“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
Tetap jadi musuh di kantor.
Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
Dilarang jatuh cinta!
Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulpen Kesukaan
Suasana di kantor Divisi Kredit pagi itu terasa mencekam bagi Sinta. Setelah peringatan keras dari Adrian kemarin sore, Sinta merasa seolah-olah setiap langkahnya diawasi oleh kamera pengintai tak kasat mata. Ia datang lebih pagi dari biasanya, sengaja menghindari waktu kedatangan yang bersamaan dengan Jingga agar tidak memicu bisik-bisik di lobi. Namun, kegelisahan itu tidak memudar; justru semakin menjadi-jadi karena ada sesuatu yang hilang dari mejanya.
"Di mana sih? Perasaan kemarin sore gue taruh di sini," gumam Sinta panik.
Ia menggeledah laci mejanya, membongkar tumpukan map berisi analisis kredit, hingga menggeser dudukan telepon kantor. Pulpen itu hilang. Bukan sekadar pulpen biasa, melainkan sebuah pulpen fountain merk Parker berwarna rose gold dengan grafir inisial namanya yang pudar. Itu adalah hadiah terakhir dari almarhumah ibunya sebelum beliau berpulang, benda yang selalu Sinta bawa sebagai jimat keberuntungan setiap kali ia harus menghadapi nasabah sulit atau rapat besar dengan direksi.
Sinta menghela napas frustrasi, bahunya merosot. Kehilangan pulpen itu di tengah tekanan rumor kantor terasa seperti pertanda buruk. Ia merasa separuh kekuatannya hilang. "Sempurna. Hidup berantakan, pulpen pun hilang," batinnya pahit.
Sepanjang pagi, Sinta bekerja dengan konsentrasi yang buyar. Ia menggunakan pulpen plastik murah milik kantor yang tintanya kadang macet, membuatnya semakin kesal. Berkali-kali ia melirik ke arah lorong menuju divisi audit, berharap—atau mungkin takut—melihat siluet Jingga. Namun, pria itu seolah benar-benar menepati janji untuk menjadi "orang asing". Jingga tidak muncul di pantry, tidak lewat di depan kubikelnya, bahkan tidak mengirim pesan singkat seperti biasanya.
Saat jam makan siang tiba, Sinta memilih untuk berdiam diri di meja. Ia tidak sanggup menghadapi tatapan menyelidik Luna atau senyum posesif Adrian di kantin. Ia menyandarkan kepalanya di atas meja, memejamkan mata sejenak, mencoba mengusir rasa pening yang berdenyut di pelipisnya.
Tanpa ia sadari, seseorang berjalan mendekat dengan langkah yang sangat ringan. Begitu ringan hingga suara sepatunya teredam oleh karpet kantor. Sinta baru tersadar ketika mendengar bunyi klik pelan di atas meja kayu di depan wajahnya.
Sinta tersentak dan mendongak. Tidak ada siapa-siapa. Orang itu sudah berlalu dengan cepat, menghilang di balik tikungan lorong menuju tangga darurat. Sinta mengerutkan kening, lalu matanya tertuju pada sebuah benda yang tergeletak tepat di atas buku catatannya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di sana, berkilau di bawah lampu neon kantor, adalah pulpen rose gold miliknya.
Pulpen itu tidak hanya kembali, tapi kondisinya tampak lebih bersih, seolah baru saja dipoles. Di samping pulpen itu, ada selembar kertas memo kecil berwarna kuning yang tertempel. Hanya ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan tulisan tangan yang tajam dan rapi:
"Ketemu di deket tempat sampah lobi kemarin sore. Lain kali jangan ceroboh, jimat lu mahal harganya."
Sinta segera mengenali tulisan itu. Tulisan tangan auditor. Tulisan tangan Jingga.
Sebuah senyum kecil yang tak terbendung merekah di bibir Sinta. Ia mengambil pulpen itu, mengelusnya perlahan, merasakan tekstur logam yang dingin namun entah kenapa terasa hangat di hatinya. Jingga menemukannya. Jingga menyimpannya. Dan yang paling penting, Jingga mengembalikannya secara diam-diam untuk melindunginya dari gosip lebih lanjut.
