NovelToon NovelToon
Owned By The Cold CEO

Owned By The Cold CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jee Jee

"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."

Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.

Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

...

  Malam pertama di Jakarta setelah empat tahun menetap di kedamaian Hallstatt terasa sangat menyesakkan bagi Kalea. Meskipun ia tidur di presidential suite hotel milik Liam yang paling mewah, suara klakson kendaraan dan sirine di kejauhan seolah menjadi musik latar yang mengingatkannya bahwa kota ini penuh dengan predator.

Kalea berdiri di balkon, menatap lampu-lampu Jakarta yang gemerlap namun dingin. Di dalam kamar, Liam sedang memeriksa laporan keamanan yayasan mereka. Leo dan Lili sudah terlelap di kamar sebelah dengan penjagaan ketat empat pengawal di depan pintu.

"Liam, aku merasa ada yang aneh," ucap Kalea pelan, ia memeluk tubuhnya sendiri. "Sejak kita mendarat di bandara tadi siang, aku merasa ada mata yang terus mengikuti kita. Bukan mata wartawan, tapi sesuatu yang lebih... gelap."

Liam meletakkan tabletnya, ia berjalan menghampiri Kalea dan merangkul pinggangnya dari belakang. "Aku tahu, Sayang. Aris sudah melaporkan ada beberapa mobil yang membuntuti kita dari bandara. Jangan khawatir, sistem keamanan kita di sini sepuluh kali lebih ketat daripada di Austria."

"Tapi ini Jakarta, Liam. Di sini, uang dan koneksi bisa menembus apa saja," balas Kalea cemas.

"Kecuali koneksiku," Liam mencium pundak Kalea, mencoba menenangkannya. "Tidurlah. Besok adalah peresmian Elena Foundation. Kita harus tampil sempurna di depan publik."

Keesokan paginya, acara peresmian yayasan berlangsung meriah. Ratusan tamu undangan dari kalangan pejabat dan pengusaha memenuhi area bekas mansion Menteng yang kini telah berubah menjadi gedung modern berwarna putih bersih dengan taman lili yang luas.

Kalea tampil mempesona dengan kebaya modern berwarna putih gading, sementara Liam tampak gagah dengan setelan jas gelapnya. Namun, di tengah pidato Liam, seorang pria paruh baya dengan pakaian yang lusuh namun bersih memaksa masuk melalui barikade pengawal.

"LEPASKAN AKU! AKU PUNYA HAK BICARA DI SINI!" teriak pria itu.

Kalea tersentak. Suara itu... ia mengenalnya. Itu adalah Adipati Adiwinata. Ayah tirinya yang dulu mengusirnya, kini tampak sangat menyedihkan. Rambutnya memutih semua, dan wajahnya dipenuhi kerutan penderitaan.

Liam memberi isyarat pada pengawal untuk membiarkan Adipati mendekat ke panggung, namun tetap dalam jarak aman.

"Mau apa kau di sini, Adipati?" tanya Liam dingin, suaranya menggema lewat pengeras suara.

Adipati menatap Kalea dengan mata yang berkaca-kaca—entah itu tulus atau hanya sandiwara. "Kalea... Ayah mohon. Felicia... adikmu... dia hilang! Dia diculik dua hari lalu setelah mendengar kabar kalian akan kembali ke Jakarta!"

Kalea tertegun. "Diculik? Kenapa kau lapor padaku? Lapor pada polisi!"

"Polisi tidak bisa berbuat apa-apa, Kal! Penculiknya meninggalkan pesan... mereka bilang mereka ingin 'keadilan untuk Andini'! Mereka mengira Felicia adalah kau karena foto-foto lama kalian yang mirip!" Adipati bersimpuh di depan panggung, mengabaikan harga dirinya di depan seluruh elit Jakarta.

Mendengar nama Andini, tubuh Liam menegang seketika. Matanya berkilat marah sekaligus waspada. Ia menatap Aris yang berdiri di samping panggung, dan Aris hanya menggeleng—pertanda tim intelijen mereka pun belum mengetahui soal ini.

"Andini sudah mati sepuluh tahun lalu, Adipati. Jangan bawa-bawa namanya untuk memeras kami!" desis Liam.

"Aku tidak memeras! Ini suratnya!" Adipati melemparkan selembar kertas kusam ke arah Liam.

