Farhan bercerai dengan Sinta, wanita yang ia nikahi selama tiga belas tahun. . Farhan jatuh cinta dengan wanita lain,, maka Sinta memilih mundur.
Setelah perceraiannya Farhan menikahi wanita pujaannya itu. Rani seorang janda beranak satu bernama Claudia. Sosok wanita rapuh, yang selalu membutuhkan dirinya. Farhan ingin jadi seseorang yang dibutuhkan di dalam keluarga. Tidak seperti Sinta yang terlalu mandiri.
bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FARHAN PULANG
Pagi menjelang.
Claudia masih duduk santai di ruang tengah ketika Rani turun dari tangga. Tatapannya langsung tertuju pada putrinya.
“Loh, kok nggak sekolah?” tanyanya.
“Libur, Ma. Ada rapat dewan guru,” jawab Claudia santai.
Rani mengangguk pelan. Lalu kini giliran Claudia yang mengerutkan kening saat melihat ibunya sudah rapi.
“Mama mau ke mana?” tanyanya penasaran.
“Mau anterin… Rafna imunisasi,” jawab Rani, terdengar sedikit enggan.
“Ikut!” pinta Claudia cepat, matanya berbinar penuh harap.
“Di rumah aja ya,” sahut Rani malas.
“Mama… ikut ya,” rengek Claudia, suaranya melembut memohon. Rani menghela napas.
“Mama…” Claudia kembali membujuk.
“Oke! Tapi ganti baju yang bagus,” ujar Rani akhirnya.
Claudia langsung bersorak kecil, lalu berlari ke lantai atas menuju kamarnya.
“Hati-hati!” seru Rani, meski sudut bibirnya sempat terangkat tipis.
Tak lama, Asih keluar dari kamar dengan seragam suster berwarna pink. Ia menggendong Rafna menggunakan kain jarik.
“Nyonya, apa perlu bawa kereta dorong?” tanyanya hati-hati.
“Nggak usah. Kamu gendong saja,” jawab Rani acuh.
Asih terdiam sejenak. Matanya menatap penampilan Rani yang hari ini tampak mencolok.
Gelang besar melingkar di pergelangan tangannya, cincin emas memenuhi jemarinya, kalung mutiara menggantung anggun di lehernya, ditambah anting-anting panjang yang berkilau.
Pakaiannya pun jauh dari kesan sederhana.
Atasan tanpa lengan menyerupai vest berbahan jeans membalut tubuhnya tanpa dalaman, dipadukan dengan rok span pendek di atas lutut yang menonjolkan kakinya yang mulus.
Rani tidak tampak seperti ibu yang hendak membawa anak ke klinik untuk imunisasi.
Lebih seperti seseorang yang hendak menghadiri acara santai bersama teman-temannya.
Tak lama, Claudia turun dengan ceria. Ia mengenakan legging hitam dan kaos bergambar Minnie Mouse.
“Ayo cepat!” ajak Rani.
Mereka pun berjalan menuju carport. Claudia duduk di kursi depan, sementara Asih di belakang sambil memangku Rafna yang mulai rewel.
Mobil melaju menuju sebuah klinik kesehatan.
Sementara itu, di Bandara Soekarno-Hatta. Farhan baru saja keluar dari Gate 3.
Ia mendorong troli berisi koper-koper besar—penuh dengan pakaian dan oleh-oleh untuk istri serta kedua anaknya.
Setelah beberapa langkah, ia merogoh saku dan mengambil ponselnya.
Sudah dua hari ia tidak menyentuh benda itu untuk berkomunikasi dengan Rani ataupun Asih.
Layar ponsel menyala. Tak lama layar menyala dan kemudian satu notifikasi merah muncul.
Alis Farhan langsung berkerut.
“Astaghfirullah… ada apa ini? Apa ada pencurian?” gumamnya cemas.
Ia segera membuka notifikasi tersebut. Beberapa detik kemudian,
langkahnya terhenti.
Matanya menatap layar tanpa berkedip.
“We reset your safe box due to incorrect password.”
Wajah Farhan berubah.
“Siapa yang mencoba membuka brankas?” bisiknya pelan.
Suasana bandara yang ramai mendadak terasa sunyi baginya.
Hatinya tidak enak, sangat tidak enak. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Indonesia.
Farhan merasa
ada sesuatu yang salah di rumahnya.
"Aku akan periksa sendiri!" gumamnya lalu langkahnya langsung menuju halaman parkir di mana ia memarkirkan mobilnya di sana.
Butuh satu jam untuk sampai rumah. Hunian itu sepi yang ada hanya seorang sekuriti yang tengah berjaga-jaga.
Farhan membunyikan klakson ketika sampai pintu gerbang. Pintu gerbang terbuka secara otomatis.
"Pak Farhan, selamat datang!" pria dengan seragam sekuriti berdiri menyambutnya.
Farhan turun dari mobil, lalu membuka bagasi dan menurunkan koper-koper besar dengan bantuan sekuriti.
