"sebenarnya mau pria itu apa sih?"
kanaya menatap kala dengan sorot mata penasaran.
pria dingin itu hanya menatapnya datar, seperti biasa tanpa ekspresi.
"hhhhhh" kanaya mendengus kesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Langkah kaki kanaya dan dokter zayyan terlihat seirama, menelusuri koridor rumah sakit, menuju ruang ranap vip, tampilan mereka terlihat serasi, tanpa janjian mereka megenakan pakaian sewarna.
Senyum dokter zayyan tadi mengembang indah, menyadari pakaian mereka yang terlihat serasi. Kanaya mengenakan blouse berwarna biru muda, dengan bawahan rok berwarna putih, sementara dokter zayyan menggunakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda.
Lengan bajunya dilipat hingga ke siku, membuatnya begitu tampan, ditambah mengenakan celana berwarna hitam, ia terlihat rapi namun tidak terkesan formal.
Kanaya masih menunggu di depan pintu ruang vip, ia masih menetralkan detak jantungnya yang berdebar lebih kencang.
Dokter zayyan terlebih dahulu masuk, memberikan waktu untuk kanaya mempersiapkan diri. Dia masih berdiri di depan pintu, menunggu dokter itu memanggilnya.
"Mama..masuklah.." panggil dokter zayyan lembut.
Kanaya memutar handle pintu, jantungnya semakin kencang berdetak. Pintu terbuka, pemandangan khas rumah sakit, terpampang di mata kanaya.
Di tempat tidur, ia melihat sesosok gadis mungil, menatapnya dengan binar-binar bahagia. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh kabel dan selang penyangga hidup, hati kanaya terenyuh, tubuh semungil itu, harus berjuang, bertarung dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
"Mama.." panggil gadis mungil itu dengan bibir bergetar.
Kanaya mendekat menyambut tangan gadis mungil itu yang terulur menyambutnya, tangan dalam genggamannya itu sangat mungil.
Pilu hati kanaya menatap gadis mungil, yang tersenyum hangat kepadanya itu selang oksigen dimulutnya sama sekali tidak menghalangi senyum indahnya, kanaya tersenyum sendu.
"Sayang..." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar, air mata disudut matanya, tak mampu ia tutupi lagi.
"Maafkan..mama"
Alita, gadis mungil itu mengembangkan kedua tangannya, meminta kanaya memeluknya.
"lili,kangen mama"
Kanaya tak mampu lagi menahan air matanya, seraya memeluk gadis mungil itu, kanaya menciumi puncak kepalanya.
Kanaya merasa bersalah, gadis mungil ini menatapnya dengan binar-binar bahagia. Kanaya tak mampu menatap mata itu lama-lama, ada rasa bersalah menyeruak dari hatinya.
Harapan dan kebahagiaan yang terpancar dari mata alita, membuatnya mengutuki dirinya sendiri, kenapa ia tega membohongi gadis mungil cantik ini.
"lili tahu, mama pasti datang, walau papa selalu bilang mama sibuk sekolah..tapi lili tahu pasti mama datang jenguk lili..", celotehnya riang dengan nafas tersengal-sengal.
"lili tahu, kalau mama tuh pasti sayang lili kan?"
Kanaya mengangguk cepat, meraih tangan mungil itu, menciuminya lembut.
"Tentu sayang, tentu" sahut kanaya lembut,
"maafin mama yang selalu sibuk yah sayang"
"lili sayang mama"
Pelukan gadis mungil itu ketubuh kanaya terasa hangat, ada sesuatu yang menghangat di hati kanaya.
Dia memeluk tubuh mungil yang ringkih itu, adegan indah itu membuat dokter zayyan tersenyum lebar.
Hatinya menghangat melihat putrinya begitu bahagia dengan kehadiran kanaya, air mata disudut matanya itu, tak dapat menutupi bahwa hatinya terharu melihat adegan indah itu.
Kanaya menoleh, menatap pria itu lama. Ingin rasanya kanaya memprotes ide gila yang sedang mereka lakukan saat ini, namun kanaya mengurungkan niatnya. Melihat wajah pria itu, bahagia dan sedih dalam waktu yang bersamaan,jujur saja membuat hatinya iba.
"Mama..!" panggil alita, bocah mungil yang cantik itu, menyadarkan ketertegunannya.
"Hmm.." sahut kanaya lembut, menyentuh pipi dingin alita yang masih tersenyum indah menatapnya.
"Nanti kalau lili sembuh, lili mau bobo sama mama terus, bolehkan?"
Kanaya terkesima, ucapan gadis mungil itu, membuat kanaya terdiam. Mata indahnya menatap dokter zayyan bingung, meminta pertolongan ke pria itu.
Namun dokter zayyan malah mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
"Bolehkan ma.." desak alita, mengoyang-goyangkan tangan kanaya.
"Sayang..yang paling penting, lili sembuh dulu, dengerin semua om dokter dan tante perawat. lili harus patuh, biar cepat sembuh yah..!"
Jawaban ambigu dari kanaya, masih meninggalkan ekspresi tak puas dari gadis mungilnya dokter zayyan itu, bibirnya masih manyun dengan mata menatap kanaya lekat.
