NovelToon NovelToon
Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Dari Hidup Santai Ke Drama Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: ROGUES POINEX

Claire Sophia-- seorang Nona muda yang tidak pernah memikirkan hidup. Baginya untuk apa bekerja toh dia sudah kaya sejak lahir. Namun suatu hari saat dia memberikan pelajaran bagi sang kekasih yang telah berani berselingkuh darinya.

Claire mendapatkan sebuah notifikasi..

[Notifikasi: Tekan YA untuk Masuk!]

Untuk mengubah takdir dan alur hidup nya di drama itu. Claire memutuskan untuk merelakan Suaminya untuk pemeran Protagonis.

Namun satu yang Claire tidak tau-- alur dan peran yang berubah akan mengacaukan jalan cerita--juga mengungkapkan sebuah rahasia yang tidak pernah di sangka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kekesalan Liora

"Sialan," desis Liora, suaranya bergetar karena amarah yang tertahan. "Dia pikir dia siapa bisa menguliahi caraku bekerja?"

Liora mengempaskan tubuhnya ke sofa yang seketika terasa terlalu sempit untuk menampung seluruh beban amarah yang berkecamuk di dadanya. Tas kulitnya tergeletak mengenaskan di lantai, namun fokusnya kini terperangkap pada memori memalukan di restoran tadi--- tentang bagaimana Claire dengan lidah tajamnya melucuti martabatnya di depan kerumunan orang, menyerang gelar dokter yang susah payah ia bangun seolah itu hanyalah selembar kertas tanpa makna.

Kegagalan menyelamatkan satu nyawa memang luka bagi integritasnya, namun dijadikan bahan cemoohan publik oleh Claire adalah serangan yang tak termaafkan. Selama ini Liora memilih diam—ia merelakan Julian, ia menelan mentah-mentah tuduhan sebagai wanita tak tahu malu, dan ia membiarkan dirinya diinjak demi ketenangan yang semu.

Namun hari ini, sesuatu di dalam dirinya patah--- ia sadar bahwa tidak peduli seberapa jauh ia melangkah mundur, sang Antagonis itu tidak akan pernah berhenti mengejarnya hingga ia hancur sepenuhnya.

"Lain kali, Liora. Bedakan antara henti jantung dan tersedak sebelum kau membunuh seseorang dengan gelar konyolmu itu."  Suara Claire seolah memantul di dinding ruangan. Membuat dada Liora bergemuruh hebat.

Liora menutup matanya rapat-rapat, jemarinya mencengkeram bantalan sofa. "Cukup," gumamnya pada kesunyian. "Aku sudah memberikan Julian padamu tanpa perlawanan. Aku diam saat kau menyebutku wanita tidak tahu malu. Tapi hari ini, kau justru mempermalukan ku di hadapan semua orang."

Ia bangkit duduk, tawa getir lolos dari bibirnya yang pucat. Matanya menyipit saat sebuah ingatan lama melintas. "Lucu sekali. Claire bicara seolah - olah dia yang paling benar, padahal setahuku, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya anak yatim piatu lulusan SMA, setidaknya itu yang Julian katakan padaku dulu."

Liora mengusap wajahnya sekali lagi, kali ini dengan sorot mata yang berbeda. "Bagaimana bisa seseorang yang bahkan tidak menyentuh bangku kuliah medis, punya keberanian sebesar itu untuk menginjak-injak gelar orang lain di depan umum? Kau terlalu jauh bermain peran, Claire. Terlalu jauh."

Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar dari arah dapur. Helen muncul dengan raut wajah bingung melihat putrinya yang tampak berantakan.

"Ada apa, Liora? Kenapa wajahmu seperti orang kesal begitu? Mama bisa mendengar gerutuanmu sampai ke belakang," tanya Helen sambil duduk di samping putrinya.

Liora menoleh, matanya berkaca-kaca namun penuh amarah. "Ma, hari ini Claire benar-benar sudah kelewatan. Dia mempermalukanku di hadapan semua orang di restoran. Dia mempertanyakan gelar kedokteran yang aku miliki. Dia sengaja menghancurkan reputasiku di tempat umum!"

Wajah Helen seketika memerah, rahangnya mengeras mendengar penuturan putrinya.

"APA? DASAR WANITA TIDAK TAHU DIRI!" bentak Helen, suaranya menggelegar di ruang tamu. "Dia sudah mengambil tunanganmu, dan sekarang dia berani menyentuh kariermu? Dia pikir dengan status Nyonya Lergan di belakangnya, dia bisa bertingkah seperti ratu yang bisa menghakimi semua orang?"

Liora memejamkan mata rapat-rapat. "Aku sudah cukup sabar selama ini, Ma. Tapi kali ini, dia sudah menyentuh batas yang salah."

