NovelToon NovelToon
SENJA TAK BERTUAN

SENJA TAK BERTUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter / Penyelamat
Popularitas:115
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Yasmin selalu percaya bahwa kerapuhannya adalah kutukan, hingga Arya datang membawa kepastian di bawah senja. Di sana, mereka mencuri satu petak langit untuk saling memiliki. Namun, ketika ikrar telah terucap dan senja mulai meredup, semesta seolah menagih kembali kebahagiaan yang mereka dapatkan.

Dan, ketika kegelapan itu datang...

Yasmin tersadar satu hal, mereka tidak sedang memiliki senja, hanya sedang meminjamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TEMPAT MENGEMBALIKAN RASA TRAUMA

Tak membutuhkan waktu lama, sesuai yang Arya bilang. Kurang dari lima belas menit, mobilnya akhirnya berhenti tepat di depan lobby utama instalasi gawat darurat. Gedung putih itu tampak kokoh dan dingin di bawah cahaya lampu yang mulai menyala sore itu.

Suasana di depan pintu otomatis sangat sibuk; suara sirene ambulan yang baru tiba bersahutan dengan langkah kaki para petugas medis yang terburu-buru.

​Yasmin mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat. Jantungnya berdegup kencang, seirama dengan detak jarum jam yang terasa mencekam. Baginya, aroma rumah sakit yang mulai tercium melalui ventilasi mobil adalah aroma duka dan kehilangan.

​"Mas, aku tunggu di mobil saja, ya?" suara Yasmin bergetar, matanya menatap nanar ke arah kerumunan perawat yang mendorong brankar.

​Arya yang baru saja melepas sabuk pengamannya menoleh. Ia menyadari perubahan raut wajah Yasmin yang mendadak pucat pasi. Ia tahu ada sesuatu yang tidak beres, namun keadaan darurat di dalam sana tidak memberinya banyak waktu untuk bertanya.

​"Di luar mulai gelap, Yasmin. Aku tidak tenang membiarkanmu di parkiran sendirian," ucap Arya. Nada suaranya kembali ke mode dokter, tegas, efisien, namun kali ini ada sentuhan protektif yang nyata.

​Arya refleks meraih tangan Yasmin yang dingin, meremasnya sejenak untuk menyalurkan kekuatan. "Ikut aku ke ruanganku saja. Di sana aman. Kamu bisa tunggu sampai urusanku selesai."

​Yasmin ingin membantah, tapi tatapan tajam namun menenangkan milik Arya membuatnya tidak punya pilihan. Tanpa menunggu lebih lama, Arya turun dan memutari mobil, membukakan pintu untuk Yasmin seolah memastikan wanita itu tidak akan lari ke mana pun.

****

​Langkah kaki mereka melintasi koridor rumah sakit yang panjang. Setiap kali mereka berpapasan dengan ranjang pasien atau mendengar isak tangis di pojok ruang tunggu, bahu Yasmin semakin merosot. Ia merasa seperti ditarik kembali ke masa lalunya yang kelam.

Ia melihat dirinya yang lebih muda, bersandar di dinding dengan napas tersengal, menatap pintu kaca yang tertutup rapat. Di balik pintu itu, ia tahu ayah maupun ibunya pernah bertarung nyawa. Suara monitor jantung yang berbunyi tit... tit... tit... yang teratur, mendadak berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga. Tiiiiiiiiiiit...

Yasmin menelan saliva. Bulat bola matanya menghangat seketika. Dalam bayangannya, ia melihat para dokter dan perawat berlarian. Ia mengingat bagaimana tangan ayahnya yang biasanya hangat dan kokoh, saat itu terkulai lemah dengan selang-selang yang menusuk kulit. Ia juga ingat wajah ibunya yang pucat, bibir yang membiru, dan mata yang perlahan meredup meski tim medis telah memberikan kompresi dada berkali-kali.

"​"Enggak! Enggak mau..." gumam Yasmin lirih. Tubuhnya mulai limbung, seolah kekuatan di kakinya luruh seketika. Dunianya berputar, dan lantai rumah sakit yang dingin itu terasa seperti jurang yang siap menelannya bulat-bulat.

Sementara, Arya menangkap kegelisahan itu. Ia bisa merasakan getaran hebat dari bahu Yasmin. Ia tahu ini adalah trauma yang mendalam, sebuah luka lama yang menganga kembali hanya karena aroma antiseptik dan dinding putih ini. Namun, nurani profesionalnya tak bisa mengabaikan nyawa di dalam ICU, sementara naluri pelindungnya tak tega meninggalkan Yasmin sendirian di mobilnya.

​"Dokter Arya!" seru seorang perawat yang sudah menunggu di depan pintu ruang kerja Arya.

​Dengan gerakan tangkas dan efisien, wanita berusia tiga puluh tahunan itu menyodorkan jubah hijau steril.

Tanpa banyak jeda, Arya segera menyambar dan mengenakannya. Ia memasang masker bedah dan penutup kepala dengan cepat. Dalam hitungan detik, sosok Arya yang tadi terlihat hangat di dalam mobil, kini bertransformasi menjadi figur medis yang tertutup rapat.

