"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
06
Kanaya menunggu dengan gelisah di ruang tamu, jarum jam menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Ia merasa gugup, tidak, lebih tepatnya dania merasa sedikit exited, ia merasa kala sedikit berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Lebih ramah, sedikit lebih hangat, dan banyak tersenyum, kanaya benar-benar merasa kala membuka dirinya. Kanaya tersenyum sendiri, mengingat bagaimana tadi pagi ketika sarapan kala menggodanya, mengingatkan adegan awkward kanaya tadi malam.
Suara mobil memasuki halaman rumah, kanaya mendengar langkah kaki memasuki ruang tamu tempat ia berada. kanaya berdiri menyambut kedatangan kala yang begitu tampan dalam balutan pakaian semi formal, kala masih mengenakan jas, tetapi di dalamnya kanaya melihat kala hanya mengenakan kaus berkrah, berwarna biru saleem.
Ketampanan kala begitu sempurna, walaupun hanya dengan tampilan sederhana, rambut kala yang biasanya klimis dan disisir rapi kebelakang, malam ini dibiarkan tanpa minyak rambut, membuat tampilan pria tampan itu terlihat lebih muda dan fresh.
Kanaya sedikit malu melihat begitu kontrasnya penampilan mereka, karena pagi tadi kala mengatakan makan malam dengan rekan-rekan bisnisnya, kanaya berusaha tampil maksimal dengan riasan sedikit berani.
Kanaya merias wajah dan rambutnya ke salon sesuai rekomendasi dari nyonya yola, wajah yang biasanya tidak pernah di rias, malam ini ia tampil begitu cantik.
Alisnya digambar dengan sangat rapi, eyeshadow warna keemasan membuat mata kanaya terlihat lebih besar, tarikan eyeliner mempertegas sudut matanya, hanya untuk warna bibir kanaya tidak menuruti periasnya tadi, ia meminta biarkan bibirnya terlihat lebih cerah saja setingkat dari warna bibir aslinya yang sudah berwarna pink.
Rambut ikalnya ditata dengan rapi, di ikat tinggi, sehingga menunjukkan leher jenjang kanaya yang indah. Gaun yang ia kenakan berwarna emerald dengan potongan mengikuti bentuk tubuh, gaun panjang itu memiliki aksen renda di sekitar bahunya.
Sepatu heels yang digunakan tak lebih dari 10 cm, membuat tampilan kanaya malam ini terlihat lebih glamour dan dewasa. Ditambah kanaya mengenakan kalung dan anting berlian yang diserahkan nyonya yola tadi, yang merupakan perhiasan turun temurun keluarga wirawan.
Kala melihat tampilan kanaya tanpa berkedip, kanaya tidak tahu apa pendapat pria itu tentang tampilannya malam ini. Perlahan ia melangkah mendekati kala,
"Apakah saya terlihat aneh?, ataukah penampilan saya terlalu berlebihan?", tanyanya sedikit berbisik, mencondongkan tubuhnya kearah telinga kala.
Kala terbatuk sesaat untuk menghilangkan debar aneh dan gugup sesaatnya tadi,
"Tidak...sudah bagus kok", jawabnya singkat, menatap kanaya, kemudian berjalan menuju mobil diikuti kanaya dari belakang.
Kanaya pikir pertemuannya akan dilaksanakan di restoran, mengingat bahwa makan malam bersama mitra bisnis, tetapi kala membawanya ke cafe dengan suasana monochrome.
Suasana yang cukup santai menurut kanaya, tiba-tiba kala menarik tangan kanaya dan mengaitkan tangan itu ke lengannya, perlahan mereka berjalan perlahan dari parkiran, sebelum masuk kala menoleh kearah kanaya, tersenyum dengan manis dan memegang jemari kanaya yang ada didalam kaitan lengannya.
Kanaya membalas senyum manis kala dengan tak kalah manisnya.
Mereka berhenti di ruangan khusus, untuk tempat makan malam perusahaan, pelayan membuka pintu ruangan tersebut, dan didalam sudah banyak teman-teman kala yang sudah terlebih dahulu datang.
Sesaat percakapan mereka terjeda dengan kehadiran kala dan kanaya, beberapa menatap ke arah mereka sedikit lebih lama.
Lebih tepatnya menatap ke arah kanaya lebih lama, itu cukup membuktikan kehadiran kanaya cukup berkesan bagi mereka.
Kala menarik kursi untuk kanaya. Kemudian duduk tepat disamping istrinya itu.
"akhirnya kau bawa juga istrimu..kal!"seru seseorang berkacamata, berkumis yang duduk di paling ujung.
"Kami pikir kau akan datang sendirian, supaya terus kelihatan masih lajang" sahutnya yang disambut gelak tawa teman-teman kala yang lain.
"Aku gak mau setiap mengadakan pertemuan, kehidupan romantisku aja yang jadi pembahasan kalian" sahut kala, menuangkan teh kedalam gelas kanaya.
"Yang pasti, aku mau tunjukkan ke kalian bahwa aku normal dan suka perempuan"
Gelak tawa terdengar semakin kencang dengan jawaban kala.
"Ini mah bukan cuman normal bro" sahut pria tampan didepan kanaya.
