lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 18
Kolonel Vane terhuyung di balik jubah abu-abunya, sementara unit robot di belakangnya mendesis, mengeluarkan uap panas karena sistem hidroliknya terkunci mendadak. Di sisi laut, sosok Pesisir itu mundur beberapa langkah, pendar hijau di tubuh mereka meredup seolah-olah frekuensi yang baru saja dilepaskan Jek adalah racun bagi kesadaran kolektif mereka.
"Kau... apa yang kau lakukan?" Vane menggeram, tangannya meraba pistol manual di pinggangnya. "Itu bukan kekuatan Sistem. Sistem tidak memiliki frekuensi netral seperti itu!"
"Ini bukan tentang Sistem," Jek menjawab, suaranya terdengar jauh namun sangat jernih. Tangannya yang memegang tongkat besi kini tidak lagi gemetar. "Ini tentang hak untuk tetap menjadi manusia di dunia yang kalian paksa untuk berubah."
Namun, di tengah ketegangan itu, salah satu ajudan Vane yang berada di kegelapan melihat celah. Ia tidak mengincar Jek. Ia tahu Jek terlalu berbahaya untuk diserang secara langsung. Ia mengarahkan pelontar kabel penjerat ke arah Rara yang berdiri di dekat akar utama.
Wush!
Kabel baja tipis melesat cepat, melilit bahu Rara dan menariknya dengan sentakan keras ke arah barisan pasukan Ares.
"Rara!" Maya berteriak, mencoba menggapai tangan Rara namun gagal.
"Jek!" jerit Rara saat tubuhnya terseret di atas tanah yang kasar.
Konsentrasi Jek pecah seketika. Gelombang frekuensi perak yang menahan kedua faksi itu bergetar hebat lalu lenyap. Pendar hijau kaum Pesisir kembali menyala dengan kemarahan, dan robot milik Vane mulai bergerak kembali saat tekanannya pulih.
"Lepaskan dia!" Jek meraung. Ia hendak berlari, namun sosok Pesisir itu meluncur cepat menghalangi jalannya, tangan mereka yang berselaput berubah menjadi bilah kristal tajam.
"Dia harus menjadi bagian dari kami agar kau tidak menghancurkan dunia ini, Pewaris!" suara kolektif itu bergema penuh ancaman.
Jek terjebak dalam dilema yang mematikan. Jika ia mengejar Rara, kaum Pesisir akan menyerang warga dari belakang. Jika ia melawan kaum Pesisir, Rara akan dibawa masuk ke dalam benteng Ares sebagai sandera abadi.
Dalam sepersekian detik, Jek menatap Maya. Maya mengerti arti tatapan itu. Ia segera menempelkan telapak tangannya ke akar utama, menggunakan sisa energinya untuk menciptakan perisai statis kecil guna melindungi warga.
"Pergi, Jek! Selamatkan Rara!" teriak Maya dengan wajah yang kian pucat.
Jek tidak lagi berlari seperti manusia biasa. Ia mengalirkan seluruh energi di sarafnya ke otot kaki. Setiap langkahnya meninggalkan jejak hangus di pasir. Ia menerjang melewati barisan kaum Pesisir dengan kecepatan yang membuat udara di sekitarnya berdentum.
Vane tertawa dingin di balik masker tempurnya. "Bawa wanita itu masuk! Tutup gerbang baja!"
Jek melihat gerbang besar pelabuhan mulai bergerak menutup. Rara sudah berada di balik garis baja itu. Dengan sisa kekuatan yang ia miliki, Jek melemparkan tongkat besinya ke arah celah gerbang yang kian menyempit.
Duar!
Tongkat itu terjepit di antara pintu baja, menahan penutupannya hanya selebar satu meter. Jek melompat, meluncur masuk tepat sebelum pintu itu benar-benar mengunci karena tekanan hidrolik yang dipaksakan.
Kini, Jek berada di dalam wilayah musuh—seorang diri, tanpa senjata, dikelilingi oleh dinding besi dan ratusan prajurit Ares, sementara Rara dibawa pergi menuju menara pusat benteng.
"Selamat datang kembali di rumah, Kaisar tanpa mahkota," suara Vane bergema di koridor logam yang dingin. "Mari kita lihat seberapa besar nuranimu bisa bertahan tanpa ruang untuk bernapas."
Lampu-lampu neon di langit-langit koridor berkedip tidak stabil, memantulkan bayangan Jek yang memanjang di atas lantai logam yang dingin. Ia berdiri diam, mengatur napasnya yang terasa berat. Udara di dalam benteng ini tidak segar; baunya seperti oli mesin, logam berkarat, dan keputusasaan yang terpendam.
"Target terkunci di sektor satu!" teriakan dari radio panggil bergema di lorong.
