Premis:
Demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang hampir bangkrut, Alya Prameswari terpaksa menerima perjodohan dengan Adrian Wijaya, seorang Direktur muda yang dingin dan terkenal tidak menyukai wanita “cegil”. Namun pernikahan mereka hanyalah kontrak.
Alya yang sebenarnya cukup tenang justru berpura-pura menjadi istri paling menyebalkan agar Adrian segera menceraikannya.
Sayangnya rencananya gagal. Semakin Alya bersikap cegil, Adrian justru semakin sabar dan mulai melindunginya.
Ketika akting Alya berubah menjadi perasaan yang nyata, ia harus memilih: terus berpura-pura… atau mengakui bahwa ia tidak lagi ingin pernikahan kontrak itu berakhir.
Saksikan Terus Cerita ini, update setiap hari 💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Aksarasastra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi Ramen + Sushi
Restoran Jepang yang mereka datangi siang itu cukup ramai. Meja-meja kayu tertata rapi dengan lampu gantung hangat yang membuat suasana terasa nyaman. Aroma kaldu ramen dan tempura goreng memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang masuk langsung merasa lapar. Para pengunjung berbicara pelan sambil menikmati makanan mereka, menciptakan suasana santai yang hampir damai.
Sayangnya, kedamaian itu hanya bertahan sampai Alya membuka menu.
Ia memegang buku menu besar itu dengan mata berbinar seperti anak kecil yang baru menemukan toko permen. Bibirnya sedikit terbuka, sementara jarinya bergerak cepat menunjuk satu makanan ke makanan lain.
“Wah… ini juga ada,” gumamnya pelan.
Adrian duduk di seberangnya dengan tenang, memperhatikan Alya yang terlihat terlalu bersemangat hanya karena melihat gambar makanan.
“Alya mau ramen,” katanya tiba-tiba.
Ia langsung menunjuk gambar ramen dengan kaldu kental yang terlihat menggoda. Tanpa menunggu jawaban Adrian, ia menambahkan lagi dengan nada yang semakin ceria.
“Terus paket sushi juga. Sama tempura.”
Ia mengangkat wajah dari menu dengan ekspresi puas.
“Ah, hidup itu indah.”
Adrian hanya menutup menu dengan santai. Ia sudah terbiasa melihat Alya berbicara sendiri dengan antusias seperti itu.
Beberapa menit kemudian pelayan datang membawa pesanan mereka. Mangkuk ramen besar mengepulkan uap hangat, sementara piring sushi tersusun rapi seperti karya seni kecil. Tempura yang baru digoreng juga masih terlihat renyah dengan warna keemasan yang menggoda.
Namun yang paling menarik perhatian Alya adalah satu mangkuk kecil yang diletakkan di samping piringnya.
Salad Jepang.
Dengan saus wijen yang harum.
Pelayan itu berkata ramah, “Ini tambahan salad dari restoran kami.”
Mata Alya langsung membesar seperti lampu sorot.
“Gratis?”
Pelayan itu tersenyum. “Iya.”
Dalam satu detik, wajah Alya berubah menjadi sangat bahagia.
Namun kebahagiaan itu tidak berhenti di situ.
Di dalam kepala Alya, sebuah ide baru muncul dengan cepat. Ia melirik Adrian sebentar, lalu senyum kecil yang agak… jahat perlahan muncul di bibirnya.
“Kesempatan,” pikirnya.
Alya tiba-tiba berdiri dari kursinya dengan gerakan dramatis yang membuat beberapa orang di sekitar mereka menoleh.
“Terima kasih banyak!” serunya dengan suara penuh semangat.
Ia bahkan menangkupkan kedua tangan di depan dada lalu membungkuk dalam-dalam seperti orang yang sedang memberi hormat kepada raja.
Pelayan itu terlihat sedikit kaget.
Namun sebelum situasi kembali normal, Alya melakukan sesuatu yang jauh lebih mengejutkan.
Ia menunduk… lalu hampir bersujud di depan pelayan.
“Terima kasih atas salad gratis ini!” katanya dengan nada penuh drama.
Beberapa orang di meja sekitar langsung menoleh dengan ekspresi bingung.
Adrian menutup matanya sebentar.
Pelayan itu terlihat panik. “Ah, tidak perlu sampai begitt—”
Namun Alya sudah berdiri lagi dengan wajah sangat ceria.
Ia memegang mangkuk salad itu seperti piala kemenangan.
“Asyikkk!” serunya keras.
Lalu, tanpa diduga, ia menoleh ke arah seorang anak kecil yang kebetulan berjalan lewat bersama ibunya di sisi restoran.
Alya mengangkat mangkuk saladnya tinggi-tinggi seperti seseorang yang baru memenangkan lomba.
“Alya dapat salad gratis!” katanya dengan bangga.
Ia bahkan menjulurkan lidah sedikit.
“Wleee. Kalian enggak wlee.”
Anak kecil itu menatap Alya dengan ekspresi bingung.
Ibunya langsung menarik tangan anaknya sambil berjalan cepat menjauh.
Di meja mereka, Adrian hanya melihat sekilas ke arah Alya lalu kembali mengambil gelas airnya.
Ekspresinya tetap tenang.