Sinta menoleh ke arah tangga darurat, tempat siluet pria itu tadi menghilang. Ada rasa haru yang menyelinap di antara rasa bingungnya. Sejak kapan Jingga memperhatikan benda-benda miliknya? Sejak kapan pria yang biasanya hanya peduli pada angka dan mesin motor itu tahu bahwa pulpen ini adalah "jimat" berharga baginya?
Pikiran Sinta melayang kembali ke kejadian beberapa hari lalu, saat ia sempat mengeluh pelan di apartemen tentang pulpennya yang tintanya habis. Rupanya, Jingga tidak hanya mendengar, tapi juga memperhatikan detail fisik benda itu.
"Makasih, Jingga," bisik Sinta pada udara kosong.
Sore harinya, saat Sinta hendak pulang, ia berpapasan dengan Luna di depan lift. Suasana mendadak kaku. Luna menatap Sinta dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kecurigaan dan rasa ingin tahu.
"Pulpen baru, Sin? Bagus banget," ucap Luna sambil melirik pulpen yang terselip di saku blazer Sinta.
Sinta tersentak, refleks menyentuh pulpennya. "Oh, ini... ini pulpen lama kok, Lun. Kemarin sempat terselip, baru ketemu tadi."
"Ooh, syukurlah kalau ketemu. Barang berharga jangan sampai hilang, apalagi kalau yang nemuin orang yang nggak seharusnya," sindir Luna dengan senyum tipis yang terasa dingin.
Sinta hanya mengangguk kaku dan segera masuk ke dalam lift yang baru terbuka. Di dalam lift yang penuh sesak, Sinta menggenggam pulpen itu erat-erat. Ia menyadari bahwa tindakan kecil Jingga pagi tadi, meski dilakukan dengan niat baik, tetap merupakan risiko besar di tengah situasi mereka sekarang.
Sesampainya di apartemen, Sinta mendapati Jingga sedang duduk di meja makan, sibuk dengan laptopnya. Suasana rumah terasa jauh lebih hangat dibandingkan di kantor. Sinta meletakkan tasnya dan berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum, melewati Jingga yang masih berpura-pura fokus pada layarnya.
"Pulpennya udah ketemu?" tanya Jingga tanpa menoleh, suaranya datar seolah sedang menanyakan cuaca.
Sinta berhenti melangkah, lalu berbalik menatap punggung suaminya. "Udah. Makasih ya udah dibalikin. Dan makasih udah dibersihin juga."
Jingga menutup laptopnya dan berbalik. Ia menatap Sinta dengan ekspresi kaku yang biasa, namun ada binar berbeda di matanya. "Gue nemu di bawah kursi lobi pas gue mau pulang kemarin. Hampir aja keinjek orang. Gue inget lu pernah bilang itu hadiah dari nyokap lu, jadi gue simpen dulu."
"Lu inget?" tanya Sinta tak percaya. "Perasaan gue cuma pernah ngomong itu sekali, pas kita lagi beresin kardus pindahan bulan lalu."
Jingga berdehem, sedikit salah tingkah. Ia membuang muka ke arah jendela. "Gue auditor, Sinta. Pekerjaan gue emang buat inget detail-detail kecil yang orang lain sering lupain. Nggak usah kegeeran."
Sinta tertawa kecil. Sifat defensif Jingga selalu muncul setiap kali ia melakukan sesuatu yang manis. Sinta mendekat ke meja makan dan mengeluarkan pulpen itu dari tasnya. "Tapi serius, Jingga. Makasih. Gue sempet panik banget tadi pagi. Rasanya kayak kehilangan separuh nyawa."
"Lebay," gerutu Jingga, namun sudut bibirnya sedikit terangkat. "Lain kali kalau lu ceroboh lagi, gue nggak akan balikin. Gue jual aja ke kolektor barang antik."
"Ih, jahat banget!" Sinta memukul pelan bahu Jingga dengan buku catatannya.
