Dita, seorang Caregiver yang merawat dengan sepenuh hati majikannya yang lumpuh, Bu Diana. sampai, suatu hari, Bu Diana meminta sesuatu yang membuat Dita menahan napasnya...
"Menikahlah dengan Tama, Dit. Aku tak mau Tama menikah dengan wanita binal itu... kamu harus selamatkan anakku, seperti kamu menyelamatkan aku..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Pagi itu udara di ruang makan terasa lebih sunyi dari biasanya.
Padahal semua berjalan seperti rutinitas biasa.
Meja makan sudah tertata rapi. Bu Diana duduk di kursinya sambil menikmati bubur hangat. Dita berdiri di sampingnya, membantu memotong buah. Tama duduk di kursi seberang sambil memegang cangkir kopi.
Namun suasana di antara mereka terasa… aneh.
Bu Diana yang biasanya santai langsung menyadarinya.
Matanya bergerak perlahan.
Melirik Tama.
Lalu Dita.
Lalu kembali ke Tama.
Tama pura-pura sibuk mengaduk kopi.
Dita pura-pura fokus mengupas apel.
Beberapa detik berlalu.
Bu Diana akhirnya menyipitkan mata.
“Kalian berdua kenapa?”
Dita dan Tama sama-sama tersentak kecil.
“Apa?” tanya Tama cepat.
Bu Diana menatapnya tajam.
“Kalian bertengkar?”
“Tidak,” jawab mereka hampir bersamaan.
Jawaban yang terlalu cepat.
Bu Diana makin curiga.
Ia menatap Dita.
“Kamu kenapa diam saja, Dit?”
Dita tersenyum kecil.
“Saya baik-baik saja, Bu.”
“Lalu kenapa wajahmu merah?”
Dita langsung menegang.
Tama hampir tersedak kopinya.
“Eh— panas, Bu,” kata Dita cepat.
“Panas?”
“Iya… dapur tadi agak panas.”
Bu Diana menatapnya lama.
Lalu matanya beralih ke Tama.
“Kamu juga aneh.”
“Aneh bagaimana?”
“Kamu dari tadi tidak berhenti melirik Dita.”
Tama langsung meneguk kopi terlalu cepat.
“Tidak ada.”
“Barusan kamu melirik lagi.”
“Aku tidak melirik.”
“Melirik.”
“Tida—”
Bu Diana mengangkat tangan.
“Sudah. Mama tidak tuli.”
Dita menahan senyum gugup.
Tama menghela napas pelan.
“Ma… benar-benar tidak ada apa-apa.”
Bu Diana menyipitkan mata lagi.
“Aneh sekali.”
Ia bergumam sendiri sambil makan.
Dita buru-buru mengganti topik.
“Bu, setelah sarapan kita latihan kaki lagi sebentar ya.”
“Sekarang?”
“Iya, supaya ototnya tidak kaku.”
Bu Diana mengangguk pelan.
Tama berdiri dari kursinya.
“Aku berangkat ke kantor.”
Bu Diana menoleh.
“Cepat sekali?”
“Banyak pekerjaan.”
Ia meraih jasnya.
Namun sebelum pergi, matanya tanpa sadar melirik Dita lagi.
Dita pura-pura tidak melihat.
Tama langsung keluar dari rumah dengan langkah cepat.
Bu Diana mengamati semuanya.
Matanya kembali menyipit.
“Hm.”
Setelah Tama pergi, suasana rumah terasa lebih santai.
Dita membantu Bu Diana berjalan perlahan ke taman belakang.
Udara pagi terasa segar. Matahari masih hangat.
Mereka duduk di kursi taman.
Dita menyodorkan semangkuk kecil buah potong.
“Silakan, Bu.”
Bu Diana mengambil potongan pepaya.
Namun tatapannya tetap mengarah ke Dita.
“Dit.”
“Iya, Bu?”
“Apa yang terjadi semalam?”
Dita langsung kaku.
“Semalam?”
“Iya.”
“Tidak ada apa-apa.”
Bu Diana tidak langsung percaya.
“Kamu yakin?”
Dita tersenyum tipis.
“Saya yakin.”
Bu Diana menatapnya beberapa detik lagi.
“Kalau begitu kenapa kamu dan Tama aneh begitu?”
Dita pura-pura sibuk mengambil buah lain.
“Mungkin Tuan Tama sedang banyak pikiran.”
“Lalu kamu?”
“Saya baik-baik saja.”
Bu Diana menghela napas.
“Hmm… Mama ini tua, tapi bukan bodoh.”
Dita hanya tertawa kecil.
“Tidak ada yang disembunyikan, Bu.”
“Benarkah?”
“Iya.”
Bu Diana akhirnya menyerah.
“Baiklah.”
Namun dalam hatinya ia masih merasa ada sesuatu yang janggal.
Siang hari.
Mobil Tama berhenti di halaman rumah.
Ia masuk dengan langkah cepat.
Dita yang sedang menata meja makan sempat menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Sepersekian detik.
Lalu Dita langsung memalingkan wajah.
Tama pura-pura tidak melihat.
Ia menuju ruang keluarga.
“Ma.”
Bu Diana yang sedang membaca majalah menoleh.
“Kamu pulang?”
“Iya. Makan siang.”
“Kamu biasanya tidak pulang makan siang.”
Tama mengangkat bahu.
“Sekarang pulang.”
Bu Diana menatapnya lama.
“Hmm.”
Saat makan siang, suasana terasa jauh lebih santai.
Tama bercerita sedikit soal kantor.