Sangat tenang.
Namun di dalam kepalanya, ia sedang mencoba memahami bagaimana gadis di depannya bisa berubah dari wanita cerdas yang berbicara tentang teknologi dengan para direktur dua minggu lalu… menjadi orang yang pamer salad gratis kepada anak kecil di restoran.
Alya kembali duduk di kursinya dengan wajah sangat puas.
Di dalam hatinya, ia merasa strategi hari ini berjalan dengan sangat baik.
“Direktur Es Batu pasti malu sekarang,” pikirnya.
Namun ketika ia melirik Adrian, pria itu hanya terlihat biasa saja.
“Hmm,” gumam Alya dalam hati. “Belum cukup.”
Ia menatap mangkuk ramen di depannya.
Dan sebuah ide lain muncul.
Alya mengambil sumpit dengan ekspresi penuh tekad.
Baiklah.
Kalau Adrian tidak ilfil dengan adegan salad tadi… maka ia harus menaikkan level.
Ia mengaduk ramen itu sedikit, lalu mengambil mie dalam jumlah besar dengan sumpitnya. Gerakannya sengaja dibuat sedikit berlebihan.
Kemudian ia mulai makan.
Namun bukan makan biasa.
Ia makan dengan gaya yang sangat… rakus.
Alya menyedot mie dengan suara keras.
“Slurp!”
Ia bahkan mencondongkan tubuh ke depan seperti seseorang yang sudah kelaparan selama seminggu.
Mienya masuk ke mulut dengan cepat, sementara pipinya menggembung sedikit karena terlalu banyak makanan sekaligus.
Ia mengunyah dengan ekspresi yang sengaja dibuat terlalu menikmati.
“Hmmmm!” katanya dengan suara penuh drama.
Ia bahkan mengangguk-angguk sendiri seperti kritikus makanan profesional.
“Enak sekali!”
Beberapa orang di meja sebelah mulai melirik.
Namun Alya tidak peduli.
Ia sengaja makan seperti itu sambil sesekali mengelap bibir dengan gerakan dramatis.
Di seberangnya, Adrian memegang gelas airnya sambil memperhatikan adegan itu dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
Bukan kesal.
Bukan marah.
Lebih seperti… bingung.
Alya terus makan ramen dengan gaya berlebihan. Ia menyedot mie dengan suara keras, mengunyah dengan ekspresi puas, bahkan sesekali menghela napas seperti seseorang yang benar-benar menikmati makanan terbaik di dunia.
Setelah beberapa menit, mangkuk ramen itu akhirnya hampir kosong.
Alya meletakkan sumpitnya dengan bangga.
Namun misinya belum selesai.
Ia menatap piring sushi di depannya.
Dan senyum kecil kembali muncul di bibirnya.
“Level berikutnya,” pikirnya.
Alya mengambil satu potong sushi dengan sumpitnya. Gerakannya kali ini jauh lebih lambat… hampir seperti adegan film romantis yang terlalu dramatis.
Ia membawa sushi itu mendekat ke bibirnya.
Lalu berhenti.
Alya menatap sushi itu dengan mata setengah tertutup, seolah sedang mengagumi keindahan sebuah karya seni.
Kemudian ia membuka bibirnya perlahan.
Gerakannya sengaja dibuat sangat… sensual.
Ia memasukkan sushi itu ke dalam mulut dengan satu gigitan elegan.
Lalu ia mulai mengunyah.
Namun cara ia mengunyah benar-benar berlebihan.
Bibirnya dimonyong-monyongkan sedikit.
Matanya menyipit.
Ia bahkan mengeluarkan suara kecil seperti seseorang yang sedang menikmati sesuatu dengan sangat dalam.
“Mmm…”
Di seberangnya, Adrian yang sedang minum air tiba-tiba berhenti.
Ia menatap Alya dengan ekspresi yang berubah sangat aneh.
Alya mengambil sushi kedua.
Kali ini gerakannya bahkan lebih dramatis.
Ia memiringkan kepala sedikit, lalu menggigit sushi itu dengan ekspresi yang… terlalu menggoda untuk seseorang yang sedang makan siang biasa.
Bibirnya kembali dimonyongkan.
Ia bahkan mengunyah perlahan sambil menatap Adrian seperti sedang melakukan pertunjukan aneh.
Dan pada saat itulah…
Adrian tidak tahan lagi.
Air yang sedang ia minum tiba-tiba tersembur keluar.
“Pfftt—!”
Semburan air itu langsung mengenai wajah Alya.
Beberapa tetes bahkan mengenai rambutnya.
Seluruh restoran tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Alya duduk diam dengan wajah basah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu perlahan… senyum sangat lebar muncul di wajahnya.
Di dalam hati, Alya hampir melompat kegirangan.
“Berhasil!”
Ia mengusap air di pipinya sambil tertawa kecil.
“Alya tahu!” katanya dengan suara ceria.
Ia menunjuk Adrian dengan sumpit.
“Kamu pasti ilfil kan sama Alya?!”
Alya terlihat sangat bahagia, seolah baru saja memenangkan kompetisi besar.
Sementara itu, Adrian duduk kaku di kursinya.
Ia sebenarnya tidak ilfil.
Ia hanya… merinding.