Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Malam semakin larut.
Motor sport hitam milik Ryuga berhenti perlahan di depan rumah Quinn.
Lampu halaman rumah itu sudah menyala.
Quinn menghela napas lega.
"Hah... Akhirnya sampai juga."
Ryuga mengulurkan tangannya untuk membantu Quinn turun dari motornya.
"Hati-hati."
"Iya."
Quinn menerima uluran tangan Ryuga, lalu turun dengan wajah masih sedikit merah.
Ia berdehem kecil sambil merapikan jaketnya.
Beberapa detik mereka hanya berdiri diam.
Akhirnya Quinn berkata pelan.
“Thanks… udah nganterin.”
Ryuga menatapnya.
“Harusnya.”
Quinn mengerutkan dahi.
“Harusnya?”
Ryuga menjawab santai.
“Lo kan gue culik.”
Quinn langsung mendengus.
“Iya. Harusnya gue laporin lo ke polisi.”
Ryuga hanya tersenyum tipis, lalu menatapnya sebentar lagi.
“Masuk.”
Quinn mengangkat alis.
“Jangan ngatur-ngatur gue,.”
Namun ia tetap berbalik menuju pagar rumah.
Sebelum masuk, Quinn menoleh lagi.
“Ga.”
Ryuga mengangkat alis sedikit.
“Apa?”
Quinn ragu sebentar.
Lalu berkata cepat.
“Hati-hati di jalan.”
Ryuga sedikit terkejut.
Namun ia hanya menjawab datar.
“Iya.”
Quinn masuk ke dalam rumah.
Ryuga masih duduk di motornya sambil menatap punggung Quinn yang kini hilang di balik pintu yang tertutup.
"Good night, Ra."
Lalu ia menyalakan mesin.
BRROOOOM...
Motor kembali melaju menembus jalan malam.
Namun belum lama ia berkendara—
Ponselnya tiba-tiba bergetar di saku jaket.
DRRRT... DRRRT...
Ryuga mengerutkan dahi.
Ia memperlambat motor.
Lalu menepi di pinggir jalan.
Motor dimatikan.
Ia mengambil ponsel.
Di layar tertulis nama:
Elric.
Ryuga langsung mengangkat.
“Hm.”
Suara Elric terdengar tenang seperti biasa.
“Gue udah tahu siapa yang ngurung Quinn di toilet.”
Tatapan Ryuga langsung berubah tajam.
“Siapa?”
Elric tidak langsung menjawab.
“Lo lagi di mana?”
Ryuga menjawab singkat.
“Jalan.”
Elric menghela napas kecil.
“Ya udah, denger.”
Ryuga menunggu.
Elric akhirnya berkata.
“Naomi.”
Rahang Ryuga langsung mengeras.
Namun Elric belum selesai.
“Sama dua temennya.”
Ryuga bertanya dingin.
“Siapa?”
Elric menjawab.
“Vanya dan Sherly.”
Beberapa detik hening.
Ryuga mengepalkan tangannya.
“…”
Elric melanjutkan.
“Gue udah cek dari CCTV belakang sekolah.”
“Lo udah pastiin semuanya?” tanya Ryuga.
Elric menjawab tanpa ragu.
“Hm.”
Ryuga menarik napas pelan.
Namun aura di sekitarnya berubah dingin.
Elric berkata lagi.
“Lo mau gue urus?”
Ryuga menjawab tegas.
“Nggak.”
Elric langsung paham.
“Oke.”
"Kirim foto mereka ke gue." titah Ryuga.
"Gue kirim sekarang."
Ting...
Sebuah notifikasi masuk di ponsel Ryuga dari Elric, berisikan foto Naomi yang tertawa bersama Vanya dan Sherly.
Elric menambahkan sebelum menutup telepon.
“Kalau butuh bantuan bilang.”
Ryuga menjawab singkat.
“Hm.”
TUT.
Panggilan berakhir.
Ryuga menatap layar ponselnya sejenak.
Lalu ia mengetik pesan ke satu nomor orang kepercayaannya.
“Tangkap mereka sekarang. Bawa ke tempat biasa.”
Foto Naomi dan teman-temannya disertakan dalam pesan tersebut.
Tak butuh waktu lama, sebuah pesan balasan langsung masuk ke ponsel Ryuga.
"Baik, Tuan Muda."
Setelah itu, Ryuga segera menyimpan ponselnya ke saku.
Lalu menyalakan mesin motor lagi.
BRROOOOM...
Motor melesat ke jalanan malam.
...----------------...
Sebuah ruangan tua yang remang-remang.
Lampunya redup.
