NovelToon NovelToon
Tumbal Di Akar Randu

Tumbal Di Akar Randu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Misteri
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: kegelapan malam

Seorang wanita bernama Nirmala harus kembali ke desa terpencil tempat kakeknya tinggal setelah menerima surat misterius. Di desa itu, ada mitos tentang "Wewe Putih", sosok yang konon mencuri anak-anak, namun hanya anak yang "dilupakan" oleh keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kegelapan malam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, tapi bagi Nirmala, kota ini telah mati sejak enam bulan lalu. Dari jendela apartemennya di lantai lima belas, lampu-lampu jalanan tampak seperti kunang-kunang yang terperangkap dalam botol kaca raksasa berkelap-kelip namun tanpa nyawa. Suara deru kendaraan di bawah sana hanya terdengar seperti dengung statis yang tak berarti, sebuah kebisingan yang justru mempertegas kesunyian di dalam dadanya.

​Nirmala menyesap teh melati yang sudah mendingin hingga menyisakan rasa pahit di pangkal lidah. Matanya yang sembap dan menghitam menatap kosong ke arah kursi kayu panjang di sudut ruang tamu. Dahulu, di sana ayahnya sering duduk sambil membacakan potongan berita koran, sementara ibunya sibuk menata bunga krisan di atas meja. Tawa mereka adalah musik latar yang paling indah hangat, tulus, dan menenangkan. Namun kini, yang tersisa hanyalah debu yang menari di bawah sorot lampu remang dan aroma kesepian yang menyesakkan dada.

​Kematian orang tuanya dalam kecelakaan beruntun di tol Cipularang enam bulan lalu bukan hanya merenggut nyawa mereka, tapi juga merenggut seluruh dunianya. Nirmala merasa seperti astronot yang tali pengamannya putus, melayang tanpa arah di ruang hampa yang gelap, jauh dari gravitasi kehidupan. Ia sering terbangun di tengah malam, mengira mendengar suara ibunya memanggil dari dapur, hanya untuk menemukan dapur yang dingin dan tumpukan piring kotor yang belum ia sentuh selama berhari-hari.

​Tok. Tok. Tok.

​Ketukan di pintu apartemennya membuyarkan lamunan kelam itu. Nirmala mengerutkan kening. Jam dinding digital di atas meja TV menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas malam. Ia tidak mengharapkan tamu. Teman-teman kantornya sudah lama berhenti berkunjung setelah merasa jengah dengan duka Nirmala yang tak kunjung usai.

​Saat ia membuka pintu, sosok jangkung dengan jaket denim belel berdiri di sana. Arka. Satu-satunya manusia yang masih betah berada di sisi Nirmala, meski Nirmala sering kali hanya diam membisu seperti batu.

​"Aku membawakan martabak manis. Keju cokelat, kesukaanmu," kata Arka tanpa basa-basi. Ia langsung masuk seolah itu adalah rumahnya sendiri.

​Arka bukan pemuda biasa. Ada sesuatu pada tatapannya yang selalu membuat Nirmala merasa seolah ia sedang dipindai oleh alat rontgen gaib. Arka memiliki "kelebihan" sebuah kemampuan untuk melihat benang-benang merah nasib atau residu energi yang tidak bisa dilihat orang awam. Sejak Nirmala berduka, Arka semakin sering datang. Arka tidak pernah mengatakannya, tapi Nirmala tahu Arka mencium bau bahaya yang mulai mendekat ke arahnya.

​"Masuklah," gumam Nirmala lirih. Suaranya serak karena jarang digunakan.

​Di meja makan yang terbuat dari granit hitam, Arka tidak langsung membuka bungkusan martabaknya. Ia justru mengeluarkan sebuah amplop cokelat kusam dari saku dalam jaketnya. Amplop itu terlihat sangat kontras di atas meja modern Nirmala terlihat kuno, kotor, dan seolah membawa hawa dingin yang merayap.

​"Ini ada di kotak surat bawah. Tidak ada prangko, tidak ada nama pengirim yang jelas. Hanya namamu," Arka menggeser amplop itu. Tangannya tertahan sejenak di atas kertas cokelat tersebut. Wajahnya yang biasanya santai kini berubah pucat.

​Nirmala memperhatikan jemari Arka yang sedikit bergetar. "Ada apa, Arka?"

​"Nir, aku tidak suka energi yang keluar dari kertas ini," bisik Arka. Matanya menatap amplop itu seolah-olah benda itu bisa meledak kapan saja. "Rasanya... seperti tanah basah yang baru digali dan sesuatu yang sudah lama membusuk di bawah sana. Jangan dibuka jika kau tidak siap."

​Nirmala tidak mendengarkan. Dengan tangan gemetar, ia merobek ujung amplop itu. Bau apek yang tajam segera menyeruak bau lemari tua yang lembap bercampur aroma bunga melati yang hampir busuk. Di dalamnya terdapat selembar kertas tua yang pinggirannya sudah hancur, dengan tulisan tangan yang kaku, tajam, dan seolah ditekan dengan kemarahan.

...​“Darah kembali ke akar. Ayahmu pergi tanpa membayar hutang ingatan. Datanglah ke Desa Sandiwayang sebelum purnama jatuh. Kakekmu menunggu di rumah kayu bawah pohon randu alas. Jangan membawa cahaya, karena mereka lebih suka kegelapan.”...

