Arkan Noctis memasuki Akademi Duskveil, tempat para penyihir muda dilatih dalam tiga kekuatan utama: alam, cahaya, dan malam. Namun berbeda dari murid lain, Arkan datang membawa satu tujuan—mengungkap kebenaran tentang keluarganya yang selama ini dianggap sebagai simbol kegelapan dan kehancuran.
Pencariannya membawanya pada sebuah ritual kuno yang hanya bisa dilakukan dengan menyatukan ketiga jenis sihir.
bagaimana cara arkan menyatukan ketiga jenis sihir itu?? dan apa kebenaran dari keluarga noctis?? Ayoo mulai baca Takdir dari Bayangan!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon J. F. Noctara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 : Festival yang Dimulai dengan Desas-desus
Matahari mulai turun ketika Arkan dan Leyna akhirnya meninggalkan alun-alun Kota Velmora.
Keramaian kota perlahan berubah.
Lampu-lampu jalan mulai dinyalakan satu per satu, dan warna langit berubah menjadi jingga lembut.
Leyna berjalan di samping Arkan sambil membawa sebuah kantong kecil berisi beberapa makanan ringan yang ia beli di pasar.
“Kurasa kita benar-benar lupa tujuan awal kita,” katanya sambil tertawa kecil.
Arkan menatap jalan di depan mereka.
“Ya.”
Leyna menghela napas.
“Padahal kita keluar untuk mencari informasi tentang Nyanyian Malam.”
Ia mengangkat kantong makanannya.
“Yang kita dapat malah ini.”
Arkan berkata tenang,
“Tidak apa-apa.”
Leyna meliriknya.
“Benarkah?”
Arkan mengangguk pelan.
“Kadang istirahat juga perlu.”
Leyna terdiam beberapa detik.
Lalu ia tersenyum kecil.
“Arkan Noctis mengatakan sesuatu yang sangat manusiawi.”
Arkan menatapnya datar.
Leyna tertawa.
Perjalanan kembali ke akademi terasa lebih tenang.
Keramaian kota tertinggal di belakang mereka, digantikan oleh jalan batu yang sepi dan suara serangga malam dari hutan di kejauhan.
Angin malam terasa cukup dingin.
Untuk beberapa saat mereka berjalan tanpa bicara.
Namun suasana diam itu tidak terasa canggung.
Leyna akhirnya berkata pelan,
“Besok festival dimulai.”
Arkan mengangguk.
Festival Akademi Duskveil.
Sebuah acara tahunan yang selalu ditunggu oleh para murid.
Selama beberapa hari, berbagai kegiatan diadakan.
Turnamen sihir.
Pertunjukan artefak.
Pameran penelitian sihir.
Dan berbagai acara lain yang membuat akademi menjadi jauh lebih ramai dari biasanya.
Leyna melanjutkan,
“Kau akan ikut turnamen?”
Arkan menjawab singkat,
“Mungkin.”
Leyna menaikkan alis.
“Mungkin?”
“Kau biasanya tidak ragu untuk hal seperti itu.”
Arkan memandang ke arah hutan di samping jalan.
“Ada hal lain yang lebih penting.”
Leyna langsung mengerti maksudnya.
Nyanyian Malam.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Beberapa menit kemudian—
Gerbang batu besar Akademi Duskveil akhirnya terlihat di depan mereka.
Penjaga akademi berdiri di dekat gerbang, sementara beberapa murid lain juga baru kembali dari kota.
Leyna berhenti sejenak.
“Hari ini cukup menyenangkan.”
Arkan memandangnya.
“Ya.”
Leyna tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mengizinkanku ikut.”
Arkan menjawab singkat,
“Tidak masalah.”
Leyna menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata,
“Kalau begitu… sampai besok.”
Ia melambaikan tangan.
Arkan mengangguk pelan.
Mereka kemudian berjalan menuju asrama masing-masing.
Lorong asrama sudah cukup sepi ketika Arkan masuk.
Lampu-lampu sihir di dinding memancarkan cahaya biru lembut.
Ia berjalan menuju kamar yang ia tempati bersama Kael.
Ketika ia membuka pintu—
Kael sudah berada di dalam kamar.
Ia sedang duduk di tempat tidurnya sambil membaca buku, namun terlihat jelas bahwa ia sebenarnya setengah mengantuk.
Kael mengangkat kepala.
“Arkan?”
Ia menatap jam dinding kecil di kamar.
“Kau baru pulang?”
Arkan menutup pintu di belakangnya.
“Ya.”
Kael menguap lebar.
“Kau dari mana?”
“Dari kota.”
Kael langsung tampak sedikit lebih sadar.
“Kota Velmora?”
Arkan mengangguk.
Kael menyipitkan mata.
“Sendirian?”
Arkan menjawab datar,
“Tidak.”
Kael menunggu.
Beberapa detik berlalu.
“Dengan siapa?” tanyanya akhirnya.
Arkan meletakkan jubahnya di kursi.
“Leyna.”
Kael membeku.
“...Apa?”
Arkan sudah duduk di tempat tidurnya.
Kael masih menatapnya seperti baru saja mendengar sesuatu yang sangat mengejutkan.
“Kau pergi ke kota… dengan Leyna?”
Arkan menjawab singkat,
“Ya.”
