NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Jangan lupa Follow Instagram Author

@arvn_63

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Sidang Darah dan Timbangan Baja

​Keheningan di Alun-Alun Pualam Putih itu terasa seperti seutas senar kecapi yang ditarik melampaui batas putusnya.

​Tiga tarikan napas berlalu sejak Lin Feng memuntahkan darah dan ambruk di tepi arena. Namun bagi ribuan pasang mata yang menyaksikan, waktu seolah berhenti berdetak. Mereka menatap serpihan pedang perak yang berserakan di atas lantai batu, lalu beralih menatap pemuda berbaju rami yang berdiri dengan tangan kanan bersimbah darah.

​Dan kemudian, senar itu putus.

​"T-Tuan Muda Lin!"

​Jeritan histeris dari Lin Hai merobek keheningan. Pemuda itu melompat dari paviliun penonton, wajahnya sepucat mayat, berlari dengan panik menuju arena. Belasan murid berseragam putih dari faksi keluarga Lin menyusul di belakangnya, menghunuskan pedang mereka dengan amarah yang mendidih.

​"Bunuh pelayan itu! Dia menggunakan ilmu iblis! Dia mencelakai jenius sekte!" raung salah satu pengikut Lin Feng, mengarahkan pedangnya lurus ke dada Shen Yuan.

​Di tengah lautan niat membunuh yang mengepungnya, Shen Yuan tidak mundur selangkah pun. Ia membiarkan tangan kanannya yang gemetar menggantung di sisi tubuhnya. Benih Hitam di dalam perutnya berputar dalam diam, menyerap setiap tetes rasa sakit dari tulang-tulang jarinya yang retak, menjaganya agar tetap berdiri tegak. Logikanya berhitung cepat bagai sempoa es; Mereka tidak akan bisa membunuhku di sini. Ada mata yang lebih tinggi sedang mengawasi.

​Sesuai dugaannya, sebelum ujung pedang para pengeroyok itu menyentuh jarak satu tombak dari Shen Yuan, langit di atas alun-alun mendadak berubah warna.

​BZZZZTTT!

​Sebuah tekanan spiritual yang luar biasa mengerikan—puluhan kali lipat lebih berat dari tekanan Lin Feng—jatuh dari langit seperti gunung tak kasat mata.

​Bruk! Bruk! Bruk!

​Belasan pengikut keluarga Lin, termasuk Lin Hai, seketika jatuh berlutut hingga lutut mereka menghancurkan lantai pualam. Pedang-pedang mereka terlepas dari genggaman. Napas mereka tercekat.

​Shen Yuan juga tidak luput dari tekanan itu. Tulang punggungnya berderak keras. Ia bisa saja menahannya jika ia melepaskan kekuatan absolut dari Kitab Penelan Surga, namun ia memilih untuk membiarkan kedua lututnya menyentuh lantai dengan suara thud yang pelan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menelan kembali darah yang naik ke tenggorokannya. Melawan Tetua di ranah Pembentukan Inti saat ini sama saja dengan mencari jalan pintas ke neraka.

​Di udara, sesosok pria paruh baya berjubah abu-abu kehitaman melayang turun layaknya dewa yang murka. Ia adalah Tetua Zhao, salah satu Tetua Pengawas yang diketahui memiliki kedekatan dengan keluarga cabang Lin.

​Wajah Tetua Zhao merah padam. Ia melirik Lin Feng yang tak sadarkan diri dengan kedua lengan lumpuh total, lalu menatap Shen Yuan dengan niat membunuh yang tidak ditutup-tutupi.

​"Pelayan rendahan! Beraninya kau menggunakan seni iblis untuk menghancurkan pusaka dan melukai pilar masa depan Sekte Langit Berkabut!" Suara Tetua Zhao menggelegar, mengandung Qi yang membuat telinga setiap murid berdarah. "Nyawamu dan nyawa keluargamu sepuluh generasi tidak akan cukup untuk menebus dosa ini!"