Lantainya kotor.
Dan di dalam ruangan itu—
ratusan tikus berkeliaran.
Tikus besar.
Suara cit… cit… cit… terdengar di mana-mana.
Di tengah ruangan—
Naomi, Vanya, dan Sherly berdiri di atas sebuah meja kayu kecil yang sudah reyot.
Mereka menjerit panik.
“AAAAAAA!”
Naomi hampir menangis.
“JANGAN DEKET-DEKET!”
Seekor tikus besar mencoba naik ke kaki meja.
Sherly menjerit histeris.
“YA AMPUN! ADA YANG NAIK!”
Vanya melompat-lompat ketakutan.
“IH IH IH! JANGAN SAMPE NYENTUH AKU!”
Seekor tikus lewat di dekat kaki Sherly.
Gadis itu langsung menjerit keras.
“AAAAA! JIJIK BANGET!”
Naomi menutup telinganya sambil gemetar.
“SIAPA YANG NGELAKUIN INI?!”
Ia memukul-mukul pintu ruangan itu.
BRAK! BRAK! BRAK!
“BUKA!”
“BUKA PINTUNYA!”
Vanya ikut memukul pintu.
“HALO?! ADA ORANG DI LUAR?!”
Sherly hampir menangis.
“TOLONG KAMI!”
Namun tidak ada jawaban.
Hanya suara tikus yang berlarian.
Naomi hampir muntah melihat satu tikus besar lewat di dekat kakinya.
“IH! IH! JANGAN DEKET!”
Ia menjerit lagi.
“TOLONG BUKAIN PINTUNYA!”
Vanya hampir histeris.
“AKU NGGAK MAU DI SINI!”
Sherly menjerit.
“SIAPA SIH YANG NARUH KITA DI SINI?!”
Tiba-tiba Naomi berhenti.
Matanya membesar.
“Jangan-jangan…”
Ia menelan ludah.
“Ryuga…”
Vanya langsung menoleh.
“Ryuga?”
Kening Sherly berkerut heran.
“Tapi kita kan nggak ada masalah sama dia.”
Naomi menggigit bibirnya.
Wajahnya mulai pucat.
“Dia… pasti tau…”
Vanya gemetar.
“Tau apa?”
Naomi menelan ludah lagi.
“Tentang Quinn…”
FLASHBACK — beberapa menit sebelumnya
Arena balap liar masih ramai.
Lampu neon berkedip.
Suara motor dan musik keras bercampur.
Naomi berjalan bersama Vanya dan Sherly menuju parkiran.
Naomi terlihat kesal.
“Nyebelin banget.”
Vanya meliriknya.
“Masih kepikiran Ryuga?”
Naomi mendengus.
“Jelas.”
Sherly menambahkan.
“Dia bahkan nggak ngeliat kamu tadi.”
Naomi mengepalkan tangannya.
“Semua gara-gara cewek itu.”
Vanya mengangkat alis.
“Quinn?”
Naomi mendengus kesal.
“Siapa lagi.”
Sherly menyeringai.
“Tapi ide kamu waktu itu lumayan juga.”
Naomi tersenyum sinis.
“Biar dia tau rasanya kalau berani lawan aku.”
Padahal, tanpa Vanya dan Sherly tahu, Naomi sudah mendapatkan balasan dari Quinn. Tapi Naomi memang tidak menceritakan kepada mereka, karena ia sangat malu.
Vanya tertawa kecil.
“Sayang banget Ryuga malah nolong dia.”
Naomi mendengus.
Sherly berkata.
“Udah lah. Kita ke cafe aja.”
Naomi mengangguk.
“Ayo.”
Namun saat mereka hampir mencapai mobil—
Sebuah mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan mereka.
CKIIIT...
Vanya mengerutkan dahi.
“Siapa tuh?”
Pintu mobil terbuka.
Beberapa pria berbaju hitam turun.
Tubuh mereka besar.
Tatapan mereka dingin.
Sherly langsung curiga.
“Eh… itu siapa?”
Naomi menyipitkan mata.
“Hei.”
Ia berkata ketus.
“Kalian siapa—”
Belum selesai bicara—
Salah satu pria langsung memegang tangannya.
Naomi kaget.
“EH! LEPASIN!”
Vanya panik.
“WOI! APAAN SIH?!”
Sherly berteriak.
“KALIAN SIAPA?!”
Salah satu pria berkata dingin.
“Diamlah jika kalian masih sayang nyawa.”
Naomi membelalakkan mata.
“A-apa maksud kamu?”
Sebelum mereka sempat melawan—
Para pria itu sudah menyeret mereka ke mobil.