Jek tidak menunggu. Ia bergerak bukan dengan logika mesin, melainkan dengan insting seorang pemburu. Ia menyusup ke dalam celah ventilasi raksasa, merayap di antara kabel-kabel tebal yang tidak lagi dialiri data Sistem, melainkan hanya arus listrik kasar.
Tiba-tiba, dari kegelapan di ujung lorong ventilasi, sepasang mata merah kecil menyala. Jek bersiap melepaskan pukulan, namun sebuah tangan mekanik yang ringkih menahan lengannya.
"Ssssh... jika kau meledakkan energi lagi, mereka akan mengunci oksigen di blok ini," bisik sebuah suara serak.
Seorang pria tua dengan pakaian teknisi yang sudah compang-camping merangkak keluar dari bayang-bayang. Setengah wajahnya ditutupi oleh masker oksigen tua, dan lengannya adalah prostetik kasar yang terbuat dari barang bekas.
"Siapa kau?" desis Jek.
"Aku? Aku adalah orang yang membangun dinding-dinding ini sebelum Ares mencurinya," pria itu terbatuk kecil. "Namaku Danu. Kami adalah kelompok 'Hantu Mesin'. Para teknisi yang menolak bekerja untuk Vane dan kini hidup di antara celah-celah dinding ini seperti tikus."
Danu menatap tangan Jek yang masih memiliki bekas luka bakar perak. "Aku tahu siapa kau. Dan aku tahu wanita yang mereka bawa itu. Dia ada di Level 4, di ruang dekontaminasi. Vane ingin mengekstrak sisa-sisa 'benih' Jaringan Hijau yang sempat masuk ke tubuhnya."
"Mereka menyakitinya?" suara Jek mendingin, dan udara di sekitarnya mulai bergetar.
"Belum. Tapi mereka akan melakukannya segera setelah generator cadangan mencapai daya penuh," Danu menunjuk ke arah kabel besar di bawah mereka. "Kami bisa membantumu, Jek. Kami punya akses ke sistem hidrolik gerbang dalam. Tapi sebagai gantinya, kau harus menjanjikan satu hal."
"Apa?"
"Hancurkan inti generator Ares. Jangan hanya ambil wanitamu dan lari. Bebaskan tempat ini dari kegelapan besi ini. Kami ingin melihat matahari lagi, Jek. Bukan hanya cahaya lampu neon ini."
Jek terdiam sejenak. Ia merasakan denyut energi di dinding-dinding benteng. Ia tahu bahwa menghancurkan generator berarti ia harus melepaskan seluruh energi yang tersisa di dalam sarafnya, yang mungkin akan membuatnya kehilangan kesadaran—atau lebih buruk, kehilangan kemanusiaannya lagi.
"Bawa aku ke sana," ucap Jek tegas. "Aku akan memberikan kalian matahari kalian."
Dengan bantuan Danu, Jek bergerak melewati rute-rute rahasia yang tidak terdeteksi radar Ares. Mereka sampai di depan pintu baja tebal ruang dekontaminasi. Jek bisa mendengar suara mesin berdengung dan teriakan tertahan Rara dari dalam.
Kemarahan Jek memuncak. Ia tidak lagi peduli pada persembunyian. Ia menempelkan kedua telapak tangannya ke pintu baja itu.
"Danu, menjauh!"
Jek tidak hanya melepaskan listrik; ia menarik seluruh energi statis dari struktur bangunan di sekitarnya. Lampu-lampu di sepanjang koridor meledak satu per satu, menciptakan gelombang kegelapan yang menjalar cepat. Pintu baja itu mulai membara merah, lalu melengkung dan terlempar dari engselnya oleh tekanan magnetik yang luar biasa.
Jek melangkah masuk ke dalam ruangan yang dipenuhi uap putih. Di sana, Rara terikat di atas kursi logam, dikelilingi oleh robot-robot medis yang siap membedahnya. Kolonel Vane berdiri di sudut, memegang sebuah tablet kendali.
"Terlambat, Jek," Vane tersenyum di balik maskernya. "Satu tekan tombol, dan aku akan menyuntikkan serum pemutus saraf ke tulang belakangnya."
Jek berhenti. Tangannya masih berpendar perak, menyinari ruangan yang gelap. "Vane... lihat ke sekelilingmu. Kamu tidak punya daya lagi. Aku sudah menarik semuanya."
"Aku punya generator manual, ingat?" Vane mengangkat tabletnya. "Pilih, Jek. Wanitamu, atau misimu untuk menghancurkan benteng ini?"
Di belakang Jek, Danu muncul dengan sebuah pemantik api tua di tangannya, menatap ke arah tangki bahan bakar cadangan di sudut ruangan.