seorang gadis muda yang harus benting tulang menghidupi kedua adik kembarnya setelah kedua orang tuanya meninggal. adik perempuannya sakit-sakitan, mengharuskannya bekerja lebih keras. saat pulang bekerja tak sengaja dia tertabrak mobil, dan ternyata yang menabrak itu adalah pemilik perusahaan tempat dia bekerja. saat itu lah pria pemilik perusahaan itu jatuh hati pada gadis itu. bukan hanya karena kecantikannya, tapi juga karena sifatnya yang baik dan sangat menyayangi adik-adiknya. namun saat melihat adik laki-laki gadis itu, dia mengingat seseorang di masa lalunya. tentang ayahnya yang pernah mengaku melakukan kejahatan sebelum dia meninggal. ayah pria itulah yang menjadi penyebab kematian kedua orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
***
Pagi itu, aroma rumah sakit yang steril seolah kalah oleh semangat yang memancar dari wajah Anindita. Lima hari telah berlalu sejak malam mencekam itu, dan meskipun tubuhnya masih tampak ringkih, binar di matanya tidak bisa berbohong. Dita sudah bosan dengan dinding putih dan bunyi monitor yang monoton.
"Kak, sekali ini saja... Dita mau pulang. Dita kangen rumah, kangen sekolah," rengek Dita sambil menarik-narik ujung baju Dinda.
Dinda menatap adiknya dengan bimbang. Ia baru saja selesai berkonsultasi dengan dokter. "Ta, dokter bilang kamu harus banyak istirahat. Di sekolah itu capek, lho."
"Dita janji nggak akan lari-larian, Kak. Dita cuma mau duduk di kelas, dengerin guru, terus pulang. Ya? Please?" Dita menyatukan kedua tangannya di depan dada, memohon dengan wajah yang sulit ditolak.
Dinda menghela napas, menoleh ke arah dokter yang berdiri di ambang pintu. Sang dokter, yang sudah mendapat instruksi "lampu hijau" dari Alan jika kondisi memungkinkan, akhirnya mengangguk. "Kondisi sel darah putihnya sudah stabil untuk sementara, Nona Dinda. Saya izinkan pulang hari ini, tapi dengan syarat: obat tidak boleh putus, dan jika ada demam sedikit pun, harus segera kembali ke sini."
Kegembiraan meledak di ruangan itu. Dika dengan sigap mulai memasukkan pakaian-pakaian ke dalam tas kain mereka. "Ayo, Ta! Kita pulang. Nanti aku bantu beresin kasurmu biar makin nyaman," seru Dika semangat.
Namun, saat mereka baru saja hendak melangkah keluar, seorang pria berseragam rapi dengan topi hitam mengetuk pintu ruangan yang terbuka.
"Selamat siang, Nona Adinda. Saya diutus oleh Tuan Alan untuk menjemput dan mengantar Anda sekeluarga sampai ke rumah," ucap pria itu dengan sopan namun tegas.
Wajah Dika langsung berubah masam. "Tidak usah. Kami bisa pulang sendiri. Pakai taksi atau angkot juga bisa."
"Maaf, Den Dika. Instruksi Tuan Alan sangat jelas. Beliau khawatir Nona Anindita akan kelelahan jika harus menunggu kendaraan umum atau berdesakan. Mobil sudah siap di depan lobby, suhunya sudah diatur agar nyaman untuk pasien," balas sopir itu tenang.
Dika hendak memprotes lagi, namun Dinda menahan lengannya. Dinda melihat ke arah Dita yang wajahnya mulai tampak lelah hanya karena berdiri sebentar. "Dika, sudahlah. Kali ini jangan keras kepala. Kita butuh mobil yang nyaman untuk Dita sampai ke rumah. Uang taksi bisa kita simpan untuk beli makanan bergizi buat Dita nanti."
Dika mendengus, namun akhirnya ia mengalah. Ia menggendong tas mereka dan berjalan di depan dengan langkah berat, sementara Dita dipandu menggunakan kursi roda menuju sedan mewah yang sudah menunggu.
***
Sesampainya di kontrakan mereka yang sempit di ujung gang, suasana hangat menyambut. Bau tanah dan udara lingkungan lama mereka terasa jauh lebih akrab daripada kemewahan rumah sakit. Setelah Dita berbaring nyaman di kasurnya, Dika berdiri di tengah ruangan, menatap kakaknya dengan serius.
"Kak, aku mau ngomong sesuatu," ujar Dika. Suaranya rendah.
Dinda yang sedang merapikan obat-obatan Dita menoleh. "Ada apa, Dik? Kok serius sekali?"
Dika menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. "Sebenarnya... aku sudah punya pekerjaan. Aku diterima kerja di toko sembako Pak Galih di dekat pasar. Aku mulai kerja siang ini."
Hening sejenak. Dinda terpaku, tangannya yang memegang botol obat gemetar. "Apa? Kerja? Sejak kapan, Dika? Terus sekolahmu bagaimana?"
