NovelToon NovelToon
BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

BENANG MERAH TAKDIR BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mata Batin / Horor
Popularitas:305
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

"Satu bisa melihat yang tak kasat mata, satu lagi memburu yang nyata. Namun, sang maut mengincar keduanya."


Kiara tahu ada yang salah saat bayangan merah mulai melilit leher orang-orang di sekitarnya. Sebagai anak indigo, ia adalah saksi bisu dari takdir berdarah yang akan segera terjadi. Di sisi lain, Reyhan berjuang melawan waktu di kepolisian untuk menghentikan monster dalam wujud manusia yang terus menambah daftar korban.


Persahabatan mereka diuji ketika benang merah itu mulai mengarah pada masa lalu yang selama ini mereka simpan rapat-rapat. Bisakah logika pistol Reyhan melindungi Kiara dari teror yang bahkan tidak bisa disentuh oleh peluru? Ataukah mereka hanyalah bidak dalam permainan takdir yang sudah dirancang untuk berakhir dengan kematian?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saksi yang Dibungkam, Janji yang Terpendam

Pagi itu, meja kerja Reyhan tidak lagi berantakan dengan bungkus gorengan atau botol vitamin pemberian Rendy. Sekarang, mejanya bersih, mengkilap, dan dingin—persis seperti perintah Arthur.

Di hadapan Reyhan, tertumpuk tiga map cokelat kusam dengan label merah bertuliskan: UNSOLVED - 2011.

"Ini adalah kasus kematian seorang buruh pabrik yang ditutup karena dianggap kecelakaan kerja," suara Arthur terdengar dari ambang pintu, membuat Reyhan tersentak. "Tugasmu sederhana. Tulis laporan penutup akhir bahwa bukti fisik tetap konsisten dengan kecelakaan. Jangan bertanya, cukup lakukan."

Reyhan menatap foto kusam di dalam map itu. Seorang wanita muda yang tewas mengenaskan di ruang mesin. Namun, ada yang aneh. Di sudut foto, ada bercak merah yang membentuk pola seperti... benang.

"Ingat, Reyhan," Arthur mendekat, menepuk bahu Reyhan dengan tekanan yang kuat seolah sedang meremukkan tulang. "Satu telepon saja ke teman-teman sipilmu itu, dan kamu akan tahu betapa cepatnya lencana itu bisa ditarik kembali."

Kedai Kopi Pinggir Jalan

Di sebuah kedai kopi, suasana terasa hambar. Kiara mengaduk kopinya yang sudah dingin tanpa minat, sementara Rendy menyandarkan kepalanya di meja dengan lesu.

"Ren, nggak mau bikin konten?" tanya Kiara pelan.

"Males, Ra. Nggak ada yang bisa digoda. Nggak seru kalau nggak ada yang pingsan tiap kali gue pencet tombol record," jawab Rendy. "Gue kepikiran si Reyhan. Dia pasti lagi disiksa mental sama si Kulkas Berjalan itu."

Tiba-tiba, suhu di kedai itu turun drastis. Kiara membeku. Sendok di dalam cangkirnya bergerak sendiri, berdenting pelan di dinding gelas.

Ting... ting... ting...

"Ra? Lo ngerasa nggak?" Rendy langsung waspada.

Di hadapan Kiara, uap dari kopi panas itu perlahan membentuk sebuah angka: 2011. Lalu, sebuah bisikan lirih terdengar tepat di telinganya.

"Dia... berbohong... mesin itu... sengaja dimatikan..."

Kiara tersentak. "Ren! Ada arwah yang datang. Dia menyebut tahun 2011. Dia bilang ada orang yang berbohong!"

Bekas Pabrik Tekstil - Tengah Malam

Bau besi berkarat dan lumut menyengat di udara. Reyhan melangkah masuk ke pabrik tua itu, mematikan senternya agar tidak terlihat dari jalan raya. Ia hanya mengandalkan cahaya bulan yang pucat.

"Kenapa arwah itu membawaku ke sini?" bisik Reyhan.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang terseret. Reyhan refleks mencabut pistolnya dan bersembunyi di balik mesin raksasa. Jantungnya berdegup kencang. Ia takut itu adalah anak buah Arthur.

