Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Gimana. Bisa sabar kak, boro boro kasih kabar kek, telpon enggak SMS atau chat kek, itu pun enggak."
"Dia enggak punya kuota kali zi, atau bisa juga lagi punya kesibukan."
"Enggak mungkin kak, orang dia bilang mau datang kok, dikampusnya kebetulan lagi libur."
"Yasudah abaikan saja cowok begitu mah." celetukan Seza dengan santai dan entengnya.
"Ntarlah kak, belum juga ketahuan dia itu siapa, kenapa bisa tau semua identitasku coba kan ngeselin." Namun dari kejauhan seseorang hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan Sazi saat itu.
"Belum saatnya kamu tau Sazi." ucap pria itu dari kejauhan, ia pun langsung pergi.
#Flashback On
Saat sebelum kelulusan, saat itu Sazi baru pertama kali dibelikan dua bua ponsel sekaligus oleh kakaknya Meta. Setelah sekian lama ia bertahan, diantara teman sekolah lainnya Sazi tidak pernah merasa sekalipun iri karena tidak mempunyai ponsel.
Hidupnya lempeng lempeng saja, tidak ada yang dia pikir berlebihan hanya mengalir apa adanya saja. Diibaratkan ada uang bisa jajan bisa traktir enggak ada uang ya diam, tidak sampai memaksakan segala sesuatu dengan meminta dibelikan ini dan itu.
Bagi Sazi, sudah bisa sekolah saja sudah syukur Alhamdulillah, apalagi kondisi finansial ayah ibunya yang diluar kata cukup. Bersyukur kakak pertamanya Meta menikah dengan seorang direktur sebuah perusahaan. Seolah keluarga besar Sazi terangkat derajatnya.
Hidupnya sempat berpindah pindah rumah kontrakan, sampai tiba di ambang batas dirinya saat masih SMP harus merasakan hal pahit, hampir saja Sazi tidak bisa melanjutkan sekolah ke tingkat menengah.
Saat itu baik Sazi, Seza dan satu adiknya Helmi hanya bisa pasrah dengan keadaan. Rumah satu satunya warisan sang kakek harus rela ditinggalkan. Ia dan keluarganya harus keluar mau tidak mau.
Saat itu hanya kakaknya Meta lah yang bisa membantu, meski belum menikah tapi pengorbanan calon suaminya saat itu luar biasa, sampai nekat menjual motor sporty kesayangannya. Untuk membantu keluarga kami saat itu.
Pada akhirnya kami bisa menyewa rumah kontrakan yang sangat layak kami tempati, seiring berjalannya waktu kak Meta dan kak Verrel menikah. Mereka menikah begitu meriah memakai adat Sunda. Ayah kami begitu senang sekali. Tapi tidak lama dua hari pernikahan ayah kami entah pergi kemana.
Meninggalkan hutang piutang yang sungguh membuat sesak keluarga kami semua. Lagi lagi kak Meta harus menahan malu pada suaminya saat itu.
"Sudah tidak apa, insyallah rezeki enggak kemana sayang, lunasi hutang ayahmu ya." begitulah ucap kak Verrel pada kak meta yang terdengar ditelinga ku saat itu.
Maklumlah ya, aku mendengar percakapan suami istri itu. Karena memang rumah kami saat itu tak ada pintu, hanya tertutup gorden saja.
Dengan tangis kak meta memeluk suaminya penuh syukur dan rasa terimakasih. "terima kasih ya mas, maaf aku ngrepotin kamu lagi." ucapnya sambil menyeka airmatanya.
"kamu dan keluarga ini sudah menjadi tanggung jawabku Meta, jadi tidak ada kata merepotkan bagi mas, kamu istriku, dan adikmu juga adikku, ibumu juga ibuku begitu juga ayahmu."
Keduanya berhamburan peluk penuh haru, sementara aku tak bisa menahan tangisku, meski aku hanya sedikit mengerti bahasa orang dewasa saat itu.
Aku kembali bermain dengan adikku, bermain congklak yang kepingan bijinya di masukan satu persatu pada lubang yang tersedia, "ikh adik, jangan curang loh, ketahuan tuh kamu main curang tau."