Naomi menjerit.
“LEPASIN AKU!”
Vanya berteriak.
“KAMI BISA LAPOR POLISI!”
Sherly hampir menangis.
“HEI! LEPASIN AKU!”
Pintu mobil ditutup.
BRAK!
Mobil melaju pergi.
KEMBALI KE SAAT INI
Naomi memukul pintu lagi.
BRAK! BRAK! BRAK!
“BUKA!”
“BUKA PINTUNYA!”
Namun suaranya sudah gemetar.
Seekor tikus tiba-tiba melompat ke meja.
“AAAAAA!”
Vanya menjerit keras.
“TIKUSNYA NAIK!”
Sherly hampir pingsan.
“USIR! USIR!”
Naomi menginjak-injak meja panik.
“HUS! HUS! HUS!”
Sementara itu...
Di ruangan lain.
Ruangan bersih dengan beberapa monitor CCTV besar.
Di salah satu layar—
Terlihat Naomi, Vanya, dan Sherly yang sedang histeris dikelilingi tikus.
Di depan monitor berdiri seorang pria tampan.
Ryuga.
Ia menatap layar itu dengan ekspresi datar.
Tanpa emosi.
Seolah yang ia lihat hanyalah tontonan biasa.
Di belakangnya berdiri dua bodyguard.
Salah satu bodyguard berkata pelan.
“Tuan muda…”
Ryuga tidak menoleh.
Bodyguard itu melanjutkan.
“Mereka sudah di sana hampir satu jam.”
Ryuga tetap menatap monitor.
Di layar—
Naomi kembali menjerit melihat tikus.
Ryuga berkata pelan.
“Itu akibatnya…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu melanjutkan dingin.
“Kalau berani sentuh milik gue.”
Kedua bodyguard langsung saling melirik.
Salah satu dari mereka bertanya hati-hati.
“Mau kami keluarkan sekarang, tuan muda?”
Ryuga menggeleng pelan.
“Nggak.”
Ia akhirnya menoleh.
Tatapannya tajam.
“Awasi mereka. Keluarkan mereka sebelum fajar.”
Bodyguard mengangguk.
“Baik, tuan muda.”
Ryuga mengambil jaketnya.
Ia berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar—
Ia sempat melirik monitor sekali lagi.
Di layar—
Naomi masih menjerit ketakutan.
Ryuga berkata pelan.
“Anggap ini peringatan.”
Lalu ia pergi.
Pintu ruangan tertutup.
Sementara di monitor—
Jeritan Naomi, Vanya, dan Sherly masih terus terdengar di tengah ratusan tikus.
...----------------...
Malam sudah semakin larut.
Di kamar yang bernuansa hangat, Quinn sedang rebahan di atas tempat tidurnya sambil memainkan ponsel.
Rambutnya masih sedikit berantakan setelah perjalanan malam tadi.
Ia mendesah pelan.
Pikirannya masih memutar kejadian barusan.
Motor.
Pelukan.
Dan—
ciumannya di pipi Ryuga.
Quinn langsung menutup wajahnya dengan bantal.
“Ya ampun…”
Ia mengerang pelan.
“Kenapa gue mau-mau aja sih?”
Ia mengingat lagi ekspresi Ryuga waktu itu.
Quinn makin malu.
“Ah! Nyebelin!”
Tiba-tiba—
DRRRT… DRRRT…
Ponselnya bergetar di atas kasur.
Quinn melirik malas.
Namun saat melihat nama di layar—
Ia langsung menghela napas panjang.
Darren.
Quinn menatap layar itu beberapa detik.
“Ngapain sih…”
Telepon masih berdering.
Akhirnya Quinn mengangkat dengan nada malas.
“Halo.”
Suara Darren terdengar dari sana.
“Quinn?”
Quinn menjawab datar.
“Iya.”
Darren terdengar sedikit lega.
“Syukurlah kamu angkat.”
Quinn mendengus kecil.
“Ngapain nelpon malam-malam?”
Darren terdiam sebentar.
“Ganggu ya?”
Quinn menjawab jujur.
“Lumayan.”
Darren tertawa kecil di sana.
“Kita baru putus, Quinn. Jangan galak banget dong.”
Quinn memutar mata.
“Makanya. Udah putus. Terus masih nelpon juga.”
Darren menghela napas.
“Aku cuma mau ngobrol.”
Quinn berkata malas.
“Ngobrol apa?”
Darren bertanya pelan.
“Kamu lagi ngapain?”
Quinn menjawab singkat.
“Rebahan.”
Darren tertawa kecil lagi.
