𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 17 - GODAAN, DAN TATAPAN YANG MULAI SADAR
Hari-hari menjelang ujian akhir selalu terasa berbeda.
Di sekolah Rizuki, udara seperti dipenuhi kecemasan yang tidak kasat mata. Koridor ramai oleh langkah yang seakan tergesa, suara halaman buku dibalik cepat, dan percakapan setengah berbisik tentang materi ujian.
Namun di tengah semua itu—Rizuki tetap sama.
Tenang, Sunyi, Tidak tergesa.
Ia duduk di bangkunya, membaca buku pelajaran dengan sikap santai, seolah ujian akhir bukan sesuatu yang menentukan masa depannya.
Padahal… ia tahu betul.
HIRUK PIKUK SEKOLAH
“Gila, aku belum hafal setengah materi,” keluh seorang siswa di belakang.
“Aku begadang tiga hari,” sahut siswa yang lain.
Rizuki menutup bukunya perlahan.
Ujian memang penting.
Tapi bagi Rizuki, ujian terbesar bukan soal akademik—
melainkan menjaga identitas nya tetap utuh.
Tatapannya melayang keluar jendela.
Hujan seperti akan turun, tapi langit sudah gelap.
Dan di benaknya, muncul satu wajah.
Vhiena.
“Dia juga pasti sibuk,” gumamnya.
GURU CANTIK — GODAAN YANG MAKIN BERANI
Jam pelajaran terakhir hari itu adalah mata pelajaran yang diajar oleh guru wanita muda—cantik, rapi, dan selalu memberi perhatian lebih pada Rizuki.
Ia bernama Meydi berusia sekitar 25Tahun.
Sejak awal semester, perhatian itu sudah terasa.
Tatapan terlalu lama.
Pujian berlebihan.
Nada suara yang lebih lembut saat memanggil namanya.
Hari ini… lebih jelas.
“Rizuki,” panggilnya setelah bel berbunyi.
“Kamu bisa tunggu sebentar? setelah ini kamu ikut saya.! *
Beberapa siswa melirik, tapi tidak terlalu peduli.
Rizuki berdiri. “Iya, Bu.”
SUDUT SEKOLAH YANG SEPI
Mereka berhenti di sudut koridor belakang, dekat tangga darurat yang jarang dilewati.
Tempat sepi.
Hanya suara angin dan langkah jauh di kejauhan.
Bu meydi berdiri terlalu dekat.
“Kamu kelihatan selalu tenang,” katanya sambil tersenyum.
“Apa kamu tidak takut ujian akhir?”
Rizuki menatapnya sopan, dengan tatapan khas nya.
“Saya sudah mempersiapkan diri.” jawab rizuki tenang.
Bu meydi tertawa kecil.
“Kamu menarik, Rizuki. Bukan hanya pintar… tapi dewasa.”
Ia melangkah satu langkah lebih dekat. Hingga wajah nya tepat di depan wajah rizuki.
Nafas mereka saling bertemu.
“Kadang aku berpikir,” lanjutnya dengan suara lebih pelan, dengan mata tertutup.
“kamu tidak cocok berada di antara anak-anak seusiamu.”
Rizuki mengerutkan alis tipis.
“Bu,” katanya tenang,
“tolong jaga jarak.”
Guru itu tidak tersinggung. Justru tersenyum lebih lebar.
“Kamu tahu,” katanya sambil menyentuh lengannya ringan.
Lalu berbisik di telinganya, ujung bibir Bu Meydi menyentuh sedikit di daun telinga rizuki.
“rumahku sepi malam ini.” ucap nya lembut.
Ajakan itu jelas.
Tidak terselubung lagi.
“Kita bisa berbincang… lebih santai.” kata guru itu dengan sikap yang sangat terlihat menggoda.
Rizuki menarik lengannya perlahan, tanpa kasar.
“Maaf,” katanya datar tapi sopan.
“Saya tidak tertarik.”
Guru itu terdiam sejenak.
“Kenapa?” tanyanya, dengan nada suara sedikit naik dan setengah menantang.
Rizuki menatap lurus.
“Karena itu tidak benar."
Ia menunduk sedikit sebagai bentuk hormat.
“Dan karena saya menghargai diri saya sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban, Rizuki melangkah pergi.
