Di sisa-sisa medan perang yang bersimbah darah, Jenderal Eisérre Valois menemukan seorang prajurit wanita tanpa identitas. Wajahnya yang polos dan jemari yang tak tampak seperti kuli perang membuat Eisérre membawa gadis itu pulang ke paviliun pribadinya, jauh dari jangkauan balai kerajaan.
Gadis itu bangun tanpa ingatan, bahkan tanpa tahu bahwa namanya adalah Geneviève d’Orléans—putri kesayangan Kerajaan Prancis yang sedang dicari oleh seluruh pasukan negara. Di bawah asuhan Eisérre, Geneviève menjadi "sang mawar tanpa nama". Namun, saat cinta mulai tumbuh, bayang-bayang tunangan pilihan sang nenek dan rahasia besar di balik sobekan seragam Geneviève mulai terkuak. Eisérre harus memilih: setia pada kehormatan Valois, atau melepaskan segalanya demi seorang gadis yang identitasnya bisa mengguncang takhta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Terkunci dan Amarah Belle
Pemeriksaan kerajaan baru saja berakhir dengan hasil nihil. Meski para prajurit sudah pergi, atmosfer di kediaman Valois justru semakin mencekam. Di ruang makan utama yang sunyi, Madame Hestia, Duchess Eleonore, dan Belle duduk menunggu penjelasan dari pria yang baru saja hampir mempermalukan nama keluarga mereka di depan pasukan kerajaan.
Eisérre melangkah masuk dengan tenang, duduk di kursi kebesarannya seolah-olah pemeriksaan tadi hanyalah angin lalu.
"Apa ini, Eisérre?" Madame Hestia akhirnya angkat bicara, suaranya dingin dan tajam. "Kau membiarkan prajurit raja memeriksa rumahmu tanpa perlawanan, sementara kau menyembunyikan 'sesuatu' yang membuat mereka curiga. Kau bertindak seolah-olah kau sedang menyembunyikan berlian curian di paviliun itu."
Eisérre menyesap anggurnya perlahan sebelum menatap neneknya dengan mata birunya yang sebeku es.
"Aku tidak menyembunyikan barang curian, Nenek," jawab Eisérre datar. "Gadis di paviliun itu adalah saksi kunci dalam sebuah kasus spionase militer yang sedang kutangani. Membocorkan keberadaannya sekarang sama saja dengan memberi tahu musuh di mana letak kelemahan pertahanan kita. Apa Anda ingin House of Valois dituduh berkhianat pada negara karena mengganggu urusan intelijen militer?"
Jawaban itu begitu taktis dan berbahaya. Madame Hestia terdiam; ia tahu bahwa menentang "alasan militer" Eisérre sama saja dengan menentang hukum perang.
Di sisi lain meja, Duchess Eleonore hanya bisa meremas sapu tangannya. Matanya yang sembab menatap putranya dengan penuh keraguan. Sebagai seorang ibu, instingnya mengatakan bahwa gadis itu adalah sang Putri, namun melihat betapa dingin dan bertekadnya Eisérre, ia memilih untuk bungkam. Ia takut jika ia bersuara, ia akan kehilangan putranya selamanya.
Namun, Belle tidak bisa lagi menahan amarahnya.
"Saksi kunci? Spionase?!" Belle meledak. Ia berdiri hingga kursinya berderit keras di lantai marmer. "Kau membohongi semua orang, Kak Eisérre! Kau memperlakukannya seperti kekasih, bukan saksi! Kau menyisir rambutnya, menemaninya jalan-jalan, dan menatapnya seolah dia adalah duniamu!"
Eisérre tidak bergeming, bahkan tidak melirik ke arah Belle, yang membuat gadis itu semakin murka.
"Aku muak!" Belle menghentakkan kakinya dengan keras, air mata kecemburuan mulai mengalir. "Lebih baik pertunangan ini dibatalkan saja! Aku tidak sudi menjadi istri dari pria yang lebih memuja gadis asing tanpa nama daripada tunangannya sendiri!"
Belle menoleh ke arah ibunya. "Ibu, ayo kita pergi dari sini! Aku tidak ingin tinggal sedetik pun lagi di rumah yang penuh dengan kebohongan ini!"
Eisérre akhirnya mengangkat pandangannya, namun bukan untuk memohon maaf. Ia justru menyunggingkan senyum tipis yang sangat mengerikan. "Jika itu maumu, Belle... aku tidak akan menghalangimu. Batalkan pertunangannya sekarang juga. Pintu gerbang Valois selalu terbuka untuk mereka yang ingin pergi."
Belle terperangah. Ia mengira ancamannya akan membuat Eisérre tunduk, namun ternyata pria itu justru merasa lega. Dengan isak tangis yang tertahan, Belle berlari keluar ruangan, meninggalkan suasana yang semakin berat.
Di Paviliun Sanctuary. Setelah suasana istana utama sepi, Eisérre kembali ke paviliunnya. Ia turun ke ruang rahasia dan menemukan Geneviève masih tertidur lelap akibat obat tidur yang ia berikan. Ia duduk di samping tempat tidur rahasia itu, membelai rambut cokelat Geneviève yang tersebar di bantal.
"Sekarang tidak ada lagi Belle, tidak ada lagi tunangan, dan tidak ada lagi yang akan mengganggumu," bisik Eisérre dengan nada yang sangat manis namun penuh obsesi. "Dunia luar sudah berhenti mencarimu, Ève. Sekarang kau benar-benar milikku sepenuhnya."