Meski aku bermain seolah menikmatinya tapi pikiranku melayang, masih memikirkan kejadian tadi, saat penagih hutang datang kerumah, saat dimana aku mendengar percakapan kak meta dan kak Verrel yang buatku merasa takjub sekaligus bersyukur memiliki kakak ipar sebaik itu.
Saat itu aku bertekad, untuk tidak banyak merepotkan kakak, kakakku ataupun ibuku sekalipun. Aku harus bisa menghempaskan segala inginku.
Tahun berganti saatnya kak Meta memutuskan pindah rumah, ingin belajar mandiri katanya. Kebetulan kak Verrel sudah memiliki rumah di sebuah perumahan ternama.
Dan dua Minggu pindah rumah, tak lama kak meta main kerumah yang aku tempati bersama ibuku. Kak meta dan kak Verrel mengajak serta aku dan kak Seza untuk tinggal bersamanya.
Saat itu aku merasa ragu, tapi aku tidak punya pilihan lain saat itu, kak meta suruh aku lanjutkan sekolah, begitu juga pada Seza dan Helmi adikku.
Dan kak meta yang akan tanggung biayanya, aku sungguh senang tak terkira akhirnya aku bisa melanjutkan sekolah.
"Seriusan kak, Sazi lanjut sekolah?." tanyaku antusias.
"Iya, makanya cepet kemas, kalo kamu disini sekolahnya kemana mana jauh, yang ada boros diongkos Zi." jelas Meta.
Pada akhirnya Seza, Sazi pun ikut bersama kak Meta dan tinggal bersama, sementara ibu Sazi, bisa bolak balik kerumah adik adiknya karena rumahnya yang tidak begitu jauh dari rumah nenek kami.
Dan disitulah awal mula, hidup Seza dan Sazi penuh cerita. Sazi dan Seza mulai berkeliling mencari sekolah. Dan kebetulan letaknya tidak jauh dari rumah kami hanya satu kali naik angkutan kota.
Baik aku maupun Seza, kami nampak begitu kompak, katanya sih kami saudara kembar yah bisa dikatakan seperti itulah ya. Meskipun kami bulan kembar yang lahir bersamaan tapi wajah kami yang miriplah yang membuat hampir semua orang bilang kami kembar.
Yasudahlah terserah pendapat kalian sajalah, aku dan Seza tidak mau diambil pusing, walaupun kadang jadi bahan perdebatan sendiri.
"Gue heran deh Za, semua orang ngatain kita kembar, hey kembar padahal ke bar dari mananya si kak?." tanya Sazi.
"Enggak tau gue juga, mungkin karena body kita yang mirip kali haha, udahlah ora urus pendapat mereka, namanya juga sedarah pasti mirip." jawab Seza dengan entengnya.
Saat masih SMP sampai menginjak sekolah menengah aku masih bertahan dengan predikat kejombloanku ditambah hanya aku yang tidak memegang ponsel diantara temanku lainnya.
Tapi Alhamdulillah aku tidak pernah merasa sedikit pun iri atau lainnya, karena aku merasa namanya hidup bukan dari hasil keringat orang tua, aku harus sadar diri.
Sampai suatu ketika, saat menjelang kelulusanku menengah akhir. Aku dibuat kegirangan. Mendapatkan hadiah dua ponsel sekaligus dari kak meta karena beliau sedang menang proyek yang jumlahnya fantastis.
"Hwaa,..seriusan ini kak, maacih widih senengnya akhirnya punya ponsel juga." ucapku kegirangan.
Langsung gas aku isi pulsa dan pasang RBT untuk nada dering ku saat itu. Namun aku begitu terkejut saat dimana ada seorang yang tiba tiba saja mengirim pesan padaku "hi Zi."
"Kamu apa kabarnya nih?, kamu Sazi Aleana Adrian kan?, usia 16 tahun, sekolah di SMA paripurna, hobinya BLA,.,..." Panjang kali lebar dia mengirim pesan yang begitu detail seolah sudah mengenalku sejak lama. Padahal aku sebar nomerku baru beberapa orang saja yang tahu teman sekolahku, itupun yang paling dekat denganku. Lalu dia tau nomerku dari siapa coba?.