Nomella Kamiyama, mahasiswi pindahan dari New York, tiba di California dengan satu misi: mempertahankan kesempurnaan hidupnya—mulai dari penampilan, kecerdasan, hingga kontrol diri yang absolut.
Namun, panggung sempurnanya terusik oleh kehadiran Zeus Sterling, pria paling populer di kampus yang dikenal sangat hangat, narsis, dan gemar menebar pesona.
Di mata Nomella, Zeus hanyalah gangguan visual yang "sok ganteng," sementara bagi Zeus, Nomella adalah tantangan bagi egonya yang setinggi langit.
Namun, di balik senyum menawan dan keramahan yang luar biasa, Zeus menyimpan rahasia kelam. Ia adalah pria yang aslinya dingin dan hancur, yang kini hidup dalam "identitas" kakaknya, Zayn, yang tewas dalam kecelakaan balap tragis. Zeus menolak semua wanita dan hanya ingin langsung menikah, sebuah bentuk duka ekstrem yang ia jalani demi memenuhi ekspektasi orang tuanya dan dunia.
Ketegangan memuncak saat Nomella mulai membongkar topeng Zeus, memicu sisi gelap sang pria yang berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Malam itu, Santa Monica bersolek dengan cahaya lampu jalanan yang berpendar keemasan. Zeus Sterling, sang "Matahari" yang kini tampak lebih bersinar dengan aura kebahagiaan yang ganjil, mengajak Nomella untuk makan malam.
Bukan di kantin kampus, bukan pula di meja makan penthouse mereka, melainkan di sebuah restoran fine dining yang memiliki pemandangan langsung ke arah dermaga.
Nomella turun dari mobil dengan gaun sutra berwarna emerald yang memeluk tubuhnya dengan anggun. Pikirannya masih kacau setelah pertemuan dengan dokter psikolog Zeus, namun ucapan "Aku mencintaimu" dari Zeus tadi sore masih berdenging di telinganya seperti frekuensi radio yang tak bisa dimatikan.
Di dalam restoran, suasana begitu intim. Musik jazz mengalun rendah, dan aroma bunga lili memenuhi udara. Saat mereka baru saja menyesap minuman pembuka, tiba-tiba lampu di area tengah restoran sedikit meredup. Seorang pria di meja sebelah berdiri, berlutut di depan kekasihnya, dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil.
Jantung Nomella berdegup kencang. Ia melirik Zeus. Apakah ini saatnya? batinnya. Mengingat Zeus yang belakangan ini sangat protektif dan penuh kasih, Nomella mengira suaminya akan melakukan hal yang sama. Ia mengira Zeus ingin memperbarui janji pernikahan mereka yang diawali dengan kebencian menjadi sesuatu yang nyata.
Namun, Zeus hanya tersenyum tipis melihat pemandangan itu, lalu kembali memotong steak-nya dengan tenang. "Manis sekali, ya," gumam Zeus tanpa ada tanda-tanda akan berlutut.
Nomella merasa setetes kekecewaan jatuh di hatinya. Ia kembali menatap piringnya, mengaduk-aduk risotto jamur di depannya dengan garpu. Siapa tahu ada cincin di dalam sini, seperti video viral yang sering kulihat, pikirnya konyol. Ia mulai membedah makanannya satu per satu, mencari benda keras yang mungkin tersembunyi di sana.
"Mella? Kau sedang mencari harta karun di dalam makananmu?" tanya Zeus dengan alis terangkat, tampak bingung melihat tingkah istrinya.
"Bukan apa-apa," sahut Nomella cepat, wajahnya memerah karena malu. Ia mendengus pelan, mencoba mengalihkan rasa kesalnya. "Tiba-tiba saja aku ingin makan sesuatu yang lain. Aku tidak ingin cokelat atau jamur. Aku ingin kue nanas. Yang asam dan segar."
Zeus menghentikan gerakannya. "Kue nanas? Malam-malam begini?"
"Iya, dan aku ingin strawberry. Yang sangat banyak. Merah, segar, dan dingin," lanjut Nomella, suaranya terdengar seperti rengekan yang tidak ia sadari. Ia sendiri heran dengan dirinya. Kenapa seleranya menjadi begitu spesifik dan mendadak? Huh, pasti ini pengaruh stres karena memikirkan kondisi mental Zeus, ia mencoba merasionalisasi.
Sepanjang makan malam, Nomella memasang muka masam. Ia merasa diabaikan. Ia ingin kejutan, ia ingin pengakuan, dan ia ingin diperlakukan seperti wanita yang paling dicintai, bukan hanya sebagai ibu dari janin imajiner Zeus. Ia menatap Zeus dengan pandangan menyelidik, mencari sisa-sisa "pria dingin" yang dikatakan dokter, namun yang ia temukan hanyalah Zeus yang sedang menatapnya dengan senyum penuh rahasia.
Selesai makan, suasana hati Nomella benar-benar jatuh ke titik nol. Ia berjalan menuju parkiran dengan langkah yang sedikit dihentakkan. Ia merasa makan malam ini gagal total.
