NovelToon NovelToon
Miss Magang Menyebalkan

Miss Magang Menyebalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Idola sekolah / Diam-Diam Cinta
Popularitas:642
Nilai: 5
Nama Author: Nadiya Nafras

Mahasiswa magang dari universitas A, dan mereka semua kembar berjumlah 6 orang. Tentunya hal itu sering membuat siswa dan guru salah mengenali mereka. saksikan kisah mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiya Nafras, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bisa begitu?

" Kemungkinan sih bisa jadi ya, tapi bisa juga kasusnya seperti mahasiswa sebelumnya dari kampus sebelah. Guru pamongnya itu Ibu mutiara yang mengajar di kelas 9, tetapi karena dia tidak bisa masuk ke kelas 9 oleh karena itu ia mengambil kelas 7 milik Pak Lutfi yang merupakan guru honorer."

" Kalau seperti itu bukannya lebih ribet ya pak?"

" Ya mau bagaimana lagi, itu juga bukan kami yang menentukan itu menentukan adalah kepala sekolah dan juga wakil kepala sekolah. Kami di sini cuman guru biasa yang hanya menuruti perintah, Jadi kami juga tidak bisa berbuat apa-apa."

" Terima kasih atas informasinya ya pak, dan saya sangat tidak menyangka ternyata kejadian seperti itu sudah pernah terjadi di sekolah ini. Saya rasa sih yang paling segan di situ adalah mahasiswanya sih Pak, karena dia ceritanya memiliki dua pamong."

" Ya mau bagaimana lagi, kita sudah peraturannya. Nanti lagi ya kita sambung, saya juga tidak enak harus meninggalkan kelas lama-lama. Bukannya saya tidak senang mengobrol denganmu Grace, hanya saja nanti anak-anak itu yang keenakan tidak belajar." ucapnya yang kemudian langsung pergi meninggalkan kelas tersebut dan masuk ke kelasnya.

Grace saja menatap kepergian pak Kevin, tentunya yang merasa nyaman ketika berbicara dengan Pak Kevin. Tapi sayangnya pak Kevin bukanlah guru pamongnya, dan Pak Kevin adalah guru pamong dari intan. Iya jadi bisa membayangkan kedekatan intan dan juga Pak Kevin nantinya, apalagi dengan pak Kevin yang begitu baik.

...----------------...

Bu Ika saat ini sedang berada di luar sekolah, Iya tampak tenang dan sampai tidak seperti biasanya. Bu mutiara yang saat ini memang sedang keluar bersama dengan Minggu Ika tentunya merasa heran, karena tidak biasanya temannya ini tampak tenang jika keluar pada saat ada jam pembelajaran.

" Ika, kenapa Kau tampak tenang sekali?"

" Biasanya kan memang sepenuh ini, memangnya aku pernah panik?"

" Ya kau memang selalu tenang, tetapi biasanya kau akan panik ketika meninggalkan kelas pada saat ada jam pembelajaran mu."

" Oh mengenai jam pembelajaran tenang aja, tadi aku udah minta Grace untuk masuk ke dalam kelas."

" Pantes aja kalau sudah sangat tenang, aku baru ingat kalau kau mendapatkan mahasiswa bimbingan jadi tidak perlu terlalu repot."

" Ibu mutiara mau mendapatkan mahasiswa bimbingan juga?"

" Tidak deh, lagian aku itu masuk di kelas 9. jadi nggak mungkin dapat mahasiswa bimbingan, kalaupun dapat mahasiswa bimbingan, pastinya akan aku kasihkan ke si Lutfi lagi kayak tahun kemarin. Ya di data tetap aku yang jadi pamongnya, tetapi dia mengajar di kelas yang dimasuki oleh Lutfi."

" Jadi kayak kurang nyaman ya kan Bu, yang tanda tangan bu mutiara tapi yang kelasnya diambil Pak Lutfi."

" Ya mau gimana lagi Bu Ika, Pak Lutfi kan masih honorer jadi belum bisa menerima mahasiswa magang."

" Jika tahun ini Pak Lutfi naik jadi PNS, rasanya kehidupan Bu mutiara juga akan semakin tenang Ya karena tidak akan mungkin terjadi seperti tahun kemarin lagi."

" Mungkin saja sih Bu, tapi Lutfi kan juga belum lama tamat kuliahnya. Dan proses untuk naik jadi PNS itu tidaklah mudah loh, ya walaupun Lutfi terbilang pintar tapi soal-soal PNS itu susah loh."

