Alicia Roses hidup di panti asuhan sejak dia berumur lima tahun, setelah kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan.
Bibinya Melinda Stone merampas seluruh harta warisan milik Alicia dan membuang Alicia kecil ke panti asuhan.
Hidup selama dua puluh lima tahun dengan membawa dendam, untuk memuluskan rencana balas dendam nya Alicia menerima lamaran dari pria yang sangat terobsesi dengan nya.
Revano Ace Draco pria gila yang memiliki kekuasaan mengerikan di dunia gangster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma Nirmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
01
...****************...
Langit sore masih menyisakan warna jingga ketika mobil hitam itu melaju meninggalkan pantai. Aroma asin laut masih melekat di rambut kecil Alicia Roses, gadis lima tahun yang duduk di kursi belakang sambil memeluk boneka beruangnya yang berpasir.
“Ayah, kita kapan ke pantai lagi?” tanyanya riang.
“Saat putri kecil Ayah dapat nilai bagus di sekolah,” jawab sang ayah sambil tersenyum melalui kaca spion.
Ibunya tertawa pelan. “Dia baru lima tahun, Yah.”
Mobil melaju stabil, suara mesin lembut berpadu dengan tawa kecil mereka.
" Kalau begitu aku akan rajin belajar." ucap Alicia dengan keteguhan.
" Tentu sayang.., putri ayah memang sangat pintar." puji sang ibu
Jalanan mulai berubah,dari ramai menjadi lengang. Gedung-gedung tergantikan pepohonan tinggi yang rapat, bayangannya menjulur panjang menelan cahaya sore.
Untuk mengusir sunyi, mereka bernyanyi bersama. Lagu anak-anak yang sederhana dan ceria. Alicia bertepuk tangan kecil mengikuti irama, suaranya melengking polos.
" Waaah, hutannya sangat gelap, Aku jadi takut." ucap Alicia kecil sembari melihat suasana hutan yang dilewati.
Ibu Alicia menengok ke belakang, ke arah Alicia dengan senyuman hangat.
" Tidak perlu takut, ada ibu dan ayah yang selalu menjaga Alicia sampai kapanpun."
" itu benar, jadi putri kecil ayah jangan takut." sahut ayah Alicia.
" Yeahhh..!, kalau begitu aku tidak akan takut lagi."
" Tapi Alicia tidak boleh masuk ke hutan sendirian yah, itu bukan tempat bermain anak-anak." jawab ibu Alicia.
Alicia pun mengangguk setuju. " baik ibu..!"
Namun perlahan, alis sang ayah berkerut, saat melihat dari kaca spion.
Di kaca spion, sepasang lampu mobil tampak konsisten mengikuti. Terlalu konsisten.
Mobil itu menjaga jarak. Tidak mendahului. Tidak tertinggal.
“Sejak tadi mobil itu di belakang kita,” gumamnya pelan.
Istri di sampingnya menoleh sebentar. “Mungkin cuma kebetulan, jalannya memang satu arah ke kota.”
Sang ayah tak menjawab. Tangannya menggenggam kemudi sedikit lebih erat.
" Mungkin hanya perasaanku saja."
Jalan semakin menyempit. Di kiri jurang gelap menganga, di kanan hutan lebat tanpa penerangan. Tak ada rumah. Tak ada warung. Tak ada kendaraan lain.
Nyanyian mereka mulai mereda.
Dan tiba-tiba..
BRAKK!
Sebuah benturan keras mengguncang mobil dari belakang.
Alicia terlempar ke depan tertahan sabuk pengaman. Boneka beruangnya jatuh. Kaca belakang retak, lalu pecah berkeping-keping.
“AYAHHH!” teriak Alicia, suaranya pecah oleh ketakutan.
Mobil kembali dihantam.
BRAK!
Ibunya menoleh panik, tangannya terulur ke belakang berusaha meraih tubuh kecil Alicia. “Alicia! Pegang sabukmu, Sayang!”
Sang ayah menginjak gas, mencoba menstabilkan mobil yang oleng. Ban berdecit keras di aspal.
“Kencangkan sabukmu!” teriaknya, napasnya memburu.
Mobil di belakang itu tak memberi ampun. Lampunya menyilaukan, mesinnya meraung seperti binatang buas yang lapar.
Kejar-kejaran dimulai.
Kecepatan meningkat. Jalan sempit. Jurang di kiri semakin dekat. Sang ayah berusaha menghindar, memutar kemudi, menjaga agar mobil tidak terperosok.
Alicia menangis tersedu, tubuh kecilnya gemetar hebat. Ibunya akhirnya setengah berdiri dari kursinya, memutar badan, memeluk Alicia sekuat yang ia bisa meski sabuk masih menahannya.
“Tidak apa-apa sayang, Mama di sini..” suaranya bergetar.
Tiba-tiba dari tikungan tajam di depan.
Sebuah mobil lain muncul dari arah samping.
Semuanya terjadi dalam hitungan detik.
Klakson memekik keras di gelapnya malam.
Lampu sorot menyilaukan mata.
Dan..
DUAARR!
Benturan keras dari samping menghantam sisi mobil mereka. Tubuh mobil terangkat sedikit, lalu kehilangan keseimbangan.
“Aliciaaa!” teriak kedua orangtuanya hampir bersamaan.
Mobil terguling beberapa kali
Sekali.
Dua kali.
Suara logam tergerus batu dan tanah.
Beberapa saat kemudian..
Hening....
Mobil itu terperosok masuk ke jurang, berhenti dalam posisi miring di antara pepohonan yang patah.
Asap tipis mengepul dari kap mesin.
Di dalam mobil yang remuk, terdengar suara kecil terisak.
“Ayah.. Ibu..”rintih Alicia kecil.
Tangan kecil Alicia masih digenggam erat oleh ibunya.
Di atas sana, di jalan sunyi yang dikelilingi hutan, kedua kendaraan misterius itu berhenti sesaat. Lampu mereka menyinari jurang gelap.
Lalu perlahan, keduanya pergi.
Meninggalkan senja yang kini berubah menjadi malam.
...****************...