Liam mengambil kertas itu. Di sana tertulis dengan tinta merah:

"Satu nyawa dibayar satu nyawa. Jika Jionel bisa membeli malam seorang gadis, maka kami bisa membeli kematian untuk adiknya. Temui kami di tempat kecelakaan itu terjadi sepuluh tahun lalu, atau Felicia akan menjadi abu."

Kalea mendekat, membaca surat itu di samping Liam. Jantungnya berdegup kencang. "Kecelakaan sepuluh tahun lalu? Tempat Andini meninggal?"

Liam meremas kertas itu hingga hancur. Ia tahu ini bukan sekadar penculikan biasa. Ini adalah serangan terencana yang menargetkan trauma terdalamnya. Dan yang lebih mengerikan, penculik itu tahu persis detail hubungan "kontrak satu malam" mereka di masa lalu.

"Aris, siapkan tim Alpha. Kita berangkat ke Puncak sekarang," perintah Liam, suaranya kembali ke mode predator yang paling mematikan.

"Liam, jangan! Ini jebakan!" seru Kalea menahan lengan Liam.

"Jika aku tidak pergi, mereka akan terus mengincarmu dan anak-anak kita, Kalea. Mereka menggunakan Felicia hanya sebagai umpan untuk memancingku keluar," Liam menatap Kalea dengan tatapan yang seolah berkata 'percayalah padaku'. "Kau tetap di sini bersama pengawal. Jaga Leo dan Lili. Jangan keluar dari gedung ini sampai aku kembali."

Liam berangkat dengan iring-iringan tiga mobil SUV hitam menuju kawasan Puncak. Sementara itu, Kalea dibawa masuk ke ruang pengamanan internal yayasan. Namun, saat ia sedang memeluk Leo yang ketakutan, ponsel pribadinya bergetar.

Sebuah nomor asing mengirimkan video pendek.

Di dalam video itu, tampak Felicia yang terikat di sebuah kursi di ruangan yang gelap. Namun yang membuat Kalea nyaris pingsan adalah sosok wanita yang berdiri di belakang Felicia, memegang sebilah pisau bedah.

Wanita itu mengenakan masker, namun bekas luka bakar di lehernya sangat jelas terlihat.

"Clarissa...?" bisik Kalea tak percaya. "Bagaimana mungkin dia bisa keluar dari rumah sakit jiwa di Wina?"

Pesan di bawah video itu berbunyi: "Liam sedang menuju jebakan maut di jurang Puncak. Tapi kau, Kalea... kau punya pilihan. Datanglah ke gudang tua pelabuhan Sunda Kelapa sendirian dalam satu jam, atau aku akan mengirimkan potongan jari adikmu satu per satu ke hotelmu."

Kalea menyadari satu hal yang mengerikan. Clarissa tidak mengincar Liam di Puncak. Kelompok Clarissa membagi dua kekuatan: satu untuk memancing Liam menjauh, dan satu lagi untuk menghabisi Kalea di Jakarta.

Kalea menatap pengawal di depan pintu. Ia tahu jika ia memberitahu mereka, Liam akan tahu, dan Liam akan panik. Ia harus membuat keputusan sendiri. Sebagai seorang ibu, sebagai seorang istri, dan sebagai wanita yang sudah tidak lagi takut pada bayang-bayang.

"Maafkan aku, Liam," gumam Kalea.

Ia mengambil sebuah pisau lipat kecil yang selalu ia simpan di dalam tasnya sejak kejadian di Hallstatt. Ia menatap Leo yang sedang asyik bermain. "Leo, Mama pergi sebentar ya? Jaga adik Lili. Jangan keluar dari ruangan ini, oke?"

Kalea keluar melalui pintu rahasia untuk staf dapur, menghindari pengawasan ketat Aris. Ia menyetop taksi biasa di pinggir jalan, menuju pelabuhan. Perang yang ia pikir sudah usai di Austria, ternyata baru saja mencapai puncaknya di tanah kelahirannya sendiri.

Darah, obsesi, dan dendam lama Clarissa kini bersatu kembali untuk satu malam terakhir yang berdarah.

1
lia juliati
semoga hatinya selalu hangat oleh kalea
arilias
thor kpn cerita nya di lanjut?
arilias
masyaalloh cerita nya bagus bgt. awal awal bikin aku gregetan. dan sekarang cerita nya bikin aku penasaran sama bab selanjutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!