​Tetua Zhao mengangkat tangan kanannya. Energi api merah menyala berkumpul di telapak tangannya, bersiap mengubah Shen Yuan menjadi abu di tempat itu juga tanpa repot-repot menggelar pengadilan.

​Kematian berjarak kurang dari satu helaan napas.

​Namun, tepat di ambang maut, suara tenang Shen Yuan membelah tekanan udara tersebut. Suaranya tidak keras, tidak juga bergetar karena takut, melainkan stabil dan bergema dengan kejernihan batu giok yang dipukul.

​"Menjawab Tetua Pengawas... Apakah Sekte Langit Berkabut telah mengganti nama Turnamen Tarung menjadi Panggung Sandiwara? Di mana seorang peserta akan dieksekusi jika ia menolak dibunuh oleh pedang lawannya?"

​Tangan Tetua Zhao yang memegang api terhenti di udara. Matanya menyipit berbahaya. "Kau berani mengajari Tetua tentang hukum sekte?!"

​"Pelayan ini tidak berani," Shen Yuan tetap menunduk, darah dari buku jarinya menetes perlahan ke lantai pualam. "Pelayan ini hanya mengutip Peraturan Sekte Luar, Bab Tiga, Pasal Tujuh: 'Di atas arena Turnamen Utama, pedang tidak memiliki mata, dan tinju tidak memiliki ampun. Kekalahan dan cedera adalah tanggung jawab praktisi. Selama tidak menggunakan racun dan senjata tersembunyi, semua teknik adalah sah.'"

​Shen Yuan perlahan mengangkat wajahnya dari balik bayangan topi bambu, menatap lurus ke arah mata Tetua Zhao yang berapi-api.

​"Lin Feng menggunakan Pedang Bintang Jatuh dan teknik pembunuh Lapisan Keenam dengan niat membelah kepala saya. Saya menahannya dengan sepasang tangan kosong Lapisan Keempat. Jika telapak tangan saya hancur dan saya mati, itu adalah takdir saya yang lemah."

​Shen Yuan memberi jeda sejenak, membiarkan keheningan menggarisbawahi logika absolutnya.

​"Namun, ketika sebilah pedang pusaka hancur karena beradu dengan kepalan tangan daging manusia... apakah itu salah tangan manusia tersebut yang terlalu keras? Ataukah salah pedang itu yang ternyata hanya pusaka cacat yang dipuja berlebihan? Membunuh saya hari ini tidak akan mengembalikan kehormatan Tuan Muda Lin. Itu hanya akan membuktikan pada dunia, bahwa Sekte ini menghukum yang menang dan membela yang kalah."

​Setiap kata diucapkan dengan presisi bedah. Ribuan murid yang mendengar argumen itu saling berpandangan. Apa yang dikatakan pelayan itu... sepenuhnya masuk akal. Di atas ring, cedera adalah hal lumrah. Jika Shen Yuan yang mati, tidak akan ada Tetua yang peduli. Mengapa ketika Lin Feng yang kalah, Tetua harus turun tangan?

​Wajah Tetua Zhao berubah menjadi sangat jelek. Ia tahu pelayan ini sedang menggunakan opini publik untuk mengikat tangannya. "Omong kosong! Tidak ada tubuh fisik Lapisan Keempat yang bisa menghancurkan pusaka tingkat menengah tanpa menggunakan mantra iblis Aliran Sesat! Kau pasti menyusupkan ledakan Qi kotor ke dalam bilah pedangnya!"

​Tetua Zhao tidak peduli dengan logika lagi. Gengsinya telah tersinggung. Ia mengayunkan telapak tangannya, melepaskan bola api maut itu lurus ke kepala Shen Yuan.

​Li Mu memejamkan mata dan berteriak histeris di pinggir arena. Shen Yuan menahan napas, bersiap membuka segel Benih Hitamnya untuk sebuah perlawanan bunuh diri.

​TRANG!

