Sage Iskandar atau lebih sering dipanggil Ge, merupakan murid badung di sekolah. Sejak kecil dia memang dirawat oleh pasangan rentenir. Orang sering menganggapnya preman, karena memang kebanyakan orang terdekatnya adalah preman.
Sampai suatu hari, seorang pria asing mendatangi Ge dan mengatakan sesuatu yang selama ini dirahasiakan darinya. Apakah itu?
"Kamu tuh ya, Ge! Nggak capek kamu tiap hari kerjaannya keluar masuk ruang BK terus, hah?!" omel guru BK.
"Nggak capek lah, Bu. Kan guru BKnya cantik," sahut Ge gamblang. Dia langsung kena jewer.
"Ge! Kamu ya yang ambil duit Mamak? Dasar anak kurang ajar!" timpal ibunya Ge sambil berlari keluar.
"Makasih, Mak! Love yuhh!" Ge langsung pergi dengan motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Tentang Naya
Ge mengikuti Naya menjauh dari halaman belakang sekolah. Mereka berjalan sampai ke sisi lapangan yang agak sepi, dekat gudang alat olahraga. Di sana tidak ada murid lain, hanya suara angin yang menggerakkan daun-daun pohon besar.
Naya berhenti berjalan. Dia berbalik menghadap Ge dengan ekspresi serius. Kedua tangannya terlipat di dada.
Ge yang berdiri di depannya justru tampak santai. Bahkan dia menyeringai kecil.
“Wah…” katanya sambil mengamati wajah Naya. “Kalau cewek cantik pasang muka galak gini… malah makin menarik.”
Naya tidak bereaksi.
Ge melanjutkan santai, “Lu tau nggak? Kalau tatapan kayak gitu dilihatin lama-lama…”
Dia menunjuk dadanya sendiri. “…gue bisa salah paham.”
Naya tetap diam.
Ge mencondongkan sedikit badan. “Takutnya gue kira lu lagi jatuh cinta sama gue.”
Biasanya cewek yang digombali seperti itu akan langsung kesal atau tersipu. Tapi Naya tidak menunjukkan reaksi apa pun. Justru dia menatap Ge dengan lebih tajam.
Ge sedikit mengangkat alis. “Wah… kuat juga.”
Akhirnya Naya membuka mulut. “Lu kenal Pak Arif?”
Kalimat itu membuat Ge langsung berhenti tersenyum. Beberapa detik dia hanya menatap Naya.
“Pak Arif?” ulang Ge pelan.
Naya tetap menatapnya tanpa berkedip. “Arif Rahman.”
Ge mulai merasa ada yang aneh.
“Sekretaris pribadi Romy Armansyah," lanjut Naya.
Kali ini Ge benar-benar terdiam. Ekspresi santainya perlahan hilang.
Naya memperhatikan perubahan itu dengan seksama. “Jadi bener,” katanya pelan.
Ge masih menatapnya bingung. “Oke… bentar,” kata Ge. “Lu tau nama itu dari mana?”
Naya menarik napas pelan. Lalu dia berkata dengan suara dingin. “Karena gue bagian dari keluarga itu.”
Ge mengernyit.
Naya melanjutkan tanpa ragu. “Gue anak tiri Romy Armansyah.”
Kalimat itu seperti membuat udara di sekitar mereka menjadi lebih berat.
Ge menatap wajah Naya lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, dia tidak langsung melontarkan gombalan.
“Serius?” kata Ge.
Naya mengangguk. “Romy Armansyah itu suami nyokap gue.”
Ge mengingat kembali semua yang dikatakan Arif beberapa hari lalu. Tentang istri baru, tentang anak tiri, tentang mansion besar. Semua potongan cerita itu tiba-tiba terasa cocok.
Ge menghembuskan napas pelan. “Anjir…” gumamnya.
Naya menatapnya dengan dingin. “Gue udah dengar dari orang dalam kalau Pak Arif lagi nyari seseorang. Dan kemarin orang suruhan gue ngasih tahu kalau lu ketemu sama Pak Arif. Bahkan ngobrol sama dia.”
Naya melipat tangan lebih erat. “Menurut lu gue bodoh?”
Ge tidak menjawab. Dia justru menatap tanah beberapa detik. Di kepalanya muncul kembali semua kejadian.
Rumah besar itu. Arif yang terlalu serius untuk sekadar bercanda. Cerita tentang wasiat. Tes DNA. Sekarang anak tiri Romy Armansyah sendiri berdiri di depannya. Perasaan aneh mulai muncul di dada Ge.
“Jadi…” kata Ge pelan. “Cerita itu mungkin bener.”
Naya langsung menatapnya tajam. “Jangan kegeeran.”
Ge mengangkat pandangan lagi. “Kenapa?”
Nada suara Naya berubah lebih keras. “Karena lu nggak pantas!"
Ge mengerutkan kening.
Naya melangkah satu langkah mendekat. Tatapannya tajam. “Lu bukan siapa-siapa. Lihat aja penampilan lu. Apalagi gue dengar, lu badung banget kan? Suka bolos, mabuk, ngerokok... Bener-bener nggak pantas. Dan gue nggak sudi punya saudara kayak lu!"
Ge menatapnya tanpa bicara.
Naya melanjutkan dengan nada dingin. “Lu cuma anak yang dibesarin di gang sempit… sama rentenir…”
Dia menunjuk dada Ge. “…tiba-tiba mau jadi bagian keluarga Armansyah?”
Ge merasakan rahangnya sedikit mengeras. Namun dia masih menahan diri.
Naya berkata lagi. “Keluarga itu punya nama besar.”
Dia menatap Ge dari atas sampai bawah. “Dan lu jelas nggak cocok sama itu.”
Ge menghela napas pelan. Biasanya kalau ada orang bicara seperti ini, dia akan langsung membalas. Tapi kali ini dia justru lebih banyak diam. Karena jauh di dalam pikirannya, dia mulai percaya kalau cerita Arif mungkin benar.
Naya masih menatapnya dengan dingin. “Jadi dengerin gue baik-baik.”
Dia menunjuk ke arah gerbang sekolah. “Jauhi keluarga gue!”
Ge mengangkat alis. “Kalau nggak?”
Naya menjawab tanpa ragu. “Lu bakalan terima akibatnya."
Ge menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan sudut bibirnya terangkat lagi. Namun kali ini senyum itu tidak sepenuhnya santai seperti biasanya.
“Lu tau sesuatu nggak?”
Naya mengerutkan kening.
Ge memasukkan tangan ke saku celana. “Gue sendiri juga belum yakin mau jadi bagian keluarga itu.”
Naya tidak menjawab.
Ge melanjutkan dengan nada santai. “Tapi kalau ternyata cerita itu bener…” Dia menatap langsung ke mata Naya. “…berarti gue jelas bukan orang luar.”
Naya sedikit menyipitkan mata.
Ge menyeringai tipis. “Berarti gue juga keluarga Armansyah. Dan gue berhak menerima apa yang ditawarkan Pak Arif.”
Kalimat itu membuat wajah Naya langsung kesal. Sementara di mata Ge, Naya bukanlah lagi cewek cantik yang pantas mendapatkan rayuan mahalnya. Ternyata cewek itu punya sifat kasar.