NovelToon NovelToon
Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Penghangat Ranjang Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Enemy to Lovers
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Cherry Anabell kerap menjadi sasaran kekerasan keluarganya. Ia dirundung, dipukul, dikurung, bahkan dipaksa menikah dengan pria yang hampir dua kali usianya demi uang.

Namun semuanya berubah ketika Cavell Rose, Capo dei Capi yang paling ditakuti di dunia mafia, datang ke rumahnya.

Tanpa penjelasan, Cavell membawanya pergi. Awalnya ia berniat menjodohkan Cherry dengan sahabatnya. Namun semakin lama Cherry berada di dekatnya, semakin sulit bagi Cavell untuk mengabaikan perasaannya.

୨ৎ MARUNDA SEASON V ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menikah?

...୨ৎ──── C A V E L L ────જ⁀➴...

Selama penerbangan helikopter menuju SCBD, pikiranku kembali ke malam sebelumnya.

Aku sempat memergoki Cherry berjalan diam-diam di dalam rumah lewat tengah malam. Tapi saat dia hanya mengambil sesuatu untuk dimakan lalu kembali ke kamar, aku kembali ke ruang kaca.

Selama satu jam aku terus memikirkan robe satin yang dia pakai dan bagaimana kain itu bergerak mengikuti tubuhnya saat dia berjalan. aku sempat melihat sekilas kakinya yang ramping dan celana pendeknya yang sangat menggoda.

Saat akhirnya aku pergi tidur, pikiranku masih gelisah.

Helikopter mendarat di helipad dan aku langsung tersadar dari lamunan.

Aku membantu Mamma turun dari helikopter lalu mengantarnya ke lift, dengan Riffe berjalan di belakang kami. Aku memberi Vloo libur setengah hari yang jarang terjadi supaya dia bisa menghabiskan waktu dengan Mamanya.

Kami tetap diam selama perjalanan ke basement. Saat pintu lift terbuka, aku melihat Torra dan Larron sudah menunggu di dekat SUV.

Mereka memberi isyarat kepada kelompok penjaga lain bahwa kami akan berangkat. Riffe membuka pintu belakang mobil.

Begitu kami duduk, dengan Mama di antara aku dan Riffe, Larron menyalakan mesin.

Torra menoleh dari kursi penumpang. “Bagaimana kabar mu, Nyonya Rose?”

“Aku baik,” jawab Mamma. “Senang bisa menghabiskan waktu dengan anakku. Bagaimana kakimu? Kamu sudah mencoba merendamnya dengan garam Epsom?”

“Sudah, terima kasih. Itu membantu, dan kakiku jauh lebih baik.”

“Syukurlah.” Dia sedikit memiringkan kepala. “Bagaimana orang tuamu, Larron?”

“Mereka baik, Nyonya Rose.”

Setelah semua basa-basi itu, Mamma bersandar santai di sampingku.

Sepanjang perjalanan, suasana di mobil menjadi sunyi. Saat kami tiba di Yukhaejang, restoran milik Quinn, aku membuka pintu SUV dan turun.

Aku mengamati sekeliling untuk memastikan Gak ada ancaman sebelum membantu Mamma turun ke trotoar.

Braun sudah menunggu di pintu masuk. Saat kami mendekat, dia berkata, “Wah, siapa wanita cantik di lenganmu ini, Bro?”

“Ah, Braun,” Mamma tertawa.

Braun membungkuk dan mencium kedua pipinya. “Senang ketemu lagi dengan mu, Nyonya Rose.”

Aku menjabat tangan Braun sebelum kami masuk ke restoran.

“Cavell bilang kamu akhirnya menemukan orang yang tepat,” kata Mamma saat Braun memandu kami menuju ruang privat.

“Iya. Malam ini kita akan bertemu Quinn,” jawabnya. Matanya sempat melirik ke arah aku sebelum dia menambahkan, “Kamu sedikit terlambat ketemu Farris. Dia tadi di sini sama pacarnya.”

“Oh?” Alis Mamma terangkat. “Dia sedang kencan dengan seseorang?”

“Iya. Satu per satu dari kita mulai tumbang nih.”

Astaga. Sekarang Mama pasti akan membicarakan hal ini sepanjang makan malam.

Kami masuk ke ruang privat. Aku menarik kursi dan membantu Mamma duduk.

Sambil membuka kancing jas, aku menatap Braun. “Kamu yang bakal melayani kami?”

“Kamu berharap begitu,” dia tertawa. “Kristiana bakal datang sebentar lagi.”

Aku mengangguk lalu duduk.

“Selamat menikmati,” kata Braun sebelum meninggalkan kami.

Karena aku tahu, Mama juga ingin tahu suasana di sini, jadi aku menjelaskan, “Kita ada di ruang privat. Dindingnya dihiasi bambu dan ada lentera. Suasananya cukup melow.”

“Mmm.” Senyum kecil muncul di bibirnya saat tangannya menyentuh meja dengan hati-hati untuk memastikan posisi barang-barang. “Terima kasih sudah bawa Mama ke sini.”

“Sama-sama,” gumamku sambil menatap wajahnya.

Walaupun usianya lima puluh tujuh tahun, wajahnya masih terlihat sangat muda sampai dia bisa saja dianggap kakak perempuanku.

