NovelToon NovelToon
STREET FIGHTER

STREET FIGHTER

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

seorang pria yang jago berkelahi dan memulai petualangannya di sebuah kota dan bertemu cinta sejati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 17

Malam itu, perayaan kecil diadakan di atap gedung Politeknik. Bayu menunjukkan simulasi digital dari turbin arus laut yang ia bawa dari Delft. Di layar proyektor, terlihat bagaimana arus bawah laut Jakarta Utara yang tenang namun konstan bisa diubah menjadi energi bersih yang menerangi ribuan rumah warga tanpa polusi suara maupun udara.

"Sistem ini akan kita pasang di bawah struktur dermaga utama," jelas Bayu sambil menunjuk titik-titik koordinat di peta digital. "Jadi, dermaga kita bukan cuma tempat bersandar kapal, tapi juga jantung listrik kawasan. Kita tidak lagi bergantung pada pasokan luar."

Rian mengamati teknis pemasangannya dengan saksama. "Bayu, kalau kita pasang di sana, kita harus pastikan pemeliharaannya mudah bagi anak-anak tingkat dua. Aku ingin mereka yang memegang kendali operasionalnya nanti."

Andi hanya mendengarkan dari sudut ruangan, menyesap teh hangatnya. Ia melihat bagaimana tongkat estafet perjuangan telah berpindah dengan mulus. Dulu, ia berjuang dengan otot untuk mengamankan tanah ini; lalu dengan otak bersama Andin untuk membangun sekolah; dan kini, generasi Bayu membangunnya dengan sains tingkat tinggi.

"Kau terlihat sangat tenang, Andi," sapa Elena, yang baru saja selesai merekam sesi presentasi Bayu untuk arsip medianya.

"Aku hanya berpikir," Andi menoleh ke arah kegelapan laut, "bahwa sepuluh tahun lalu, kita hampir kehilangan segalanya karena satu tanda tangan pengusaha. Sekarang, ribuan orang bergantung pada apa yang kita bangun di sini. Rasanya... berat, tapi melegakan."

Andin mendekat, menyampirkan jaket ke bahu Andi. "Beratnya sudah dibagi-bagi, Andi. Kau tidak sendirian lagi. Lihat mereka," ia menunjuk ke arah mahasiswa yang antusias berdiskusi dengan Bayu. "Mereka adalah benteng yang lebih kuat dari tembok beton mana pun."

Tiba-tiba, ponsel Andi bergetar. Sebuah pesan singkat dari nomor yang tidak ia kenal, namun isinya membuatnya tersenyum tipis: “Selamat atas pencapaian Politeknik. Jakarta Utara berhutang budi pada keteguhanmu. — H.S.”

Andi tahu itu dari Haryo Subroto, yang kini sudah bebas dan hidup dalam pengasingan sosial yang sepi. Andi tidak membalas, namun ia juga tidak merasa benci. Dendam itu sudah lama larung di laut bersama ombak.

Esok paginya, saat matahari pertama menyentuh menara panel surya di atap sekolah, Andi turun ke dermaga. Ia melihat anak-anak kecil—generasi ketiga sejak sekolah itu berdiri—berlari-lari dengan tas sekolah mereka, menyapa para buruh yang sedang bersiap berangkat kerja.

Ia berhenti di depan monumen kecil ayahnya, membersihkan sedikit debu yang menempel di kaca pelindung plakat logam itu. "Kita berhasil, Yah," bisiknya lirih.

Andi berjalan menuju gerbang, menyambut mahasiswa baru yang datang dari berbagai penjuru pesisir. Di sana, di antara aroma garam dan deru mesin yang kini lebih halus, Sang Cobra telah menemukan kedamaian yang hakiki. Ia bukan lagi seorang pelarian atau petarung; ia adalah akar dari sebuah pohon besar yang akan terus tumbuh, menaungi setiap jiwa yang ingin belajar untuk terbang.

Sore itu, suasana di kantor rektorat sedikit lebih santai. Andi duduk di kursi kerjanya, memandangi foto lama yang ia simpan di bawah kaca meja—foto buram saat ia, Andin, dan Rian berdiri di depan reruntuhan gudang yang kini menjadi perpustakaan megah.

"Bang, ada tamu yang ingin bertemu. Katanya dari kementerian," suara Rian memecah keheningan. Ia masuk tanpa mengetuk, kebiasaan lama yang tidak pernah hilang meski ia kini sudah menjadi kepala laboratorium.

Seorang wanita muda dengan setelan formal masuk, membawa map berlogo Garuda. "Selamat sore, Pak Andi. Saya dari kementerian pendidikan dan kelautan. Kami telah memantau kurikulum berbasis komunitas yang Anda jalankan di sini selama sepuluh tahun terakhir."

Andi mempersilakannya duduk. "Apa yang bisa kami bantu?"

"Kami ingin menjadikan Politeknik Cahaya Bahari sebagai pusat pelatihan nasional untuk konsep Blue Economy," ucap wanita itu antusias. "Pemerintah ingin mereplikasi sistem energi mandiri Bayu dan manajemen konflik sosial yang Anda bangun di sini ke tiga puluh titik pesisir lainnya di Indonesia. Kami ingin Anda menjadi konsultan utamanya."

Andi terdiam sejenak. Ia menatap ke luar jendela, ke arah perumahan warga yang tertata rapi. Tawaran ini berarti ia harus sering meninggalkan pelabuhan ini, tempat yang menjadi nyawanya selama belasan tahun.