​Bagi Yasmin, pemandangan itu adalah puncak kengerian. Di mata yang mulai mengabur karena air mata, Arya bukan lagi pria yang memujinya cantik, bukan sosok pelindung yang pernah menolongnya kemarin, juga bukan pria yang ternyata memiliki segudang perhatian dan rasa empati, melainkan sosok "monster" hijau—figur yang sama dengan para pria bermasker belasan tahun lalu yang keluar dari ruangan operasi untuk menggelengkan kepala, memberi tahu bahwa ayah dan ibunya tak lagi bisa diselamatkan.

Ya. Jubah itu adalah simbol perpisahan abadi baginya.

Lalu, ​Arya maju selangkah, mencoba meraih kesadaran Yasmin. Tanpa permisi, ia memegang kedua bahu wanita itu dengan mantap. Namun, Yasmin justru semakin menyusut, menunduk dalam-dalam dengan tubuh yang gemetar hebat.

Ia sungguh takut menatap mata Arya di balik masker itu. Ia takut melihat sorot mata yang sama dengan pembawa berita duka di masa lalunya. Sangat!

​"Yasmin, tatap aku," bisik Arya, suaranya teredam masker namun tetap terdengar lembut dan menenangkan.

​Yasmin tak menjawab. Ia hanya terisak kecil, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Dan, suara isakannya itu terdengar pilu di koridor yang sunyi itu.

​"Kamu tunggu di sini, ya?" lanjut Arya lagi, memberikan remasan ringan di bahu Yasmin untuk menyalurkan kekuatan yang ia sendiri harap cukup untuk menjaga wanita itu tetap tegak. "Nanti aku akan kembali. Aku janji."

​Melihat Yasmin yang masih bergeming dalam ketakutannya, Arya menunjuk pintu kayu di belakang mereka. "Masuk saja ke ruanganku kalau kamu takut di sini. Di sana tenang, tidak akan ada yang mengganggumu. Tunggu aku di dalam, oke?"

​Tanpa menunggu jawaban lebih lama karena waktu adalah musuh utama bagi pasien di dalam sana, Arya melepaskan genggamannya. Ia berbalik, langkah kakinya terdengar tegas saat ia berlari kecil menuju pintu otomatis ICU yang terbuka lebar seolah siap menelan sosoknya.

​Yasmin tertinggal sendiri, mendekap dadanya yang sesak. Di antara bayang-bayang masa lalu yang kelam dan punggung Arya yang menjauh, ia harus berjuang mencari sisa napasnya di tengah kepungan trauma yang mencekik.

Detik berikutnya, perlahan, dengan jemari yang masih gemetar hebat, Yasmin memutar kenop pintu kayu di hadapannya. Bunyi klik halus itu terasa seperti pintu menuju perlindungan di tengah badai. Begitu daun pintu terbuka, aroma antiseptik yang tajam seketika berganti dengan wangi maskulin yang akrab—campuran aroma kopi pahit, kertas lama, dan sisa parfum yang selalu Arya kenakan.

​Yasmin melangkah masuk dengan kaki yang masih terasa lemas. Ia segera menutup pintu di belakangnya, menyandarkan punggungnya di sana seolah ingin mengunci semua kengerian koridor rumah sakit di luar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mengatur napasnya yang masih memburu.

Ruangan itu tidak terlalu besar, namun sangat tertata. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja dari kaca berdiri kokoh, penuh dengan tumpukan jurnal medis dan sebuah stetoskop yang tergeletak begitu saja. Di salah satu sudut, terdapat rak buku tinggi yang dipadati buku-buku tebal berbahasa asing. Pencahayaan di dalam ruangan itu temaram, hanya berasal dari lampu meja yang sengaja dibiarkan menyala, memberikan kesan hangat yang kontras dengan cahaya putih pucat di lorong tadi.

​Yasmin pun melangkah mendekat ke arah sofa kulit berwarna biru muda di sudut ruangan. Di sana, ia melihat sebuah jas dokter putih bersih tersampir di sandaran kursi kerja Arya. Ia lalu menyentuh ujung kain jas itu dengan ujung jarinya.

​"Mas Arya..." gumamnya lirih.

​Melihat benda-benda pribadi milik Arya di ruangan ini perlahan meredam kepanikannya. Ini bukan ruangan "monster" yang ia bayangkan tadi. Ini adalah ruang kerja pria kaku yang tadi menggerutu karena salah tingkah setelah memujinya. Ini adalah tempat di mana Arya menghabiskan waktunya untuk belajar cara menyambung nyawa orang lain agar tak ada lagi anak-anak yang harus kehilangan orang tua mereka seperti dirinya.

​Yasmin akhirnya mendudukkan diri di sofa, memeluk bantal kecil yang ada di sana dengan erat. Matanya mulai menyisir setiap sudut meja kerja Arya, mencari sisa-sisa keberadaan pria itu yang bisa memberinya rasa tenang di tengah kesendirian.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!