Kanaya tersenyum manis, menganggukkan kepalanya berusaha meyakinkan bocah cantik itu, agar alita tidak bertanya lagi hal yang tidak mampu ia jawab.
"Tapi..sampai operasi lili selesai, mama harus temani lili terus disini yah..?"
Permintaan alita membuat kanaya tercekat, ia kebingungan, matanya kembali melirik dokter zayyan.
Dokter zayyan memahaminya, dengan tersenyum, ia meraih tangan putrinya dan mengelus kepala putrinya lembut.
"lili.."
"lili tahukan kalau mama selain sibuk sekolah, mama juga sibuk menjaga nenek, yang sakitnya kayak lili?" jelas dokter zayyan dengan perlahan dan tenang, menatap mata putrinya yang sayu.
Gadis mungil itu mengangguk, namun anggukannya kelihatan sangat lemah, kanaya sungguh tak tega melihatnya.
"Tapi mama janji, begitu lili sadar dari operasi nanti, mama akan ada di sisi lili" kanaya berjanji, mengulurkan jari kelingkingnya.
"Mama janji.."
Perlahan wajah sayu itu tersenyum, binar matanya kembali terlihat terang dan indah, ia menyambut janji kelingking dari kanaya.
Wajah sayu itu mulai terlihat lelah, matanya yang berbinar indah mulai kelihatan redup.
"lili ngantuk, mama" gumamnya lirih, masih mengenggam jari kelingking kanaya.
Kelopak matanya mulai kelihatan layu, kanaya menepuk-nepuk lembut pundak alita, seperti menina bobokan gadis mungil itu yang mulai terlena.
Dengkuran halus terdengar dari bibir pucatnya, perlahan kanaya melepaskan jari kelingkingnya dari genggaman alita yang melemah.
Tatapan sendu kanaya tak luput dari perhatian dokter zayyan. Senyum sendu kanaya, membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
Perlakuan, tatapan dan semua perhatian yang ditunjukkan kanaya, begitu tulus dimatanya. Membuat hatinya menghangat indah, memberikan sensasi dan keinginan diluar nalar, ingin rasanya ia memiliki senyum itu selamanya.
'Astaga...ada apa dengan isi kepalaku', tukasnya dalam hati seraya menggelengkan kepalanya dengan kencang.
Kanaya menatap gerakan itu, ia sedikit memahaminya. Bukannya kanaya ingin kege'eran, namun dia bisa memahami cara dokter zayyan menatapnya.
Ia tahu karena tatapan yang diberikan dokter itu untuknya, sama persis seperti tatapan yang diberikan kak ferdian untuknya.
Kanaya menghela nafasnya berat, ia sungguh tak mengerti, pria yang diharapkan memiliki tatapan itu, malah selalu menatap dingin kearahnya.
"Ada apa naya?" tanya dokter zayyan penasaran, mendengar helaan nafas kanaya yang terdengar berat.
"Tidak apa-apa dok, hanya saya merasa apa yang kita lakukan pada alita ini, salah..
Saya tak enak hati, membohongi alita seperti ini. Binar matanya tadi, benar-benar menikam kesadaran saya, kita gak boleh seperti ini dok" jelas kanaya lirih, menatap miris dokter zayyan yang terpaku.
"Saya tahu naya, apa yang kita lakukan ini salah, tapi saya tak tega mengatakan yang sebenarnya pada alita, kamu lihat sendiri, bagaimana bahagianya dia dengan kehadiranmu disini,
Saya mohon dania, bersabarlah sampai ayunda selesai operasi,"
Tatapan memohon dari pria itu membuat kanaya tak mampu berkata-kata, ia tak menampik perasaannya, ia juga sangat ingin menolong alita dan ayahnya, namun hati kecilnya mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan, dengan ia berpura-pura menjadi ibunya alita, adalah hal yang salah.
"Tapi dok.."
"Kalau memang kamu merasa bersalah karena kita berpura-pura,
Bagaimana...bagaimana kalau kita buat saja menjadi kebenaran" sela dokter zayyan cepat, memotong ucapan kanaya.
Kanaya terperangah tak percaya, ia benar-benar berharap kalau ia salah dengar. Mulutnya masih terperangah dengan mata yang membola, sungguh kanaya tak menyangka bahwa dokter zayyan akhirnya mengatakan hal yang sedang kanaya hindari sejak tadi.
Kanaya terdiam, ia mengalihkan pandangannya, berusaha menghindari tatapan pria itu yang terasa sangat mengintimidasinya.
"Saya besok akan berkunjung sebentar dok, tapi saya tidak janji yah.." ucap kanaya mencoba mengalihkan pembicaraan, pria itu menatapnya lama, kemudian tertawa tiba-tiba.
"Maaf, naya tadi saya bercanda, anggap saja kamu tak mendengarnya"
Kanaya tersenyum, ucapan itu terdengar riang, namun mata itu tidak berbohong, ia yakin ucapan pria itu tadi serius, sangat serius, namun kanaya mengangguk dengan cepat.
"Saya tahu kok dok.."
Bersambung....