Acara perayaan ulang tahun Rachel, Sang Keponakan yang berusia empat tahun, keponakan dari si kembar Seza dan Sazi. Yang seharusnya menjadi hari paling menyenangkan dan membuat happy semua orang tapi tidak untuk Sazi adik dari Seza. Dunianya seolah runtuh karena tragedi tenggelam saat itu.
Antara hidup dan mati yang ia rasakan saat itu, keduanya tenggelam bersamaan. Namun cara diselamatkan oleh kedua pria berbeda usia itu yang jauh berbeda juga dari adegan romantis seperti drama film pada umumnya. hal itu yang dirasakan oleh Sazi adik dari Seza.
jika Seza ditolong dengan cara digendong ala bridal seperti ala drama romantis, tapi berbwda dengan pria ngeselin yang bikin kesal Sazi sepanjang sejarah ia baru ditolong dengan cara menyebalkan yaitu dengan cara dijambak dan diseret.
dan yang lebih memalukan lagi sazi hampir saja diberi nafas buatan oleh pria itu. namun saat bibir itu sudah mulai mendekat ia langsung memaksakan diri untuk sadar. dari situ ia sadar akan satu hal, apa itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gurania Zee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Pagi ini begitu cerah, sinarnya bahkan sampai menembus celah jendela kamar Villa. Udara segar yang begitu sejuk didaerah Puncak membuat suasana begitu hening, tenang dan damai.
Namun kedamaian itu hanya sejenak bagi Sazi saat ini. Sazi menggeliat dan tak lama ia terbangun untuk pertama kalinya, membuka kedua netranya dan tak lama matanya langsung mengerjap tak percaya dan langsung mengucek matanya berkali kali masih tak percaya juga akan kejadian yang mengejutkan pagi itu.
Dan tak lama ia mencoba mengingat kejadian tadi malam. Pernikahan,..Kecoa,.Kejar kejaran,..Dan,..
Tiba tiba saja ia membelalakkan kedua matanya, Sazi menoleh ke arah samping dan benar saja satu tangan melintang tepat di area perutnya yang masih ada selimut yang menutupi tubuhnya.
"Hwaa,.ya ampun." teriaknya ia langsung bangun dengan gerakan cepat sampai sampai hampir terjatuh dari ranjang, dan gerakannya itu membuat Fadli jadi sedikit terbangun saat itu.
"Hoaaamm,..kenapa Zi?." gumam Fadli masih setengah sadar.
Sazi menunjuk ke arah ranjang dengan wajah bagaikan kepiting rebus. "Kenapa kita tidur satu kasur sih?."
Fadli langsung mengerjap beberapa kali, lalu mencoba mengingat kejadian malam tadi, dan tak lama ia pun malah tertawa kecil.
"Hehe iya, ada kecoakan tadi malam." Sazi memegang kepalanya pening "Astaganaga, kalo kak Seza dan kak meta tau pasti habis gue diledekin terus sama mereka seumur hidup ini mah, apalagi si Helmi, hwaa, aku ternodaa." teriak Sazi sedikit frustasi atas apa yang dialaminya.
Fadli bangkit dari tempat tidur lalu duduk di ranjang, sambil meregangkan tubuhnya lebih dulu. "Tenang saja sih Zi, mereka enggak akan ledekin kamu kok, lagian kan kita sudah suami istri." ucap Fadli sambil tersenyum santai.
"Hilih." ucap Sazi kesal namun wajahnya tak bisa membohongi, wajahnya yang bagaikan kepiting rebus malunya bukan main. Pada akhirnya Sazi langsung berlari ngeloyor pergi ke kamar mandi dengan secepat kilat.
"Aku mau mandi, Brak!." Fadli hanya menggelengkan gemas. memperhatikan kelakuan istrinya sambil menahan senyum. Entah kenapa Sazi panik itu terasa sangat lucu baginya. Seolah hiburan tersendiri bagi Fadli saat itu.
***
Beberapa saat kemudian. Saat dimana mereka semua sudah pada kumpul di meja makan berukuran panjang, bilangnya sih kemarin pamit mau pulang ke jakarta, padahal taunya mereka menyewa kamar di villa sebelah.
Ya mereka adalah Verrel, Meta, Seza dan Helmi lalu disusul Arven yang baru saja selesai berenang masih mengeringkan rambutnya mengenakan handuk kecil.
Tak lama Sazi dan Fadli keluar kamar secara bersamaan menuju meja makan, dan sungguh keduanya benar benar dibuat terkejut akan kedatangan tim hobah keluarga Sazi yang isengnya selangit.
"Loh bukannya kemarin kalian bilang pamit pulang." tanya Sazi curiga.
"Hehehe, moment langka sayang untuk dilewatkan pengen kepo dulu sama pasangan pengantin baru kita, wkwkw, gimana tadi malam aman Zi?." tanya Seza sambil menyipitkan kedua matanya mode jahil.
Sazi langsung tau, kakaknya itu endingnya akan ngomong apa " Jangan macam macam kau kak."
"ikh serius, semalam aman nggak?."
tak lama Helmi menimpali dengan tengil dan polosnya, "Kak Sazi sama bang Fadli jadi nih malam pertama beneran, apalagi cuaca tadi malam pas banget."
"Helmiii!." sendok melayang ke arah Helmi. Suasana yang tadinya sepi berubah jadi pecah karena kelakuan kakak adik ini.
Fadli pun ikut tersenyum namun tak lama, "Tadi malam tuh kita perang sama kecoa."
Serentak semua tertawa berjama'ah. "sumpah sih ini malam pertama yang tragis banget." celetuk Seza.
Sedangkan Sazi menutup wajahnya "Hancur sudah harga diriku.
***