Tidak ada cincin, tidak ada pengakuan cinta tambahan, dan yang paling parah, tidak ada kue nanas ataupun strawberry.
"Kau marah?" tanya Zeus saat mereka sampai di depan mobil.
"Tidak. Hanya lelah," jawab Nomella singkat, memalingkan wajah ke arah lain.
Zeus tidak membuka pintu mobil. Ia justru berdiri di depan Nomella, menghalangi jalannya. "Kau tahu, Mella... hari ini adalah tanggal lima belas Maret."
Nomella mengernyit. "Lalu?"
"Ini ulang tahunmu, Sayang. Apa kau sendiri lupa?"
Nomella membeku. Ia terdiam selama beberapa detik. Benar. Kesibukannya dengan drama pernikahan, delusi Zeus, dan kunjungannya ke dokter membuat ia benar-benar melupakan hari kelahirannya sendiri.
Tiba-tiba, Zeus menjentikkan jarinya.
Dari balik mobil-mobil yang terparkir, beberapa asisten pribadinya muncul dengan puluhan balon berwarna rose gold dan putih yang membumbung tinggi ke udara. Di tengah-tengah balon itu, terdapat sebuah spanduk kecil bertuliskan: "Happy Birthday, My Queen & Mommy."
Nomella menutupi mulutnya dengan kedua tangan. Namun kejutan belum berakhir.
Seorang pelayan restoran keluar membawa sebuah nampan besar. Di atasnya bukan kue cokelat mewah yang biasa disajikan di tempat seperti ini, melainkan sebuah tumpukan besar buah strawberry segar yang disusun menyerupai menara, lengkap dengan piring kecil berisi potongan nanas madu yang kuning keemasan dan menggiurkan.
"Aku sangat peka," ujar Zeus, mendekati Nomella dan merangkul pinggangnya. "Aku melihatmu mencari sesuatu di dalam makananmu tadi. Maaf, aku tidak menaruh cincin di sana karena aku takut kau akan tersedak."
Zeus mengeluarkan sebuah kotak perhiasan dari saku jasnya—bukan di restoran yang ramai, tapi di sini, di bawah langit malam yang hanya disaksikan oleh balon-balon dan aroma laut. Ia membukanya, menampakkan sebuah kalung berlian dengan bandul berbentuk tetesan air yang sangat indah.
"Hadiah untuk istriku, dan mommy dari anakku," bisik Zeus tulus. "Selamat ulang tahun, Nomella Sterling. Terima kasih sudah tetap berada di sisiku, bahkan saat aku sedang kehilangan arah."
Air mata yang sejak tadi Nomella tahan akhirnya tumpah. Ia melihat strawberry itu—permintaan anehnya yang baru saja ia ucapkan sepuluh menit lalu, dan Zeus entah bagaimana sudah menyiapkannya seolah ia bisa membaca pikiran Nomella.
Nomella segera meraih sebuah strawberry dan memakannya. Rasanya manis, asam, dan sangat menyegarkan, persis seperti yang ia idamkan. Ia menangis sejadi-jadinya, bukan hanya karena hadiahnya, tapi karena ia merasa begitu dicintai oleh pria yang sedang berjuang melawan kegelapan di dalam kepalanya sendiri.
"Kau... kau menyiapkan semua ini?" tanya Nomella di sela isakannya.
"Tentu saja. Daddy harus memastikan Mommy merasa paling istimewa hari ini," jawab Zeus sambil menghapus air mata di pipi Nomella dengan ibu jarinya.
Nomella memeluk Zeus dengan sangat erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Di satu sisi, ia merasa bahagia luar biasa. Di sisi lain, ia semakin ketakutan. Keinginan makan nanas dan strawberry yang tiba-tiba ini... indra penciumannya yang menjadi tajam... mual-mual di pagi hari yang mulai terasa nyata...
Ya Tuhan, apakah aku benar-benar hamil? batin Nomella dalam kepanikan yang terbungkus haru. Jika aku benar-benar mengandung, maka Zeus tidak sedang berdelusi. Dia sedang merasakan kebenaran yang bahkan aku sendiri tidak berani aku bicarakan.
Ia melepaskan pelukannya dan menatap mata Zeus yang hangat. Di bawah lampu parkiran, Zeus tampak sangat waras. Sangat nyata.
"Ayo pulang," ajak Zeus lembut. "Kau harus memakan sisa strawberry-mu di rumah sambil istirahat. Jagoan kita pasti senang melihat Mommy-nya berhenti bermuka masam."
Nomella mengangguk, membiarkan Zeus membimbingnya masuk ke dalam mobil. Malam itu, di tengah aroma strawberry dan gemerlap berlian di lehernya, Nomella menyadari bahwa ia tidak bisa lagi berpura-pura. Ia harus menghadapi kenyataan, baik itu tentang kesehatan mental Zeus, maupun tentang nyawa yang mungkin memang benar-benar sedang tumbuh di rahimnya.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