Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.
Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.
bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Sinar matahari siang yang menembus gorden kamar utama terasa jauh lebih hangat bagi Alisa hari ini. Setelah penyatuan batin yang emosional dan romantis pagi tadi, ia merasa seolah dunia miliknya dan Vino saja. Alisa terbangun dengan posisi masih di dalam dekapan suaminya. Aroma maskulin Vino yang bercampur dengan sabun mandi pagi (karena mereka sempat mandi bersama) menjadi candu baru bagi Alisa.
Alisa tersenyum manja, ia menarik tangan Vino agar duduk di tepi ranjang. "Mas... badanku masih sedikit pegal. Rasanya malas sekali mau menyetir sendiri ke rumah sakit."
Vino terkekeh, ia tahu itu hanyalah alasan Alisa agar bisa bermanja-manja. "Lalu? Mobilmu mau ditinggal di rumah?"
"Iya... boleh ya, hari ini aku diantar saja? Aku ingin duduk diam di sampingmu sambil mendengarkan radio. Boleh kan?" Alisa merengek, matanya menatap Vino dengan binar yang sulit ditolak.
Vino mengelus pipi istrinya. "Tentu boleh, Sayang. Siapkan dirimu, aku tunggu di bawah. Kita sarapan sebentar lalu berangkat."
Perjalanan menuju rumah sakit siang itu terasa sangat manis. Alisa tidak duduk kaku seperti biasanya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vino sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan kiri suaminya yang tidak sedang memegang kemudi. Sesekali Vino mencium punggung tangan Alisa, membuat pipi dokter muda itu terus merona merah.
"Mas..." buka Alisa pelan.
"Iya?"
"Bunda Ratna telepon tadi subuh. Beliau sudah selesai dengan acara keluarga di Surabaya. Katanya besok lusa sudah mau balik ke Jakarta," ujar Alisa.
Vino mengangguk. "Bagus kalau begitu. Nanti biar aku yang atur penjemputan ke bandara. Bunda mau langsung ke rumahnya?"
Alisa mendadak mengubah posisi duduknya menjadi tegak, menatap Vino dengan tatapan memohon. "Nah, itu dia Mas. Bunda kan sendirian di rumah. Sejak Ayah nggak ada, rumah itu rasanya sepi sekali kalau cuma Bunda sama asisten rumah tangga saja. Aku... aku boleh minta sesuatu nggak?"
Vino melirik istrinya sebentar, lalu kembali fokus ke jalanan. "Minta apa? Katakan saja."
"Boleh nggak kalau Bunda tinggal di rumah kita saja? Maksudku, jangan ke rumah dulu. Biar Bunda di sini sama kita. Aku kangen banget sama masakan Bunda, dan aku nggak tega kalau Bunda harus kesepian di sana," rengek Alisa sambil memegang lengan Vino. "Boleh ya, Mas? Aku sudah minta izin kamu dulu sebelum bilang ke Bunda."
Vino tersenyum lebar melihat betapa sayangnya Alisa kepada ibunya. "Alisa, sayang... kamu nggak perlu merengek begitu. Bunda Ratna itu juga bundaku sekarang. Rumah ini rumahmu, rumah kita. Kalau Bunda mau tinggal di sini selamanya pun, aku sama sekali nggak keberatan. Malah aku senang, rumah jadi makin ramai."
Alisa hampir saja melompat dari kursinya jika tidak tertahan sabuk pengaman. "Beneran, Mas? Kamu nggak merasa terganggu kalau ada mertua di rumah?"
Vino meraih tangan Alisa dan mengecupnya. "Justru aku tenang. Kalau aku harus tugas malam atau ke luar kota, ada Bunda yang menjagamu di sini. Jadi, hubungi Bunda sekarang, bilang kalau menantunya yang paling tampan ini sangat mengharapkan beliau tinggal di sini."
Alisa tertawa renyah, hatinya lega luar biasa. "Terima kasih, Mas! Kamu memang suami terbaik!"
Sementara itu, di sebuah sudut kafe yang tenang tak jauh dari markas kepolisian, Alvin sedang duduk gelisah. Di depannya ada secangkir kopi hitam yang sudah mulai dingin. Ia berkali-kali mengecek ponselnya.