"Pulang sekolah, Kak. Dari jam dua siang sampai malam. Pak Galih orang baik, dia izinin aku kerja setelah jam sekolah. Aku... aku butuh uang itu buat cicil biaya rumah sakit Dita. Aku nggak mau kita berhutang nyawa sama si Allandra itu," jelas Dika cepat.
Air mata Dinda jatuh seketika. Ia terduduk di kursi plastik tua mereka. "Ya Tuhan, Dika... maafin Kakak. Kakak benar-benar nggak berguna ya? Sampai kamu yang masih sekolah harus mikirin beban ini. Kamu harusnya fokus ujian, Dik, bukan angkut-angkut barang di pasar."
Dita yang mendengarkan dari balik tirai kamar mulai terisak. Suara tangisnya yang lirih membuat Dinda dan Dika segera menghampirinya.
"Kak Dinda, Dika... maafin Dita," isak Dita sesenggukan. "Gara-gara Dita sakit, Kak Dinda pingsan di pabrik, Dika jadi kuli. Harusnya Dita nggak usah diobatin kalau bikin kalian susah begini..."
"Sstt! Jangan bicara begitu!" Dika langsung memeluk adik kembarannya itu dengan erat. Dinda pun ikut memeluk mereka berdua, tangis mereka pecah di dalam ruangan berukuran 3x4 meter itu.
"Dita, dengerin Kakak," ucap Dinda sambil menghapus air mata di pipi adiknya. "Usaha Dika, kerja keras Kakak, itu semua nggak akan sia-sia kalau kamu kuat. Kamu harus sembuh, kamu harus lawan penyakit itu. Itu satu-satunya cara kamu bayar keringat kita. Paham?"
Dita mengangguk kuat-kuat di dalam pelukan kakak-kakaknya. "Dita janji. Dita bakal kuat. Dita bakal minum semua obat pahit itu biar bisa sekolah lagi bareng Dika."
Dika melepaskan pelukannya, mencoba menghapus sisa air mata di wajahnya dengan kasar. Ia melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 13.30.
"Aku berangkat sekarang ya, Kak. Nanti telat, Pak Galih bisa marah," pamit Dika sambil menyambar kaos hitamnya.
Dita menatap abangnya dengan mata sembab namun penuh harap. "Dika... nanti kalau pulang, boleh minta sesuatu?"
Dika tersenyum lebar, mengacak rambut Dita. "Apa saja buat kamu. Mau apa?"
"Dita pengen ice cream strawberry yang ada potongan buahnya di atas," ucap Dita malu-malu.
"Siap! Nanti abang bawain yang paling enak. Tunggu ya!" seru Dika penuh semangat. Ia mencium tangan Dinda, lalu melesat keluar pintu, berlari menuju tempat kerjanya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.
Dinda berdiri di depan pintu, menatap punggung adiknya yang menghilang di belokan gang. Hatinya terasa remuk. Ia melihat tangan Dika yang mulai kasar dan memar karena beban berat. Ia membayangkan Dika duduk di kelas sambil menahan kantuk karena kelelahan bekerja sampai malam.
Ia kembali masuk ke dalam, melihat Dita yang mencoba membaca buku catatannya dengan sisa tenaga yang ada.
Sampai kapan kita bisa bertahan begini? batin Dinda.
Pikirannya melayang pada tawaran Alan tempo hari. Sekretaris pribadi. Gaji dua kali lipat. Jam kerja teratur.
Jika ia menerima tawaran itu, Dika tidak perlu lagi memanggul karung beras di pasar. Dika bisa fokus belajar untuk ujian nasionalnya. Dika bisa berada di rumah sore hari untuk menjaga Dita saat Dinda bekerja. Ia tidak perlu lagi melihat adiknya pulang dengan baju basah kuyup oleh keringat dan bau matahari.
Namun, ia tahu Dika akan sangat marah. Dika menganggap Alan sebagai ancaman bagi harga diri mereka.
Tapi harga diri tidak bisa memberikan Dita obat atau memberikan Dika waktu belajar, gumam Dinda dalam hati.
Dinda mengambil kartu nama yang diberikan Alan dari dalam tasnya. Ia menatap deretan angka telepon di sana. Perang batin berkecamuk hebat di dadanya. Apakah ia harus mengkhianati kepercayaan Dika demi menyelamatkan masa depan Dika sendiri?
"Kak Dinda? Kok melamun?" tanya Dita dari tempat tidur.
Dinda tersentak, segera menyembunyikan kartu nama itu di balik saku daster perumahannya. "Enggak, sayang. Kakak cuma lagi mikir mau masak apa buat makan malam kita nanti. Kamu istirahat ya, Kakak mau bersihin rumah dulu."
Dinda mulai menyapu lantai, namun pikirannya sudah berada di kantor pusat Ryuga Corp. Ia mulai menyusun kata-kata di kepalanya, mencari cara bagaimana menjelaskan pada Dika jika nanti ia benar-benar mengambil keputusan besar itu.
***
Bersambung...