"Ren, pelan-pelan! Kalau senter lo goyang terus, gue nggak bisa lihat jejak energinya!" sebuah bisikan perempuan terdengar.

Reyhan membeku. Ia mengenali suara itu.

"Sabar, Ra! Ini senter udah paling stabil. Lagian siapa sih yang naruh oli di lantai, hampir aja gue kepeleset!" sahut suara laki-laki yang familiar.

Reyhan keluar dari persembunyiannya dengan mata berkaca-kaca. "Kiara? Rendy?"

"Reyhan!" Kiara langsung mendekat, menatap wajah pria itu yang terlihat tirus dan kuyu. "Kamu ngapain di sini? Kalau Arthur tahu..."

"Gue nggak bisa diam aja, Ra," potong Reyhan, suaranya serak. "Arthur mau gue tutup kasus ini sebagai kecelakaan, padahal ini pembunuhan."

Rendy menepuk bahu Reyhan dengan keras. "Tuh kan, baru pisah bentar aja lo udah nyariin kita lewat jalur mistis. Emang nggak bisa hidup tanpa kita ya?"

Namun, tawa Rendy terhenti saat sebuah mobil hitam melambat di depan gerbang pabrik. Sorot lampunya menyapu dinding bangunan bagaikan mata raksasa.

"Sial! Itu mobil Arthur!" desis Reyhan. "Kalian harus sembunyi! Cepat, masuk ke dalam bak mesin itu!"

Reyhan mendorong Kiara dan Rendy masuk ke tempat persembunyian yang sempit. Detik berikutnya, langkah kaki yang dingin dan teratur terdengar masuk ke dalam pabrik.

Arthur masuk ke ruangan itu, memegang tongkat dengan ujung perak yang berkilat. Ia menatap sekeliling dengan senyum tipis yang mengerikan.

"Detektif Reyhan... rajin sekali Anda bekerja sampai tengah malam di tempat sampah seperti ini," suara Arthur bergema. "Saya tidak melihat mobil Anda di kantor, jadi saya pikir... Anda sedang melakukan sesuatu yang 'melanggar' perintah saya."

Di dalam bak mesin, Kiara menutup mulutnya rapat-rapat. Mereka bisa melihat ujung sepatu Arthur hanya berjarak beberapa senti.

Reyhan berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang, pandangannya mulai goyang. Jangan pingsan sekarang, Rey... jangan sekarang! batinnya berteriak.

"P-Pak Arthur... saya hanya mencari bukti fisik yang terlewat," jawab Reyhan, berusaha tetap stabil meski tangannya di balik punggung sudah gemetar hebat.

Arthur berhenti tepat di depan bak mesin itu. Dia mengetukkan tongkat peraknya ke pinggiran bak. Ting! Ting! Suaranya menggema seperti lonceng kematian.

"Bukti fisik?" Arthur tersenyum sinis. "Atau kamu sedang mencari cara untuk menjadi pahlawan bagi orang-orang yang sudah saya singkirkan?"

Arthur membungkuk sedikit, matanya menyipit menatap celah di bak mesin. Di dalam sana, Kiara sudah menahan napas sampai wajahnya memucat. Reyhan tahu dia harus bertindak.

"Pak Arthur!" seru Reyhan sedikit keras, mengalihkan perhatian. "Saya menemukan sesuatu di lantai atas! Sepertinya ada berkas yang tertinggal di kantor mandor. Mari kita cek sebelum tempat ini runtuh."

Arthur diam sejenak, menatap mata Reyhan yang memohon. Keheningan itu terasa mencekik.

"Lantai atas, ya?" Arthur berdiri tegak kembali. "Baiklah. Pimpin jalan, Detektif. Dan ingat... kalau saya tidak menemukan apa pun di sana, saya akan pastikan malam ini menjadi malam terakhirmu memegang lencana."

Arthur berbalik menuju tangga. Reyhan menoleh sekilas ke arah bak mesin, memberikan isyarat mata agar Kiara dan Rendy segera lari begitu mereka menjauh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!