"Binikmu cantik...yah tentu itu lebih dari sekedar normal...", kedipnya kearah kanaya yang masih kikuk dengan suasana didalam ruangan itu, apalagi ia tidak melihat satu orangpun wanita kecuali dirinya.
"Sepertinya hanya kamu yang bawa pasangan hari ini kal." Seru pria gemuk yang sedang mengunyah sesuatu.
"Tapi entah leo juga bawa yah, karena hari ini dia belum nongol"
"Oh iya..." sahut yang lain, melihat ke sekeliling
"Leo belum datang yah"
Kala pun ikut melihat ke sekeliling,
"Santai aja naya..."bisik kala tepat ditelinga kanaya, membuat dada wanita itu berdegub kencang, suara kala terdengar indah memasuki pendengarannya.
Jemari kanaya digenggam erat oleh kala, seakan ingin mentransfer energi dan kekuatan kepada kanaya yang masih kelihatan kikuk.
Tangan kanaya yang di genggam kala berada di atas meja, dan otomatis teman-teman kala mulai bersuara berisik menggoda bahwa mereka kelihatan mesra karena pengantin baru dan membuat ruangan jadi lebih ramai oleh suara tawa dan candaan mereka, belum habis tawa dan canda mereka, tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Masuk sepasang pria dan wanita, yang pria memiliki tampilan biasa saja, tidak ganteng, tapi juga tidak jelek, namun sang wanitanya sangat cantik, tinggi, langsing, putih mancung, dengan rambut panjang yang diurai, terlihat seperti bidadari dimata kanaya.
Eh tunggu, sepertinya kanaya pernah melihat wanita ini, tapi dimana yah pikirnya, mata kanaya tak henti memandang kecantikan wanita itu.
"Datang juga lo..."seru para pria di dalam ruangan.
"Kami pikir gak datang, kami dah mau pulang"
"Wahhh barengan ama syafira pula tuh", sahut pria tampan yang duduk di depan kanaya.
'Oh namanya syafira' batin kanaya
'Namanya cantik seperti orangnya'
si tampan yang duduk di depan kanaya tadi mempersilahkan wanita cantik itu duduk disebelah kirinya, tepat berhadapan dengan kala, sementara sang pria yang datang bersama wanita cantik itu, duduk disisi kiri wanita itu.
"syafira tadi datang ke kantorku, sekalian kuajak kemari karena aku ingat ini pertemuan rutin kita, aku yakin kalian semua juga pada kepengen ketemu fira kan?", tanya pria tersebut, menarik kursinya, menatap ke sekeliling, tiba-tiba matanya berhenti menatap kanaya, dan kala bergantian.
"Istri kala bro..." ucap si tampan, menjawab pertanyaan yang tersirat dari mata pria bernama leo itu.
Pria bernama leo itu mengulurkan tangannya kearah kanaya.
"Leo pratama...direktur perusahaan argatama grup"
"kanaya tabitha...", jawab kanaya ramah, mengangguk tanpa menyambut uluran tangan leo, karena tangan kanannya masih berada dalam genggaman kala.
Sontak semua menggoda kala karena tidak melepaskan tangan kanaya untuk berkenalan.
" posesif amat lo...." ujar si tampan menatap kala, pria yang duduk di depan kanaya yang ternyata bernama gary, sementara kala hanya diam.
Eh iya, semenjak kedatangan pria bernama leo dan wanita cantik itu. Kala mendadak diam, kanaya baru menyadari kalau sedari tadi wanita cantik yang duduk tepat di hadapan kala itu, hanya duduk tanpa bersuara dan hanya memandangi kala tanpa kedip.
Ada desir aneh di dalam dada kanaya, ia juga melihat kala duduk dengan tidak nyaman.
"Apa kabar kak kala?"wanita cantik itu menyapa dan menatap kala dengan sorot mata lembut.
"Baik.." sahut kala, singkat dan dingin,
mendadak ruangan menjadi sunyi melihat interaksi antara kala dan syafira. Kanaya melihat suasana berubah menjadi canggung, teman-teman kala yang lainpun ikut merasa canggung.
Desir aneh itu kembali hadir di dada kanaya, melihat bagaimana kala berusaha tetap santai, namun entah mengapa dimata kanaya, kala kelihatan sangat tidak nyaman.
Bergantian kanaya menatap kala dan wanita itu. Ia menatap lama ke arah wanita cantik itu, yang entah mengapa, kanaya merasa sang wanita menganggap dirinya tidak ada di dalam ruangan.
Tunggu kanaya ingat, wanita cantik ini pernah hadir dalam resepsi pernikahan mereka. Iya benar, kanaya ingat, karena kehadiran wanita ini, malam itu kala kembali berubah menjadi dingin.
'Siapa wanita itu?'
Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiran kanaya, didalam mobil menuju pulang pun, baik kala ataupun kanaya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
'Siapa wanita itu'
Mampu membuat kala berubah 180°, menjadi dingin, dan pendiam kembali.
"Istirahatlah...", perintah kala dingin, membuat kanaya urung bertanya.
'Dia kembali dingin'
Hati kanaya membatin, ia melangkah, menyeret kakinya lesu menuju lantai dua kamarnya.
Bersambung......