Untuk sesaat, ketegangan rumor kantor yang menyiksa sepanjang hari seolah menguap. Di ruang makan yang hanya diterangi lampu gantung itu, mereka kembali menjadi dua orang yang saling mengenal, bukan dua orang asing yang dipaksa sandiwara.
"Sin," panggil Jingga setelah keheningan singkat yang nyaman.
"Ya?"
"Tadi di kantor... Pak Adrian nanya sesuatu lagi soal gue?"
Sinta menghela napas, duduk di kursi di samping Jingga. "Nggak secara langsung. Tapi dia terus-terusan merhatiin gue. Dan Luna... dia tadi nyindir soal pulpen ini. Kayaknya dia curiga siapa yang nemuin."
Raut wajah Jingga kembali serius. "Gue minta maaf ya. Gara-gara gue balikin pulpen itu tadi pagi, mungkin lu jadi makin dipojokin sama Luna."
Sinta menggeleng cepat. "Nggak, Jingga. Justru pulpen ini yang bikin gue tenang seharian ini. Lu nggak salah. Kita cuma... kita cuma ada di situasi yang salah."
Jingga menatap pulpen rose gold di tangan Sinta. Ia menyadari bahwa benda kecil itu kini menjadi simbol baru di antara mereka. Sebuah tanda bahwa meskipun di kantor mereka harus bersikap dingin, di sini, mereka memiliki bahasa perhatian mereka sendiri.
"Besok gue bakal lebih hati-hati lagi," ucap Jingga pelan. "Gue nggak mau lu kena masalah gara-gara gue. Pak Adrian itu... dia punya cara yang licik buat nekan orang kalau dia ngerasa terancam."
"Gue tahu," sahut Sinta. "Tapi lu juga harus hati-hati. Jangan sampai gara-gara lu bantuin gue, posisi lu di Divisi Audit jadi terancam."
Malam itu, Sinta tidur dengan pulpen ibunya yang diletakkan di atas nakas, tepat di samping ponselnya. Ia menyadari satu hal penting: perhatian Jingga tidak pernah datang dalam bentuk kata-kata manis atau buket bunga seperti yang sering dilakukan Adrian. Perhatian Jingga datang dalam bentuk tindakan-tindakan sunyi—memperbaiki mesin cuci, membuatkan kopi, atau mengembalikan pulpen yang hilang.
Dan bagi Sinta, perhatian sunyi itu mulai terasa jauh lebih berharga daripada semua kemewahan yang ditawarkan dunia luar.
Ia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah Jingga melakukan semua ini karena kewajiban sebagai suami kontrak, atau karena ada perasaan lain yang mulai tumbuh di balik sikap kakunya? Namun, Sinta segera menepis pikiran itu. Ia takut jika ia terlalu berharap, kenyataan pahit di kantor akan menghancurkan segalanya.
Sementara di kamar sebelah, Jingga belum juga bisa memejamkan mata. Ia teringat bagaimana wajah Sinta tadi saat menerima pulpen itu—sebuah binar kebahagiaan yang sangat tulus. Ia menyadari bahwa ia mulai menikmati perannya sebagai pelindung Sinta dalam diam. Namun, ia juga sadar bahwa rumor di kantor adalah bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
"Besok," gumam Jingga pada dirinya sendiri, "gue harus lebih pinter lagi nyembunyiin semuanya."
Ia tahu, menjaga jarak dari Sinta adalah hal yang benar untuk dilakukan secara profesional. Namun, setiap kali ia melihat Sinta kesulitan atau bersedih, hatinya seolah memberontak, memaksanya untuk terus mencari cara—sekecil apa pun—untuk tetap berada di sana, menjaganya dari balik bayang-bayang.
Babak baru dari hubungan mereka telah dimulai. Sebuah pulpen yang hilang dan kembali telah menjadi benang merah yang mengikat mereka lebih erat dalam rahasia yang semakin dalam. Dan esok pagi, saat lampu kantor kembali menyala, mereka akan kembali memakai topeng mereka, namun dengan sebuah rahasia manis yang tersimpan rapat di dalam saku masing-masing.