Satu minggu terakhir, Alvin memang menjadi lebih agresif—setidaknya dalam ukuran seorang polisi kaku seperti dia. Ia sering mengirimkan pesan singkat kepada Fani. Mulai dari menanyakan kabar, hingga hal-hal yang sebenarnya kurang penting seperti: "Dok, apa benar makan gorengan bisa bikin suara serak? Rekan saya di kantor sedang batuk."
Fani biasanya hanya membalas dengan emotikon tertawa atau jawaban medis yang singkat. Namun hari ini, Alvin memberanikan diri.
Alvin: Dok, saya ada di kafe depan rumah sakit. Kebetulan baru selesai patroli. Kalau Dokter sudah selesai shift, apa boleh saya traktir makan siang? Sebagai ganti karena saya sudah merepotkan di UGD waktu itu.
Layar ponsel Alvin menyala. Sebuah balasan masuk.
Fani: Pak Polisi nggak capek ya cari alasan? Hehe. Oke, 10 menit lagi saya ke sana. Tapi jangan bahas soal tilang ya!
Alvin hampir saja tersedak kopinya sendiri. Ia segera merapikan kerah bajunya dan memastikan tidak ada remah roti di wajahnya. Tak lama kemudian, Fani muncul dengan blus kasual, tampak sangat segar meskipun baru selesai bekerja.
"Wah, beneran di sini ya," sapa Fani sambil duduk di depan Alvin.
Alvin berdehem, mencoba menguasai kegugupannya. "Disiplin adalah kunci, Dok. Jadi, mau pesan apa?"
"Terserah kamu saja. Asal jangan menu penjara ya," goda Fani yang membuat Alvin tersenyum tipis.
Sepanjang makan siang, suasana mulai mencair. Alvin yang biasanya bicara seperlunya, mulai bercerita tentang nasehat-nasehat "ajaib" dari Vino soal pernikahan. Fani pun bercerita tentang betapa sibuknya menjadi dokter bedah.
"Jadi, Mas Vino beneran bilang begitu?" tanya Fani sambil tertawa mendengar cerita Alvin.
"Iya. Katanya kalau saya kelamaan jomlo, nanti saya jadi kaku seperti monumen," jawab Alvin jujur.
Fani menatap Alvin dengan pandangan yang sulit diartikan. "Sebenarnya... kamu nggak sekaku itu kok kalau sudah kenal. Cuma mungkin seragam itu bikin orang takut duluan."
Alvin tertegun. Pujian sederhana itu terasa lebih membahagiakan daripada kenaikan pangkat. "Kalau begitu... apa Dokter keberatan kalau saya sering-sering mengajak makan siang tanpa seragam ini?"
Fani tersenyum manis, meminum jus jeruknya perlahan. "Kita lihat saja nanti, Pak Alvin. Tergantung performa kamu di chat selanjutnya."
Kembali ke mobil Vino, mereka baru saja sampai di depan lobi rumah sakit. Vino turun dari mobil, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan di depan publik, namun kini ia ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Alisa adalah miliknya.
Ia membukakan pintu untuk Alisa, lalu menggandeng tangan istrinya menuju pintu masuk. Beberapa perawat yang lewat tampak berbisik-bisik kagum melihat keromantisan pasangan itu.
"Belajar yang rajin, Dokter," goda Vino saat mereka sampai di depan lift.
Alisa tertawa, ia merapikan kerah baju Vino. "Hati-hati di jalan, Mas. Jangan lupa jemput aku sore nanti ya. Dan ingat... kita harus siapkan kamar tamu buat Bunda!"
"Siap, komandan!" jawab Vino dengan gaya hormat polisi yang membuat Alisa tertawa malu.
Vino menatap punggung Alisa yang masuk ke dalam lift dengan perasaan puas. Hidupnya kini terasa lengkap. Ada cinta di rumahnya, ada keluarga yang akan berkumpul, dan ada kedamaian yang selama ini ia cari. Ia kembali ke mobil dengan senyum yang tak hilang, siap menghadapi tugas-tugas kepolisian dengan semangat baru.
Bersambung