Bu Diana mendengarkan.
Namun tiba-tiba ia bertanya,
“Kamu bertengkar dengan Dita?”
Sendok Tama berhenti di udara.
“Tidak.”
“Yakin?”
“Iya.”
“Kalian terlihat aneh.”
Tama menghela napas.
“Ma, Mama ini terlalu banyak berpikir.”
“Tidak juga.”
“Tidak ada apa-apa.”
Bu Diana menatapnya lama.
“Kamu bohong.”
“Tidak.”
“Bohong.”
Tama tertawa kecil.
“Serius, tidak ada apa-apa.”
Bu Diana akhirnya mengangkat bahu.
“Kalau begitu Mama yang konyol.”
Tama tersenyum.
“Benar.”
Namun Bu Diana masih merasa aneh.
Apalagi satu hal yang ia sadari.
Anaknya yang biasanya sibuk…
sekarang tiba-tiba rajin pulang makan siang.
Hari berjalan sampai malam.
Di kamarnya, Dita baru saja selesai merapikan obat-obatan.
Ia duduk di tepi ranjang.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Pop-up muncul di layar.
Tama.
Pesan WhatsApp.
Tama:
Ke ruang kerja sebentar.
Dita menatap layar itu.
Wajahnya langsung berubah kesal.
Ia mendengus pelan.
“Memangnya dia siapa…”
Ia meletakkan ponsel di meja.
Lalu berbaring di ranjang.
Pesan itu dibiarkan.
Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar lagi.
Namun Dita tetap tidak bergerak.
Ia hanya melihat notifikasi di layar yang menyala sebentar.
Lalu padam.
“Biarkan saja.”
Ia menarik selimut sampai ke dagu.
“Mesum.”
Di ruang kerja.
Tama menatap ponselnya.
Tidak ada balasan.
Ia mengerutkan kening.
“Kenapa lama sekali?”
Lima menit.
Sepuluh menit.
Tidak ada tanda-tanda Dita datang.
Tama menghela napas kesal.
“Ini perempuan…”
Ia berdiri lalu berjalan mondar-mandir.
“Aku cuma mau bicara.”
Ia melihat ponsel lagi.
Masih tidak dibalas.
“Tidak profesional sekali.”
Ia mendengus.
“Dipanggil malah tidak datang.”
Ia duduk kembali di kursi kerjanya.
“Masa benar tidur?”
Ia menggeleng.
“Ah, alasan.”
Keesokan paginya.
Dita berjalan di koridor lantai dua.
Ia hendak memeriksa Bu Diana.
Tangga berada tepat di depan kamar Bu Diana.
Saat ia hampir sampai—
Langkah kaki terdengar dari atas.
Tama muncul di tangga.
Ia sedang turun.
Dita langsung menunduk dan mempercepat langkah.
Namun Tama berhenti.
“Dita.”
Langkah Dita terhenti.
Ia berbalik perlahan.
“Iya, Tuan?”
Tama turun dua anak tangga lagi.
“Semalam aku kirim pesan.”
Dita mengangguk.
“Oh.”
“Kenapa tidak datang?”
“Saya ketiduran.”
Jawaban yang sangat cepat.
Tama menyipitkan mata.
“Ketiduran?”
“Iya.”
“Serius?”
“Saya lelah.”
Tama masih menatapnya curiga.
Dita akhirnya berkata,
“Kalau ada yang mau ditanyakan, Tuan bisa tanya sekarang.”
Nada suaranya datar.
Tama menghela napas pelan.
Namun akhirnya ia berkata,
“Bagaimana kondisi Mama?”
“Baik.”
“Tensi?”
“Normal.”
“Makan?”
“Lahap.”
“Terapi?”
“Masih agak kaku tapi ada perkembangan.”
Tama mengangguk.
“Bagus.”
Dita langsung melangkah menuju kamar Bu Diana.
“Tunggu.”
Dita berhenti lagi.
“Ada lagi?”
Tama membuka mulut…
Namun tidak jadi bicara.
“Tidak ada.”
Dita mengangguk.
Lalu masuk ke kamar.
Tama berdiri di tangga beberapa detik.
Ia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu.
Namun entah kenapa…
kata-kata itu tidak keluar.
Beberapa hari kemudian.
Hari libur.
Tama duduk santai di ruang tamu sambil membaca koran.
Rumah terasa tenang.
Tiba-tiba—
Bel pintu berbunyi.
Tama bangkit lalu membuka pintu.
Di depan berdiri seorang pria dengan jas rapi dan rambut disisir sangat teratur.
Dokter Eros.
Tama mengerutkan kening.
“Dokter?”
Eros tersenyum lebar.
“Pagi.”
Tama memandangnya dari atas sampai bawah.
“Dokter mau ke rumah sakit?”
“Tidak.”
“Rapi sekali.”
Eros tertawa kecil.
“Memang sengaja.”
“Mau ke mana?”
Eros menoleh sedikit ke dalam rumah.
“Saya mau mengajak Dita keluar.”
Tama mengerutkan dahi.
“Keluar?”
“Iya.”
“Ke mana?”
“Bioskop.”
Jawaban itu membuat Tama membeku.
“Bioskop?”
Eros mengangguk santai.
“Film baru keluar hari ini.”
Tama masih menatapnya tidak percaya.
“Dokter… mengajak Dita?”
“Iya.”
Eros tersenyum santai.
“Boleh kan?”
Jantung Tama tiba-tiba terasa aneh.
Perawat ibunya…
akan pergi menonton bioskop.
Dengan Dokter Eros.