Di belakangnya, guru itu berdiri terpaku—
bukan marah, melainkan terkejut.
HUJAN TURUN LAGI
Sore itu, hujan kembali.
Rizuki berdiri di luar gerbang sekolahnya, membiarkan rintik hujan membasahi jaketnya. Ia menatap jam.
"Waktunya pas." Ucap Rizuki dalam hati.
Ia mulai berjalan menuju sisi timur kota.
GERBANG SEKOLAH VHIENA
Vhiena baru saja keluar dari gerbang sekolahnya saat hujan turun lebih deras.
Ia menunduk, hendak berlari kecil—
lalu berhenti.
“Vhin.”
Suara itu. Vhiena sedikit terkejut.
Ia menoleh.
Rizuki berdiri beberapa meter darinya, basah oleh hujan, wajahnya tetap tenang.
“Kamu… lagi,” katanya dengan ekspresi senang bercampur gugup.
Rizuki mengangguk.
“Kita pulang bareng." Kata rizuki.
Vhiena tersenyum, hangat.
“Iya.”
Mereka mulai berjalan.
KETAHUAN
Beberapa langkah kemudian—
“VHIENAAA?!”
Vhiena membeku.
Ayu dan Lala berdiri tak jauh dari sana, mata mereka membulat sempurna.
“Itu siapa?!” bisik Ayu keras.
Lala menatap Rizuki dari ujung kepala sampai kaki.
“Serius…?” kata lala heran.
Vhiena gugup.
“E-eh… ini…”
Rizuki mengangguk sopan.
“Rizuki.”
Ayu saling pandang dengan Lala, lalu tersenyum lebar.
“Ohhh,” kata Ayu panjang.
“Pantesan.” ucap Lala sambil terkekeh.
“Kami pulang duluan aja deh.”
“Eh, tunggu—” Vhiena belum selesai bicara.
“Nikmatin aja perjalanannya. ” kata Lala sambil melambaikan tangan.
Mereka pergi, meninggalkan Vhiena dan Rizuki dalam hujan.
Pipi Vhiena memanas dan berkata.
“Maaf… mereka…”
“Tidak apa-apa,” potong Rizuki lembut.
“Mereka terlihat menyenangkan.”
Vhiena tertawa kecil.
“Mereka pasti akan cerewet nanti.”
OBROLAN DI JALAN
Hujan mengiringi langkah mereka. Tak terasa sudah hampir sampai rumah vhiena.
“Sekolahmu bagaimana?” tanya Vhiena.
“Ramai,” jawab Rizuki. “Semua orang panik soal ujian.”
“Kamu?” tanya Vhiena.
“Aku tidak.” jawab rizuki datar dengan senyuman
Vhiena menatapnya kagum.
“Kamu selalu tenang.”
Rizuki menoleh.
“Hanya terlihat begitu.”
Ia berhenti sejenak di depan rumah Vhiena.
“Sampai sini,” katanya.
Vhiena menatapnya, lalu tersenyum.
“Hati-hati pulang.”
“Terima kasih. ” jawab Rizuki.
Ia berbalik dan berjalan pergi.
INTEROGASI DI RUMAH
Begitu pintu rumah tertutup—
“AHA!”
Ayu dan Lala muncul seperti penyergapan.
“SIAPA DIA?” teriak Lala.
“Sejak kapan?” tanya Ayu.
“Kenapa baru bilang?” lanjut Lala.
Vhiena menutup wajahnya.
“Kalian berisik…”
Vhiena menarik napas.
“Namanya Rizuki. Dia Teman.”
“Teman jalan kaki kehujanan?” Ayu mengangkat alis.
Vhiena tidak menjawab. Langsung berlari ke kamar. Namun Diamnya cukup jelas.
Ayu dan lala terlihat bengong dan saling menatap.
MALAM — PULANG SENDIRI
Di sisi lain kota, Rizuki berjalan sendirian menuju apartemennya.
Hujan mulai reda.
Pikirannya kembali ke hari ini.
Guru.
Sekolah.
Vhiena.
Tatapan Ayu dan Lala.
Ia tahu…
hubungan ini tidak bisa lagi sepenuhnya tersembunyi.
Namun untuk malam ini—
ia masih memilih diam.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/