NovelToon NovelToon
Takdir Dari Bayangan

Takdir Dari Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Akademi Sihir / Epik Petualangan / Anak Genius
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: J. F. Noctara

Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Bisikan di Bawah Tanah

...****************...

Hari-hari pertama di Akademi Duskveil berlalu dengan cepat bagi para murid baru.

Setiap pagi dimulai dengan suara lonceng besar yang bergema dari menara tengah akademi. Para murid harus bangun sebelum matahari sepenuhnya terbit, mengenakan jubah rumah mereka, lalu berkumpul di aula utama untuk mengikuti pelajaran dasar sihir.

Bagi sebagian besar murid, kehidupan di akademi terasa seperti petualangan baru yang menakjubkan.

Namun bagi Arkan, semuanya terasa berbeda.

Ia tidak datang ke tempat ini hanya untuk belajar.

Ia datang untuk mencari jawaban.

Pagi itu kabut tipis masih menyelimuti halaman akademi ketika para murid Darkveil berjalan menuju ruang latihan mereka.

Kael berjalan di samping Arkan sambil menguap panjang.

"Aku tidak percaya kita harus bangun sepagi ini setiap hari," keluhnya.

Arkan tidak menjawab. Ia hanya berjalan sambil memperhatikan sekeliling.

Bangunan latihan Darkveil terletak di bagian timur akademi, tidak jauh dari hutan yang tumbuh lebat di balik tembok batu besar.

Bangunannya berbentuk lingkaran dengan atap tinggi dan dinding yang dipenuhi ukiran rune sihir.

Di depan pintu masuk sudah berdiri instruktur mereka.

Pria itu adalah instruktur yang sama yang menyambut Arkan pada hari pertama.

Namanya Instruktur Varian.

Ia dikenal sebagai salah satu penyihir Darkveil paling berpengalaman di akademi.

"Masuk," katanya singkat.

Para murid segera mengikuti perintahnya.

Di dalam ruangan latihan, lantainya terbuat dari batu hitam mengilap dengan lingkaran sihir besar terukir di tengahnya.

Di sekeliling ruangan terdapat beberapa pilar batu yang memancarkan cahaya ungu redup.

Varian berdiri di tengah lingkaran.

"Sihir malam sering dianggap sebagai kekuatan penghancur," katanya tanpa basa-basi.

Ia berjalan perlahan mengelilingi para murid.

"Namun kenyataannya, sihir malam adalah sihir yang paling bergantung pada kendali."

Beberapa murid memperhatikan dengan serius.

"Jika kalian tidak bisa mengendalikan pikiran kalian sendiri," lanjutnya, "kalian tidak akan pernah bisa mengendalikan bayangan."

Ia mengangkat tangannya.

Bayangan di lantai ruangan tiba-tiba bergerak.

Seperti cairan hitam, bayangan itu mengalir menuju tangannya lalu membentuk bola kecil yang berputar perlahan.

Beberapa murid langsung terkagum-kagum.

"Bayangan selalu ada di sekitar kita," kata Varian.

"Di bawah kaki kalian. Di belakang kalian. Bahkan di dalam diri kalian sendiri."

Bola bayangan itu kemudian menghilang.

"Pelajaran pertama kalian sederhana."

Ia menunjuk lingkaran sihir di lantai.

"Panggil bayangan kalian."

Para murid saling berpandangan.

Sebagian tampak ragu.

Varian menatap mereka dengan dingin.

"Mulai."

Satu per satu murid mencoba.

Beberapa berhasil memunculkan bayangan kecil yang bergetar di lantai.

Sebagian lainnya hanya menghasilkan asap hitam yang langsung menghilang.

Kael mencoba dengan wajah penuh konsentrasi.

"Um... bayangan... datanglah?" gumamnya.

Tidak terjadi apa-apa.

Ia mencoba lagi.

Kali ini hanya muncul garis hitam tipis yang segera lenyap.

Kael menghela napas.

"Ini lebih sulit dari yang kelihatannya."

Varian memperhatikan semua murid dengan tenang.

Kemudian pandangannya berhenti pada Arkan.

"Kau belum mencoba."

Arkan melangkah maju ke tengah lingkaran.

Semua murid memperhatikannya.

Beberapa dari mereka masih ingat dengan jelas nama yang dipanggil pada hari pertama.

Noctis.

Arkan berdiri diam beberapa detik.

Ia menutup matanya.

Dalam pikirannya, ia mencoba merasakan sesuatu yang tidak terlihat.

Kegelapan.

Kesunyian.

Bayangan.

Udara di sekitar ruangan tiba-tiba terasa sedikit lebih dingin.

Bayangan di lantai mulai bergerak perlahan.

Kael langsung menyadarinya.

"Hei... lihat itu."

Bayangan Arkan memanjang di lantai.

Lalu perlahan-lahan terangkat dari tanah seperti makhluk hidup.

Beberapa murid mundur satu langkah.

Bayangan itu berputar mengelilingi Arkan seperti kabut hitam yang tenang.

Varian memperhatikan tanpa menunjukkan ekspresi.

"Menarik," katanya pelan.

Arkan membuka matanya.

Bayangan itu langsung kembali ke lantai seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

Ruangan menjadi sunyi.

Kael menatap Arkan dengan mata lebar.

"Oke… itu bukan bayangan biasa."

Varian mengangguk kecil.

"Kelas selesai."

Beberapa murid tampak terkejut.

"Tapi kita baru mulai," kata salah satu dari mereka.

Varian hanya menjawab singkat.

"Pelajaran hari ini sudah cukup."

Tatapannya kembali tertuju pada Arkan.

"Kau. Ikut aku."

