Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Celah di Balik Kontrak
Sisa air mata di pipi Zerya sudah mengering, menyisakan rasa perih yang nyata. Namun, pesan singkat dari Javian semalam seolah menjadi satu-satunya pegangan yang membuatnya mampu berdiri dan kembali mengenakan topengnya pagi ini.
Di kantor pusat Talandra Group, suasana terasa lebih intens. Hari ini adalah penandatanganan draf final proyek CSR. Aldric datang dengan senyum kemenangan, yakin bahwa dialah pemegang kendali narasi.
"Tuan Javian, saya sudah meninjau drafnya. Semuanya sempurna," ucap Aldric sambil meraih pulpen mahalnya.
Javian, yang duduk dengan kaki menyilang, hanya menatap pulpen itu tanpa ekspresi. "Ada satu perubahan kecil di pasal tambahan, Tuan Aldric. Saya rasa asisten saya sudah mengirimkannya pagi ini."
Aldric mengernyit, membuka halaman terakhir. Matanya menyipit saat membaca baris baru di sana.
“Seluruh otoritas pengambilan keputusan, eksekusi lapangan, dan komunikasi media terkait proyek CSR ini berada sepenuhnya di tangan Penanggung Jawab Utama (Zerya Clarissa Omerly), tanpa memerlukan intervensi dari dewan direksi Omerly Group.”
"Apa maksudnya ini?" suara Aldric merendah, ada nada ancaman yang tertahan.
Javian menyesap kopinya dengan tenang. "Saya berinvestasi pada ide, Tuan Aldric. Dan ide itu lahir dari putri Anda. Saya tidak ingin visi ini terdistorsi oleh birokrasi... atau 'bimbingan' yang berlebihan. Jika Anda ingin tanda tangan saya, biarkan Zerya bekerja secara independen di bawah supervisi langsung dari pihak Talandra."
Zerya yang duduk di samping Aldric terpaku. Ia menoleh ke arah Javian, namun pria itu tidak memandangnya. Javian tetap fokus pada Aldric, memberikan tekanan mental yang hanya bisa dilakukan oleh seorang predator puncak.
Aldric terkekeh, meski matanya memancarkan amarah. "Anda sepertinya sangat terkesan dengan putri saya, Tuan Javian."
"Saya terkesan dengan efisiensi," jawab Javian dingin. "Dan saya tidak melihat efisiensi dalam cara Anda membagi beban kerja kemarin malam."
Skakmat. Javian baru saja menyindir kejadian di jamuan kolega tanpa menyebutkannya secara eksplisit.
Aldric terdiam. Kehilangan kontrak Talandra akan menjadi noda besar bagi reputasinya. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia menandatangani berkas itu. "Tentu. Jika itu yang Anda inginkan."
Rapat berakhir. Aldric keluar lebih dulu dengan langkah cepat, bahkan tidak menoleh pada Zerya. Zerya tahu, hukuman sunyi yang lebih berat menantinya di rumah nanti.
Saat Zerya hendak melangkah keluar, suara Javian menghentikannya.
"Nona Zerya."
Zerya berbalik. Ruangan itu kini hanya menyisakan mereka berdua. "Terima kasih, Tuan Javian. Tapi Anda baru saja membuat posisi saya di rumah menjadi sangat sulit."
Javian berdiri, berjalan mendekati Zerya hingga jarak mereka hanya tersisa satu langkah. Ia menatap Zerya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan kasihan, tapi sesuatu yang lebih dalam.
"Saya tidak memberi Anda kemudahan, Zerya. Saya memberi Anda senjata," ucap Javian. Suaranya berat dan serius. "Sekarang pilihannya ada di tangan Anda. Tetap menjadi tameng bagi ayah Anda, atau mulai membangun panggung Anda sendiri."
Zerya menatap Javian. "Kenapa Anda begitu peduli?"
Javian terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana Zerya duduk di pojok galeri dengan tangan gemetar namun tetap berusaha sempurna.
"Karena saya benci melihat sesuatu yang berkualitas dihancurkan oleh tangan yang tidak tahu cara menghargainya," jawab Javian. Ia lalu meraih jasnya yang tersampir di kursi. "Besok, tim saya akan menjemput Anda. Kita akan meninjau lokasi lapangan pertama. Tanpa ayah Anda."
Begitu Javian pergi, Zerya menyentuh dadanya yang bergemuruh. Ia takut, tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu dibarengi dengan secercah harapan.
Di parkiran, Javian masuk ke mobilnya. Ia melihat pantulan dirinya di spion. Ia tahu ia telah melanggar prinsipnya sendiri untuk tidak mencampuri urusan domestik mitra bisnisnya.
"Satu langkah lagi, Javian," gumamnya pada diri sendiri. "Dan kau tidak akan bisa mundur."