​Nirmala membacanya berkali-kali. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya. "Sandiwayang? Ayah pernah bercerita mereka berasal dari desa kecil, tapi kakek... bukankah kakek sudah meninggal saat aku masih bayi? Ayah bilang begitu."

​"Firasatku mengatakan tidak" Arka menatap Nirmala tajam. Tatapan psikisnya kini bekerja penuh. "Nir, coba ingat kembali. Kau selalu merasa ada yang hilang dari ingatanmu tentang masa kecilmu sebelum pindah ke Jakarta, bukan? Kau merasa masa bahagiamu di kota ini seolah-olah dimulai dari ketiadaan, seperti film yang tiba-tiba dimulai di tengah-tengah."

​Nirmala terdiam. Ia mencoba menggali memorinya. Arka benar. Memorinya tentang masa kecil sangat buram, seolah-olah hidupnya baru benar-benar dimulai saat ia berusia tujuh tahun, tepat saat ia pertama kali menginjakkan kaki di apartemen ini bersama orang tuanya. Ia tidak ingat taman kanak-kanaknya. Ia tidak ingat bau rumah lamanya. Ia hanya ingat kilasan kabut dan suara gesekan kayu yang nyaring.

​"Aku harus pergi, Arka. Surat ini... surat ini menyebutkan hutang ayah. Jika ini ada hubungannya dengan alasan mengapa aku merasa tidak utuh, aku harus tahu. Aku bosan menjadi orang asing di dalam kepalaku sendiri," tegas Nirmala.

​"Aku akan ikut" Arka menyambar kunci motornya yang ia letakkan di meja. "Bukan sebagai teman yang menemani perjalanan wisata, tapi sebagai seseorang yang akan memastikan kau tidak terjebak dalam mitos yang kau sendiri tidak tahu cara melawannya. Energi di surat ini... ini adalah peringatan, Nir. Bukan undangan."

​Malam itu, di tengah hujan yang mulai mengguyur Jakarta dengan lebat, Nirmala mulai mengemas pakaiannya ke dalam ransel hitam. Tangannya bergerak mekanis, namun pikirannya melayang jauh. Di sela-sela baju, ia menyelipkan sebuah foto lama yang selalu ia simpan di laci paling bawah. Foto itu menunjukkan ayah dan ibunya tertawa di depan sebuah rumah kayu besar yang dikelilingi kabut tebal.

Di belakang foto itu, terdapat catatan kecil dengan tinta merah tua, hampir menyerupai warna darah kering: Jangan pernah kembali ke Sandiwayang.

​Nirmala menelan ludah. Ia merasa foto itu seolah-olah berdenyut di tangannya. Namun, rasa ingin tahu Nirmala keinginan untuk merasa "lengkap" jauh lebih besar daripada rasa takutnya yang mulai membeku.

​Ia tidak menyadari bahwa saat ia menutup ranselnya, di balik bayangan apartemennya yang remang-remang, di sudut plafon yang tidak terjangkau lampu, sesuatu yang putih dan tak berwajah sedang memperhatikannya. Sosok itu tampak seperti kain kafan yang melayang, tersenyum tanpa mulut, seolah sedang menyambut kepulangan sang "anak hilang" ke tempat di mana ingatan bukan untuk disimpan, melainkan untuk ditumbalkan kepada akar yang lapar.

​"Arka, apa kau merasa... ada seseorang di sini?" bisik Nirmala tiba-tiba.

​Arka berdiri di ambang pintu kamar, wajahnya tegang. Ia memegang bandul batu hitam di lehernya. "Jangan menoleh ke belakang, Nir. Ambil tasmu. Kita pergi sekarang. Kita sudah terlambat satu detik untuk merasa aman."

1
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apa pula judul nya happy ied mubarak😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
janji apa?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
putri duyung? 😱
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
semoga berhasil nir
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah disana akan aman?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pasti ibu Lastri mau putra nya sembuh
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
kenapa hrus berbohong
≛⃝⃕|ℙ$°Siti ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©☆⃝𝗧ꋬꋊ
Sehat² ya othor tayang, kutunggu kelanjutan ceritamu😘
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: terimakasih 🥰😘
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan di panen, bengekkk
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
fokuss nirr fokuss
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ihhh kok ngerii
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: ihhh masa sih😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
susah sih bagi nirmala jika dia tidak memikirkan itu, pasti di memilkirkan itu terus
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen aku tendang kauuu nirmala
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
pengen ku tabokkk kau nirmallaa
≛⃝⃕|ℙ$ 𝐀⃝🥀MEI_HMMM: tabok tabok🤣😭
total 1 replies
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apaan sih nirmalaa lelet amatt
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishh kok ngeri kali
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ishhh napa pula ini mumcull
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
ada apa di sandiwayang?
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
nirmala jadi.... tumbal gegara utang ayahnya, kenapa harus di jadikan tumbal ihhh 😭
zc❖🍾⃝ ʙͩᴜᷞɴͧɴᷡʏͣˢ⍣⃟ₛ ᴄͣɪͬ🐇
apakah itu...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!