​Sebuah hembusan angin yang sangat lembut, seringan sutra namun sekeras berlian, tiba-tiba muncul di depan Shen Yuan. Angin itu membungkus bola api Tetua Zhao, dan dengan satu putaran pelan, memadamkan api tersebut hingga tidak tersisa setitik asap pun.

​Keheningan kembali mengambil alih. Tetua Zhao memundurkan langkahnya, wajahnya tiba-tiba diliputi rasa hormat bercampur panik.

​Dari arah tribun tertinggi, Tetua Kepala Sekte Luar—Tetua Yun yang sedari awal pertandingan matanya setengah terpejam—kini berdiri. Ia melangkah di udara, turun perlahan ke tengah arena layaknya daun gugur. Pria tua berjanggut putih itu mengibaskan lengan bajunya, menepis tekanan Qi Tetua Zhao yang sedari tadi menekan Shen Yuan dan para murid.

​"Cukup, Penatua Zhao. Jangan biarkan amarah membutakan mata Dao-mu," ucap Tetua Yun. Suaranya terdengar renta, namun setiap silabelnya menggetarkan jiwa.

​Tetua Zhao menunduk cepat. "Tetua Yun! Pelayan ini mencurigakan! Tidak mungkin dia—"

​Tetua Yun mengangkat tangannya, menghentikan protes bawahannya. Ia berjalan perlahan mendekati Shen Yuan. Mata tuanya yang keruh menatap lekat pada tangan kanan Shen Yuan yang terluka dan bersimbah darah.

​"Kemarikan tanganmu, Anak Muda."

​Jantung Shen Yuan berdegup satu ketukan lebih cepat, namun wajahnya tetap datar. Ia menjulurkan lengan kanannya yang gemetar tanpa perlawanan. Di dalam Dantian-nya, ia telah memerintahkan Benih Hitam untuk berhibernasi sedalam-dalamnya, mengunci seluruh fluktuasi Lapisan Keenam dan aura purba, hanya menyisakan "cangkang" Lapisan Keempat yang kasar.

​Jari keriput Tetua Yun menyentuh pergelangan tangan Shen Yuan.

​Seketika, seutas untaian energi spiritual setajam jarum menembus meridian Shen Yuan, menjelajahi tulang, otot, dan aliran darahnya. Energi dari ranah Pembentukan Inti itu begitu menakutkan, jika ia menemukan setitik saja anomali atau aura iblis, meridian Shen Yuan akan meledak dari dalam.

​Satu detik. Dua detik. Tiga tarikan napas terasa seperti satu abad.

​Tetua Yun perlahan menarik jarinya. Alis putihnya bertaut, matanya memancarkan campuran antara kebingungan dan kekaguman yang langka.

​"Tidak ada sihir. Tidak ada mantra iblis. Dan fluktuasi Qi-nya murni di Lapisan Keempat," pengumuman Tetua Yun bergema di seluruh alun-alun, menghancurkan tuduhan Tetua Zhao menjadi debu.

​Tetua Yun menatap Shen Yuan dalam-dalam. "Tapi ototmu, sumsum tulangmu, dan ketahanan meridian lenganmu... ini adalah hasil dari penyiksaan fisik yang ekstrem selama bertahun-tahun. Kau memadatkan seluruh energi Lapisan Keempatmu ke dalam ruang sempit di tulangmu, lalu meledakkannya sebagai senjata tumpul. Sebuah teknik bunuh diri yang kasar dan tidak beradab... tapi kau selamat karena tubuhmu telah terbiasa menahan penderitaan. Benar begitu?"

​Shen Yuan membungkuk hormat, menyembunyikan senyum lega di sudut bibirnya. Tetua Yun telah membuat kesimpulan yang persis seperti yang ia harapkan. Cacatnya Tinju Runtuh Gunung kini menjadi alibi sempurnanya.