Tatapanku berhenti pada bekas luka di pelipisnya, dan kemarahan langsung menyala di dadaku.

Orang tuaku menikah saat dia baru berusia delapan belas tahun. Itu terjadi melawan keinginannya, dan dia menderita selama sembilan belas tahun sebelum akhirnya aku menghentikan semua kekerasan itu.

Sejak saat itu, segala bentuk kekerasan selalu memicu trauma baginya.

Aku berusaha membuat hidupnya setenang mungkin, tapi kejadian hari Sabtu benar-benar di luar kendaliku. Aku hanya berharap hal itu Gak memengaruhinya terlalu dalam.

“Gimana keadaan MaMa?” tanyaku.

Dia mengerutkan kening. “Kamu tahu Mama baik-baik aja. Kenapa kamu bertanya?”

“Cuma memastikan. Sudah jadi tugas aku memastikan Mama bahagia.”

“Mama bahagia,” katanya meyakinkan. Senyumnya melebar. “Jadi ... Farris sedang berkencan dengan seseorang.”

“Aku juga dengar,” gumamku, sudah tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Dia mengangkat alis. “Kamu satu-satunya Bos yang masih lajang.”

“Iya.”

“Apa kamu akan mempertimbangkan menikahi Cherry?”

Aku menghela napas, tapi sebelum aku sempat menjawab, pelayan masuk.

Dia menjelaskan menu spesial lalu mencatat pesanan kami sebelum keluar.

“Jadi?” Mamma mengingatkan bahwa aku belum menjawab.

“Aku belum memikirkannya,” Aku berbohong, karena sebenarnya pikiran itu sudah muncul lebih dari sekali akhir pekan ini.

“Kamu seharusnya mempertimbangkannya. kamu udah tua dan Cherry gadis yang menyenangkan.”

“Mama suka menghabiskan waktu dengannya?” tanya aku.

“Iya. Rasanya dia cocok dengan kita. Mama bahkan Gak perlu menghiburnya.”

“Itu bagus,” gumamku sambil melihat sekeliling ruangan.

Saat pelayan membawa minuman kami, aku memesan sushi karena aku tahu Mamma sangat menyukainya walaupun jarang bisa menikmatinya.

Begitu kami kembali berdua, dia bertanya, “Gimana bisnisnya?”

“Baik.” Senang topiknya berubah, aku melanjutkan, “Hotel hampir selesai, dan aku beli tanah di depannya. Mungkin aku bakal buka restoran lagi.”

“Gimana dengan sisi bisnis yang lain?” tanyanya.

“Semuanya terkendali,” jawabku, Gak ingin memberi detail.

Mamma mengangguk lalu meneguk anggurnya.

Kami terdiam sejenak sebelum dia bertanya, “Gimana Remy dan Tully?”

“Mereka baik. Sekarang sibuk mengurus bayi.”

“Kamu harus mengundang mereka. Aku ingin menghabiskan waktu dengan Rainn, Lyorr, dan bayi-bayi itu.”

Gak ingin berjanji apa pun, aku hanya berkata, “Aku lihat nanti.”

Keheningan muncul di antara kami, dan pikiranku kembali ke Cherry.

aku harus segera memutuskan masa depannya.

Apakah aku harus menikahinya?

Dia tampaknya cocok dengan Mama dan Bibi Keii.

Dia cantik.

Ototku langsung menegang hanya dengan memikirkan itu.

“Ada apa?” tanya Mamma.

“Gak ada,” gumamku. Aku menarik napas dalam sebelum mengaku, “Aku lagi coba memutuskan apa yang harus aku lakuin dengan Cherry.”

Mamma mengulurkan tangan. Saat aku menggenggamnya, dia menekan tanganku lembut. “Kamu juga berhak merasakan kebahagiaan.”

“Mama pikir pernikahan akan bikin aku bahagia?”

Mamma berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau kamu bisa belajar mencintai istrimu, dan dia mencintaimu, pernikahan bisa membawa banyak kebahagiaan.”

Remy dan Tully terlihat sangat bahagia dengan istri mereka.

Aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan. “Aku bakal mempertimbangkan untuk menikah dengan Cherry.”

Senyum langsung muncul di wajah Mamma. “Bagus.”

Pelayan membawa makanan kami. Saat dia pergi, aku berkata, “Piringnya berbentuk persegi panjang dengan sushi tersusun dalam satu baris.”

“Baik,” jawab Mamma.

Kami menikmati makanan sementara pikiranku terus kembali pada kemungkinan pernikahan yang akan diatur dengan Cherry.

Dia Gak ingin kembali ke orang tuanya, jadi aku sembilan puluh persen yakin dia akan setuju dengan kesepakatan itu.

Ada ketertarikan di antara kami. Mungkin kami bisa membangun persahabatan atau setidaknya hubungan yang nyaman.

Itu kalau dia Gak terus melawanku.

Aku akan memberi diriku waktu seminggu atau lebih sebelum mengambil keputusan.

1
Muft Smoker
next kak ,, cerita ny bagus
Ra
good
Rin Jarin
keren
Aditya hp/ bunda Lia
niat mau dijodohin sama farris tapi malah jadi nya sama dia sendiri ... 😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!