"Saya tidak bisa meninggalkan tempat ini sepenuhnya," jawab Andi tenang. "Tapi, saya punya orang-orang yang jauh lebih ahli untuk turun ke lapangan. Rian untuk sistem mekanik, Bayu untuk teknologi energi, dan Elena untuk komunikasi publik. Saya hanya akan memastikan bahwa di mana pun konsep ini dibangun, 'ruh' keberpihakan pada warga lokal tidak hilang."

Wanita itu tersenyum puas. "Itulah yang kami harapkan. Kami tidak ingin sekadar teknologi, kami ingin 'jiwa' pelabuhan ini menular ke tempat lain."

Setelah tamu itu pulang, Andin masuk membawa dua cangkir teh. Ia sudah mendengar percakapan tadi dari balik pintu. "Jadi, Sang Cobra akan mulai melangkah lebih jauh lagi?"

Andi menyesap tehnya, merasakan kehangatan yang menjalar. "Bukan Cobra, Ndin. Tapi kita. Kita semua."

Malam itu, mereka berkumpul di dermaga untuk terakhir kalinya sebelum tim pertama berangkat ke lokasi proyek baru di Timur Indonesia. Andi memberikan sebuah plakat kecil kepada Rian dan Bayu—replika dari plakat ayahnya.

"Ingat," pesan Andi berat. "Jangan hanya membangun turbin atau gedung. Bangunlah manusianya. Karena teknologi bisa rusak, tapi harga diri yang sudah bangkit tidak akan pernah bisa dihancurkan lagi."

Saat kapal yang membawa tim itu perlahan menjauh dari dermaga, lampu-lampu Kampung Bahari tetap menyala terang, menjadi saksi bahwa sebuah perubahan kecil di satu sudut pelabuhan Jakarta Utara kini telah menjadi gelombang besar yang akan menyapu seluruh nusantara.

Andi menggandeng tangan Andin, berjalan pulang menyusuri jalur hijau yang teduh. Di belakang mereka, suara mesin turbin bawah laut menderu halus, seolah berbisik bahwa tugas mereka di tanah ini telah tuntas, namun pengabdian mereka bagi negeri baru saja bermula.

Satu bulan setelah keberangkatan tim pertama ke Timur Indonesia, suasana di Politeknik Cahaya Bahari tetap sibuk namun teratur. Andi kini lebih banyak menghabiskan waktunya di bengkel senior, tempat ia masih sering turun tangan langsung mengajari mahasiswa tingkat akhir cara mendengarkan "detak jantung" mesin diesel tua yang diregenerasi menjadi mesin hibrida.

Rian mengirimkan video singkat dari Maluku. Di layar ponsel Andi, terlihat Rian sedang berdiri di atas rakit bambu bersama pemuda setempat, memasang prototipe turbin arus laut karya Bayu di bawah celah selat sempit.

"Bang, di sini arusnya lebih deras dari Jakarta!" seru Rian dalam video itu, wajahnya terbakar matahari namun matanya bersinar. "Anak-anak di sini cepat sekali belajarnya. Mereka bilang, selama ini mereka cuma punya lampu minyak, sekarang mereka punya harapan."

Andi tersenyum, menyeka sisa oli di tangannya dengan kain perca. Ia teringat masa-masanya dulu saat masih harus berkelahi hanya untuk mengamankan satu drum solar. Kini, solar bukan lagi rebutan, melainkan pelengkap bagi energi alam yang mereka kelola sendiri.

Andin masuk ke bengkel membawa map berisi rencana pembangunan asrama baru untuk mahasiswa beasiswa dari luar daerah. "Andi, Ibu Diana menelepon lagi. Pery Permata Group ingin menghibahkan satu blok gedung tua mereka di Jakarta Utara untuk dijadikan pusat inkubasi bisnis maritim bagi lulusan kita. Mereka benar-benar sudah berubah haluan."

"Atau mereka sadar bahwa bermitra dengan kita jauh lebih menguntungkan daripada melawan kita, Ndin," jawab Andi sambil terkekeh.

Ia berjalan ke arah jendela bengkel yang menghadap langsung ke dermaga. Di sana, hunian vertikal warga tampak harmonis berdampingan dengan gedung-gedung kampus yang modern. Tidak ada lagi sekat tembok tinggi atau kawat berduri yang dulu direncanakan Pery Permata.

"Andi," panggil Andin lembut, "kau sudah memberikan segalanya untuk tempat ini. Apakah kau tidak ingin istirahat sejenak? Mungkin kita bisa melihat proyek Rian di Maluku bulan depan."

Andi terdiam sejenak, memandangi plakat logam ayahnya yang kini terpatri di dinding bengkel—tempat ia pertama kali belajar mencintai mesin. "Istirahat bagi saya bukan berarti berhenti, Ndin. Tapi melihat apa yang kita tanam mulai berbuah di tempat lain. Ya, mari kita ke sana. Saya ingin memastikan Rian tidak memasang bautnya terlalu kencang."

Mereka berdua tertawa, sebuah tawa yang ringan tanpa beban masa lalu yang menghimpit.

Malam itu, saat lampu-lampu otomatis bertenaga surya mulai menyala di sepanjang pesisir Kampung Bahari, Andi duduk di balkon rumahnya. Ia melihat kapal-kapal nelayan pulang dengan hasil tangkapan yang disimpan dalam pendingin bertenaga listrik mandiri.

Semua ini bermula dari sebuah gudang literasi yang hampir digusur, dan kini berakhir menjadi sebuah revolusi sosial. Sang Cobra telah benar-benar meletakkan taringnya, menggantinya dengan tangan yang membangun dan hati yang mengayomi.

Di bawah langit Jakarta yang bertabur bintang, kisah perjuangan itu tidak lagi ditulis dengan amarah, melainkan dengan tinta kemajuan yang akan terus mengalir selama air laut masih bergelombang di pelabuhan itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!