Kael terdiam.
Lalu perlahan menutup bukunya.
“Baiklah,” katanya pelan.
“Ini informasi yang sangat menarik.”
Arkan tidak menanggapi.
Kael masih menatapnya beberapa detik lagi sebelum akhirnya menghela napas.
“Ah, sudahlah.”
Ia menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.
“Aku pasti terlalu mengantuk untuk memahami situasi ini.”
Arkan tidak mengatakan apa-apa lagi.
Lampu sihir di kamar dipadamkan beberapa waktu kemudian.
Malam itu terasa tenang.
Namun ketika Arkan berbaring menatap langit-langit—
Ia kembali mendengar sesuatu.
Melodi itu.
Nyanyian Malam.
Sangat pelan.
Seperti bisikan yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Arkan memejamkan mata.
Festival akan dimulai besok.
Akademi akan dipenuhi keramaian.
Namun di balik semua itu—
Ia tahu bayangan masih bergerak.
Dan Nyanyian itu belum berhenti.
Malam pun berlalu.
...----------------...
Keesokan paginya—
Akademi Duskveil jauh lebih hidup dari biasanya.
Bendera-bendera berwarna biru dan perak tergantung di berbagai menara.
Spanduk festival terbentang di sepanjang halaman utama.
Murid-murid berjalan ke sana kemari dengan wajah penuh semangat.
Beberapa guru terlihat sibuk mempersiapkan berbagai acara.
Festival Akademi resmi dimulai hari itu.
Di kamar asrama—
Kael masih setengah tertidur ketika Arkan sudah selesai bersiap.
Kael membuka satu mata.
“Pagi…”
Arkan sedang mengenakan jubah akademinya.
“Pagi.”
Kael duduk perlahan sambil mengacak rambutnya.
“Festival akhirnya dimulai…”
Ia menguap.
“Aku menunggu ini sepanjang tahun.”
Arkan berkata datar,
“Begitu.”
Kael memandangnya.
“Kau tidak terlihat bersemangat sama sekali.”
Arkan menjawab,
“Aku lapar.”
Kael tertawa kecil.
“Baiklah, ayo ke aula makan.”
Beberapa menit kemudian—
Mereka sampai di aula makan akademi.
Tempat itu jauh lebih ramai dari biasanya.
Banyak murid berkumpul sambil membicarakan festival.
Suara percakapan memenuhi ruangan.
Arkan dan Kael mengambil makanan mereka lalu duduk di salah satu meja.
Kael baru saja akan mulai makan ketika ia mendengar sesuatu dari meja di belakang mereka.
Dua murid sedang berbicara dengan suara cukup keras.
“Serius?”
“Iya! Aku melihatnya sendiri kemarin di Velmora!”
“Arkan Noctis?”
“Dengan Leyna!”
Kael membeku.
Sendoknya berhenti di udara.
Ia perlahan menoleh ke arah Arkan.
Arkan tetap makan dengan tenang.
Murid di belakang mereka melanjutkan,
“Mereka berjalan bersama di kota.”
“Katanya mereka bahkan makan bersama.”
“Sepertinya mereka berkencan.”
Kael menoleh perlahan ke arah Arkan.
“Arkan…”
Arkan menghela napas pelan.
Kael bertanya dengan suara sangat serius,
“Apakah… rumor yang baru saja kudengar itu benar?”
Arkan menatapnya datar.
“Tidak.”
Kael menunggu.
Arkan menambahkan,
“Kami hanya pergi ke kota.”
Kael masih menatapnya.
“Berdua?”
“Ya.”
Kael menunduk.
Beberapa detik berlalu.
Lalu—
Ia menjatuhkan sendoknya ke meja.
Dan perlahan menjatuhkan dirinya ke lantai aula makan.
Beberapa murid langsung menoleh karena suara itu.
Kael berbaring di lantai dengan ekspresi putus asa.
Ia menatap langit-langit aula sambil berkata dramatis,
“Oh Tuhan…”
“Kenapa ini semua tidak adil…”
Beberapa murid mulai tertawa.
Arkan hanya memandangnya dengan ekspresi tenang.
“Bangunlah.”
Kael tidak bergerak.
“Duniaku telah hancur,” katanya lemah.
Arkan akhirnya tersenyum tipis.
Ia berdiri dari kursinya.
“Festival akan dimulai.”
Kael menghela napas panjang sebelum akhirnya bangkit.
“Mungkin masih ada harapan bagiku di festival ini…”
Mereka berjalan keluar dari aula makan.
...Di luar—...
Halaman utama akademi sudah dipenuhi murid.
Sebuah panggung besar telah didirikan di tengah halaman.
Para guru berdiri di sana.
Seluruh murid mulai berkumpul.
Kael berdiri di samping Arkan.
“Ini akan menarik.”
Seorang guru tua melangkah ke depan panggung.
Ia mengangkat tangannya.
Keramaian perlahan mereda.
“Selamat datang di Festival Tahunan Akademi Duskveil!”
Sorakan langsung memenuhi halaman.
Festival akhirnya dimulai.
Namun jauh di dalam pikirannya—
Arkan masih mendengar melodi itu.
Nyanyian Malam.
Dan entah kenapa—
Di tengah keramaian festival—
Ia merasa sesuatu akan segera terjadi.