“Makasih, Pak Sukun. Boleh minta tolong sekalian angkat ke dalam?” pintanya.
“Baik, Pak!” angguk Sukun sigap, lalu membawa sebagian koper masuk ke dalam rumah, sementara Farhan mengangkat sisanya.
Begitu melangkah masuk, Farhan langsung merasakan sesuatu yang berbeda. Rumah itu terasa lebih sepi dari biasanya, seolah kehilangan kehidupan di dalamnya.
“Mana istri saya?” tanyanya.
“Nyonya pergi bersama Bi Asih dan Non Claudia, Pak. Katanya mau imunisasi Neng Rafna,” jawab Sukun.
“Oh… baiklah,” sahut Farhan pelan, meski hatinya masih terasa ganjil.
Setelah semua koper dibawa masuk, Farhan naik ke lantai dua. Ia sempat meletakkan dua koper di depan kamar, namun langkahnya justru berbelok menuju ruang kerja.
Sesampainya di sana, ia membuka pintu dan menyalakan lampu.
Pandangannya langsung tertuju pada brankas di bawah rak buku. Lampu panelnya menyala merah.
“Berarti benar… ada yang mencoba membukanya,” gumamnya pelan.
Ia mendekat, lalu menekan beberapa tombol untuk menetralkan sistem.
Tak lama kemudian, pintu brankas terbuka. Isinya hanya berkas-berkas biasa—tidak ada uang, perhiasan, ataupun dokumen penting, karena semua itu memang ia simpan di safe deposit box di bank.
“Lalu siapa yang mencoba membuka ini?” bisiknya.
Ia beralih ke meja kerja, menyalakan komputer, dan membuka file rekaman kamera pengawas. Dari sekian banyak pilihan, ia langsung memilih rekaman dari ruang kerjanya.
Beberapa detik pertama terlihat kosong. Namun kemudian, pintu terbuka, dan seseorang masuk.
Farhan terdiam. Matanya menatap layar tanpa berkedip.
“Rani…?” ucapnya lirih.
Ia melihat dengan jelas bagaimana istrinya berjongkok di depan brankas, mencoba memasukkan berbagai kombinasi angka dengan gelisah.
Wajah Farhan perlahan berubah. Bukan marah.
Melainkan bingung.
Sementara itu, di sebuah klinik kesehatan, suasana terasa jauh berbeda.
Asih duduk di kursi tunggu sambil menggendong Rafna yang tampak lemah.
Wajah bayi itu sedikit pucat, dan sesekali merengek pelan. Di sampingnya, Claudia duduk manis sambil mengunyah jajanan yang tadi dibelikan Asih.
Namun satu orang tidak ada di sana. Rani.
Ia pergi dengan alasan mencari parkiran.
“Adinda Rafna!” panggil seorang perawat dari dalam.
Asih segera berdiri. “Ayo, Non,” ajaknya lembut pada Claudia.
Mereka masuk ke ruang pemeriksaan.
“Non, duduk di situ ya,” ujar Asih sambil menunjuk kursi di dekat meja.
Claudia menurut. Ia duduk tenang, matanya terus memperhatikan adiknya.
Bidan mulai memeriksa Rafna. Ia menimbang berat badan, mengukur panjang tubuh, lalu memperhatikan beberapa respons kecil bayi itu.
Beberapa saat kemudian, raut wajah bidan berubah. Ia menghela napas pelan sebelum akhirnya berbicara.
“Berat badannya kurang untuk ukuran bayi enam bulan,” ucapnya hati-hati.
“Dan perkembangan motoriknya juga sedikit terlambat," lanjutnya.
Asih langsung menegang.
“Maaf, Bu… maksudnya bagaimana?” tanyanya pelan.
"Asupan gizinya di rumah bagaimana?" tanya Bidan lalu duduk dan membuka buku kesehatan Rafna.
"Makannya memang kurang. Baru MPASI tiga hari lalu ...," jawab Asih jujur.
"ASI-nya? Oh ya, ibunya mana?" pertanyaan yang buat Asih terdiam.
Claudia menoleh arah pintu, ia tak melihat ibunya kembali masuk. Tadinya Rani menyuruh Claudia untuk tidak turun. Tapi gadis kecil itu langsung turun dan menggandeng tangan Asih dan berjalan masuk klinik.
"Oh iya Bi. Mama kok nggak masuk-masuk ke sini?" tanyanya polos.
Tak terasa waktu malam bergulir, Rani pulang dengan banyak barang belanjaan. Wajahnya tampak lelah.
Ia masuk dan menggeletakkan begitu saja barang belanjaannya di lantai. Ia duduk dan mengangkat kaki.
"Bi Asih!" teriaknya memanggil.
"Dari mana kamu!" sebuah suara yang langsung membuat Rani pucat.
"Mas ... Mas Farhan?"
Bersambung.
Mam ... Poes Loh Ran!
Next?