Setelah kelas selesai, Arkan mengikuti Varian keluar dari ruangan latihan.

Mereka berjalan melewati koridor batu yang sepi.

Obor sihir menyala pelan di sepanjang dinding.

Akhirnya Varian berhenti di dekat sebuah jendela tinggi.

Ia menatap ke luar beberapa saat sebelum berbicara.

"Kau sudah pernah berlatih sihir malam sebelumnya."

Itu bukan pertanyaan.

Arkan menjawab dengan tenang.

"Sedikit."

Varian menoleh.

"Keluarga Noctis memang terkenal memiliki bakat alami dalam sihir bayangan."

Arkan tidak mengatakan apa-apa.

Varian kembali berjalan.

"Ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang akademi ini."

Ia membuka pintu kayu tua di ujung koridor.

Di balik pintu itu terdapat tangga batu yang mengarah ke bawah tanah.

Udara dingin langsung terasa ketika mereka menuruni tangga.

Semakin mereka turun, semakin sunyi suasana di sekitar mereka.

Akhirnya mereka tiba di sebuah lorong sempit yang diterangi cahaya sihir biru pucat.

Dindingnya dipenuhi rak buku tua.

"Ini adalah bagian perpustakaan yang jarang digunakan," kata Varian.

Arkan memperhatikan rak-rak buku yang dipenuhi debu.

"Sebagian besar murid tidak pernah datang ke sini."

Ia berhenti di depan sebuah pintu besi tua.

"Kecuali mereka yang benar-benar mencari sesuatu."

Varian menatap Arkan.

"Apa yang kau cari di akademi ini?" Pertanyaan itu menggantung di udara.

Arkan tidak langsung menjawab.

Namun akhirnya ia berkata jujur.

"Kebenaran."

Varian memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Kemudian ia membuka pintu besi itu.

Di dalam ruangan terdapat meja batu besar dengan beberapa buku tua di atasnya.

"Jika itu yang kau cari," katanya, "maka kau mungkin akan menemukannya di sini."

Arkan berjalan mendekati meja.

Ia membuka salah satu buku tua itu.

Halaman-halamannya dipenuhi tulisan kuno dan simbol sihir.

Beberapa di antaranya bahkan menyebut nama yang sangat familiar.

Noctis.

Jantung Arkan berdetak sedikit lebih cepat.

Ia membalik halaman demi halaman.

Sebagian besar catatan itu berbicara tentang sejarah sihir malam.

Tentang pertempuran-pertempuran kuno.

Tentang ritual yang hampir tidak pernah dilakukan lagi.

Arkan berhenti pada satu halaman tertentu.

Di sana terdapat gambar lingkaran sihir yang sangat rumit.

Tiga simbol besar berada di sekelilingnya.

Simbol alam.

Simbol cahaya.

Dan simbol bayangan.

Di bawah gambar itu terdapat satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam pekat.

"Ritual Persatuan Tiga Veil."

Arkan menatap tulisan itu dengan serius.

Varian memperhatikannya dari belakang.

"Ritual itu hanya legenda," kata Varian.

"Tidak ada yang pernah berhasil melakukannya."

Arkan tetap menatap halaman buku itu.

Namun di dalam hatinya, sesuatu terasa berbeda.

Seolah-olah halaman itu memang sedang menunggunya.

......................

Malam itu, ketika semua murid sudah kembali ke asrama mereka…

Arkan kembali lagi ke perpustakaan bawah tanah sendirian.

Lorong-lorong batu terasa jauh lebih sunyi pada malam hari.

Ia membawa buku tua yang tadi ia temukan.

Arkan duduk di meja batu yang sama.

Ia membuka kembali halaman ritual itu.

Lingkaran sihir yang digambar di sana tampak begitu rumit.

Namun semakin lama ia melihatnya…

Semakin terasa familiar.

Seolah-olah ia pernah melihat pola itu sebelumnya.

Atau mungkin…

Seolah-olah kekuatannya sendiri mengenal pola itu.

Arkan menutup matanya sejenak.

Ia mencoba membayangkan lingkaran sihir itu.

Tiba-tiba bayangan di lantai bergerak.

Perlahan.

Sangat pelan.

Arkan membuka matanya.

Bayangan di bawah meja mulai membentuk pola yang sama dengan lingkaran sihir di buku.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

"Apa…?"

Bayangan itu terus bergerak.

Membentuk garis.

Simbol.

Rune.

Seolah-olah ada kekuatan yang mencoba menunjukkan sesuatu kepadanya.

Tiba-tiba…!!

Sebuah suara berat bergema di dalam ruangan.

Suara itu tidak datang dari mana pun.

Namun terdengar sangat jelas di telinganya.

"Kau mewarisi kekuatan yang lebih besar dari yang lain."

Arkan langsung berdiri.

"Siapa kau?" katanya tajam.

Ruangan itu tetap sunyi.

Namun bayangan di lantai masih bergerak perlahan.

Suara itu terdengar lagi.

Lebih pelan.

Lebih dalam.

"Nak…"

Arkan menahan napas.

"Temukanlah rahasia keluarga Noctis di akademi ini."

Bayangan itu perlahan berhenti bergerak.

Suara itu menghilang seperti tidak pernah ada.

Arkan berdiri di tengah ruangan dengan jantung berdebar keras.

Ia melihat kembali ke arah buku ritual di meja.

Sekarang ia semakin yakin akan satu hal.

Rahasia keluarganya memang tersembunyi di Akademi Duskveil.

Dan apa pun itu…

...****************...

1
Palu Hiji
up up upppp!!!!!
Palu Hiji
cerita yang aku sukaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!