" Ya kita doakan saja yang terbaik untuk Lutfi, semoga saja dia bisa segera menjadi PNS sama seperti kita."

" Aku pun juga ikut bahagia jika Lutfi nantinya akan bisa menjadi PNS, walau bagaimanapun Lutfi sudah menjadi adik kita loh di dalam sekolah ini. Kita juga harus ikut bahagia dengan pencapaian yang akan diraih olehnya, tapi pastinya pencapaian itu akan memakan waktu yang cukup lama dan menguras energinya."

" Sudahlah Bu mutiara, Lutfi memang pintar. Apalagi dia masih muda kan, terkadang saja aku sudah sangat lelah harus menghadapi pembelajaran ini, tapi aku masih memiliki tanggung jawab di sekolah untuk anak-anak."

" Umur kita sudah tidak muda lagi, itulah yang membuat kita lelah. Tapi kita tidak bisa meninggalkan tanggung jawab kita Bu Ika."

" Ya begitulah Bu, mana saya wali kelas 8² lagi. Ibu kan juga sudah tau bagaimana tingkah anak 8². Mereka itu suka sekali buat saya emosi dengan tingkahnya yang kelewatan batas Bu."

" Semoga saja Grace, mahasiswa bimbingan mu itu bisa menghadapi mereka dengan baik. Karena kasihan juga dengan dia yang harus menghadapi anak-anak mu itu setiap hari, dan pastinya kau ada melimpahkan sebagian tugas padanya kan Bu Ika."

" Ya tentu saja begitu Bu, karena sudah ada dia. Makannya aku akan sedikit tenang."

" Tapi ketenangan mu itu justru membuat Grace sakit kepala."

" Biarlah Bu, itu adalah cobaan untuknya."

" Sangat-sangat cobaan Bu Ika, kasihan banget dia." ucapnya dan keduanya terus saja melakukan perbincangan.

...----------------...

Saat ini pak Lutfi sedang berada di kelas 7⁶, sejak tadi ia merasakan perasaan tidak enak. Dan ia meyakini kalau pastinya ada yang sedang membicarakan dia, dan sebenarnya ia sudah menebak siapa pelaku yang sebenarnya. Karena momen seperti ini sudah sering terjadi, karena ia selalu saja menjadi pembicara.

' Kira-kira siapa ya yang lagi ngomongin aku, tapi kalau di lihat dari jamnya pasti ibu mutiara. Tapi siapakah pasangan ghibah nya hari ini ya, kan tidak ada Bu Ika karena hari ini Bu Ika ada aja masuk kelas' batinnya yang sudah hafal dengan jam masuk kelas temen-temen.

" Pak Lutfi sedang memikirkan apa?" tanya seorang siswa yang memperhatikan kalau Lutfi sedang tampak seperti orang beriman.

" Bapak sedang tidak apa-apa kok Melatih."

" Pak Lutfi yakin kalau bapak sering tidak apa-apa?"

" Bapak baik-baik saja melatih, Kamu jangan terlalu memperhatikan seperti itu."

" Saya hanya merasa penasaran saja karena bapak tampak seperti orang yang sedang melamun."

" Bapak sedang tidak melamunkan apa-apa melatih, bapak ayah tiba-tiba saja kepikiran tentang bagaimana cara agar mulutmu itu diam."

" Kenapa jadi mulut saya yang dibahas Pak?"

" Soalnya mulutmu itu selalu saja bertanya hal-hal yang menurut saya tidak terlalu penting, dan sepertinya mulutmu itu harus diajari untuk diam." ucapnya yang sudah sangat kesal dengan tingkah melati yang selalu saja seperti itu sejak dulu.

" Saya hanya khawatir saja dengan bapak, tapi respon bapak ujung-ujungnya begini."

" Lebih baik kau gunakan waktu luang mu itu untuk belajar melatih, tugas yang saya berikan sudah selesai atau belum?" tanyanya dan nggak di situ pun menjalankan kepalanya.

" Saya belum siap pak."

" Kalau begitu sana segera kerjakan tugas yang saya berikan, jangan kau berkeliaran dan mengganggu teman-temanmu termasuk mengganggu saya."

" Iya Pak mohon maaf." ucapnya yang kemudian berlari dan duduk kembali di mejanya sendiri.

1
mond ☘︎☘︎
boleh kasih saran?
etto... sampulnya kurang menarik perhatian (sorry kalau menyinggung☹️)
Nadiya Nafras
oke kak, terimakasih
mond ☘︎☘︎: sama sama ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!