“Kedengerannya damai banget.”
Quinn mendengus.
“Langsung aja ke inti. Lo nelpon buat apa?”
Darren diam beberapa detik.
Lalu akhirnya berkata dengan hati-hati.
“Besok kan hari Minggu.”
Quinn mulai curiga.
“Iya terus?”
Darren mengumpulkan keberanian.
“Mau makan siang bareng?”
Quinn langsung duduk.
“Apa?”
Darren cepat menjelaskan.
“Maksud aku… makan siang aja. Kayak dulu.”
Quinn langsung menjawab tegas.
“Ogah.”
Darren langsung panik.
“Eh! Tunggu dulu!”
Quinn mendesah kesal.
“Darren... Lo sadar nggak sih kita udah putus?”
Darren menjawab pelan.
“Aku sadar.”
Quinn melanjutkan.
“Terus buat apa makan bareng?”
Darren mencoba menjelaskan.
“Bukan buat balikan.”
Quinn menyilangkan tangan.
“Terus?”
Darren berkata pelan.
“Anggap aja… makan siang perayaan.”
Quinn bingung.
“Perayaan apa?”
Darren menarik napas.
“Perayaan awal pertemanan kita.”
Quinn terdiam.
Darren melanjutkan pelan.
“Aku udah ikhlas kok, Quinn.”
Quinn mengerutkan dahi.
“Ikhlas apa?”
Darren tertawa kecil pahit.
“Kalau kita udah putus.”
Quinn tidak langsung menjawab.
Darren berkata lagi.
“Aku cuma pengen… kita nggak canggung. Minimal tetap temenan.”
Quinn menggigit bibirnya.
Darren menambahkan dengan nada sedikit bercanda.
“Lagipula masa mantan nggak bisa makan siang bareng?”
Quinn mendengus.
“Bisa aja. Cuma gue males.”
Darren tertawa kecil.
“Jujur banget kamu.”
Quinn berkata santai.
“Emang.”
Darren menghela napas.
“Sekali aja.”
Quinn masih ragu.
Darren menambahkan.
“Anggap aja… penutupan.”
Quinn mengangkat alis.
“Penutupan?”
Darren tertawa.
“Iya. Penutupan drama hubungan kita.”
Quinn akhirnya tertawa kecil.
“Drama banget.”
Darren ikut tertawa.
“Ya kan emang drama.”
Quinn berpikir beberapa detik.
Darren menunggu dengan sabar.
Akhirnya Quinn berkata.
“Cuma makan siang?”
Darren langsung menjawab cepat.
“Iya. Cuma makan. Terus pulang.”
Quinn bertanya lagi.
“Nggak ada yang aneh-aneh?”
Darren tertawa.
“Nggak. Gue janji.”
Quinn mendesah.
“Jam berapa?”
Darren langsung semangat.
“Jam dua belas?”
Quinn menjawab.
“Tempat?”
Darren menyebut.
“Cafe dekat taman kota.”
Quinn mengangguk kecil walau Darren tidak bisa melihat.
“Ya udah.”
Darren langsung senang.
“Serius?”
Quinn berkata malas.
“Iya. Tapi jangan lama-lama.”
Darren tertawa lega.
“Deal.”
Quinn menambahkan.
“Dan jangan drama.”
Darren tertawa lagi.
“Aku usahain.”
Quinn memutar mata.
“Lo yang paling drama.”
Darren masih terdengar senang.
“Thanks ya, Quinn.”
Quinn menjawab datar.
“Iya.”
Darren berkata pelan sebelum menutup telepon.
“Aku seneng kamu mau ketemu.”
Quinn terdiam sebentar.
Lalu menjawab singkat.
“Udah ya.”
Darren tertawa kecil.
“Oke. Good night.”
Quinn menjawab pendek.
“Night.”
TUT.
Telepon terputus.
Quinn menatap ponselnya beberapa detik.
Lalu menjatuhkan dirinya kembali ke kasur.
Ia menatap langit-langit kamar.
“Kenapa sih hidup gue makin ribet…”
Ia menutup wajahnya dengan bantal lagi.
Namun entah kenapa—
Di kepalanya justru muncul wajah seseorang.
Ryuga.
Quinn langsung menggerutu.
“Kenapa malah dia lagi…”
Ia membalikkan badan kesal.
“Besok cuma makan siang.”
“Titik.”
Namun di suatu tempat di kota yang sama—
Seseorang lain justru sedang tersenyum menatap ponselnya.
Darren.
“Besok kita ketemu lagi, Quinn.”
...****************...
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Jangan berani²...
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