan Geneviève, ia menuntunnya melewati jalan setapak yang dilapisi batu alam dengan sangat protektif. Setiap kali ada dahan yang melintang atau jalan yang sedikit licin karena sisa hujan, tangan kokoh Eisérre akan segera melingkar di pinggang Geneviève untuk menjaganya tetap stabil.

"Lihat itu, Jenderal! Warnanya cantik sekali," seru Geneviève pelan sambil menunjuk deretan bunga lili putih yang masih menyisakan butiran air di kelopaknya.

Eisérre menatap bunga itu, lalu kembali menatap wajah Geneviève yang tampak bersinar di bawah cahaya matahari sore. "Bunga itu hanya hiasan, Ève. Kau jauh lebih hidup daripada seluruh taman ini."

Geneviève tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat murni hingga membuat sudut bibir Eisérre terangkat tipis. Eisérre kemudian memetik setangkai bunga lili kecil dan, dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyelipkannya di sela telinga Geneviève. Mereka berdiri sangat dekat, hingga deru napas Eisérre terasa hangat di dahi Geneviève.

Di Balkon Paviliun Utama, pemandangan indah itu tidak luput dari penglihatan Madame Hestia. Sang Nenek berdiri tegak dengan tangan tertaut di depan, matanya yang tajam mengawasi cucunya dari kejauhan. Di sampingnya, Belle berdiri dengan wajah yang memerah karena amarah dan cemburu yang membakar hatinya.

"Lihat itu, Nenek." Ucap Belle dengan suara yang sengaja dibuat terdengar prihatin namun beracun. "Aku tidak pernah melihat Eisérre bersikap serendah itu. Dia seorang Jenderal Agung, tapi dia bersedia memetikkan bunga dan menuntun gadis yang bahkan tidak jelas asal-usulnya seperti seorang pelayan."

Madame Hestia tetap diam, namun kerutan di dahinya semakin dalam.

"Aku khawatir, Nenek," lanjut Belle lagi, mencoba memengaruhi pikiran Sang Nenek. "Gadis itu, dia sangat cerdik. Dia menggunakan wajah polosnya untuk menjerat Eisérre. Bagaimana jika dia sebenarnya mata-mata? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika dia hanya ingin menghancurkan reputasi House of Valois dengan skandal ini? Eisérre sudah berubah sejak membawa 'Ève' itu ke sini."

Madame Hestia menyesap tehnya yang sudah dingin, matanya tetap tidak beralih dari sosok Eisérre yang kini tampak sedang membisikkan sesuatu ke telinga Geneviève hingga gadis itu tersipu.

"Eisérre memang bukan pria yang mudah dipengaruhi, Belle," ucap Madame Hestia akhirnya dengan nada dingin. "Tapi melihat bagaimana dia mengunci paviliun itu dan menyembunyikan identitas asli gadis itu... ada sesuatu yang tidak beres. Gadis itu punya tata krama bangsawan, tapi namanya terlalu biasa. Ada kebohongan besar yang sedang ditutupi cucuku."

Belle tersenyum sinis di dalam hati. "Benar, Madame. Kita tidak bisa membiarkan Eisérre hancur hanya karena seorang gadis asing. Kita harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat, bukan?"

Madame Hestia tidak menjawab, namun tatapannya kini berubah menjadi penuh selidik yang berbahaya. Ia tidak menyukai rahasia, terutama rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh kepala keluarga Valois yang baru.

Udara sore di kediaman Valois terasa sangat sejuk pasca hujan, membawa aroma petrichor yang menenangkan. Eisérre menuntun Geneviève menyusuri labirin tanaman boxwood yang tertata rapi. Tangannya tak pernah lepas dari jemari Geneviève, menggenggamnya dengan mantap seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, gadis itu akan menguap bersama kabut sore.

"Jenderal, lihat pohon itu!" Geneviève menunjuk sebuah pohon ginkgo besar yang daunnya mulai menguning. "Rasanya aku pernah melihat pohon seperti itu... tapi di tempat yang jauh lebih luas."

Langkah Eisérre terhenti sejenak. Jantungnya berdesir waspada. Apakah ingatan Geneviève mulai kembali? Namun, dengan ketenangan seorang jenderal, ia segera mengalihkan perhatian gadis itu. Ia menarik Geneviève mendekat hingga punggung gadis itu bersandar pada batang pohon yang kokoh.

"Mungkin di dalam mimpimu, Ève," jawab Eisérre. Ia menumpukan satu tangannya di batang pohon, mengurung Geneviève dalam ruang pribadinya. "Di sini, hanya ada kau, aku, dan pohon-pohon ini. Jangan biarkan pikiranmu berkelana terlalu jauh ke tempat yang tidak ada aku di dalamnya."

Eisérre meraih setangkai bunga lili putih yang masih basah, lalu menyelipkannya di sela rambut cokelat Geneviève. Jarinya sengaja berlama-lama menyentuh pipi gadis itu, mengusap kulitnya yang halus dengan ibu jari. Geneviève mendongak, matanya yang besar memancarkan kekaguman sekaligus rasa nyaman yang tulus.

"Kau selalu tahu cara membuatku merasa... spesial," gumam Geneviève pelan.

Eisérre menunduk, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. "Karena kau memang spesial. Kau adalah satu-satunya warna di duniaku yang selama ini hanya berisi abu-abu peperangan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!