​"Mata Tetua Yun setajam elang suci," jawab Shen Yuan tenang. "Pelayan ini tidak memiliki akses ke Paviliun Kitab Dalam. Pelayan ini hanya memiliki tubuh yang terbiasa dihukum dan membelah kayu. Jika pukulan ini dianggap sebagai ilmu iblis, maka keringat setiap pelayan di sekte ini adalah dosa."

​Kata-kata itu bagaikan tamparan keras bagi keluarga Lin. Lin Hai menggigit bibirnya hingga berdarah. Tidak ada ilmu sesat. Lin Feng, sang jenius emas, murni dikalahkan oleh "tenaga buruh kasar" dan kekerasan tulang seorang pelayan. Ini adalah penghinaan yang akan dicatat dalam sejarah sekte selama ratusan tahun.

​Tetua Yun melepaskan tangannya, berbalik menatap seluruh alun-alun.

​"Berdasarkan Hukum Sekte, pertarungan ini sah," deklarasi Tetua Yun mengakhiri semua perdebatan. "Kemenangan mutlak bagi Pelayan Shen Yuan. Ia berhak melaju ke babak selanjutnya."

​Sorak-sorai riuh dari barisan pelayan meledak, menenggelamkan gemeretak gigi para anggota keluarga Lin.

​Namun, Tetua Yun kembali menoleh pada Shen Yuan, kali ini dengan tatapan yang penuh makna. "Akan tetapi... cedera di lenganmu jauh lebih parah dari yang terlihat. Meridian lengan kananmu mengalami robekan akibat ledakan teknikmu sendiri. Jika kau memaksakan diri bertarung di ronde selanjutnya besok, tanganmu akan lumpuh permanen."

​Shen Yuan diam. Ia tentu tahu lukanya, dan ia tahu Benih Hitam bisa menyembuhkannya malam ini jika ia memiliki binatang buas atau batu roh. Tapi jika ia sembuh total besok, Tetua Yun pasti akan curiga.

​"Sebagai Tetua Kepala," lanjut Tetua Yun, nadanya mengandung perintah mutlak yang tidak bisa dibantah, "aku melarangmu melanjutkan Turnamen Tarung ini demi keselamatanmu sendiri. Kau berhak atas hadiah kemenangan hari ini, dan kau akan diangkat secara resmi menjadi Murid Luar, meninggalkan status pelayanmu. Namun, perjalananmu di turnamen ini berakhir di sini."

​Kerumunan terdiam. Di satu sisi, ini adalah pencapaian luar biasa. Menjadi Murid Luar adalah mimpi tertinggi setiap pelayan. Namun di sisi lain, ini adalah cara politik Tetua Yun untuk "menenangkan" keluarga Lin. Menghilangkan Shen Yuan dari turnamen berarti ia tidak akan mempermalukan lebih banyak elit sekte.

​Shen Yuan menatap lengan kanannya, lalu menatap Tetua Yun. Ia bisa saja berdebat, namun logikanya berbisik keras: Tujuan utamaku menghancurkan pamor Lin Feng telah tercapai. Melangkah lebih jauh di turnamen ini hanya akan membuatku diselidiki oleh faksi-faksi lain.

​Ia mundur satu langkah, lalu menangkupkan kedua tangannya tinggi-tinggi di atas kepala, membungkuk dalam-dalam.

​"Keputusan Tetua adalah hukum. Murid ini menerima titah dengan rasa syukur."

​Hari itu, sejarah baru ditulis di atas pualam putih. Seorang pemuda berbaju rami yang robek dan bersimbah darah, melangkah turun dari arena bukan sebagai pelayan, melainkan sebagai anomali yang paling ditakuti di Pelataran Luar.

​Ia kehilangan kesempatan untuk memenangkan turnamen, namun ia mendapatkan hal yang jauh lebih berharga: status perlindungan hukum sebagai Murid Luar, dan ruang bernapas yang cukup untuk membiarkan taringnya tumbuh menjadi lebih panjang di dalam bayang-bayang.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!