Jarum jam menunjukkan tepat pukul enam petang ketika Julian melangkah melewati ambang pintu rumahnya dengan bahu yang tampak memikul beban seluruh dunia. Napasnya berat, membawa sisa-sisa debu aspal dan aroma kopi pahit dari ruang-ruang tunggu kantor modal ventura yang sepanjang hari ini hanya memberinya penolakan dingin.

Perusahaan Lergan, imperium yang Kakek nya bangun dengan keringat dan air mata, kini berada di tepi jurang kehancuran setelah badai penarikan modal besar-besaran membuat proyek-proyek raksasanya terbengkalai bagai kerangka baja yang mati. Kerugian ratusan miliar bukan sekadar angka di atas kertas baginya--- itu adalah lonceng kematian bagi ambisinya yang kini kian nyaring berdenting.

Namun, alih-alih menemukan kehangatan atau setidaknya hiruk-pikuk kehidupan untuk mengalihkan pikirannya, ia justru disambut oleh keheningan yang mencekam. Rumah mewah itu terasa asing dan luas secara intimidatif-- tidak ada suara manja dari wanita yang selalu menyambut nya, tidak ada aroma masakan yang menggoda, hanya bayang-bayang panjang dari lampu kristal yang mulai meredup, serta gerak sunyi beberapa pelayan yang bekerja dalam diam bagai hantu, seolah-olah mereka pun takut untuk memecah kesunyian yang menyelimuti sisa-sisa kejayaan Julian yang kian rapuh.

Julian menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit di ruang tengah, suaranya tenggelam dalam kesunyian rumah yang terasa mencekik. Ia menatap langit-langit, membayangkan tumpukan berkas penarikan modal yang tadi siang memenuhi mejanya.

"Di mana Claire dan juga anak-anak?" gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri.

Langkah kaki seorang pelayan mendekat dengan kepala tertunduk. Julian menoleh tajam, "Di mana wanita itu dan anak-anak?"

"Maaf, Tuan, tadi Nyonya bilang dia keluar untuk mencari udara segar bersama anak-anak. Baru pergi sekitar tiga puluh menit yang lalu," jawab pelayan itu dengan suara gemetar.

Julian mendengus sinis, urat di pelipisnya berdenyut. "Mencari udara segar? Di saat suaminya hampir mati tercekik karena masalah perusahaan dan nama Lergan di ambang kehancuran, dia masih punya kemewahan untuk menghirup udara di luar sana seolah dunia baik-baik saja?"

Julian mengepalkan tangannya. "Suaminya terkena masalah besar, dan dia malah santai-santai. Apakah dia pikir uang yang dia pakai untuk berjalan-jalan itu akan bertahan selamanya?" desisnya dengan nada penuh amarah yang tertahan.

Ia menyandarkan kepala ke sandaran sofa, menatap langit-langit kamar yang tinggi.

"Seharusnya dia ada di sini saat aku pulang. Setidaknya pura-pura peduli kalau suaminya sedang diambang kehancuran. Tapi tidak, dia tetap Claire, wanita licik dan egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri... seharusnya aku tidak berharap banyak, dia menjebak ku demi naik pangkat, saat aku jatuh dia pasti akan membuang ku."

Julian bangkit dan melangkah menuju kamar, dia butuh istirahat, tubuhnya sangat lelah karena terlalu di paksakan untuk bekerja penuh hari ini. Kantung matanya yang menghitam sebagai saksi bahwa ini adalah hari yang menguras banyak energi. Apa lagi Julian belum istirahat sejak pertemuan di keluarga Lergan yang berakhir menjadi bencana.

"Kakek benar-benar keterlaluan," geramnya, memukul bingkai jendela hingga tangannya memerah. "Beban ini... semuanya di limpahkan kepadaku. Di mana paman-pamanku yang sok berkuasa itu? Di mana sepupu-sepupuku yang biasanya berebut kursi direksi? Begitu angka merah muncul di laporan keuangan, mereka lenyap seperti asap!"

Ia memejamkan mata, merasakan denyut di pelipisnya yang kian menguat. Keheningan rumah yang luas itu justru terasa mencekik, lebih berisik daripada teriakan keputusasaan nya.

Julian menatap pintu kamar mandi, bayangan air hangat sejenak menggoda kewarasannya, namun pikirannya tetap tertuju pada dokumen-dokumen yang berserakan di tas kerjanya—bukti nyata bahwa kehancuran tinggal selangkah lagi.

BERSAMBUNG

1
Murni Dewita
double up lah thor
Sulati Cus
knp g cb tes DNA dg si twins🤔
Murni Dewita
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Murni Dewita
👣
Siti Sa'diah
wah jangan2 clair iniii
Musdalifa Ifa
WOW
Musdalifa Ifa
seru banget, selalu suka sama peran wanita yg kuat, tegas dan punya banyak kelebihan begini👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!